SOEKARNO: SANG PEMBAWA AJARAN YANG BERAKHIR TRAGIS

Buku ini adalah buku lawas, terbitan bersama Lembaga Penggali dan Penghimpun Sedjarah Revolusi Indonesia “Endang” dan “Pemuda” di Jakarta, tahun 1963. Disusun oleh H.A. Notosoetardjo itu.

Tata letak buku kono setebal hampir 700 halaman itu, masih sangat sederhana. Mengingatkan kita pada “kitab” Di Bawah Bendera Revolusi. Pada halaman-halaman pertama, penyusun mengutip pesan-pesan khusus Bung Karno dalam berbagai kesempatan. Mulai dari pekik “sekali merdeka tetap merdeka”, sampai petuah kepada kaum Marhaen atas terbitnya majalah “Fikiran Ra’jat” sebagai majalah kaum Marhaen.

Yang tak kalah penting, adalah catatan pendek Bung Karno yang diberinya judul “Hukum dan Moral”.  Nantilah. item demi item buku ini akan saya posting di blog ini. Sebab saya sadar betul, ini benar-benar warisan sejarah yang harus segera ditularkan kepada segenap anak bangsa yang lain.

Bila perlu, kata pengantar dari Wakil Menteri Pertama RI Bidang Khusus, Menteri Penerangan, Ketua Panitia Indoktrinasi, Dr. H. Roeslan Abdulgani juga sangat menarik untuk diketengahkan. Pendek kata, saya begitu berbahagia mendapat “warisan” buku Bung Karno Dihadapan Pengadilan Kolonial ini.

Nasionalisme memang seolah lekat dengan pribadi Soekarno. Ibarat dua sisi sebuah mata uang, keduanya identik dan tiada terpisahkan.

bk belajar sukarnoisme

Buku di atas berisi kumpulan tulisan di harian “Berita Indonesia”, di bawah judul rubrik tetap “Beladjar Memahami Sukarno-isme” yang termuat pada edisi nomor 1 sampai dengan 47. Ini, hanya satu dari sekian referensi yang harus saya baca. Buku-buku lain ternyata masih banyak. Beberapa judul, bahkan baru pertama saya lihat (baca). Buku-buku lain, sifatnya “penyegaran” dengan membaca ulang.

Tidak hanya melalui buku yang kadang-kadang untuk memperolehnya melalui jalan yang tidak disangka-sangka. Jalan menemukan jejak-jejak sejarah Bung Karno selalu saja terkuak tanpa rencana. Seperti berkah silaturahmi di suatu hari ke kediaman seniman Teguh Twan di Jl. Pemuda, Kebumen beberapa waktu lalu. Tanpa dinyana, seniman keturunan Tionghoa yang nasionalis itu menyimpan satu buku tua yang sangat langka: Kunjungan Presiden Republik Indonesia Sukarno ke Sowjet Uni. Di bagian bawah tertulis Penerbit Seni Lukis Negeri, Moscow, 1956.

Buku Kunjungan BK ke Soviet

Buku yang hampir semua halamannya sudah “mreteli” (terlepas jadi lembar-lembar terpisah) itu, berisi narasi singkat tentang kunjungan Bung Karno yang disertai sejumlah petinggi negeri itu ke sana. Selebihnya, berisi foto-foto otentik dan langka, yang menangkap momen-momen bersejarah selama Bung Karno berkunjung ke Soviet (sekarang Rusia).

Menyimak buku tersebut, terbayang, betapa rombongan Bung Karno disambut dengan begitu agung. Begitu mendarat, semua petinggi negeri komunis itu menyambut di bandara internasional setempat. Dalam perjalanan ke Kremlin, Bung Karno dan petinggi Soviet menaiki mobil terbuka. Di sepanjang jalan, berjejer lautan rakyat mengelu-elukan Bung Karno dengan bentangan spanduk bertuliskan kalimat-kalimat bersahabat.

Bukan hanya itu, dalam setiap kunjungan Bung Karno ke negara-negara bagian Soviet (yang saat ini sudah menjadi negara merdeka pasca pecahnya Soviet), Bung Karno senantiasa dielu-elukan masyarakat. Di setiap kota yang dikunjungi, selalu digelar rapat akbar yang dihadiri lautan masa. Bahkan dalam salah satu kunjungan, digelar khusus pertandingan persahabatan antara tim sepakbola Indonesia melawan tim sepakbola Uni Soviet.

Pesan-pesan rakyat Soviet kepada rakyat Indonesia tergambar dalam buku itu. Sangat menyentuh, meski dalam narasi yang tidak lagi up-to-date untuk konteks sekarang. Sempat terpikir untuk meng-up-date buku itu dan menerbitkannya kembali sebagai sumber referensi anak negeri.

Oleh sebab itu, berkaitan dengan hal di atas, sungguh saya bersyukur sekaligus mengapresiasi langkah Rhien Soemohadiwidjojo yang telah menulis dan memplublikasikan buku: “Bung Karno Sang Singa Podium”. Syahdan, penulis yang bernama asli Arini Tathagati ini beberapa bulan lalu menghubungi saya, meminta tulisan untuk endorsement buku setebal 427 halaman itu.

BK Singa Podium

Seperti biasa, saya merasa tersanjung disusul mongkog hati, besar rasa, untuk meluluskan permintaan Arini, sesibuk apa pun. Apalah arti kesibukan rutin, dibanding memenuhi permintaan seorang penulis yang telah bersusah payah menulis buku tentang Bung Besar.

Buku terbitan Second Hope ini sudah beredar di  pasaran. Akan tetapi, terus terang, saya baru tahu setelah Arini berkirim email, mengabarkan ihwal telah beredarnya buku itu. Alhamdulillah, dia menanyakan alamat diiringi niatnya mengirim satu copy buku sebagai komplimen buat saya, tentu saja disertai  bubuhan tanda tangan sang penulis. Terima kasih. Buku sudah saya terima.

Buku ini berisi 8 (delapan) bab. Bab 1 Siapa tak Kenal Bung Karno. Bab 2 Bung Karno Sang Singa Podium. Bab 3 Pidato Bung Karno Pra Proklamasi. Bab 4 Pidato Bung Karno di Masa Proklamasi dan Perang Kemerdekaan (1945 – 1950). Bab 5 Pidato Bung Karno di Masa 1950 – 1958. Bab 6 Pidato Bung Karno di Masa Demokrasi Terpimpin. Bab 7 Pidato Bung Karno Setelah 1965. Bab 8 Kutipan-kutipan  BungKarno.

Sekalipun judulnya Bung Karno Sang Singa Podium, tetapi Arini yang menggunakan nama penulis Rhien Soemohadiwidjojo itu melengkapinya dengan sejarah Bung Karno. Akan tetapi, ruh buku ini sejatinya tersaji di Bab 2 Bung Karno Sang Singa Podium. Tak heran jika penulis dan penerbit menyepakati bab ini sebagai judul besar buku.

Bab 2 ini diawali dengan sub bab tentang Bung Karno Sang Orator Ulung. Sub bab kedua, tentang tema pidatto-pidato Bung Karno.  Sub bab ketiga mengupas rahasia pidato-pidato Bung Karno. Sub bab keempat tentang tanggapan para pendengar pidato-pidato Bung Karno. Sub bab kelima tentang pidato religius Bung Karno. Sub bab keenam tentang penerjemah pidato Bung Karno. Terakhir, sub bab ketujuh tentang peran para ajudan Bung Karno.

Seperti biasa, saya selalu risih jika melihat atau membaca penulisan Sukarno dengan “oe” (Soekarno). Sayangnya, saya menemukannya di buku ini. Tentang penulisan Sukarno dan Soekarno, saya pernah memperoleh sebuah referensi yang, mengutip statemen Bung Karno kepada Cindy Adams. Intinya, dia yang memberlakukan ejaan yang disempurnakan, maka secara konsekuen dia pun mengubah penulisan namanya dari Soekarno menjadi Sukarno. Ihwal tanda tangannya yang menggunakan “oe” dia berdalih, sebagai hal yang berbeda. Tanda tangan yang sudah diguratkannya dengan “oe” sejak ia sekolah, tentu tidak mudah untuk diubah.

Hanya Sukarno, satu-satunya Presiden di dunia (pada zamannya) yang paling banyak disorot penulis asing. Baik penulis buku yang berlatar belakang akademisi (untuk tujuan penelitian atau penyusunan disertasi), juga oleh para jurnalis manca negara.

Di antara sekian buku yang ditulis penulis asing, yang paling menarik dan “soheh” barangkali An Autobiography as told to Cindy Adams (Indianapolis, 1965). Buku lain Cindy Adams adalah “My Friend the Dictator” (Indianapolis, 1967). Penulis dan peneliti lain yang pernah bersinggungan dengan tema Bung Karno antara lain Bernhard Dahm, George Mc.T Kahin, Lambert Giebels, John D. Legge, dan masih banyak lainnya.

Dari sekian buku yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, dan kini singgah di “privat library” saya, beberapa di antaranya saya baca lebih dari sekali. Salah satunya adalah karya John D. Legge yang berjudul “Sukarno, Biografi Politik”. Ada yang spesial pada buku yang bisa mendorong pembacanya, membaca lebih dari sekali.

Adakah yang spesial dari karya John D. Legge? Ada! Yakni pada ketidakmampuan Legge menafsir kebijakan politik Sukarno. Yakni pada kependekan nalar Legge dalam mencerna latar belakang sejarah dan budaya Indonesia. Yakni pada kesombongannya untuk mengkritik langkah-langkah Sukarno. Yakni pada ketidakpeduliannya tentang hakikat indepensi sebagai seorang penulis.

Karenanya, banyak sekali kabar burung yang ditimbrungkan bersama narasi yang terkesan ilmiah. Ini justru mementahkan karya tulisnya. Tidak sedikit, kalimat-kalimatnya bernada “menghakimi”. Ini sama sekali melanggar dari hakikat indepensi sebagai seorang penulis. Apalagi penulis “biografi politik” dari seorang Presiden yang punya nama begitu besar pada zamannya.

Saya hanya bisa menduga, karya tulis Legge bagian tak terpisahkan dari sebuah skenario global untuk menenggelamkan nama Sukarno dari sejarah politik dunia. Tetapi apakah Legge layak kita benci? Tentu saja tidak. Saya bahkan membaca karyanya lebih dari sekali. Bahkan jika Anda masih menjumpainya di rak toko buku, saya pun akan menyarankan untuk mengoleksinya.

Padahal, sebagai figur besar, tentu Soekarno memiliki banyak sekali gagasan-gagasan cemerlang, termasuk dalam bidang ekonomi. Ide Soekarno yang kembali digalakkan dewasa ini adalah tentang kedaulatan ekonomi. Soekarno sangat terpengaruh oleh sosok Karl Marx dan Lenin dalam wacana ekonominya. Baginya, ajaran ekonomi Marx dan Lenin sangat cocok untuk negara-negara jajahan melawan imperialime. Imperialisme bagi Soekarno telah menyebabkan bangsanya yang begitu subur, kaya dan indah memiliki penduduk yang menjadi gembel (hal.41).

Dalam perenungannya, Soekarno yakin untuk merebut kembali kekayaan Indonesia hanya diperlukan satu jalan yakni revolusi. Revolusi harus dilalui harus dilaui untuk mewujudkan masyarakat tanpa kapitalisme dan imperalisme. Revolusi nasional diperlukan untuk memperoleh kemerdekaan yang menjadi prasyarat utama terciptanya masyarakat sosialis yang dicita-citakan.

Oleh karena itu, Soekarno saat menyampaikan pancasila dalam sidang Badan penyelidikan usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) menyebutkan bahwa kemerdekaan hanyalah “jembatan emas”. Setelah prasyarat itu dipenuhi, kemudian diharapkan terjadi revolusi sosial agar negara yang tercipta oleh kaum marhaen, bukan dipimpin oleh borjuasi nasional yang hanya ingin mendapatkan keuntungan dari tanah Indonesia untuk diri sendiri.

Buku sebanyak enam bab yang berjudul Soekarno, Marxisme dan lenninisme (Akar pemikiran kiri dan revolusi Indonesia) menjadi wajib dibaca untuk mengetahui pemikiran Soekarno dibidang politik dan ekonomi demi Indonesia yang berdaulat atas tanah, air dan udaranya.

Upaya menguliti pemikiran dan perilaku Soekarno juga dilakukan oleh Walentina Waluyanti de Jonge, perempuan kelahiran Makassar yang kini hijrah ke Belanda. Alumna Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin ini sempat mengikuti program studi Pendidikan Managemen di ROC Flevoland, Netherland. Lalu, ibu beranak satu ini menjadi dosen bahasa Indonesia di Volsuniversiteit Belanda. Ia bekerja juga sebagai peneliti independen. Fokus kajiannya seputar sejarah dan budaya Indonesia.

Kegemarannya mengoleksi buku langka bergenre sejarah membuahkan dua buku dan sederet artikel di sebuah situs jurnalisme warga. “Sukarno Undercover, Tembak Bung Karno Rugi 30 Sen” merupakan buku kedua pasca “Hindia Belanda Tumbang di Depan Mata”. Pilihannya jatuh pada Sukarno karena Putra Sang Fajar sosok pemersatu di zamannya.  Menyatukan berbagai perbedaan suku, agama, warna kulit, golongan, budaya, dan juga belasan ribu pulau, ke dalam sebuah republik bukan pekerjaan yang bisa dipandang remeh.

Di bagian pengantar, eks pemimpin  “Stiching SEBARI” yang bergerak di ranah pendidikan tersebut menulis, “Saya akui, buku ini terlahir dari kekaguman atas peran Sukarno yang telah melekatkan kehormatan pada bangsa Indonesia hingga berdiri sejajar dengan negara-negara lain di seluruh dunia. Namun demikian, pemujaan berlebihan terhadap Sukarno bukanlah hal yang perlu. Pemujaan secara fanatik berpeluang melunturkan objektivitas.” (halaman viii)

Lewat buku ini, penulis jeli menyoroti sejarah Indonesia – khususnya Soekarno – dari jendela luar sana (baca: Belanda). Sebelumnya, selama masih tinggal di Indonesia, ia acap mendengar cerita sejarah dari pihak yang dijajah. Dalam konteks ini, memang diperlukan jarak untuk menilai sejarah Indonesia secara netral. Sehingga “History” tidak menjelma jadi “His Story.” Terlebih pada masa Orde Baru, sisi positif Bung Karno dan nilai-nilai kepahlawananya cenderung ditutup-tutupi.

Lebih lanjut, sejak era revolusi kemerdekaan ternyata situasi nasional Indonesia tak kunjung steril dari campur tangan pihak asing. Fakta tersebut diungkap secara gamblang dalam esai “Bung Karno Geram, Ike dan John Repot”. Hari itu, 18 Mei 1958, sedang terjadi pertempuran udara melawan pemberontakan separatis: Permesta, Darul Islam-Tentara Islam Indonesia (DI-TII), dan Republik Maluku Selatan (RMS). Di atas perairan Ambon, Kapten Ignatius Dewanto, pilot pesawat Mustang P-51, menembak jatuh pesawat B-26. Pesawat tempur yang jatuh tersebut dipiloti Allen Pope. Pilot itu selamat, dibekuk, dan dinterogasi. Pun terkuaklah bahwa Allen Pope seorang agen CIA.

“Sebelumnya pada bulan April 1958, pilot asal Amerika Serikat itu telah mengebom gereja di Ambon yang dipenuhi umat yang sedang beribadah. Gerejanya hancur, semua umat di gereja itu meninggal dunia. Demikian juga dengan kapal Indonesia penuh penumpang yang berada di pelabuhan Ambon, turut pula terkena bom, dan semua penumpangnya menjadi korban. Peristiwa pengeboman tersebut mengakibatkan lebih dari 700 nyawa melayang.” (halaman 140).

Bung Karno berang karena Amerika tak mau mengakui tindakan keji tersebut. Empat hari pasca-peristiwa pengeboman oleh Pope, Sukarno diundang oleh Howard Jones ke Kedutaan Besar Amerika di Indonesia. Tanpa rasa bersalah Pemerintah Amerika meminta Allen Pope tetap harus dibebaskan. Bung Karno menyadari Allen Pope ialah kartu truf-nya. Ia tegas menuntut permintaan maaf secara terbuka dari Amerika.

Namun Ike – nama panggilan presiden Eisenhower – bersikukuh menyangkal tuduhan Amerika terlibat dalam aksi CIA itu. Tapi, akhirnya 5 hari sesudah insiden pengangkapan Pope,  Amerika setuju mengirimkan 37.000 ton beras, pencabutan embargo, bantuan pesawat, dan bantuan peralatan sistem radio komunikasi untuk Indonesia. Lalu, bagaimana komentar Pope sendiri? Pilot pesawat B-26 itu mengatakan, “Biasanya negara saya yang menang, tapi kali ini kalian yang menang.” (halaman 148).

Sistematika buku ini terdiri atas 3 bab. Penulis menganalogikannya laksana hari. Mulai dari “Sang Fajar Terbit”, “Sang Fajar Bersinar”, hingga “Sang Fajar Terbenam.” Masing-masing bab memuat esai-esai yang mengungkap sisi lain Bung Karno yang selama ini jarang diekspose ke khalayak ramai. Oleh sebab itu, di pojok kanan sampul buku tertera stempel “Soekarno Undercover”.

Salah satunya ihwal keprihatinan mendalam Bung Karno atas tragedi 1965. Dalam Pidato Presiden di Istana Bogor, 18 Desember 1965, ia sampai mengatakan,”Misalnya, ya, misalnya di Jawa Timur. Demikian dilaporkan oleh Gubernur Jawa Timur, oleh Panglima Jawa Timur, dan juga dari pengetahuan informasi kami sendiri, di Jawa Timur atau Jawa Tengah itu banyak sekali Pemuda Rakyat atau anggota PKI atau orang yang hanya simpati saja kepada PKI dibunuh, disembelih, atau ditikam atau dipentungi, dikepruki sampai pecah kepalanya; itu satu kejadian. Tapi kemudian itu jenasah yang lehernya tergorok, yang kepalanya pecah dikepruk, karena perutnya keluar ia punya usus karena ditikam, jenasah itu kalau ada orang yang mau ngerumat, ngerumat itu bahasa Jawa Timur. Apa ngerumat, mengurus, ngerumat jenasah itu, awas, engkau pun akan kami bunuh. Malah banyak jenazah itu di-keleler-kan begitu saja.”

Lalu, Walentina Waluyanti de Jonge mengafirmasi pendapat sejarawan Asvi Warman Adam, tanggal 30 September memang “malam terkutuk dan laknat”. Namun patut juga dipertanyakan, “….bukankah malam-malam sesudahnya dan berlangsung selama beberapa bulan tatkala terjadi pembunuhan sesama bangsa sendiri – minimal 500.000 jiwa jadi korban – itu secara keseluruhan jauh lebih “jahanam”?” (halaman 173). Dalam konteks ini, wejangan ahimsa Mahatma Gandhi kian menemukan relevansinya, “Jika mata diganti mata maka semua manusia akan menjadi buta.”

Buku setebal 209 ini tak hanya memuat teori konspirasi dan narasi besar sejarah Indonesia di tahun 1965, ada juga sisi-sisi jenaka sebagai ekses kebijakan politik Bung Karno. Antara lain terjadi pada tahun 1964. Ia pernah memerintahkan polisi untuk membawa anak-anak muda berambut model Beatles ke tukang cukur. Ini sebuah pidato resmi presiden.

Siapapun yang berambut gondrong harus diplontos. Kenyataannya di lapangan memang polisi tidak perlu membawa “pasukan gondrong” ke tukang cukur. Karena aparat keamanan sendirilah yang menjadi tukang cukurnya. Mungkin itulah razia paling konyol dalam sejarah bangsa Indonesia. Orang-orang yang terkena razia, terpaksa manut saja model rambut di kepalanya dibuat jadi mirip batok kelapa. Langsung dipangkas di tengah jalan dan jadi tontonan orang banyak (halaman 52).

Banyak orang mengidolakan Soekarno, termasuk getol mengoleksi dan kemudian merekam semua hal yang dicap sebagai “ajaran” mantan Presiden ini. Namun, jejak pribadi Soekarno sendiri kadang-kadang dipahami secara keliru.

7962310

Saya baru saja membaca tulisan Asvi Warman Adam, “Kasus Biografi Sukarno”, ternyata ada beberapa masalah dalam terjemahan buku biografi Bung Karno; Penyambung Lidah Rakyat Indonesia karya Cindy Adams yang diterbitkan sejak tahun 1966 oleh penerbit Gunung Agung. Salah satu yang dibahas adalah penghilangan sebuah kalimat dan penambahan dua paragraf yang belum jelas siapa yang melakukannya.

Biografi Sukarno ini terbit pertama kali dalam bahasa Inggris dengan judul Sukarno, Autobiography as told to Cindy Adams pada tahun 1965. Versi terjemahan bahasa Indonesia terbit tahun 1966 dengan penerjemah Mayor Abdul Bar Salim. Dalam pengantar edisi pertama itu, disebutkan bahwa tugas sang penerjemah sudah direstui oleh Panglima Angkatan Darat, Letnan Jendral Soeharto, yang juga memberikan kata sambutan.

Bagian yang dipermasalahkan terdapat pada bab Proklamasi. Asvi Warman Adam menyebutkan terdapat di halaman 341. Kebetulan saya pernah membaca edisi pertama buku Bung Karno; Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Berikut ini saya kutipkan saja seluruh bagiannya sesuai yang tercetak dalam buku:

“Sekarang, Bung, sekarang…..!” rakjat berteriak. “Njatakanlah sekarang…..” Setiap orang berteriak padaku. “Sekarang, Bung….. utjapkanlah pernjataan kemerdekaan sekarang, ….hajo, Bung Karno, hari sudah tinggi….. hari sudah mulai panas….. rakjat sudah tidak sabar lagi. Rakjat sudah gelisah. Rakjat sudah berkumpul. Utjapkanlah Proklamasi.” Badanku masih panas, akan tetapi aku masih dapat mengendalikan diriku. Dalam suasana dimana setiap orang mendesakku, anehnja aku masih dapat berpikir dengan tenang.

“Hatta tidak ada,” kataku. “Saja tidak mau mengutjapkan proklamasi kalau Hatta tidak ada.”

Tidak ada orang jang berteriak “Kami menghendaki Bung Hatta”. Aku tidak memerlukannja. Sama seperti djuga aku tidak memerlukan Sjahrir jang menolak memperlihatkan diri disaat  pembatjaan Proklamasi. Sebenarnja aku dapat melakukannya seorang diri, dan memang aku melakukannja sendirian. Didalam dua hari jang memetjah uratsjaraf itu  maka peranan Hatta dalam sedjarah tidak ada.

Peranannja jang tersendiri selama masa perdjoangan kami tidak ada. Hanja Sukarnolah jang tetap mendorongnja kedepan. Aku memerlukan orang jang dinamakan “pemimpin” ini karena satu pertimbangan. Aku memerlukannja oleh karena aku orang Djawa dan dia orang Sumatra dan dihari-hari jang demikian itu aku memerlukan setiap orang denganku. Demi persatuan aku memerlukan seorang dari Sumatra. Dia adalah djalan jang paling baik untuk mendjamin sokongan dari rakjat pulau jang nomor dua terbesar di Indonesia.

Dalam detik jang gawat dalam sedjarah inilah Sukarno dan tanah air Indonesia menunggu kedatangan Hatta.

Dengan membandingkan tulisan ini dengan versi aslinya dalam bahasa Inggris, ditemukanlah bahwa telah ada penambahan dua paragraf di antara dua kalimat bercetak tebal di atas. Kalimat-kalimat yang menyakatan bahwa Sukarno tidak membutuhkan Hatta (dan Syahrir) dan bahwa selama ini ia berjuang sendiri serta tidak ada peranan Hatta dalam sejarah ternyata telah ditambahkan oleh seseorang sejak edisi pertama terjemahan buku ini terbit. Apakah penerjemah yang menambahkan kalimat-kalimat itu? Atau ada pesanan dari pihak lain? Belum ada keterangan tentang ini.

Yang jelas, Yayasan Bung Karno kemudian menerbitkan ulang buku Bung Karno; Penyambung Lidah Rakyat Indonesia pada bulan Agustus 2007 dan menyebutnya sebagai edisi Revisi. Terbitan revisi ini diterjemahkan dengan mengacu secara ketat kepada buku aslinya, Sukarno, Autobiography as told to Cindy Adams. Penerjemahan dikerjakan oleh Syamsul Hadi. Pada bagian depan terdapat sambutan dari Ketua Yayasan Bung Karno, Guruh Sukarno Putra, dan pengantar dari sejarahwan Asvi Warman Adam dengan judul “Kesaksian Bung Karno”.

Pada bagian sambutannya, Guruh Sukarno mengutip cerita Guntur Sukarno dalam buku Bung Hatta, Pribadinya dalam Kenangan karangan Meutia Farida Swasono (Sinar Harapan, 1980): “Aku kadang-kadang saling gebug dengan Hatta!! Tapi, menghilangkan Hatta dari teks Proklamasi itu perbuatan pengecut!!”

Setiadi (2013) mengungkapkan bahwa ia Soekarno menunjukan komitmennya dalam belajar. Ia banyak membaca buku dan terus membacanya hingga kemudian paham (p.43).  Lebih lanjut Soekarno digambarkan sebagai sosok yang tidak pernah mengesampingkan kesempatan membaca buku. Baginya, buku adalah harta yang tak ternilai. Dengan membaca buku dunia seperti dalam genggaman (p.44).  Dimata Tjokro, Soekarno adalah anak muda yang sangat cerdas, potensial dan penuh keseriusan dalam belajar….salah satu bakat potensial yang dikagumi Tjokro dari diri Soekarno ialah kegemarannya menulis. (p.39).

Herman Kartowisastro, kawan bung kArno di masa kecil dan kawan saat bersekolah di HBS, pernah mengenang tentang semangat belajar Bung Karno: Ia seorang yang pandai dalam segala bidang, seorang all-around, seorang jenius. Semua mata pelajaran, baik bahasan sejarah maupun ilmu pasti atau ilmu lainnya, dikuasainya, diganyangnya mentah-mentah. Pun dalam bidang melukis dan menggambar. Ia menunjukkan bakatnya. (43-44)

Bahkan lebih jauh lagi ada kutipan dari apa yang pernah diucapkan oleh Soekarno bagaimana ia memandang buku dalam hidupnya: ” Aku mencari hiburan di lapangan lain, aku meninggalkan dunia yang fanan ini masuk ke dalam dunia yang lebih abadi, lebih besar, lebih mulia, lebih berisi yaitu alamnya, alamnya akal, alamnya batin (the world of mind)…aku baca buku-buku tatkala kawan-kawanku pemuda hanya mengetahui kitab-kitab dari sekolahnya saja, aku telah membaca di luar sekolah itu” (Setiadi, 2013:44-45). Dapat dibayangkan bagaimana wawasan sang Presiden saat itu, bagaimana kesenangannya membaca buku yang terus meningkat, terbayang, bagaiman Bung Karno dan buku demikian menyatu.

Soekarno merasa tidak tentram melihat penjajahan yang dialami bangsanya.  Karisma yang dimilikinya ditambah dengan kemampuan komunikasi verbal khususnya public speaking, saat berbicara di depan orang banyak, maupun komunikasi tertulis lewat tulisan-tulisannya di media massa, mampu memicu semangat rakyat Indonesia untuk bangkit melawan penjajah.  Tentu saja, pemerintahan Belanda melihatnya sebagai ancaman. Bagaimana tidak, tema-tema pidato Soekarno menurut Soemohadiwidjojo (2013) berkisaran pada mengobarkan semangat nasionalisme, semangat persatuan, dan menaikkan harga diri sebagai suatu bangsa (p.55).

Darimana sumber-sumber bacaan itu diperolehnya? Di Ende, tempat pembuangan Soekarno oleh Belanda, ia berkawan karib dengan para pastor, diantaranya Pastor Huijtink, Pastor Bouma dan Pastor johannes Van der Heijden.  Pastor-pastor ini memberi kunci ruangan mereka kepada Soekarno dengan maksud agar Soekarno bisa membaca buku-buku di perpustakaan pastor, kapan saja ia inginkan (de Jonge, 2013:17-18)

Pengaburan sikap, posisi, dan rekam jejak Soekarno termasuk langkah-langkah untuk “membunuh” Bapak Marhenisme ini.

Rezim Orde Baru banyak melakukan penyesatan terhadap sejarah beliau dalam upaya melanggengkan kekuasaan yang dipimpinnya. Soeharto dan kawan-kawan sengaja melakukan hal ini agar memory kolektif masyarakat merekam sejarah negatif tentang Bung Karno. Bahkan bukan saja sejarah beliau yang disesatkan, hampir seluruh sejarah kebangkitan nasional pada masa rezimnya banyak dilakukan pembengkokan dengan menggantikan dirinya sebagai aktor utama segala perjuangan yang dilakukan bangsa Indonesia.

Terkait tentang sejarah Bung Karno, sejarawan Asvi Warman Adam menulis buku, Bung Karno Dibunuh Tiga Kali. Buku ini mengungkap pembengkokan dan penyesatan sejarah yang terjadi terhadap Bapak Bangsa Indonesia. Ada tiga penyesatan yang telah diungkap oleh penulis, penyesatan ini dibahasakan dalam bentuk pembunuhan.

Pembunuhan pertama, Bung Karno sengaja ditelantarkan saat beliau sakit dengan tidak ditebusnya resep obat yang ditulis oleh dr. Mahar Marjdono. Resep tersebut hanya ditaruh dalam laci. Bung Karno sengaja dibiarkan tidak mendapat obat dan perawatan intensif, agar ia segera menemui ajalnya. Penelantaran ini merupakan dusta besar yang telah berakibat pada kematian bapak proklamator bangsa Indonesia.

Pembunuhan kedua terhadap Bung Karno dilakukan oleh Rezim Orde Baru dalam penyesatan sejarah, bahwa Bung Karno bukan orang yang pertama merumuskan Pancasila, hal ini pernah disampaikan oleh Nugroho Natosusanto. Bahkan pada tanggal 1 Juni 1970 peringatan terhadap hari lahir Pancasila dilarang Kopkamtib. Itulah sebabnya Jacques Leclerc seorang sejarawan Prancis menyebutnya bahwa Bung Karno hakikatnya telah dibunuh dua kali, secara lahiriah dan batiniah.

Sisa-sisa penyesatan sejarah yang dilakukan rezim orde baru tehadap Bung Karno tidak berkhir dengan tumbangnya Soeharto pada tahun 1998. Di era reformasi ini dengan kebebasan berpendapat yang tak terkendali, masih saja penyesatan tersebut terjadi. Buku Sukarno File, Berkas-Berkas Soekarno 1965-1967 yang diluncurka di Jakarta pada tanggal 17 November 2005. Penulis buku teresbut, Antonei C.A. Dake menyatakan dalam bukunya bahwa Presiden pertama Indonesia merupakan dalang utama atas tragedi G30S/1965. Pernyataan ini secara tidak langsung menganggap Soekarno sebagai orang yang harus bertanggung jawab atas terbunuhnya enam jendral dan pembantaian antarkomunis dan non-komunis.

Peluncuran buku penyesatan tersebut beberapa hari kemudian ditanggapi oleh Putri Soekarno—Megawati—sebagai “character assasination” atau pembunuhan karakter. Inilah pembunuhan ketiga yang dimaksud oleh Asvi Warman Adam dalam bukunya Bung Karno Dibunuh Tiga Kali. Tragedi pembunuhan tiga kali yang dilakukan secara sengaja kepada Soekarno adalah tragedi mengenaskan anak bangsa Indonesia. Bagaimanapun tragedi bungkarno adalah tragedi bangsa Indonesia. Maka penting kemudian penyesatan sejarah ini duluruskan agar citra Bapak Bangsa tidak ternodai. Kita tidak akan rela jika anak cucu kita dimasa mendatang dijejali dengan sejarah yang tidak benar dan tak jelas sumbernya.

Meski sudah banyak buku sejarah tentang Bung Karno, buku ini tetap menarik, sebab kebanyakan buku tentang Soekarno hanya berupa biografi datar, tanpa study kritis terhadap berbagai sumber yang dijadikan rujukaannya. Beda dengan buku yang ditulis Asvi Warman Adam, buku ini secara kritis menela’ah sejarah Bung Karno secara utuh. Asvi dapat menemukan celah yang belum terlihat oleh penulis lain, sehingga ketimpangan sejarah yang terjadi dimasa orde baru sampai era reformasi ini dapat diluruskan. Dalam buku ini Asvi lebih banyak menceritakan tentang jasa dan perjuangan Bung Karno, mulai dari saat beliau naik kepermukaan publik memperjuangkan kemerdekaan RI sampai beliau menjadi pimpinan Negara, dan kemudian dijatuhkan karena kepentingan politik Soeharto. Pristiwa ini sering disebut creeping coup (kudeta merangkak), dimana kemudian Soeharto menggantikan kedudukannya sebagai presiden RI.

Pelulurusan sejarah Bung Karno yang dilakukan oleh Asvi, penting kita baca, sebagai bentuk kepedulian terhadap masa depan bangsa Indonesia. Agar kita dapat mengingat jasa perjuangan beliau dan terinspirasi untuk melakukan perbaikan tatanan bangsa, demi masa depan Indonesia yang lebih baik. Bagaimanapun Bung Karno adalah Bapak Bangsa, sekaligus proklamator kemerdekaan Indonesia, yang mesti diteladani.


Di sinilah relevansinya pesan Sang Putra Fajar ini untuk kita supaya jangan sekali-kali meninggalkan sejarah.

Dalam buku Aktualisasi Pidato Terakhir Bung Karno: Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah (Never Leave History!). saya menafsirkan dan menginterpretasikan pidato Bung Karno pada peringatan 17 Agustus 1966, serta membandingkan dengan situasi aktual ketika itu. Moralnya hanya ingin menunjukkan bahwa dalam banyak hal, pemikiran dan penuturan Bung Karno bersifat everlasting… evergreen... tak lekang dimakan waktu. Banyak wejangan Bung Karno yang terbukti relevan dengan situasi dan kondisi saat ini, dan saya yakin, hingga ke masa depan. Satu hal yang membuat saya menilai Bung Karno adalah seorang futurolog yang baik.

Ihwal pidato 17 Agustus 1966 yang saya katakan sebagai pidato terakhir, dalam pengertian pidato kenegaraan yang begitu dinanti rakyat Indonesia setiap tanggal 17 Agustus. Sejarah telah mencatat, 17 Agustus 1967 dia sudah tidak lagi berkuasa, sehingga mulutnya terkunci, dan dunia tak lagi mendengar spirit progresif revolusioner dari seorang Putra Sang Fajar. Dunia tak lagi menyimak kecamannya atas hegemoni liberalisme dan kapitalisme.

Selain menafsir pidato yang sering disingkat orang dengan “Jas Merah” itu, saya juga melakukan riset kecil-kecilan terkait respons media massa pada zamannya. Beberapa kali saya masuk-keluar perpustakaan nasional, membolak-balik lembar demi lembar koran tua. Beberapa artikel dan berita, saya sertakan pada epilog buku agar pembaca maklum, bahwa tahun 1966, sejumlah media memang telah memposisikan Bung Karno pada satu sudut yang sulit. Ada semacam penggalangan opini yang begitu sistematis terkait peristiwa G-30-S/PKI, sehingga Bung Karno “dipaksa” harus menerima status sebagai pihak yang harus bertanggung jawab.

Di sini sebuah ironi tampak. Seorang Presiden yang hendak dikudeta, justru dituding “terlibat” (langsung atau tidak langsung) dengan kudeta itu sendiri. Nalar mana yang membenarkan seorang presiden mengkudeta dirinya sendiri?

Alhasil, “pesan terakhir” Bung Karno yang berjudul “Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah”, saya resapi sebagai sebuah seruan yang harus terus digaungkan sepanjang zaman. Bangsa yang melupakan sejarah, akan dengan mudah tercerabut dari akar sejarah itu sendiri, dan menjadi bangsa antah berantah.

Image

Oetari, istri pertama Soekarno.

Film Soekarno (2013) bahkan sama sekali tidak menampilkan tokoh Oetari. Hanung Bramantyo, sang pembuat film, tampaknya lebih tertarik untuk mengangkat hubungan singkat Soekarno dengan seorang wanita Belanda alih-alih dengan Oetari yang menjadi istri pertamanya. Padahal walau bagaimanapun Oetari harus diakui sebagai istri resmi Soekarno yang pertama. Ia adalah pengikat hubungan baik antara Bung Karno dengan Tjokroaminoto.

Nama lengkapnya adalah Netty Oetari, bukan Siti Oetari seperti banyak disebut  orang. Ia adalah anak sulung dari lima bersaudara keturunan H.O.S. Tjokroaminoto. Aku tidak begitu mengetahui penampakan Oetari di waktu muda karena sejauh ini belum kutemukan dokumentasinya. Harsono Tjokroaminoto dalam buku “Menelusuri Jejak Ayahku” (ANRI, 1983) juga tidak menyebut banyak mengenai penampilan Oetari. Ia hanya mengatakan bahwa Oetari sangat pandai bermain musik dan menyanyi. Selebihnya mengenai hubungan Oetari dengan Soekarno juga tidak banyak disebutkannya.

Kisah cinta antara Oetari memang sekilas diceritakan Soekarno dalam buku otobiografinya “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia sebagaimana disampaikan kepada Cindy Adams” (Gunung Agung, 1966). Menurutnya, setelah Bu Tjokroaminoto wafat, Pak Tjok (Panggilan untuk HOS Tjokroaminoto) sangat sedih dibuatnya. Seorang saudara Pak Tjok kemudian mengusulkan Soekarno yang saat itu berusia 21 tahun untuk menghibur bapak kostnya dengan cara menikahi putrinya, Oetari yang baru berusia 16 tahun.

Aku mendatangi Pak Tjokro dan mengajukan lamaranku. Dia sangat gembira dan oleh karena akan menjadi menantu aku segera dipindahkan ke kamar yang lebih besar dengan perabot yang lebih banyak. Sampai di hari ia menutup mata, ia (Pak Tjok) tak perah mengetahui, bahwa aku mengusulkan perkawinan ini hanya karena aku sangat menghormatinya dan menaruh kasihan kepadanya.

Akhirnya dilaksanakanlah “Kawin Gantung”, suatu bentuk perkawinan sesuai adat Indonesia yang biasanya diterapkan pada pasangan yang belum cukup umur untuk melakukan hubungan suami-istri. Ada peristiwa menarik yang terjadi ketika Soekarno hendak melakukan akad nikah. Pertama, si penghulu menolak menikahkan mereka karena Soekarno ketika itu memakai dasi. Dia berkata :

“Anak muda, dasi adalah pakaian orang yang beragama Kristen. Dan tidak sesuai dengan kebiasaan kita dalam agama Islam”

Soekarno berkeras hati untuk mempertahankan dasi yang dikenakannya. Untunglah ada seorang di antara tamu yang bersedia menggantikan posisi si penghulu untuk menikahkan dirinya dengan Oetari. Saat itu terjadi peristiwa menarik lainnya.

Tepat sebelum aku menginjak ambang-pintu aku mengambil rokok untuk melakukan hembusan yang terakhir. Aku mengeluarkan korek api dari kantong, menggoreskan sebuah di sisi kotaknya untuk menyalakannya dan … sjsst … seluruh kotak itu menyala semua oleh jilatan api. Anak korek api yang ada di dalam kota itu menyala semua sampai yang terakhir. Karena jilatan api ini jariku terbakar. Kuanggap kejadian ini sebagai pertanda buruk dan memberikan kepadaku suatu perasaan ramalan yang gelap.

Seakan-akan pertanda buruk itu benar-benar terjadi. Perkawinan Soekarno-Oetari berlangsung cukup singkat karena Soekarno lebih terpikat hatinya oleh diri Inggit Garnasih, istri pemilik pondokannya di Bandung. Inggit memenuhi citra perempuan yang diidamkan Soekarno, sedangkan Oetari menurutnya :

“Ia bukan idamanku, oleh karena tidak ada tarikan lahir dan dalam kenyataan kami tak pernah saling mencintai. Sebagai teman seperjuangan, orang yang demikian tidak sanggup menemaniku pada waktu tenagaku terpusat pada penyelamatan dunia ini, sedang dia sementara itu main bola tangkap.”

Selanjutnya mantaplah keinginan Soekarno untuk menceraikan Oetari dan menikahi Inggit. Perceraian tersebut seperti diakui Soekarno tidak menimbulkan masalah pribadi antara dirinya dengan Pak Tjok. Dalam waktu singkat setelah perceraian tersebut, Utari menikahi Bachroensalam, yang dulunya juga merupakan teman Soekarno selama kost di kediaman Pak Tjok. Sepintas kita dapat menyimpulkan bahwa Soekarno melihat perceraiannya dengan Oetari sebagai hal natural, “Tidak menimbulkan luka baginya.”

Benarkah demikian ? mari kita tinjau sudut pandang Oetari sebagaimana dituangkan dalam sebuah artikel yang pernah diterbitkan Harian Surabaya Buana tanggal 2 Februari 1986. Sebuah ulasan menarik tentang hubungan Soekarno dan Oetari yang belum banyak diketahui orang.

“Seperti ibu Inggit, saya juga lebih baik mengalah dariapda memiliki suami memiliki istri lain.” ucap seorang wanita tua mengenang perpisahannya dengan pemuda Soekarno yang akhirnya menjadi Presiden RI pertama itu.

Oetari, wanita tua yang kini berusia 78 tahun, putri sulung tokoh nasional H.O.S. Tjokroaminoto. Ia punya sepercik andil dalam kehidupan Soekarno. Kenangan ini terjadi sekitar 60 tahun yang lalu (*sejak tulisan ini diterbitkan tahun 1986).  Bermula dari tempat tinggal mereka yang menjadi tempat kost sepuluh pemuda sekolah. Saat itu gadis yang panggilan sehari-harinya Lok ini masih berusia 1 tahun , sehingga ia belum paham betul arti status nikah gantung yang mengikatnya dengan Soekarno.

Lok menyukai Soekarno, karena dilihatnya Soekarno, orangnya periang, supel, dan pandai berpidato. Tetapi waktu itu perasaanya terhadap Soekarno masih seperti perasaanya terhadap para pemuda lain yang kost di rumahnya, walaupun antara dia dan Soekarno ada ikatan.

Selain sepuluh orang pelajar yang kost di rumah Jl. Plampitan 8 Surabaya itu, juga terdapat seorang sepupu Oetari bernama Sigit Bachroensalam. Dengan Sigit ini Lok pun akrab dan biasa bergaul seperti saudara sendiri. Keakraban ini ternyata mengundang kecemburuan Soekarno. Sampai-sampai ketika akan berangkat ke Bandung untuk melanjutkan studinya di ITB yang dahulu masih bernama Technische Hogeschool (THS), Soekarno berpesan kepada Oetari agar tidak bergaul terlalu akrab dengan Sigit. Keberangkatan Soekarno ini hanya sekitar dua bulan setelah mereka diikat status nikah gantung.

Selang beberapa waktu, Oetari sempat diajak oleh Soekarno tinggal bersama selama sebulan di pemondokannya di Bandung. Rumah pemondokannya ini merupakan tempat tinggal H. Sanusi dan istrinya, Inggit Garnasih. Selama tinggal di sini, Oetari melihat betapa intim dan akrabnya Soekarno dengan istri pemilik rumah tempat tinggal kostnya itu. Bahkan sering didapatinya Soekarno dan Inggit bergurau sampailarut malam di beranda justru Haji Sanusi sudah tidur.

Kenyataan yang dilihat oleh Oetari selama berada di Bandung itu membuat gundah hatinya. Mungkin perasaanya lebih cemburu dari kecemburuan Soekarno terhadap Sigit ketika masih di Surabaya. Tetapi semua kenyataan ini hanya berwujud pengaduannya pada ayahnya. Maka setelah mendengar semua ini Oetari diceraikan dari Sokearno oleh H.O.S. Tjokroaminoto.

Ibu Oetari kini (saat itu) tinggal di Jl, Ngagel Jaya 93 Surabaya. Kesehatannya tampak masih baik, hanya saja kakinya tidak lagi sekuat dulu. Kalau berjalan harus berpegangan pada dinding. Tetapi jika hanya untuk menceritakan beberapa kepingan masa lalunya ia sanggup bertutur jelas.

Rumah yang ditempati di Jl. Ngagel Jaya sejak 1964 ini adalah pemberian pemerintah sebagai hadiah terhadap almarhum ayahnya. Rumah itu terletak di atas tanah seluas 20 X 25 M. Pada dinding depannya (terlihat dari jalan raya) sebuah prasasti menempel bertanda tangan Presiden Soekarno. Tapi itu bukan berarti secara pribadi rumah itu dihadiahkan Soekarno pada oetari. Pemberian Soekarno secara pribadi hanyalah sebuah foto presiden yang ditandatanganinya pada tahun 1947. Foto itu ditunjukan kepadanya dan Sigit yang telah menjadi suaminya sejak 24 Maret 1924. Dengan Sigit inilah akhirnya Oetari menikah setelah sekitar setahun bercerai dari Soekarno.

Sejak perpisahannya dengan Bung Karno, untuk pertama kalinya Oetari bertemu kembali ketika Soekarno baru keluar dari penjara Sukamiskin. Waktu itu Oetari didampingi oleh suaminya, Sigit Bachroensalam. Sedang Soekarno sudah resmi jadi suami Inggit. Pada pertemuan yang penuh haru unu mereka bertiga saling berangkulan. Bagi Oetari, keharuan tidak saja disebabkan mereka merupakan sahabat lama, tetapi karena Soekarno baginya sama-sekali sudah lain keadaanya. Soekarno yang dulunya tampak klinis, bersih, dan segar kini kelihatannya sudah agak kurus dan kehitaman, sehingga terbayang dalam benak etari betapa beratnya penderitaan Soekarno dalam penjara itu.

Perjalanan hidup Oetari bersama suaminya Sigit yang pernah dicemburui Soekarno selanjutnya berjalan langgeng. Sejak pernikahan di Semarang mereka bekerja di Pabrik Gula, kemudian pindah ke Cipanas dan suaminya berganti profesi menjadi pegawai kehutanan. Dari Cipanas mereka hijrah ke Madiun, Sigit bekerja di kantor Karasidenan.

Ketika terjadi pemberontakan berdarah PKI yang dipimpin Muso tahun 1948, mereka ketakutan. Oetari dan Sigit sama sekali tak menyangka kalau Muso yang juga pernah tinggal bersama di masa masih pelajar dulu; akhirnya mengkhianati sendiri negara yang telah diperjuangkannya. Ketakutan Oetari dan Sigit karena Sigit bekerja di kantor Karasidenan, yang berarti adalah orang pemerintah. Namun mereka masih dilindungi Tuhan, dan tetap bahagia dengan tujuh putra, 24 cucu.

Sigit dipanggil oleh Yang Kuasa tahun 1981. Kehidupan berjalan terus, setelah pertemuan keluarga Sigit dengan Soekarno saat keluar dari penjara Soekamiskin tersebut, mereka tak pernah lagi saling bertemu. Walaupun begitu berita tentang Soekarno yang telah menjadi Presiden RI selalu diikuti oleh Oetari dan Sigit.

Pernah dalam suatu kesempatan tahun 60-an, Oetari mendapat undangan untuk mengikuti upacara 17 Agustus di Istana Merdeka melalui adiknya, Harsono Tkoroaminoto. Dari rumah adiknya di Jakarta, mereka pagi-pagi berangkat menuju Istana. Acara demi acara diikuti oleh suami istri ini dengan saksama. Begitu melihat Bung Karno, timbul hasrat untuk berjabat tangan memberikan selamat. Tetapi hasrat ini sampai sekarang tak pernah tercapai karena seusai upacara, Soekarno meninggalkan tempat upacara diiringi ajudan dan beberapa tamu agung lainnya. Mereka merasa terlalu kecil untuk memenuhi Soekarno dalam suasana seperti itu.

“Setelah itu tak pernah lagi saya melihatnya langsung,” ujar Oetari yang kini sudah bersebutan Eyang Buyut dari anak buyutnya. “Bahkan ke makamnya di Blitar saja belum pernah saya lakukan, soalnya sudah tak kuat lagi bepergian jauh,” tambahnya.

“Soekarno itu memang pintar dan berkepribadian, tetapi belakangan kok suka kawin,” katanya menutup penuturannya.

Tragedi Gerakan 30 September 1965 Partai Komunis Indonesia (G30S/PKI) menjadi titik balik kekuasaan Soekarno. Peristiwa G30S/ PKI adalah skema politik elite. Tragedi paling memilukan itu telah menjungkirbalikkan kewibawaan takhta dan kuasa serta karisma Soekarno dari tapuk kepemimpinan.

G30S/PKI adalah rangkaian skenario kudeta merangkak. Soeharto dan kroni dianggap sebagai aktor lapangan pemakzulan Soekarno. Ada benturan paham kapitalisme dan ideologi sosialisme yang acap digelorakan Soekarno di Indonesia, bahkan dunia internasional.

Kongkalikong asing dan elite negeri dijalankan dengan merangkai kisah palsu, sejarah G30S/PKI. Rekayasa, manipulasi, dan politisasi fakta diperagakan Soeharto dengan menunggangi kekuatan Angkatan Darat.

Soekarno dan PKI dituding sebagai dalang pembunuh enam jenderal secara bengis dan bahkan biadab. Wacana politik berkembang sehingga posisi Presiden Soekarno kian terpojok. Dia dihabisi secara politik oleh Soeharto dengan rangkaian peristiwa diciptakan. Presiden Orde Baru melekatkan wacana di balik pembunuhan enam jenderal Soekarno yang di-back-up PKI.

Di tingkat elite kekuasaan, Soekarno semakin lemah. Derasnya tekanan politik membuat dia dijauhkan dari kursi kekuasaan. Pada arus bawah, anggota, simpatisan PKI dibantai dengan sangat keji. Sejarawan Asvi Warman Adam mengatakan kekejaman dialami PKI mengakibatkan tak kurang 500.000 orang meninggal.

Presiden pertama benar-benar tengah berada pada kemunduran total. Ia orang yang menyukai keramaian, dan pemerintah telah mengambilnya dengan semena-mena dari dirinya. Soekarno sangat kesepian. Inilah yang mengikis habis seluruh semangat hidupnya (halaman 212). Kekejaman politik telah mengubah sejarah hidup Soekarno dengan kisah memilukan. Tragedi G30S/PKI, termasuk tipu muslihat “pengalihan kekuasaan” melalui Surat Perintah 11 Maret 1966.

Dalam penderitaan, sang proklamator mencoba bangkit dengan pledoi untuk mengembalikan wibawa kekuasaannya. Pidato Nawaksara pada 22 Juni di hadapan MPRS untuk meneguhkan kekuasaannya ditolak.

Kekuasaan pemerintahan porklamator itu secara resmi dicabut MPRS pada 12 Maret 1967 dengan Ketetapan MPRS No XXXIII/MPRS. Terlihat begitu jelas upaya penggulingan diperlihatkan secara terang-terangan. Soeharto mengatakan ketidakjelasan mengenai keterlibatan Soekarno dalam peristiwa G30S, tapi mengapa Soeharto membiarkan adanya ketetapan MPRS pencabutan kekuasaan presiden dijatuhkan.

Selain itu, kalau Soeharto mengeluarkan pernyataan, “Kecuali jika masih ada fakta yang belum ditemukan pada hari ini, mengapa Soekarno tidak diberi kesempatan untuk menunjukkan fakta, kalau memang dia tidak terlibat” (halaman 186-187).

Buku Hari hari Terakhir Sukarno di atas tidak saja melukiskan seting sejarah politik seputar kudeta pemimpin tertinggi pemerintahan, tapi juga mengungkap (dan terumata) hari-hari ayah Ketu Umum PDIP Megawati ini yang penuh penderitaan di pengasingan, sakit, dijauhkan dari keluarga dan rakyat.

Soekarno benar-benar tak berdaya kala itu. Buku ini dengan data autentik sejarah menuliskan derita presiden pertama pasca penggulingan. Sejarah tragis mantan pemimpin besar negara. Bahasa lain, dia “dibunuh” secara halus oleh kebengisan politik.

Senja sebuah orde dengan pemimpin legendaris yang sengaja dilupakan. Sepeninggal Soekarno pada 21 Juni 1970, jejaknya coba dihilangkan. Elite politik yang keji tak menghendaki Bung Karno dikebumikan di makam pahlawan. Makamnya dikhawatirkan kelak menjadi simbol kebangkitan perlawanan terhadap kolonialisme atau imperialisme, bahkan Orde Baru, jika dimakamkan di pusat kekuasaan: ibu kota. Akhir hayat tragis putra sang fajar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s