China dan Rusia: Benarkah Kian Rapat?

China dan Rusia memiliki kesamaan visi dalam berbagai sektor dan hubungan Moskow-Beijing menguntungkan kedua pihak. Hal juga dengan sendirinya merupakan gerakan yang berpengaruh bagi perluasan perdamaian dan stabilitas di masyarakat internasional. Rusia setelah era Boris Yeltsin, presiden yang pro Barat, secara aktif menindaklanjuti kepentingam bilateral dengan China dalam bentuk kerjasama strategis.

Selama lebih dari dua dekade, Rusia berusaha keras memperdalam hubungannya dengan China di semua sektor khususnya militer. Nilai perdagangan kedua negara juga mencapai angka 50 miliar dolar serta para pemimpin Moskow-Beijing tengah berupaya meningkatkan nilai perdagangan tersebut.

Cina tercatat sebagai sekutu militer Rusia dan pembeli terbesar persenjataan Moskow. Selama satu dekade terakhir, Rusia menjual senjata kepada China dengan nilai lebih dari 15 miliar dolar. Di bidang energi, kedua negara menandatangani kontrak senilai 400 miliar dolar yang mendapat sorotan tajam di dunia internasional.

Orang-orang bersenjata lengkap yang diyakini pasukan Rusia mengepung Krimea, Ukraina (Reuters)

Pelabuhan terbesar keempat di Eropa akan di bangun di Semenanjung Crimea dengan investasi dari China. Sebelumnya Rusia telah melakukan lobi dengan investor China untuk membangun pelabuhan dengan kedalaman tinggi di Crimea. Di tahap pertama, nilai investasi diumumkan sebesar tiga miliar dolar. Dengan bergabungnya Crimea ke Rusia, semakin menunjukkan minatnya untuk bergabung dengan proyek tersebut dan investor Beijing dijadwalkan pada Juni 2015 akan tiba di Crimea serta memulai penyusunan program pembangunan pelabuhan tersebut.

Sementara itu, tekad Amerika Serikat untuk meningkatkan pengaruh keamanan dan militernya di Asia dengan menerapkan represi lingkungan serta keamanan kepada China dan Rusi telah menciptakan peluang bagi Moskow dan Beijing untuk memperkokoh kerjasama mereka di berbagai sektor.

Menteri Pertahanan China dan Rusia dalam dialognya menfokuskan pada strategi AS yakni peningkatan pengaruh Washington di Asia dan bertekad menggalang kerjasama strategis yang komprehensif di antara kedua negara.

Menteri  Pertahanan Rusia Sergei Shoigu  dikabarkan telah menyatakan harapan Rusia  untuk dapat membangun hubungan militer yang lebih kuat dengan China. Hal itu disampaikan menhan Shoigu  di hadapan kalangan jurnalis pada 1 Juni 2015.
Laporan terkait sebelumnya menyatakan, Rusia dan China yang mengadakan latihan angkatan laut bersama, di mana latihan gabungan itu untuk pertama kalinya di Laut Mediterania bulan lalu. Sekitar 10 kapal perang dilibatkan  dalam sebuah  latihan yang disimulasikan  melindungi kapal sipil.
Menhan Shoigu mengatakan,  latihan yang telah  berakhir  itu sebagai  menuai   hasil yang sangat memuaskan   dan membuktikan bahwa pertukaran angkatan laut antara Rusia dan China kini berada pada tingkat yang tinggi. Lebih lanjut menhan Shoigu juga  menandaskan bahwa  Rusia berharap untuk bisa lebih memperkuat hubungan dengan China melalui latihan bersama.
Laporan juga menyebutkan, Rusia dan China yang   berencana mengadakan latihan anti-teror dan latihan   anti-pembajakan di Laut Jepang pada bulan Agustus mendatang.
Hubungan yang kian terkukuhkan antara Rusia dengan China dinilai oleh sejumlah  kalangan sebagai konsekuensi dari terbatasnya akses hubungan internasional Rusia dengan sejumlah negara Barat menyusul krisis berkepanjangan di Ukraina. China yang dalam beberapa dekade telah menjadi sekutu tradisional era Uni Soviet, dan kini telah menuai kemajuan ekonomi yang mengagumkan akhirnya menjadi salah satu harapan bagi Rusia untuk mengkompensasi terbatasnya hubungan dengan mitranya di Barat.
Sejumlah anlis juga menilai, hubungan militer yang  terus diperdalam antara Rusia dan China yang  bertujuan  untuk mengimbangi  ancaman oleh negara-negara Eropa dan Amerika Serikat atas situasi di Ukraina

Presiden Amerika Serikat, Barack Obama juga tak berbeda dengan pendahulunya yang menganggap Washington sebagai kekuatan terunggul di dunia. Obama di sidang tahunan Majelis Umum PBB secara tersirat menyatakan bahwa pemeritahan Putin harus ditegur dan dicela. Uniknya dalam kesempatan tersebut, Obama juga menekankan bahwa kelompok teroris Takfiri ISIS harus dihukum secara keras. Namun demikian, semua orang menyadari bahwa Obama secara praktis mengikuti strategi militerlisme George W Bush. Afghanistan, Irak, Libya dan Suriah semuanya menjadi korkan strategi militer Obama. Di Afghanistan, Taliban dan al-Qaeda menjadi dalih untuk melancarkan strategi ini dan kini ISIS mengambil alih misi ini.

Sangat gamblang mengapa kedua menteri pertahanan Cina dan Rusia menfokuskan pembicaraannya pada eskalasi pengaruh Amerika di dunia, khususnya di Asia? Realitanya adalah para pemimpin Cina dalam kesamaan visinya dengan para pemimpin Rusia hingga kini telah berhasil menggagalkan mimpi-mimpi AS dan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) untuk menguasai dunia. Beijing dan Moskow yakin bahwa masih ada opsi menghapus terorisme dan perang. Opsi tersebut adalah diplomsi dan kebijakan mempertahankan perdamaian di dunia. Baik Ukraina, Suriah maupun Irak tidak terkecuali dari opsi ini.

Sejak China tumbuh menjadi negara adidaya di ekonomi dan politik dunia negara itu jauh lebih unggul daripada “kakaknya”, Rusia. Demikian studi penelitian perdamaian SIPRI Stockholm, Swedia dan dilansir pada 2011 yang lalu.Selama perang dingin Cina menyebut Rusia sebagai „kakak besar“. Tetapi, sejak Cina tumbuh menjadi negara adidaya di ekonomi dan politik dunia serta mengurangi ketergantungannya pada energi dan senjata Rusia, negeri tirai bambu itu kini jauh lebih unggul daripada kakaknya.

Di dalam laporan SIPRI disebutkan, „tidak ada kepercayaan politik di antara Rusia dan Cina“. Namun di depan publik Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Cina Hu Jintao selalu tampil kompak dan hangat. Padahal di belakang layar, keduanya bersaing keras memperebutkan kekuasaan regional dan pengaruh internasional.

Meningkatnya peran Cina dalam ekonomi dan politik global membantu negeri tirai bambu itu menjadi negara yang lebih kuat daripada bRusia, demikian laporan tersebut. Para penulisnya menyebutkan, bahwa perubahaan kekuasaan di antara kedua negara itu disebabkan karena ketergantungan Cina terhadap pasokan senjata dan energi Rusia telah berkurang secara signifikan.

Dr. Paul Holtom, direktur program transfer senjata di SIRI yang sekaligus adalah salah satu penulis studi tersebut melihat ada perbedaan besar di antara posisi Cina dan Rusia terkait kerja-sama di bidang senjata. “Seandainya Cina mengatakan ‚ok, kami akan membeli 50 penangkis rudal udara jenis S-300′, mungkin pedagang senjata Rusia akan tertarik. Tetapi, pemerintah Rusia tidak bersedia untuk menjual senjata dan teknologi canggih kepada Cina. Karena, Cina bisa saja membeli senjata dalam jumlah kecil dan meniru teknologinya, dan ini dikuatirkan oleh Rusia“, papar Dr. Holtom.

Selama Uni Eropa dan Amerika Serikat tidak mencabut embargo senjatanya terhadap Cina, maka hanya sedikit produsen senjata dunia yang bersedia menjual poduknya kepada Cina. Tetapi, karena sekarang kekuatan militer negara itu sudah meningkat secara signifikan, Cina memiliki kepentingan untuk mengembangkan teknologi baru sekaligus memodernisasi industri pertahanannya baik untuk kebutuhan sendiri maupun untuk ekspor.

Di bidang energi pun strategi Cina tidak berbeda, yakni mengurangi risiko ketergantungan. Sebagai konsumen energi terbesar dunia Cina mencari banyak pemasok. Menurunya persentase pasokan minyak Rusia sangat terasa dalam lima tahun terakhir ini. Arab Saudi, Angola, Iran dan Oman telah menjadi pemasok minyak terpenting bagi Cina. Untuk gas bumi pun Cina menemukan mitra baru terutama di Asia Tengah.

Di dalam studi SIPRI juga dikatakan bahwa kedua negara adidaya itu sebenarnya tidak memiliki pandangan dunia yang sama. Meskipun posisi mereka terkait masalah global sering sama dan berlawanan dengan AS seperti dalam voting resolusi PBB Suriah. Disebutkan juga, perencana strategis Cina dan Rusia menilai lawannya sebagai ancaman besar untuk jangka panjang. Oleh karena itu, Holtom menilai hubungan Cina-Rusia di politik global sebagai „kerja-sama pragmatis tanpa adanya saling percaya dan saling memahami.

Dengan perseteruan terhadap Amerika Serikat (AS), maka ada anggapan hubungan China dan Rusia makin lengket. Semakin lengketnya kedua negara tidak lepas dari keterlibatan mereka pada dua organisasi baru yakni BRICS dan juga Shanghai Cooperation Organisation (SCO), yang kebetulan pertemuan puncak keduanya berlangsug di Moskow.


BRICS merupakan organisasi yang berisi negara-negara berkembang, yang terdiri dari Afrika Selatan, Brazil, India, dan tentu saja Rusia dan China. Sedangkan SCO adalah organisasi yang begerak dalam bidang kerjasama militer, politik dan juga ekonomi.

SCO saat ini sudah menggelar pertemuan puncak mereka yang ke-15, sedangkan BRICS baru memasuki pertemuan puncak ketujuh mereka. Pertemuan puncak kedua organisasi itu akan digelar di kota Ufa, yang berada dipinggiran Moskiw.

Hubungan Rusia dengan China kian mesra, khususnya paska terjadi krisis militer di Ukraina. Kedekatan itu kembali terlihat pada Kamis kemarin ketika Presiden Negeri Tirai Bambu, Xi Jinping bertemu Presiden Vladimir Putin di Dushanbe, Tajikistan.
Stasiun berita Channel News Asia, Jumat 12 September 2014 melaporkan keduanya bertemu dalam persiapan menuju KTT Organisasi Kerja sama Shanghai. Selain Rusia dan China, pertemuan tingkat tinggi itu turut dihadiri tiga negara lainnya yaitu Kazakhstan, Kirgistan, dan Uzbekistan.
Ini merupakan pertemuan keempat Xi dan Putin di tahun 2014. Kedua kepala negara saling menawarkan bantuan dalam menghadapi tantangan eksternal.
Masing-masing negara diketahui memiliki krisis. Moskow tengah menjadi sorotan dan dikritik oleh negara anggota Uni Eropa dan Amerika Serikat setelah menganeksasi Crimea dan diduga terlibat dalam konflik militer di timur Ukraina. Sementara Beijing, tengah menghadapi konflik sengketa wilayah di kawasan Laut China Selatan dengan beberapa negara seperti Jepang dan Vietnam.
Eratnya hubungan kedua negara juga terlihat ketika pada bulan Mei 2014 lalu, Putin berkunjung ke China. Di sana kedua kepala negara menandatangani kesepakatan distribusi gas yang telah dinegosiasikan selama 10 tahun. Nilai kontrak ditaksir mencapai US$400 miliar dan bertahan hingga 30 tahun mendatang.
Langkah Rusia ini merupakan bagian untuk mencari pasar selain di Eropa yang diprediksi akan terkena imbas konflik Ukraina. Putin menjelaskan situasi regional dan internasional yang tidak stabil dan tidak pasti. Sehingga, Xinhua menyebut kedua negara perlu untuk meningkatkan koordinasi.
Putin berharap, mereka dapat terus bergerak maju untuk meneruskan proyek di bidang minyak dan gas, energi nuklir dan sektor lainnya.
China bahkan secara terang-terangan menentang proposal Washington yang ingin menjatuhkan sanksi terhadap Rusia karena peristiwa di Ukraina. Kementerian Luar Negeri China menyatakan berbagai larangan yang diterapkan ke Moskow, malah tidak akan menyelesaikan permasalahan dan situasi.
Perbatasan sepanjang 4.200 kilometer antara Rusia dengan China, bukan alasan utama yang membuat kedua negara menjadi sekutu strategis, diperlihatkan dengan menguatnya aliansi Sino-Rusia.

Kedua negara itu hampir memulai perang pada 1969, memperebutkan pulau kecil dalam Konflik Perbatasan Sino-Soviet. Mereka juga masih bersaing pengaruh hingga hari ini.

Laman Al Jazeera, Senin, 27 Juli 2015, menyebut Kremlin mulai menjadikan Beijing sebagai sekutu strategis baru, akibat upaya terbaru AS mendominasi dunia, paska berakhirnya Perang Dingin.Setelah runtuhnya Soviet pada 1991, Moskow membangun persekutuan geostrategis dengan Berlin, yang akan mengandalkan sumber daya Rusia untuk merespon supremasi Amerika Serikat (AS).

Tapi sanksi yang dijatuhkan Eropa atas Rusia pada 2014, untuk mematuhi keinginan AS, menjadi katalis yang memutar poros perhatian Rusia ke China, termasuk untuk penjualan minyak dan gas. Rusia yang mengandalkan pemasukan dari penjualan energi, kini mengekspor lebih dari 30 juta ton minyak mentah setahun ke China.

China merupakan negara terbesar pengkonsumsi energi. Sementara Rusia memberikan apa yang dibutuhkan China. Hubungan perdagangan dan investasi kedua negara juga terus meningkat dari tahun ke tahun.

Secara politik, Rusia dan China memiliki kesamaan dalam membela rezim Bashar Al-Assad di Suriah. Soal Iran pun tidak ada perbedaan seperti sikap yang ditujukan Amerika Serikat dan sejumlah negara Barat lainnya.

Cina hanya mengingatkan bahwa integrasi dan kedaulatan sebuah negara harus dihormati dan bangsa-bangsa lain tidak ikut campur urusan dalam negeri tiap negara. Penyelesaian terbaik terhadap konflik sebuah negara, kata Wang, dengan melakukan negosiasi secara rasional.

Kembali lagi kepada hubungan China dan Rusia, semakin intensnya hubungan kedua negara juga terlihat dengan rencana pertemuan bilateral antara pemimpin kedua negara di sela-sela pertemuan puncak dua organisasi tersebut.

Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden China Xi Jin-ping.


Melansir Sputnik pada Rabu (8/7/2015), Presiden Rusia Vladimir Putin dikabarkan telah menempatkan Presiden China Xi Jin-ping dalam daftar pertama Kepala Negara yang akan melakukan pertemuan bilateral dengannya. Keduanya dilaporkan akan bertemu siang ini waktu Moskow.

Menurut pembantu presiden Rusia Yuri Ushakov, Putin dan Jin-ping akan membahas mengenai kerangka penguatan kerjasama bilateral kedua negara. Selain itu, keduanya juga akan menandatangani beberapa perjanjian, khususnya perjanjian ekonomi antara kedua negara.

Hubungan Cina dan Rusia dalam beberapa tahun terakhir mengalami pertumbuhan pesat. Rusia tercatat sebagai sekutu dan mitra utama Cina di bidang energi. Moskow menjadi pemasuk utama minyak dan gas ke Cina. Mengingat Rusia produsen minyak terbesar dan Cina konsumen terbesar di bidang energi serta memiliki laju pertumbuhan tercepat di dunia, Moskow dan Beijing semakin giat memperluas hubungan ekonomi mereka.
Volume dan nilai perdagangan Rusia dan Cina dalam beberapa tahun terakhir melampaui 90 miliar dolar setahun dan kedua negara berencana meningkatkan nilai tersebut hingga 200 miliar dolar.
Meski poros utama kerjasama Rusia dan Cina sekitar ekonomi dan energi, namun urgensitas ekonomi saat ini tidak dapat dibandingkan dengan urgensitas politik serta keamanan hubungan kedua negara. Hubungan Rusia dan Cina dalam beberapa tahun terakhir berubah menjadi kerjasama strategis di segala bidang dan dalam hal ini, dialog dan pertemuan teratur pemimpin kedua negara menjadi faktor peningkatan hubungan bilateral Moskow-Beijing.
Presiden Cina, Xi Jinping setelah berkuasa di akhir tahun 2012, menjadikan Moskow sebagai tujuan lawatan pertamanya ke luar negeri. Xi Jinping juga hadir di Olimpiade Sochi meski pemimpin negara besar lainnya melakukan boikot. Di Sochi, Xi Jinping bertemu dengan sejawatnya dari Rusia, Vladimir Putin.
Saat ini Rusia dan Cina menentang kebijakan unilateralisme Amerika Serikat. Keduanya mengambil kebijakan bersama menyikapi transformasi di negara-negara Afrika utara dan Timur Tengah. Di krisis Ukraina, sikap netral Cina telah memuaskan Rusia.
Mengingat krisis Ukraina saat ini dan aneksasi Semenanjung Crimea oleh Rusia yang telah membangkitkan tensi dengan AS serta sekutunya, lawatan Lavrov ke Cina mengindikasikan bahwa Beijing bersama Moskow dalam kasus Kiev.
Sepertinya, mengingat pengalaman konfrontasi Barat khususnya AS dengan Rusia serta Cina, kebijakan unilateralisme  Gedung Putih serta kesamaan visi Cina dan Rusia terkait transformasi politik internasional ke depannya akan semakin memperluas hubungan Moskow-Beijing.


Ke depan Rusia dan China akan terus berupaya memasukan konsep-konsep tata kelola dunia (international order), namun masih belum jelas apakah akan mengarah kepada suatu Blok baru atau tetap berada dalam payung model global governance saat ini. Diperkirakan bahwa China cenderung untuk masuk ke dalam semua relung tata kelola dunia dan secara bertahap mempengaruhinya, sementara Rusia disamping juga berusaha untuk memantapkan posisinya di percaturan politik global seperti China, akan memainkan peranan yang lebih agresif daripada China baik secara retorika politik maupun strategi yang akan membuat Blok Barat membayar mahal, tanpa Rusia mengeluarkan biaya yang terlalu besar.