TEMBAKAU ATAU MATI: MENYELAMATKAN INDONESIA

 Tembakau merupakan tanaman yang mampu bertahan tetap hijau, bahkan semakin membaik mutunya saat kemarau tiba. Salah satu produk yang dihasilkan dari tanaman yang memiliki nama latin nicotiana tabacum ini adalah kretek. Rokok kretek murni terlahir dalam rahim masyarakat pribumi. Tidak heran jika dikatakan bahwa kretek adalah bagian dari budaya Nusantara.
Sehingga sudah mendarah daging dalam masyarakat pribumi. Beberapa bulan yang lalu tembakau menjadi sorotan serius. Media nasional banyak membicarakan tembakau dari masalah kesehatan sampai pada permasalahan perekonomian petani tembakau. Pembicaraan itu terkait dengan beberapa undang-undang yang berkaitan dengan tembakau.
Pemberlakuan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 109 tahun 2012 tentang pengamanan bahan yang mengandung zat adiktif berupa produk tembakau bagi kesehatan menimbulkan pro dan kontra. Mereka yang mendukung pemberlakuan itu beralasan bahwa rokok itu merusak kesehatan. Masalah perekonomian para petani juga tembakau juga menjadi sorotan para pengkritik rokok. Namun, bagi para petani tembakau UU itu jelas-jelas sangat merugikan mereka. Mereka merasa dimiskinkan dengan pemberlakukan UU tersebut. Karena membatasi penjualan tembakau (lokal), dan hanya menguntungkan pihak asing (tembakau impor).
Penerapan ratifikasi kerangka kerja pengendalian tembakau atau Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) juga menjadi bumerang bagi para petani tembakau. Alasannya, ratifikasi tersebut dapat mengancam industri rokok rumahan. Pasalnya, ratifikasi memaksa petani tembakau dan pelaku industri kelas menengah untuk melakukan standarisasi produk tembakau. Kehadiran buku ini hendak menawarkan pembacaan tembakau dari penghayatan petani tembakau sendiri.
Sebagai salah satu petani tembakau, Wisnu Brata, merasa perlu mengklarifikasi isu yang berkembang terkait tembakau dan petani tembakau. Hal ini dilakukan bukan demi tembakau, tetapi, demi hidup kami sendiri, para petani tembakau. Sarjana Ekonomi ini melakukan kajian dengan menyibakkan fakta terkait isu miring tembakau.
Di antara data itu, dia peroleh dari para petani tembakau di sekitar tiga gunung Jawa Tengah, yakni Sumbing-Sindoro-Prau, khususnya wilayah Temanggung. Upaya itu dia lakukan agar memperoleh data yang akurat dan tepat. Selain itu, Brata juga mengalami sendiri kehidupan sebagai petani tembakau. Dengan adanya perundang-undangan antitembakau yang akan terpapar lebih parah oleh produk itu adalah pabrik-pabrik rokok lokal dan petani tembakau setempat (halaman 52).
Karena tembakau lokal memiliki kandungan nikotin dan tar yang cukup tinggi, sehingga tidak memenuhi persyaratan yang termuat dalam undang-undang tersebut. Akhirnya, para produsen rokok akan menggunakan tembakau impor yang memiliki kadar nikotin sesuai dengan batas yang telah ditentukan.
Bagian pertama buku ini menguraikan tentang asal-usul tembakau. Para petani tembakau di sekitar Tiga Gunung di Jawa Tengah itu meyakini bahwa tembakau berasal dari salah satu Wali Sembilan (Wali Songo) di Nusantara, yakni Sunan Kudus. Oleh karenanya, para petani tembakau selalu mengadakan prosesi selametan (halaman 4).

Di Jawa khususnya, perempuan merokok menjadi kelaziman. Penari sintren di Banyumas, misalnya, digambarkan suka merokok siong, dengan aroma kemenyan yang menyengat, sehingga ada merek Siong yang bergambar penari sintren.

Rokok mulai dikenal setelah Christopher Colombus menemukan kebiasaan merokok di kalangan lelaki maupun perempuan di sebuah benua baru yang kemudian dikenal sebagai benua Amerika. Kebiasaan merokok kemudian menyebar. Tapi rokok selalu diidentikkan dengan laki-laki.

Columbus bukan hanya membawa gelombang demam emas dan mutiara, namun juga hasrat keingintahuan bangsa Eropa terhadap sejumlah hewan dan tanaman lokal untuk dapat memanfaatkannya, secara komersial maupun medis.

Tak semua sampel tanaman komunitas Indian Amerika yang dibawa mampu beradaptasi dengan iklim Spanyol. Koka adalah salah satunya. Namun tembakau bisa tumbuh dan melesat menjadi pusat perhatian. Adalah Nicolas Bautista Monardes, seorang figur medis Spanyol yang menanam sampel tembakau di kebunnya di Seville dan mengujicoba, khususnya daun tembakau, untuk merawat pasiennya.

“Daun tembakau memiliki kemampuan menghangatkan dan mencairkan, menutup dan menyembuhkan luka baru, sementara luka lama perlahan menjadi bersih dan kembali dalam kondisi sehat… segala kebaikan tanaman obat ini akan kita bahas lebih lanjut, termasuk manfaatnya bagi semua orang,” tulis Monardes membanggakan tembakau dalam publikasinya yang terbit sekitar 1565-1574. Publikasinya dalam edisi bahasa Inggris terbit pada 1577 dengan judul Joyful News out of the New Found World.

Kabar gembira mengenai tembakau dalam kesimpulan Monardes mengikuti kerangka pemahaman medis Yunani yang dipelopori Galen, yaitu setiap bentuk penyakit disebabkan oleh ketidakseimbangan cairan biologis (humor) manusia yang terdiri atas darah, empedu hitam, empedu kuning dan mukus, yang juga terbagi atas empat dimensi cuaca. Monardes mengklasifikasi manfaat tembakau memberikan keseimbangan humor dalam dimensi “panas” dan “dingin”. Daun tembakau, menurutnya, dapat menyembuhkan banyak gangguan seperti sakit perut, bau mulut, sakit kepala, luka-luka, nyeri otot, hingga mengurangi sakit melahirkan.

“Dalam kondisi nyeri gigi, yang disebabkan humor dingin, buatlah gulungan dari lembaran daun tembakau dan tempelkan di bagian gigi yang sakit, yang sebelumnya telah dibasuh dengan kain yang diperciki sari tembakau…,” salah satu ulasan Monardes.

Dua dari 64 varietas tembakau yang teridentifikasi di wilayah Amerika, Nicotiana rustica dan Nicotiana tabacum, sering dikonsumsi komunitas Indian. Jordan Goodman dalam Tobacco in History: The Cultures of Dependence, menyebut keduanya memiliki kandungan nikotin yang sangat tinggi dibandingkan varietas tembakau yang dipakai bangsa Eropa masa itu maupun sekarang. Bagi kelompok Indian, tembakau adalah tanaman suci, yang memfasilitasi perubahan tingkat kesadaran menuju dunia para roh dan mampu menyembuhkan berbagai bentuk penyakit. Goodman menyimpulkan bahwa membakar serta menghisap asap tembakau merupakan cara tercepat menyerap nikotin, dan biasanya dipimpin oleh seorang shaman (dukun) dalam ritual penyembuhan atau penyembahan roh.

Sejak abad ke-17, konsumsi tembakau di Eropa meluas. Mike Jay dalam High Society: Mind-Altering Drugs in History and Culture menyebutkan peperangan yang terjadi di berbagai wilayah Eropa turut menyebarluaskan kebiasaan “minum-asap” di antara prajurit dan menjadi simbol kebersamaan kaum pria. Konsumsi tembakau pun tak lagi terbatas dengan pipa. Menghirup bubuk halus tembakau (snuff), yang juga tersedia dalam beberapa jenis rasa buah atau bunga serta dikemas dalam kaleng-kaleng berornamen sempat menjadi trend di kalangan bangsawan Inggris pada abad ke-18. Munculnya kertas penggulung (papirossi) juga membuat kebiasaan merokok kian menjalar ke berbagai lapisan masyarakat Eropa hingga abad ke-19.

Kebiasaan yang mulai populer ini tak sepenuhnya diterima semua kalangan. Raja James I dari Inggris termasuk yang mengecamnya. Dalam testimoni A Counterblaste to Tobacco pada 1604, dia menyebut merokok sebagai “sebuah kebiasaan yang tak enak di mata, menyakitkan hidung, mengganggu otak, berbahaya untuk paru-paru.”

Dalam buku The Emperor of All Maladies: A Biography of Cancer karya Siddharta Mukherjee, istilah carcinogen, atau agen penyebab kanker yang disebabkan faktor-faktor eksternal atau buatan manusia (bukan dari ketidakseimbangan internal seperti faham Galen), mulai terdefinisi lewat penelitian ilmuwan Inggris, Percival Pott, pada 1775. Pott menyelidiki tingginya jumlah anak-anak penyapu cerobong asap yang menderita kanker skrotum. Hasil penelitian Pott menyimpulkan bahwa paparan debu asap beracun, yang kemudian menempel pada luka-luka di kulit anak-anak penyapu, menjadi celah berkembangnya kanker.

Namun hingga awal abad ke-20, teori yang menghubungan kanker dengan merokok masih dianggap sebagai kemustahilan. Bahkan seorang ahli bedah paru terkemuka dari Amerika pada 1920-an dan perokok berat, Evarts Graham, meremehkan penelitian rekan sejawatnya, Alton Oschner, yang menghubungkan peningkatan penjualan rokok dengan jumlah penderita kanker paru-paru. Graham menjawab Oschner dengan berkata, “Jika demikian, menggunakan stocking nilon pun dapat menyebabkannya (kanker)!”

Berbeda dari penyakit menular yang memiliki agen pembawa (carrier) seperti penyakit-penyakit zoonotis umumnya (malaria, rabies, dan sebagainya), di mana metode cause-effect (penyebab-dampak) dapat diterapkan, penyebaran kanker membutuhkan pendekatan berbeda. Para peneliti di Amerika dan Eropa awalnya menerapkan metode case-control, di mana sekelompok pasien penderita kanker menjadi kelompok target (case) dengan pasien nonkanker sebagai kelompok pembanding (control).

Pada 1948, peneliti di Inggris, Richard Doll dan Austin Bradford Hill, menerapkan metode case-control terhadap ratusan pasien di beberapa rumahsakit di London yang terbagi atas dua kelompok: penderita kanker, termasuk kanker paru-paru, dan nonkanker. Di awal penelitian, mereka mempertimbangkan berbagai sumber karsinogen selain merokok seperti paparan aspal, serta jarak tempat tinggal pasien dengan stasiun gas, pabrik, dan asap batubara.

Kedua peneliti –dalam tulisan Mukherjee– kemudian prihatin dengan tingginya statistik yang mengarah pada kebiasaan merokok. Kebanyakan penderita kanker yang terdata adalah mereka yang menghisap asap rokok dengan model sigaret, ketimbang pipa. Doll, seorang perokok yang awalnya meyakini paparan aspal sebagai penyebab kanker paru-paru, tak lagi bisa mempertahankan argumentasinya dan berhenti merokok di tengah penelitiannya. Hasil penelitian mereka, “Smoking and Carcinoma of the Lung”, pun dipublikasi dalam British Medical Journal pada 1950.

Doll dan Hill pun memperluas hasil penelitian mereka dengan menerapkan pendekatan cohort – mengobservasi jenis penyakit kelompok target dan pembanding serta penyebab kematian dalam periode beberapa tahun. Mereka mulai mengirimkan survei singkat tentang sejarah merokok kepada 59.600 dokter di Inggris pada Oktober 1951. Kelompok dokter yang menjadi target adalah mereka yang lahir antara 1900-1930. Jawaban para dokter kemudian mereka kelompokkan berdasarkan kategori perokok dan bukan perokok. Doll dan Hill kemudian mencatat setiap terjadinya kematian di masing-masing kelompok serta penyebab kematian.

Hasil penelitian mereka selama empat tahun dan lima bulan itu akhirnya terbit pada 1957 dan dimuat British Medical Journal dengan judul “Lung cancer and other causes of death in relation to smoking; a second report on the mortality of British doctors”. Dari total 1.714 kematian yang tercatat, 84 di antaranya disebabkan kanker paru sebagai faktor utama dan dialami oleh lebih dari 90% perokok –di mana kategori perokok berat (di atas 25 gr tembakau sehari) memiliki tingkat mortalitas tertinggi. Penyebab kematian lainnya termasuk jenis kanker lain dan penyakit jantung.

Penelitian Doll dan Hill berjalan bersamaan dengan sejumlah penelitian lainnya, termasuk di Amerika. Evarts Graham yang terkenal dengan komentar “stocking nilon”, bersama ilmuwan Ernest Wynder, akhirnya bersedia berkolaborasi meneliti sejarah penderita kanker paru-paru yang disebabkan kebiasaan merokok dalam jangka waktu lama. Hasil penelitian mereka, terbit pada 1950 dengan judul “Tobacco Smoking as a Possible Etiologic Factor in Bronchiogenic Carcinoma“ dalam publikasi American Medical Association, menunjukkan dari 605 penderita kanker paru-paru, sebanyak 96,5% adalah perokok sigaret.

Sayangnya, Evarts Graham pun kemudian terdiagnosis kanker paru-paru tujuh tahun setelah publikasinya. Graham, yang beberapa tahun sebelumnya baru berhenti merokok, awalnya menderita keluhan serupa flu. Setelah berminggu-minggu tak kunjung sembuh, dia memutuskan melakukan pemeriksaan x-ray dan menemukan tanda-tanda kanker paru-paru.

“Saya sangat gelisah untuk mengabarkan penyakit ini kepadamu, mengingat persahabatan serta kerjasama yang baik dan menyenangkan yang kita lakukan untuk mengalahkan musuh ini, yang kini berhasil menaklukkan saya,” tulis Graham dalam surat kepada Wynder, 6 Februari 1957. Kondisi Graham terus menurun hingga meninggal dunia pada 4 Maret 1957.

Pro dan kontra tembakau terus berlanjut. Bergulirnya penelitian baru serta peraturan-peraturan pemerintah di Eropa dan Amerika yang membatasi ruang lingkup perokok, batasan usia, serta pencantuman bahaya merokok terhadap kesehatan diikuti dengan berbagai studi dan lobi untuk mendebatnya. Merokok telah menjadi bagian dari budaya manusia dan akan selalu menjadi sebuah pilihan untuk menikmati atau menghentikannya.

Perempuan yang merokok di depan umum dianggap “perempuan jalang”.

Pada 1851, seorang Amerika kelahiran Irlandia, Lola Montez, diambil gambarnya sedang memegang rokok di tangannya, yang bersarung tangan hitam, di sebuah studio di Boston. Foto Montez pun dianggap sebagai simbol perlawanan dan emansipasi perempuan. Tapi stigma terhadap perempuan merokok masih melekat kuat. Pada 1908, seorang perempuan di New York ditangkap karena menghisap rokok di depan umum. New York adalah kota yang galak untuk perokok perempuan karena memiliki Sullivan Act.

Perusahaan rokok tetap tergoda untuk menjadikan perempuan sebagai target pemasaran. Saat itu jumlah perempuan merokok di Amerika baru lima persen, dan mungkin mereka berpikir bisa menaikkan angka itu. Pada 1919, perusahaan rokok Lorillard memproduksi rokok untuk perempuan bermerek Helmar dan Murad. Iklannya menampilkan perempuan oriental yang menempelkan rokok di antara bibirnya. Upaya Lorillard gagal.

American Tobacco Company (ATC) berusaha mencari terobosan. Pada 1927, ATC sudah meluncurkan Lucky Strike untuk perempuan dan dikenal sebagai perusahaan rokok pertama yang menggunakan perempuan dalam iklan-iklannya. Salah satu iklannya menyampaikan pesan: “Reach for a Lucky Instead of a Sweet”.

Presiden ATC George Washington Hill pun meminta bantuan Edward Louis Bernays, yang dikenal sebagai pioner kehumasan. Bernays keponakan Sigmund Freud, pendiri aliran psikoanalisis. Dia menggunakan ide-ide dasar psikologi massa Freud untuk mendorong konsumen untuk membeli rokok. Menurut Jonathan Gabay dalam Soul Traders, Bernays bersimpati kepada Hill karena ATC telah kehilangan setengah dari pembeli potensialnya: perempuan. Bernays segera mengunjungi temannya, seorang psikolog A.A. Brill, yang juga pengagum teori-teori Freud. Bernays dan Brill mendiskusikan masalah yang dihadapi ATC.

“Menurut Brill, yang menjadi alasan utama perempuan tak merokok adalah alam bawah sadar mereka mengasosiasikan rokok dengan alat kelamin laki-laki, yang merepresentasikan kekuatan seksual laki-laki,” tulis Gabay.

Brill menulis, sebagaimana dikutip Bernays dalam The Engineering of Concent: “Beberapa perempuan menganggap rokok merupakan simbol kebebasan… Saat ini banyak perempuan melakukan pekerjaan yang sama dengan laki-laki… Rokok, yang diasosiasikan dengan laki-laki, merupakan obor lambang kebebasan.”

Konsep “obor kebebasan” bergema dalam benak Bernays. Yang harus dia lakukan adalah menemukan waktu dan tempat yang tepat untuk menyebarkan “obor kebebasan” itu ke seluruh dunia. Bernays mendapatkannya ketika kota New York menggelar Parade Paskah pada 1929, sebuah acara yang selalu mencuri perhatian publik.

Bernays menghubungi media. Dia mempersiapkan sepuluh perempuan yang disebut “Kontingen Obor Kebebasan”. Saat pertunjukkan, para perempuan itu mengelilingi Lucky Strike, membawa rokok yang disembunyikan di pakaian mereka dan kemudian, dengan pongah, menyulut rokok di depan publik. Foto-foto yang menunjukkan para pemberontak muda penuh glamor tengah mengisap “Obor Kebebasan” menjadi headline di berbagai media di dunia.

“Ketabuan telah dihancurkan. Pengahalang-penghalang telah diruntuhkan. Para perempuan mulai membeli rokok-rokok American Tobacco Company. Tak lama setelah acara itu, beberapa perempuan bahkan meminta agar dapat menjadi anggota klub merokok, yang seluruh anggotanya laki-laki,” tulis Gabay.

Merokok menjadi simbol perlawanan bagi perempuan.

Poster Lola Montez, sang pendobrak, muncul di mana-mana. Dalam waktu singkat, produsen rokok pesaing membuat dan memasarkan rokok khusus untuk perempuan. Camel, produksi perusahaan R.J. Reynolds, muncul dengan: “I’d Walk a Mile for a Camel – but a ‘Miss’ is as Good as a Mile”. Ada rokok bermerek Fems. Perusahaan rokok Inggris, Wills, bikin Rainbow. Philip Morris, yang berpusat di London dan membuka kantor di New York, meluncurkan Marlboro. Iklan-iklan Marlboro menampilkan seorang perempuan penuh gaya yang berpose di lokasi yang indah dengan slogan: As Mild as May. Iklannya berbunyi: “Apakah merokok lebih bertentangan dengan moral perempuan ketimbang mewarnai rambut?”

Perlahan jumlah perokok perempuan meningkat. Menurut Jordan Goodman dalam Tobacco in History, jumlah perokok perempuan di Amerika Serikat pada 1929 mencapai 14 juta atau 12 persen dari total konsumsi. Jumlahnya meningkat jadi 14 persen dua tahun kemudian dan 26,2 persen pada 1935.

Tapi penelitian akan bahaya rokok juga terus dilakukan, terutama bagi perempuan, yang menurunkan angka penjualan. Marlboro sendiri mengalami transformasi total: menjadikan rokok ini jauh dari kesan feminin dan menonjolkan maskulinitas dengan citra cowboy: “Come to Marlboro Country”.

Perusahaan rokok tetap berusaha mencari celah, dan mendapatkannya ketika muncul rokok filter rendah tar dan nikotin. Kembali rokok untuk perempuan marak. Pada 1960-an, perusahaan Ligget & Myers Tobacco Company mengeluarkan merek Eve. ATC mengandalkan Silva Thins dengan slogan: “Cigarettes are like girls. The best ones are thin and rich.” Philip Morris meluncurkan Virginia Slims pada 1968, dengan kampanye: “You’ve Come a Long Way, Baby”. Di Kanada, ada merek Matinee, Cameo, dan Contessa.

Di Indonesia, rokok untuk perempuan biasanya masuk kategori rokok premium yang rendah tar dan nikotin, yang dituding banyak kalangan sebagai trik untuk menarik konsumen perempuan.

Hingga kini, meski secara tersamar, sejumlah perusahaan rokok masih menyasar perempuan. Jumlah perokok perempuan juga masih tinggi. Data Badan Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan, dari 1 milyar perokok di dunia, jumlah perokok perempuan mencapai 20 persen atau sekira 200 juta orang.

MENJEMUR TEMBAKAU
Hal itu tidak sertamerta mereka meyakini sebagai mitologi semata. Tembakau merupakan tanaman yang sangat penting bagi masyarakat sekitar tiga gunung itu. Tanaman ini akan semakin hijau ketika kemarau terjadi. Selain nilai jual yang cukup stabil disbanding dengan tata niaga yang lainnya. Wajar, jika para petani tembakau menolak untuk beralih ke komoditas lain. Padahal, pilihan petani menanam tembakau mendapatkan perlindungan dalam UU No. 12 Tahun 1972.
Pada Pasal 6 dikatakan bahwa petani memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan jenis tanaman dan pembudidayaannya. Artinya, pemerintah tidak bisa memaksakan kehendak kepada petani untuk mengganti tanaman tembakau ke jenis tanaman lain. Jika memang mau dikatakan, ditemukan keburukan dalam dunia pertembakauan Indonesia. Hal itu bukanlah menunjukkan buruknya pertembakauan Indonesia, melainkan buruknya sektor pertanian secara keseluruhan (halaman 123).
Sepatutnya ini menjadi pembenahan pertanian di Indonesia sebagai salah satu negeri agraria terbesar, bukan lantas memberangus tembakau dengan komoditas lain.

Berbagai macam serangan terhadap tembakau, dari kalangan ilmuwan sampai pemegang regulasi sangat menyudutkan petani tembakau. Untuk itu diperlukan sebuah wadah yang dapat mempertahankan dan membela para petani tembakau dengan membentuk “Laskar Kretek”.
Laskar ini sebagai sebuah bentuk perlawanan para pemuda petani tembakau dalam menghadapi segala serangan yang ada. Laskar Kretek adalah barisan simpatik yang mengajak masyarakat untuk mencintai produk-produk Indonesia, khususnya kretek. Mereka bergerak di lapangan untuk menghadapi berbagai bentuk deskriminasi terhadap petani dan produk tembakau (halaman. 102). Sebagai wujud nyata dari kedaulatan petani tembakau Indonesia, tembakau harus terus ditanam dan kretek harus diselamatkan.
Karena menurut Brata, dengan menyelamatkan kretek sama artinya dengan menyelamatkan Indonesia. Jika hendak turut memperjuangkan agar nasib dan keuntungan petani lebih baik, Brata mengajak masyarakat Indonesia bersama-sama petani tembakau untuk memperbaiki yang sudah ada.
Namun, jangan coba-coba membongkar, apalagi memberangusnya dan mengkondisikannya, baik dengan halus maupun dengan kasar, agar petani berpaling kepada tanam lain, itu tak bisa diterima (halama 46). Buku ini layak menjadi salah satu referensi bagi anda yang ingin mengetahui permasalahan tembakau. Karena fakta-fakta yang tersaji di dalamnya adalah berangkat dari realitas petani, termasuk penulisnya. Sehingga dapat memberikan gambaran yang lebih objektif dan komprehensif terkait permasalahan tembakau. Walaupun, tidak dapat dipungkiri, Brata cenderung mengesampingkan masalah kesehatan yang diakibatkan oleh rokok.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s