Amerika (Masih) Mencengkeram Indonesia

Setelah muncul perjanjian Renville 1948, cengkraman AS di Indonesia mulai nyata dengan hengkangnya Belanda. Hanya saja, Amerika tidak bisa turut secara lansung karena presiden Soekarno sangat anti terhadap neokolonialisme dan imperalisme. Soekarno tetap menolak menjadi boneka Amerika yang ingin membentuk panpacific. Ia justru menjalin kerjasama dengan Soviet yang dianggapnya lebih bisa di percaya.

Berbagai cara dilakukan. November 1957, terjadi percobaan pembunuhan terhadap Bung Karno yang dikenal dengan peristiwa Cikini. Bung Karno selamat namun 9 orang tewas dan 45 orang di sekelilingnya luka. Pemerintah kala itu menuding tindakan makar tersebut di dalangi oleh komplotan ekstrem kanan atas dukungan CIA. Tudingan itu terbukti 22 tahun  kemudian dalam dokumen CIA.

Dalam rangka  menjatuhkan pemerintah, Amerika membantu pemberontakan PRRI/PERMESTA. AS menurunkan kekuatan besar. CIA menjadikan Singapura, Filipina (Pangkalan AS Subik & Clark), Taiwan dan Korea Selatan sebagai pos suplai dan pelatihan bagi pemberontak. Dalam artikel berjudul “PRRI-PERMESTA, seperti dikutip eramuslim.com di paparkan jika pada malam hari, 7 Desember 1957, panglima operasi AL-AS laksamana Arleigh Burke memerintahkan panglima armada  pasukan, aneka jeep, pesawat tempur dan pembom, dan sebagainya. Bahkan sejumlah pesawat tempur AU-Filipina dan AU-Taiwan seperti pesawat F-51 Dmustang, pengebom B-26 Inveder , AT -11 Kansan, pesawat transport Beechcraft, pesawat amfibi PBY 5 Catalina di pinjamkan CIA kepada pemberontak. Sebab itulah pemberontak bisa memiliki angkatan udaranya sendiri yang dinamakan AUREV (AU Revolusioner). Beberapa pilot pesawat tempur tersebut bahkan di kendalikan sendiri oleh personil militer AS, Korea Selatan, Taiwan, dan juga Filipina.

Awalnya Amerika membantah terlibat, namun sebuah pesawat pengebom B-29 milik AS di tembak jatuh oleh sistem penangkis serangan udara Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI). Setelah pesawat itu membombardir sebuah pasar  dan landasan udara Ambon yang mengakibatkan seorang rakyat sipil tewas. Pilot pesawat itu, Allan Lawrence Pope, berhasil di tangkap hidup-hidup. Ia  terbang atas perintah CIA. Akhirnya pemberontakan itu bisa di gagalkan.

Namun AS terus mencari jalan lain untuk menancapkan kukunya di Indonesia. Caranya dengan mengkooptasi sejumlah pimpinan militer  di angkatan darat. CIA juga menggarap satu proyek membangun kelompok elit birokrat baru yang pro-AS yang di kenal sebagai ‘Mafia Berkeley’. Sumitro Djojohadi Kusumo dan Soedjatmoko merupakan tokoh penting dalam kelompok ini. Bahkan di awal tahun 1960-an , tokoh-tokoh Mafia Berkeley ini bisa mengajar di Seskoad dan menjalin komunikasi intensif dengan sekelompok perwira angkatan darat yang memusuhi Soekarno.

Amerika menyelenggarakan pendidikan militer untuk para perwira Indonesia ini di Front Leavenworth, Fort Bragg, dan sebagainya. Pada masa antara 1958-1965 jumlah perwira Indonesia yang mendapat pendidikan ini menjadi  4000 orang. Para perwira dan Mafia Berkeley inilah yang  dipersiapkan duduk di kursi pemerintahan yang pro Amerika.

Puncaknya ketika Amerika berada di balik pemberontakan G 30 S/ PKI. Banyak dokumen dan literatur membongkar keterlibatan CIA di dalam peristiwa oktober 1965 tersebut.

Amerika bergembira ketika Soeharto naik. Sampai-sampai presiden AS Richard M Nixon sendiri menyebut hal itu sebagai “Terbukanya upeti besar dari Asia”. Sumber daya alam yang semula dinasionalisasi dari perusahaan asing oleh Soekarno, pada era Soeharto kekayaan alam Indonesia digadaikan kepada Amerika dalam pertemuan di Swiss, November 1967. Perusahaan yang multinasional yang di pimpin oleh Rockefeller kemudian mengkavling-kavling kekayaan Indonesia. Diantaranya Freeport yang memperoleh gunung emas di Papua.

Tidak berhenti di situ, melalui antek-anteknya di Indonesia, Amerika merancang dan menyusun strategi pembangunan nasional negeri ini yang di kenal sebagai Repelita lewat satu tim asistensi CIA dan sejumlahthink-thank AS yang bekerja di belakang para teknokrat dan birokrat rezim Orde baru.

Tidak salah jika banyak pengamat dengan sinis menyatakan jika Indonesia pasca Soekarno sebenarnya merupakan negara bagian dari Amerika Serikat ke-51 setelah Hawaii. Di akui atau tidak hal ini terus berjalan sampai detik ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s