CIA dan Hollywood

Central Inteligence Agency (CIA) merupakan salah satu organisasi intelijen yang amat populer di dunia. Bukan saja aktivitas dan sepak terjangnya dalam banyak aspek kehidupan lintas batas negara, tetapi badan intelijen Amerika ini juga kerap muncul dalam tayangan film layar lebar maupun televisi. Tampilnya karakter CIA—baik fiktif maupun fakta—dalam banyak film yang diproduksi Hollywood misalnya, sudah berlangsung dalam sejarah yang panjang. Karakter CIA tampil dalam tayangan televisi maupun film di Amerika sudah berlangsung sejak tahun 1960-an.

Film dengan tema mata-mata telah ada sekurang-kurangnya sejak 1920-an, dan untuk ini dapat diambil contoh misalnya film Spione (1928) karya sutradara Fritz Lang. Alfred Hitchcock mempertajam jumlah tayangan topik ini dalam sejumlah karya-karyanya sejak 1930-an seperti The Man Who Knew Too Much (1934), The 39 Step (1935), dan The Lady Vanishes (1938), dan sejumlah karya dalam tahun 1940-an dan 1950-an yang mengeksplorasi peranan agen-agen Sekutu untuk menguasai Eropa. Kemudian sejak tahun 1960-an, CIA  tampil dalam film dan tayangan televisi mainstream. Muncullah kemudian rangkaian kesan negatif mengenai lembaga ini dalam masa-masa selanjutnya. Dapat disebut di sini film Dr. No (1962), Goldfinger (1964), The Ipcress File (1965), Operation CIA (1965), dan Thunderball (1965). Kemudian film The Kremlin Letter (1970), Diamonds Are Forever (1971), H-Bomb (1971), Madame Sin (1972), Executive Action (1973), Key West (1973), Live and Let Die (1973), Scorpio (1973), the Spook Who Sat by the Door (1973), Three Days of the Candor (1975), dan Avalanche Express (1979).

Kemudian dalam dekade 1980-an karakter CIA muncul dalam sejumlah film seperti Hopscothch (1980), The Amateur (1981), Condoman (1981), The Soldier (1982), Wrong Is Right (1982), The Osterman Weekend (1983), Ninja in the Claw of the CIA (1983), The Man With One Red Shoe (1985), Spies Like Us (1985), Jumpin’s Jack Flash (1986), Ishtar (1987), Malone (1987), Mankillers (1987), dan Licence to Kill (1989).

Film-film yang diproduksi dalam tahun 1990-an yang menampilkan karakter CIA dapat disebut beberapa di sini seperti The Hunt for Red October (1990), JFK (1991), CIA Codename: Alexa (1992), Malcolm X (1992), CIA II: Target Alexa (1994), Clear and Present Danger (1994), Femme Fontaine: Killer Babe for the CIA (1994), Golden Eye (1995), To The Limit (1995), Mission Impossible (1996), Black Sea Raid (1997), dead Men Can’t Dance (1997), Tommorow Never Dies (1997), Ronin (1998), dan The Siege (1999).

Memasuki tahun 2000 hingga 2010, jumlah film dan serial sejenis termasuk cukup banyak. Antara lain Company Man (2000), Falcon Down (2000), Meet the Parents (2000), Mision Impossible II (2000), The Agency (2001-2003), Alias (2001-2006), Spy Game (2001), Spy Kids (2001), 24 (2001-2010), Bad Company (2002), The Bourney Identity (2002), Colletaral Damage (2002), Cofessions of Dangers Man (2002), Die Another Day (2002), The Quiet America (2002), The Sume of All Feras (2002), Agent Cody Bank (2003), 1st Testament: CIA Vengeance (2003),  Once Upon a Time in Mexico (2003), The Recruit (2003), Agent Cody Bank 2 (2004), The Bourne Supremacy (2004), dan Meet the Fockers  (2004). Kemudian film lain seperti Syiriana (2005), Casino Royale (2006), The Bourne Ultimatum (2007), The Company (2007), Quantum of Salace (2008), The Objective (2009), dan The Ghost Writer (2010).

Seperti diungkapkan oleh Erik Lundegaard, sejak awal kelahiran CIA (1947), badan ini jarang tampil dalam film Hollywood dan seandainya kemudian tampil dalam karakter layar lebar, “hanya mengendap-endap dan berupa bayang-bayang.” Sesudah itu, CIA dikaitkan dengan figur terkenal (film Malcom X), menggunakan orang-orang tidak bersalah sebagai umpan (film Spy Game), pembunuhan pemimpin asing dan militer (film Syriana dan Apocalypse Now) dan mungkin juga Presiden Amerika (film JFK). Karakter CIA dalam menjalankan perannya digambarkan “dapat efektif atau justru menunjukkan ketidakmampuan secara konyol, tetapi selamanya dianggap berbahaya,”kata seorang penulis Lundegaard.

Bill Harlow, mantan Direktur Hubungan Masyarakat CIA, menggarisbawahi pendapat Lundegaard saat dia mengatakan bahwa industri pertunjukkan secara tradisonal menampilkan tipe khas pejabat CIA dalam gambaran “kejam, mengerikan, dan jahat.” Harlow menyebut misalnya dalam karakter yang tampil dalam film In the Line of Fire.  Chase Brandon menambahkan, terutama dalam film bergenre political thriller CIA ditampilkan sebagai lembaga yang menjalankan kegiatan secara jahat. Suatu pandangan komparatif dikemukakan oleh The United International Press yang memuat pendapat Steve Sailer bahwa FBI ditampilkan dalam film-film Hollywood kerap dalam sosok sebagai “full heroic G-men”, sementara CIA jarang ditampilkan semacam itu.

Secara umum, khususnya dalam produksi Hollywood, CIA ditampilkan dalam 5 karakter utama. Pertama, terlibat dalam pembunuhan. Kedua, operasi-operasi jahat dengan sedikit kekhilafan. Ketiga, sedikit peduli terhadap pejabat dan aset-asetnya. Keempat, bekerja dalam nuanasa moralitas yang ambigu. Kelima, tampil dalam lawakan atau lelucon yang membingungkan.

Pengungkapan karakter negatif CIA dalam film Hollywood begitu gencar sesudah Perang Dingin dan kasus Aldrich Ames (1994). Selanjutnya, CIA bahkan menjalin relasi formal dengan pembentuk film sejak pertengahan 1990-an dan menempatkan Hollywood sebagai kolaborator utama, sekurang-kurangnya seperti nampak dalam tayangan serial di ABC yang berjudul The Classified Files of the CIA da serial televisi lain, The FBI.  Itulah sebabnya CIA mampu mendaulat Chase Brandon dalam hubungan formal pertama kali pada tahun 1996. Dalam masa sekarang, bahkan CIA diduga berperan dalam mempengaruhi naskah, termasuk dalam tahapan produksi dan pre-produksi dalam pembuatan sebuah film. Hubungan formal itu nampak pula dalam film In the Company of Spies dan tayangan serial CBS The Agency. Kedua produksi tersebut memberikan akses tak biasa kepada personel CIA dan markas lembaga intelijen ini di Langley, Virginia. Relasi itu terbangun makin erat sejak peristiwa 9/11, seperti dalam film Enemy of the State, The Sum of All Fears, Alias, dan The Recruit.

Ada anggapan “keaktifan” CIA dalam pembuatan film sejak 1996 tersebut tidak dijumpai dalam era Perang Dingin. Asumsi ini keliru, karena pada masa itu personel CIA bekerjasama dengan produser untuk melaksanakan operasi tertutup dan kampanye propaganda. Misalnya, Hugh Wilford menjelaskan bahwa dalam film The Mighty Wurlitzer, CIA amat berkepentingan di Hollywood selama Perang Dingin karena film dipercaya sebagai medium terbaik untuk menyampaikan pesan-pesan prodemokrasi di negara-negara yang melek aksaranya rendah. Oleh sebab itu, CIA membangun pengaruh dalam beberapa produksi film dengan menekankan “semangat patriotik” dan antikomunisme, termasuk ketika bekerjasama dengan John Ford, aktor John Wayne, dan pemimpin studio Cecil B. DeMille, Dary Zanuck, dan Luigi Luraschi.

Pada tahun 1950-an, CIA bahkan merekurt Luraschi, kepala bagian sensor domestik dan luar negeri Paramount Studio, dengan tugas memastikan tidak adanya anansir asing dalam tahap-tahap pembuatan film. Lurachi juga memastikan bahwa film-film berbau kiri seperti High Noon (1952) dan The Little World of Don Camillo (1952) disingkirkan dari ajang penghargaan film, termasuk melaporkan kepada CIA pekerja film yang menaruh simpati atas film-film itu. Luraschi juga pernah bekerjasama dengan sejumlah sutradara untuk mendefinisikan karakter tertentu seperti “manusia bebas”, “derajat negro”, seperti tercermin dalam film Sangaree (1953) dan The Chaddy (1953).

Badan Koordinasi Kebijakan, badan penelitian di CIA, juga bertugas untuk memojokkan ideologi Soviet dan menentang serangan komunisme di Barat melalui film. Pada tahun 1950, badan ini melakukan negosiasi dengan George Orwell untuk melakukan adaptasi terhadap novel Animal Farm, untuk menampilkan sosok tidak menarik Stalin dan kebijakan komunisme sebelum Perang Dunia II.

Pada akhir tahun 1950-an, CIA memberikan dukungan dana rahasia untuk mendistribusikan film ke negara lain di wilayah yang berpotensi dipengaruhi oleh komunisme. Lembaga ini juga menyodorkan data-data detail mengenai Soviet dengan harapan akan ditampilkan dalam film seperti dialami oleh Frank Capra ketika mengarahkan film Why We Fight the Cold War. Pengaruh CIA juga sukses mengarahkan sutradara Michael Redgrave dalam membuat film 1984 (1956) dan The Quiet American (1958).

Sekalipun memasuki 1960-an pengaruh semacam tidak banyak dilakukan tetapi CIA tetap memastikan penggunaan film dan produser untuk kepentingan selama Perang Dingin. Menurut Tony Mendez, bekas pejabat CIA, setiap ada kunjungan resmi pejabat Soviet ke Amerika, dipastikan kepulangan mereka disertai dengan paket “oleh-oleh” berupa video, computer, majalah mode, dan film untuk memacu keinginan pembentuk kebijakan Soviet terhadap kapitalisme. Kemudian, CIA juga pernah memasukkan lusinan serial Dynasty (1981-1989) ke Jerman Timur untuk mempropagandakan gaya hidup dan kapitalisme.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s