Dari G-7 ke G-8 ke G-20

Pada tahun 1971, sistem ekonomi global atas dasar Bretton Wood diambang keruntuhan. Nilai tukar internasional memburuk. Ada krisis minyak akibat pemboikotan negara Timur Tengah sebagai protes perang Arab Israel. Ada kebutuhan untuk mengkoordinasikan kebijakan ekonomi yang lebih baik. Pada 25 Maret 1973, para menteri keuangan dari Inggris, Prancis, Jerman, dan AS, bertemu dan menyepakati rencana tersebut. Pada bulan September tahun yang sama, ditambah bergabungnya Jepang, mereka sepakat membentuk Group of Fives (G-5) dan sejak itu selalu mengadakan pertemuan tahunan hampir 10 tahun berikutnya.

Pada tahun 1974, Presiden Prancis Valery Giscard d’Estaing mengundang para kepala pemerintahan AS, Inggris, Prancis, Jerman (Barat), Jepang, dan Italia untuk mengadakan pertemuan di tahun berikutnya. Pada 1976, keanggotaan itu ditambah dengan Kanada dan hingga saat itu telah dilangsung sebanyak 36 kali pertemuan.

Pada awal 1991, Rusia mulai berpartisipasi dalam pertemuan diantara negara-negara tersebut dan kemudian 1997 resmi bergabung, sehingga kelompok negara itu menjadi G-8.

Forum G-8 mencerminkan kekuatan ekonomi dunia yang masih berpengaruh hingga dewasa ini. Negara-negara yang tergabung di dalamnya menganut sistem demokrasi, memiliki kekuatan militer, dan merupakan sekutu AS. Forum tersebut relatif kecil dan diantara para kepala negara saling mengenal dengan baik.

Untuk ukuran sekarang barangkali bergabungnya Rusia merupakan fenomena yang aneh. Akan tetapi pada waktu itu Rusia perlu diperhitungkan untuk mendorong negara itu segera menerapkan demokrasi dan ekonomi pasar, sembari memberikan symbol supaya pesan-pesan mereka diterima di seluruh kawasan. Namun gagasan itu sebagian besar kandas, mengingat Rusia acapkali memiliki kepentingan politik dan ekonomi yang berbeda.

Kecenderungan konsultasi diantara G-8 tidak berubah: elitis dan tertutup. Tiap-tiap negara menunjuk seorang pejabat sebagai mediator. Mereka yang mempersiapkan agenda, menata Bahasa, dan bahkan menentukan pakaian apa yang harus dikenakan para kepala negara itu saat mengadakan pertemuan.

Dari waktu ke waktu, forum yang awalnya hanya berkutat pada isu ekonomi dan keuangan, lalu beralih ke isu yang lebih luas seperti sektor keamanan, lingkungan, dan pembangunan. Sejak tahun 1986, para menteri keuangan G-8 mengajak setiap gubernur bank sentral untuk berdiskusi.

Dalam sebuah pertemuan, para kepala negara itu acapkali mengabaikan bahan yang sudah dipersiapkan. Mereka cenderung untuk membahas apa yang bagi mereka dianggap penting. Dewasa ini, G-8 masih eksis. Ia menjadi sebuah perkumpulan negara yang bertahan melewati pergantian abad dan tetap menjadi perhatian bagi setiap pemerhati politik.

Pada akhir 1990-an, setelah sebelumnya krisis ekonomi menyapu kawasan Amerika Latin dan kemudian Asia, menyadarkan anggota G-7 bahwa manajemen ekonomi global perlu ditinjau ulang. Pada pertemuan yang dipimpin oleh Menteri Keuangan Kanada Paul Martin dan Menteri Keuangan AS Lawrence Summer, yang awalnya membicarakan stabilitas ekonomi, lalu sepakat untuk memperluas jangkauan keanggotaan forum.

Setelah pertemuan pendahuluan pada 1998 dan 1999, yang masing-masing mengundang 22 dan 33 negara, maka pada Desember 1999, berhasil dibentuk forum G-20, yang beranggotakan G-8, Uni Eropa, dan negara-negara yang dianggap memiliki kekuatan regional penting: Australia, Argentina, Brazil, India, Arab Saudi, Indonesia, Afrika Selatan, Korea Selatan, dan Turki.

Dalam tahun-tahun berikutnya para menteri keuangan dan gubernur bank sentral G-20 mengadakan pertemuan rutin. Paul Martin menghendaki supaya lebih efektif harus didorong untuk mengadakan pertemuan dalam tingkat kepala pemerintahan. Sepanjang masa jabatan sebagai Perdana Menteri Kanada (2003-2006), Martin aktif terus menerus mengusung gagasannya itu.

Namun, dominasi G-8 dalam forum G-20 nampaknya menjadi persoalan. Pada tahun 2005, selaku ketua pertemuan puncak G-8, Perdana Menteri Tony Blair berinisiatif untuk mengundang negara-negara yang dianggap memiliki kemajuan ekonomi pesat yaitu Brazil, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan. Pada pertemuan tahun 2007, Jerman meresmikan forum G-8+5, yang selanjutnya mengagendakan pertemuan rutin dengan agenda yang terjadwal.

Agenda Jerman—G-8+5-tak bertahan lama. Perdana Menteri Inggris Gordon Brown dan Presiden Prancis Nicholas Sarkozy memandangnya sebagai hal yang tidak berguna. Ketimpangan posisi itu terus berlanjut hingga krisis global 2008.

Ekonomi AS remuk. IMF, PBB, G-8, dan G-20 segera mengandakan pertemuan membahas krisis ekonomi itu. Pertemuan para menteri keuangan G-20 pada November 2008 nampaknya dirancang untuk mempersiapkan agenda berikutnya di tingkat kepala negara.

Untuk waktu-waktu selanjutnya, sesuai usulan Prancis pada 2011, akan diadakan pertemuan terpisah dengan agenda yang berbeda. Bulan Mei diadakan pertemuan G-8 dan pada November diadakan pertemuan G-20.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s