Bom Atom, Mengapa Digunakan oleh Amerika?

Pada tanggal 6 Agustus 1945, dunia (sayangnya) memasuki era atom. Tanpa peringatan, bom atom dijatuhkan di Hiroshima, lalu menyebabkan sekitar 90.000 orang tewas sekietika dan melukai banyak lainnya yang kemudian meninggal karena penyakit radiasi. Tiga hari kemudian, serangan atom kedua di kota Nagasaki menewaskan hampir 37.000 dan melukai tidak kurang dari 43.000 orang lainnya. Kedua bom diperkirakan menewaskan sekitar 200.000 warga sipil Jepang.

Keputusan Presiden Truman untuk menggunakan bom atom terhadap Jepang pada tahun 1945 bisa dibilang isu yang paling diperdebatkan dalam sejarah Amerika. Pemboman Hiroshima dan Nagasaki telah menghasilkan perdebatan sengit yang  berkecamuk dengan intensitas  luar biasa selama lima dekade. Spektrum perbedaan pandangan berkisar dari pernyataan tegas bahwa serangan atom itu secara militer dan moral dibenarkan. Kontroversi yang muncul telah mengaburkan alasan Truman resmi menjatuhkan bom dan konteks historis di mana ia bertindak.

Letusan bom atom di Hiroshima (kiri) dan Nagasaki (kanan)

 

Katedral Urakami di Nagasaki usai terkena dampak bom atom, September 1945

Pertanyaan sentral yang mengemuka adalah apakah bom untuk secepat-cepatnya mengakhiri perang tersebut merupakan sesuatu yang diterima baik oleh AS maupun oleh sekutu-sekutunya?

Jawaban tradisional akan secara gemilang mengatakan, “ya.” Ancaman invasi Jepang ke AS telah membahayakan ratusan ribu penduduk AS dan penggunaan bom itu merupakn satu-satunya pilihan yang wajar. Argumen ini bertahan hingga hampir 2 dekade awal pasca kejadian tahun 1945. Di kalangan rakyat AS, jawaban seperti itu masih menjadi dominan.

Tetapi kalangan revisionis, yang mulai berkembang pada dekade 1960-an, memberikan jawaban tegas, “tidak.” Mereka berpandangan bahwa Jepang pada masa itu sudah berkehendak menyerah, asal Kaisar Hirohito tetap diizinkan memegang tahta kerajaan. Justru Truman sudah mengetahui kesulitan-kesulitan Jepang dan kemudian cepat-cepat ingin mengakhiri perang. Tetapi motivasi utama sesungguhnya bukan itu namun menyampaikan pesan kepada Uni Soviet bahwa AS tidak bisa dilawan dalam perang dingin.

Selama ini pandangan tradisional mengatakan bahwa Presiden Truman dihadapkan kepada pilihan sulit antara menggunakan bom atom dengan kekhawatiran terjadinya ancaman invasi Jepang. Hal ini bukanlah argumentasi yang masuk akal dan dengan mudah dapat disingkirkan.

Peta situasi pada 1 Agustus 1945. Jepang masih mengendalikan Manchuria, Korea, Taiwa, dan Indochina, sebagian besar wilayah Tiongkok, dan Indonesia.

Para pejabat AS tidak menggubris rencana invasi Jepang, yang rencananya akan dilaksanakan pada 1 November 1945. Mereka telah membaca peluang untuk mencapai kemenangan tanpa perlu memperhatikan ancaman invasi tersebut. Mereka telah menyusun rencana untuk membiarkan kaisar berada dalam tahta akan tetapi peran dan kekuasaannya dilucuti. Perlu dilanjutkan penyerangan dengan senjata konvensional yang akan merusak kawasan dan menciptakan ketakutan diantara penduduk Jepang. Negara akan terisolasi dan kelaparan akan melanda. Begitu tiba situasi itu, biarkan Soviet, yang memiliki armada di Manshuria, untuk segera menyerbu Tokyo. Pandangan tradisional selama ini mampu menerangkan mengapa perang harus dihentikan akan tetapi gagal memberikan penjelasan mengapa penggunaan bom atom menjadi pilihan terbaik bagi Truman?

Penjelasan lain adalah invasi Jepang akan membahayakan ratusan ribu penduduk AS, seperti juga rajin dilontarkan oleh pejabat AS pasca perang. Namun tidak ada bukti yang masuk akal. Pejabat militer ketika memberikan penjelasan pada pertengahan 1945 tidak pernah memberikan angka sebesar itu. Ketika Truman meminta pendapat pejabat pemerintah tentang kemngkinan korban penduduk AS antara 500 ribu hingga 1 juta  sebagaimana pernah dilontarkan oleh mantan Presiden  Herbert Hoover, maka Thomas T. Handy, Wakil Panglima Militer menolak angka sebesar itu. Menurut sang perwira, kemungkinan korban tak akan menyentuh jumlah itu, “terlalu besar” katanya.

Hoover nampaknya membuat perkiraan seandainya invansi dilancarkan ke seluruh daratan Jepang. Akan tetapi para perencana militer berpendapat lunak: cukup mendarat di Kyusu dan mungkin selanjutnya di Honshu, maka telah cukup kekuatan untuk memaksa Jepang menyerah.

Kalangan revisionis berpendapat bahwa dengan menunjuk arsip Jepang yang telah dibuka sekian waktu yang lampau, tak ada sama sekali rencana negeri matahari terbit itu menyerah sebelum dijatuhkannya bom di Hiroshima. Ini juga menunjukkan bahwa pemerintah AS menaruh perhatian yang sungguh-sungguh untuk mengakhiri perang dan prakiraan waktu yang dibutuhkan. Jepang telah merencanakan waktu untuk menyerah dan Truman mengetahui hal itu. Akan tetapi pendapat ini dikecam oleh banyak pakar hingga beberapa waktu sampai merasa perlu menunjuk faktor Soviet sebaagi dorongan penggunaan bom atom.

Pada saat Amerika Serikat menjatuhkan bom atom pada Nagasaki pada 9 Agustus 1945, Uni Soviet  melakukan invasi di Manchuria. Masuknya Soviet dalam perang“, kata sejarawan Jepang Tsuyoshi Hasegawa, memainkan peran yang jauh lebih besar dari bom atom yang telah melemparkan  harapan bahwa Jepang bisa mengakhiri perang melalui mediasi Moskow“.

Jadi, jika mengapa penggunaan bom atom diperlukan? Ya, karena itu akan mempercepat mengakhiri perang dalam jangka waktu singkat dan tampaknya ini menjadi kebutuhan Truman. Tanpa cara itu, perang barangkali akan berlangsung lebih cepat. Tak ada pejabat di sekitar Truman yang membangun keyakinan bahwa bom akan menyelamatkan ratusan ribu nyawa penduduk AS. Penggunaan bom atom akan mempersingkat perang dan mencegah AS terperosok ke dalam kubungan kekalahan.

Adapu penggunaan bom bisa jadi tidak diperlukan. Tak ada argumentasi untuk menghindarkan AS dari invasi Jepang. Telah ada keyakinan bahwa  perang akan berakhir jauh sebelum jadwal invasi direncanakan. Kombinasi invasi Soviet ke Manchuria, efek pengeboman konvensional dan isolasi, memburuknya kondisi domestik Jepang, dan kecemasan penasehat kaisar akan kemunculan huru hara dalam negeri, menjadi faktor menyerahnya Jepang sebelum 1 November 1945. Jadi, tidak ada pula alasan untuk menyelematkan nyawa penduduk AS.

Presiden pengganti Truman, Eisenhower, yang selama 8 tahun menghuni Gedung Putih (1952-1960), mengatakan dalam memoirnya “The White House Years: Mandate for Change, 1953-1956, halaman  312-313, antara lain mengatakan bahwa Jepang sudah kalah dan penggunaan bom atom itu tidak perlu. Amerika harus menghindari kecaman dunia akan penggunaan senjata yang mematikan itu. Bekas Panglima Sekutu di Eropa saat Perang Dunia II itu membatah klaim penggunaan bom atom untuk menyelamatkan nyawa dan telah ada keyakinan jika Jepang akan menyerah dengan tingkat kerugian yang minimal.  Selanjutnya, Eisenhower menuding dorongan penggunaan bom atom itu adalah military industrial complex, kekuasaan produsen senjata yang di masa-masa akan datang akan terus bersaing untuk memperoleh pengaruh dan kekuasaan. Bagi Eisenhower, hanya warganegara terdidik yang tahu persis bagaimana hal itu akan menjadi penghambat terciptanya kedamaian dan tujuan negara.

Contoh lain datang dari Jenderal Douglas MacArthur, yang mengirimkan memorandum setebal 40halaman untuk Presiden Roosevelt yang jelas menguraikan lima alternatif tawaran menyerah dari pejabat Jepang. Memo ini juga dimuat di halaman depan Chicago Tribune dan Washington Times pada tanggal 19 Agustus 1945.

Jepang juga membuat beberapa upaya untuk mengakhiri perang melalui Swedia dan Portugal, yang merupakan negara netral pada saat itu. Mereka juga mendekati para pemimpin Soviet untuk memidasi supaya perang berakhir dan jika mungkin pada bulan September. (Sumber: http://www.globalresearch.ca/the-real-reason-america-used-nuclear-weapons-against-japan-it-was-not-to-end-the-war-or-save-lives/5308192)

Wakil Direktur Intelijen Angkatan Laut AS, Ellis Zacharias, pernah mengakui bahwa ketika Jepang sudah berada dalam ambang menyerahkan diri, justru Washington mengirimkan bom atom. Bagi Zacharias, keputusan itu salah baik dari segi strategi maupun karena alasan kemanusiaan. (Sumber: http://www.huffingtonpost.com/sheldon-drobny/god-damn-americas-media-r_b_91773.html)

Laksamana Leahy, Kepala Staf Gabungan saat masa kepresidenan Roosevelt maupun Truman mengatakan bahwa ia tidak dapat menerima kemenangan perang dengan mengorbankan perempuan dan anak-anak. Penggunaan bom atom, menurut sang laksamana, menunjukkan standar etika orang-orang barbar pada abad pertengahan. Menurut analisisnya, Jepang sudah lumpuh mengingat keberhasilan isolasi dan penggunaan bom tradisional. (Sumber: http://www.ihr.org/jhr/v16/v16n3p-4_Weber.html)

Pejabat militer lain, Laksamana William F. Halsey, pada 9 September 1945 mengatakan bahwa penggunaan bom atom itu tidak lebih ambisi para ilmuwan yang merasa memperoleh mainan baru dan keinginan untuk melakukan uji coba. Bagi Halsey, keputusan itu merupakan hal yang keliru tanpa dapat diperbaiki lagi. (Sumber: http://www.ihr.org/jhr/v16/v16n3p-4_Weber.html)

Pernyataan Halsey jelas menyangkal fakta yang berkembang saat itu bahwa para ilmuwan yang tergabung dalam usaha perakitan bom atom dalam Project Manhatan, yang begitu dirahasiakan pemerintah saat itu, telah menulis surat kepada Menteri Pertahanan supaya tidak perlu dilakukan uji coba dan tidak perlu menjatuhkan bom atom.

Kontroversi keputusan Truman tampaknya akan terus berlanjut. Penggunaan bom yang telah mematikan nyawa  ratusan ribu penduduk nampaknya perlu dikaji dan dievaluasi lagi. Semua harus dilaksanakan menurut bukti-bukti yang dapat diuji kebenarannya dan bukan atas dasar mitos dan perdebatan yang telah berkembang selama 70 tahun.

Seperti dikatakan oleh sejarawan Richard Dolan, bahwa dalam setiap tahun, Perpustakaan Kongres menambahkan sekitar 60 juta halaman dokumen yang dibuka untuk umum. Bersamaan dengan itu, hampir setiap tahun, 10 kali lipat dari jumlah itu, sekitar 560 juta halaman, memuat kebijakan pemerintahan yang dirahasiakan.  Ini menunjukkan kebanyakan aktivitas pemerintahan bersifat rahasia (Sumber: http://www.afterdisclosure.com/2011/04/breakaway.html)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s