Koran Di Cina: Tranformasi, Intervensi, dan Reformasi

Cina merupakan negara dengan penduduk yang keranjingan membaca koran dan koran merupakan bentuk kebudayaan populer yang paling kontemporer dewasa ini. Untuk tahun 2005 saja, ada 1.931 koran yang diterbitkan dan terjual 41,26 miliar eksemplar dalam tahun serta membubuhkan pendapatan sekitar US$ 3,3 miliar. Artinya, dalam tahun itu, Cina memproduksi sekitar 116 juta eksemplar koran setiap hari atau sekitar 1 koran untuk 12 penduduk Cina setiap hari. Suatu jajak pendapat konsumen pada 2000-an menunjukkan bahwa hampir 50% penduduk membaca koran secara teratur dan dalam hal ini koran menduduki peringkat kedua sebagai sumber informasi sesudah televisi.

Sudah barang tentu, bahwa salah satu alasan membeli atau membaca koran adalah untuk memperoleh berita yang paling baru. Meskipun demikian, dalam konteks kebudayaan populer Cina, hal yang paling penting bagi eksistensi koran adalah kemampuan mereka menyediakan berita dan informasi. Koran juga berperan penting untuk mengartikulasikan hubungan dengan media lain dan kebudayaan populer lainnya dari televisi, radio, film,  dan seni terhadap konsumen, music, pertunjukkan, dan olahraga. Koran merupakan artefak kebudayaan mutlfungsi dalam kehidupan penduduk Cina kontemporer. Koran tidak hanya meliput aktivitas sehari-hari masyarakat tetapi juga memfasilitasi, menyumbang, dan membantu menentukan cara supaya penduduk dapat lebih murah dalam memperoleh setiap helai cetakan atau sumber berita. Koran telah menjadi kenyataan riil dalam kehudpan masyarakat, sehubungan dengan peran dan kedudukan mereka dalam relasi sosial diantara orang-orang.

Koran juga menjalankan fungsi transformasi media dan jurnalistik Cina selama hampir 2,5 dekade reformasi ekonomi. Dibandingkan dengan media penyiaran (khususnya televisi, yang mempunyai tingkat sensitivitas politik tinggi dibandingkan media lain di hadapan pemerintah),  koran sering memperoleh kebebasan untuk bereksperimen dengan isi dan gaya pemberitaan, guna mendorong keterbatasan akibat kontrol partai dan pemerintah dan memandu aspek komersial lebih luas lagi.  Seperti media yang lain, koran mengalami transformasi masif di era pasca Mao dan mengembangkan bentuk-bentuk yang tajam persaingan antara kepatuhan terhadap pemerintah dan partai di satu sisi dan  memupuk keuntungan di sisi yang lain. Koran-koran telah menyesuiaikan diri dan mengembangkan kemungkinan yang ditawarkan dari perubahan kebudayaan dan lingkungan politik lebih kuat dibandingkan dengan media yang lain.

Sudah sejak ribuan tahun kegiatan penulisan telah menjalankan peran penting untuk membangun peradaban dan hal itu sudah berlangsung sedemikian lama. Kegiatan penerbitan umum dimulai sejak penerbitan kerajaan berkala, liputan pengadilan, dan pengumuman-penguman kaisar, yang jejaknya terpelihara baik dalam sejarah. Beberapa bulletin dan jurnal pengadilan yang terbit tiap bulan sudah ada sejak zaman Dinasti Han (206 SM-220 M). Pada masa dinasti Qing (1644-1911) secara rutin sudah diterbitkan lembaran negara yang dikenal sebagai Jing Bao yang dicetak sampai ribuan eksemplar. Penerbitan ini menghimpun dokumen-dokumen pemerintah dan fatwa-fatwa yang diedarkan ke seluruh Cina. Ada juga lembaran negara yang dikelola oleh setiap provinsi  yang berisi informasi urusan pemerintah daerah dan bermacam-macam selebaran di kota-kota besar untuk memuat kejadian atau even-even khusus.

Lembaran negara itu sendiri pada prinsipnya ditujukan kepada pejabat pemerintah, sementara selebaran menjangkau kalangan yang lebih luas. Barulah saat paruh kedua abad ke-19, saat pedagang asing dan misionaris membuka kontak dengan Cina, dikembangkan industri koran, yang bertujuan untuk menyebarluaskan informasi ke kalangan yang lebih luas lagi. Industri koran ini umumnya berbasis di kota-kota pelabuhan dan yang terkenal adalah koran “Shen Bao”, dan diterbitkan pertama kali tahun 1872 dan mempunyai tiras hingga 15.000 eksemplar. Karena umumnya melayani kaum dagang, maka isi koran menekankan urusan bisnis. Koran itu menghindarkan diri memuat berita politik.

Pada akhir abad ke-19 dan dekade pertama abad ke-20,  terjadi perubahan politik di Cina, seperti kekalahan Cina dalam peperangan melawan Jepang dan revolusi 4 Mei 1919, yang kemudian mendorong lonjakan tiras koran-koran di kota-kota pelabuhan dan mulai memuat berita politik. Oleh sebab itu, dibandingkan periode sebelumnya, berita-berita politik mulai menggeser berita-berita mengenai aktivitas bisnis dan perdagangan.

Di pertengahan dan akhir abad ke-19, perluasan penerbitan dan jangkauan koran sungguh tidak dapat dianggap remeh. Misalnya, sebaran koran-koran politik sering diasosiasikan dengan meluasnya gerakan liberal dan reformasi yang mendorong terjadinya revolusi 1911 dan mengakhiri kekaisaran Dinasti Qing. Bahkan, perkembangan peredaran koran tersebut juga menunjukkan  jumlah peminat bacaan terbesar di dunia. Walaupun saat itu distribusi koran relatif masih kecil, kira-kira tak lebih 1-2 % dari jumlah suami isteri generasi pertama yang membaca koran dalam awal abad ke-20. Selanjutnya, untuk pertama kali, ada lonjakan jumlah pembaca yang membaca media yang sama dan kemudian menggagas komunitas pembaca, dengan kepentingan yang sama, karena konsumsi bacaan mereka.

Suatu statistik yang akurat tidak tersedia untuk masa ini, tetapi jumlah pembaca koran pada awal abad ke-20 menckup 2-4 juta penduduk, termasuk pembaca multifungsi dan orang melek huruf yang membacakan koran untuk yang lainnya. Masa ini juga merupakan waktu pembaca koran berubah dari kalangan elit ke kalangan yang lebih luas. Hingga akhir abad ke-19, koran-koran dicetak dalam huruf klasik Cina, yang dikenal sebagai “wen-li” untuk mempermudah bacaan. Meskipun demikian, pembaca koran masih terpusat di elit perkotaan, orang kaya, pejabat pemerintah, pedagang terdidik, dan mahasiswa. Dalam waktu selanjutnya, sekalipun masih berbasis di kawasan perkotaan, koran-koran semakin mengembangkan diri ke luar kota pelabuhan, yang kemudian mengarah ke kota-kota kecil. Koran-koran yang dicetak di Jepang oleh mahasiswa perantauan dan kalangan reformasi bahkan dapat ditemukan hingga kawasan pedesaan.

Pada tahun 1930-an tingkat melek huruf menjangkau kalangan kelas bawah dan kemudian memperkaya segmen pembaca dalam sepektrum sosial yang lebih luas. Koran kemudian berkembang menjadi aktivitas komersial dibandingkan secara politik, didorong oleh keinginan untuk memperbanyak jumlah pembaca dan memupuk keuntungan, sekalipun tidak diartikan bahwa koran-koran lantas bersifat nonpolitik.

Pada periode Republik (1911-1949) terjadi instabilitas politik dan kekacauan karena perang melawan Jepang, pertikaian antara kaum komunis dan nasionalis, dan pergolakan sosial  yang berlangsung hingga paruh pertama abad tersebut. Koran-koran tentu kemudian terlibat dalam politik dan kemudian penerbitan koran menunjukkan dua ciri utama. Pertama, koran bekerja di bawah patronase politik, baik  itu kalangan nasionalis, komunis, dan satu atau beberapa pemimpin erang yang mengendalikan wilayah-wilayah tertentu. Suatu hal yang sulit, hampir mustahil, jika koran harus bertahan tanpa jalinan politik (atau dukungan tentara) sebagai penopang kekuasaan lokal. Kedua, koran menjadi corong politik atas bermacam-macam kekuatan politik. Sensor dan propaganda menjadi ciri kehidupan koran-koran pada masa itu. Di bawah Mao, kedua bentuk wajah penerbitan koran itu terlembaga meskipun samar-samar. Hanya ada satu patron politik—Partai Komunis—dan segera saja kemudian semua koran melebur dalam patron yang sama.

Partai Komunis sendiri kemudian mengelola koran sendiri selama beberapa dekade, the Red Flag Daily dan the Red China Daily, yang terbit di Sanghai dan Provinsi Jiangxi, yang terbit awal 1920-an hingga pertengahan 1930-an. Lalu the New China Daily dan the Liberation Daily yang keduanya terbit di Yan’an selama perang melawan Jepang (1937-1945). Pada saat Partai Komunis memastikan kemenangan mereka di tahun 1948, diterbitkan the People’s Daily, yang kemudian menjadi koran tersohor yang diterbitkan di Provinsi Hebei.  Saat Beijing dikendalikan oleh Partai Komunis, penerbitan itu pun dipindah ke ibukota.

Di bawah pengaruh Partai Komunis, sejak awal republik, koran-koran, di samping film dan radi, menjalankan fungsi penting untuk menyebarluaskan berita, informasi, dan propaganda ke seluruh penjuru negeri. Sejak tahun 1950-an, tak diizinkan adanya kepemilikan swasta atas penerbitan koran dan semua penerbit dikendalikan oleh Komite Propaganda Partai. Koran The People Daily lalu menjadi koran resmi pemerintah, yang tajuk rencananya memuat kebijakan baru atau kampanye pemerintah, yang hingga sekarang menjadi pusat perhatian pengamat politik. Pidato dan tulisan Mao diterbitkan pertama kali dalam bentuk cetak dan disiarkan oleh radio dan didistribusikan sebagaian besar oleh pejabat partai dan birokrasi sebagai bahan resmi kursus-kursus wajib di seluruh negeri. Koran yang lain, dan juga hingga sekarang, juga dipersyaratkan untuk mengutip editorial the People Day.

Melek huruf berkembang di kalangan rakyat sejak masa Republik, tetapi, perkembangannya berjalan begitu lamban, dan pemerintah nampaknya enggan untuk melakukan usaha mempercepatnya. Di awal tahun 1960-an, hampir 40% penduduk masih buta aksara atau hanya mempunyai kemampuan baca tulis terbatas. Sehubungan dengan ini, Partai Komunis memulai untuk program penyederhanaan bahasa supaya ejaan-ejaan Cina lebih mudah dipelajari. Unit kerja tertentu diserahi pekerjaan mempergiat baca tulis. Motivasi untuk kebijakan ini beragam. Pada satu sisi, tingkat melek huruf merupakan sarana untuk modernisasi dan peningkatan serta ciri keberhasilan Partai Komunis dalam melakukan transformasi. Partai Komunis hakekatnya juga menghendaki pengembangan pendidikan dan kebudayaan di kalangan penduduk. Pada saat yang sama, Partai akan semakin mudah untuk melakukan komunikasi dan memobilisasi penduduk yang mempunyai kemampuan baca tulis dibandingkan yang buta huruf, sehingga pengembangan kemampuan melek huruf merupakan kepentingan utama bagi partai dan pemerintah.

Sebelum radio dan televisi mengakar di kalangan penduduk seperti sekarang, koran merupakan salah satu jaringan utama untuk menghubungan rakyat dengan pengurus partai Daerah dengan pejabat partai di Beijing. Sampai kemudian dibandung penyiaran radio, tingkat buta huruf mempertinggi ketergantungan rakyat dengan partai dan pelaksanaan rapat-rapat umum untuk menerima informasi. Pada awal 1960-an, salinan koran diedarkan untuk tiap-tiap 10 orang; karena hanya 40% orang yang mempunyai akses langsung terhadap koran. Ketika radio menyiarkan tajuk rencana koran dan pertemuan politik ikut diperhitungkan, maka presentase akses itu kemudian melonjak dengan cepat.

Koran-koran pada tahun 1950-an dan 1960-an hanya sekadar penyalur pesan negara, tetapi, koran ini telah berpartisipasi dalam pergerakan politik di masa itu. Di akhir 1950-an, koran menjadi sarana pertukaran gagasan antara cendekiawan dengan partai. Pada 1958-1959, koran digunakan oleh pejabat partai daerah untuk menyatakan ketidakpercayaan terhadap pemerintah akibat banyaknya penduduk yang meninggal dunia karena kelaparan. Pada pertengahan 1960-an, sebelum terjadi revolusi kebudayaan, koran menjadi ajang konflik bagi faksi-faksi yang bertikai dalam internal partai. Peran ini misalnya dijalankan oleh koran “the Guaming Day”, “the Beijing Day”, Qianxian (Frontline), “the Liberation Army Day:, dan sebagainya.

Jalannya Revolusi Kebudayaan (sejak 1966) telah mengganggu penerbitan koran dan untuk waktu-waktu selanjutnya isi pemberitaan cenderung monoton. Koran-koran begitu saja mengambialih isi pemberitaan “the People’s Daily.” Semua penerbitan membeo terhadap slogan Revolusi Kebudayaan, memuja Mao, menghujat Liu Shaoqi (penentang Mao), dan menerbah fitnah terhadap kalangan cendekiawan, pendukungan kapitalisme, dan penentang revolusi. Ini merupakan masa kegelapan bagi era jurnalistik, waktu di mana profesionalisme, obyektifitas, ketaatan kepada kebenaran disingkirkan atas nama pemurnian kepentingan politik. Dalam kurun waktu 1970-an dan 1980-an, koran-koran di Cina menjalani revolusi menurut cara mereka sendiri, suatu revolusi yang menjalankan peran penting dalam transformasi radikal jurnalisme Cina tetapi juga masyarakat dan kebudayaan populer pada umumnya.

Pada tahun 1980-an, merupakan masa penting bagi pertumbuhan industri koran Cina mendatang merupakan  gabungan dari usaha reformasi ekonomi dan Kebijakan Pintu Terbuka (the open door policy) yang mendorong transformasi negara. Pemimpin partai yang baru, Den Xiaoping memulai untuk menggeser poltik, khususnya masalah kelas dan perjuangan kelas, sebagai elemen dasar dari ekonomi dan memperkenalkan elemen kebebasan pasar untuk menggantikannya. Pada saat yang sama, kalangan cendekiawan memperoleh kebebasan berbicara dan semakin kritis terhadap ajaran-ajaran Mao.

Dalam industri koran, perubahan yang cepat bidang ekonomi, sosial, dan iklim intelektual segera mendorong pemaknaan politik media Cina sebagai corong partai untuk ditinjau kembali atau bahkan dihapus. Pada pertengahan 1980-an, sosok liberalis dalam Partai Komunis seperti Hu Yaobang dan Zhao Ziyang memberikan dukungan tidak langsung terhadap gerakan semacam itu sehingga koran-koran mulai memuat berita yang sama sekali tidak terbayangkan sebelumnya. Koran-koran menemukan kebebasan baru untuk meliput isu sosial dan topik-topik yang sebelumnya dianggap sensitif secara politik, seperti lapangan kerja, pendidikan, dan korupsi.

Suatu ilustrasi yang tepat untuk menggambarkan hal itu adalah terbitnya “the World Economic Herald” di Sanghai pada tahun 1980-an. Koran ini memuat berita-berita mengenai ekonomi Cina dan internasional, didukung oleh Akademi Ilmu Sosial Sanghai dan Asosiasi Sarjana Ekonomi Dunia Cina—keduanya merupakan institusi pemerintah—dengan menerapkan lisensi penerbitan, yang dilakukan melalui kontrak dengan “the World Economic Herald.” Kalangan pemerintah pun memanfaatkan koran ini untuk merencanakan kebijakan dan menguji reaksi publik atas kebijakan itu.

Tahun 1989, koran “the World Economic Herald” dituduh terlibat dengan gerakan prodemokrasi dan setelah tragedi Tiananmen ditekan secara brutal sehingga lepas dari dukungan politik. Koran ini juga kehilangan patronase politik sehubungan dengan pemecatan Sekretaris Partai Zhao Ziyang karena peristiwa Tiananmen. Koran ini pun pelan-pelan ditutup, memperjelas bahwa partai mampu memaksakan pembatasan atas kebebasan pers dan politik.

Secara kruasial, kejadian pembatasan pers di tahun 1980-an diikuti dengan imperatif ekonomi baru yang juga mentransformasikan industri koran. Di bawah reformasi, banyak organisasi pemerintah memandang penerbitan koran sebagai kesempatan bisnis sehingga menyebabkan lonjakan terbitan koran baru pada 1980-an dan 1990-an. Pada 1970-an hingga pertengahan 1980-an jumlah penerbitan mencapai 200 koran per tahun, dari 186 koran pada 1979 dan menjadi 1.574 pada 1986. Di tahun 1989 menjadi 1.618 koran dan berkembang menjadi 2.235 di tahun 1996.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s