4 Skenario Pilihan AS dalam Intervensi Militer ke Suriah

Gedung Putih pekan lalu mengatakan  bahwa AS akan mulai mempersenjatai kelompok oposisi Suriah dengan senjata ringan, sebagai tanda bahwa pemerintahan Obama mulai tertarik untuk intervensi perang saudara berdarah di negara itu. Pertanyaannya sekarang adalah seberapa jauh Amerika akan terlibat dalam pertempuran tersebut.

 Keputusan untuk memasok senjata adalah langkah setengah hati-hati dari Presiden Barack Obama, yang sebelumnya sedang berkonsentrasi untuk  mengakhiri dua perang  (Perang Irak dan Perang Afganistan) yang dikobarkan oleh George W. Bush. Obama hanya setuju untuk keterlibatan militer ketika opini dunia jelas bersandar mendukung upaya itu. Ketika Obama melakukan intervensi di Libya dan Afrika Tengah, misalnya, ia sangat berhasil dalam menjaga AS terlibat lebih jauh ke dalam pertumpahan darah. Pertimbangan tesebut masuk akal juga. Obama mungkin ingin menjaga oposisi tetap bertahan, tetapi juga akan berbahaya jika memberi mereka senjata yang dapat digunakan untuk membajak  pesawat sejak salah satu kelompok pemberontak, Jabhat al-Nusra, terungkap sebagai salah satu sekutu al-Qaeda  pada Desember lalu. Tapi Suriah sejauh ini merupakan perang terbesar di mana Obama telah mengambil  posisi  dan dengan taruhan tinggi AS di wilayah tersebut, intervensi membawa risiko jauh lebih dari sekadar hadiah. Dari pengalaman sejarah intervensi militer AS dalam perang saudara, barangkali ada 4 skenario yang bisa dipertimbangkan lebih lanjut oleh Obama dalam menyusun rencana keterlibatannya di Suriah.

Pertama, misi merayap yang menghasilkan hasil buruk. Ketika Presiden George H.W.Bush mengerahkan pasukan AS ke Somalia pada akhir 1992, menggunakan  alasan yang sama  dengan retorika Presiden Obama yaitu alasan kemanusiaan.  Ketika menjabat kurang dari dua bulan kemudian, Bill Clinton mendapati dirinya menanggung perang  yang tidak diharapkan.  Pengalaman meningkatnya keterlibatan AS tersebut lantas memperkenalkan istilah “misi merayap” ke kosakata Amerika sebagai misi kemanusiaan yang kemudian berubah menjadi terjebak dalam konflik yang buruk.

Setelah tentara Amerika tewas dan diseret melalui jalan-jalan Mogadishu pada satu ekspedisi tersebut, Clinton tiba-tiba menghadapi ancaman potensial: Amerika menambah eksalasi intervensi tetapi harus ada jaminan kemenangan atau justru menghentikan di tengah proses dan kemudian meninggalkan konflik. Presiden Clinton memilih yang kedua. Memori Mogadishu masih segar dalam ingatan banyak orang yang mendukung intervensi kemanusiaan, termasuk Obama, sehingga dia tetap berhati-hati dalam merancang keterlibatan AS dalam ke perang Suriah. “Kami saat ini tidak dalam posisi percaya bahwa AS memiliki kepentingan nasional dalam mengejar keterlibatan militer secara terbuka melalui zona larangan terbang di Suriah saat ini” kata Deputi Penasehat Keamanan Nasional Ben Rhodes waktu mengumumkan mempersenjatai pemberontak Suriah.

Obama telah menghadapi kecaman anggota Kongres untuk berbuat lebih banyak. Tidak membayangkan pasukan di lapangan, tetapi banyak yang mendukung zona larangan terbang. “Tujuan kami dalam jangka pendek adalah untuk menyeimbangkan kekuatan militer dan menyediakan senjata ringan tidak akan membawa keberhasilan,” kata Senator Lindsey Graham, dari Partai Republik yang mewakili Negara Bagian South Carolina, “Jadi kita harus mempertahankan zona larangan terbang untuk menetralisir kekuatan udara Assad.”

 Kedua, misi merayap dengan keberhasilan yang baik. Setelah Mogadishu, Presiden Clinton menolak tuntutan campur tangan dalam perang di Balkan. Dia juga menghadapi perlawanan kuat dari Rusia, yang menganggap wilayah itu secara tradisional  berada dalam pengaruhnya. Clinton mendorong serangkaian misi PBB yang dipimpin oleh campuran tentara Eropa dan Asia akan tetapi gagal untuk memberikan perdamaian atau melindungi warga sipil. Selama 3 tahun berikutnya, hampir 100.000 orang tewa sehingga misi PBB diperluas. Pada akhirnya, pemerintahan Clinton memimpin misi NATO untuk mengakhiri pertempuran. PBB memperkirakan bahwa 93.000 telah tewas di Suriah dalam dua tahun terakhir konflik. NATO membutuhkan 80.000 tentara untuk mengamankan Bosnia, dan Pentagon memperkirakan itu akan saam dengan kebutuhan tentara untuk mengamankan cadangand senjata kimia dan biologi Assad. Rusia telah mengutuk keras Eropa dan keterlibatan AS.  Jane Harman, mantan politisi yang sekarang memimpin Woodrow Wilson Center, mengatakan bahwa pelajaran dari Bosnia mungkin berlaku di Suriah.

 Ketiga,  keterbatasan bantuan militer AS untuk menjaga keseimbangan dalam mendukung para pemberontak,  menyebabkan kelompok sekutu Al-Qaeda muncul lebih kuat dari sebelumnya. Bagian dari teka-teki bagi Obama saat ia menghendaki AS terlibat di Suriah adalah bahwa beberapa pemberontak  yang didukung oleh AS bersekutu dengan kelompok-kelompok terkait dengan Al-Qaeda. Jika bantuan AS membantu menggulingkan Assad, AS bisa menghadapi hasil yang lebih buruk: kalangan radikal yang telah diberdayakan di wilayah tersebut. Potensi dampak serupa pernah menimpa AS saat memperoleh dukungan Taliban melawan Uni Soviet di Afghanistan pada 1970-an dan awal 1980-an. Nampaknya ini menjadi alasan utama Obama membatasi jenis bantuan militer  yang akan dikirimkan kepada para pemberontak.

 Keempat, keterlibatan Amerika sangat terbatas tapi membantu menciptakan keseimbangan dalam mendukung para pemberontak dan ditujukan bagi mereka yang tidak bersekutu dengan Al-Qaeda.

 Dipaparkan 4 skenario model keterlibatan AS di Suriah, akan tetapi sesungguhnya tidak ada model nyata yang menjamin keberhasilan dalam sejarah Amerika belakangan ini. Yang paling dekat adalah intervensi Obama di Libya, yang pertama sebagai comandan-in-chief. Ketika Muammar Khadaffi mengancam melakukan serangan meluas terhadap rakyatnya sendiri koalisi negara yang mendukung sanksi PBB, termasuk AS melangkah untuk membantu pemberontak menggulingkan Khadaffi. Oposisi Libya lebih terorganisir dan lebih kohesif di Suriah. Meski begitu, kalangan radikal muncul dan kemudian meluncurkan serangan di Benghazi yang menewaskan Duta Besar AS Chris Stevens dan 3 orang Amerika lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s