Resensi dan Keharusan Menulis

Ada cerita terkenal dari dunia resensi Indonesia. Diawali dengan dimuatnya satu resensi Profesor Saleh Iskandar (S.I) Poeradisastra, seorang akademisi, sastrawan, dan jurnalis, di Majalah Tempo pada 16 September 1978. Resensi berjudul “Dari Barat, atau Islam?” itu menyoal buku karya Profesor Slamet Iman Santoso, pendiri Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan tokoh pemerhati pendidikan di tanah air berjudul “Sejarah Perkembangan Ilmu Pengetahuan.”

Buku Profesor Slamet yang diterbitkan oleh Proyek Pengadaan Buku Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia pada 1977 itu diulas habis-habisan oleh Poeradisastra atau yang juga punya nama pena Boejoeng Saleh. Kealpaan Profesor Slamet menuliskan runutan sejarah – dari masa Yunani melompat ke abad Pencerahan di Eropa tanpa menyinggung peran Islam menjadi kritik utamanya.

Menyadari kekeliruannya, Profesor Slamet meminta buku itu ditarik dari peredaran. Itu tadi contoh resensi yang berdampak besar. Sifatnya mengkritik. Resensi semacam ini bisa jadi pedang bermata dua. Ia positif dalam arti menunjukkan salah satu kekeliruan dari sebuah tulisan. Juga jadi satu “peringatan” bagi para penulis buku untuk jangan asal dalam berkarya ataupun bagi penerbit agar jangan asal menerbitkan buku.

Baik itu untuk buku-buku hasil tulisan sendiri maupun hasil terjemahan dari karya orang lain. Di sinilah pentingnya resensi kritis. Ia jadi satu ujian tersendiri apakah buku itu bagus, bermutu, dan diminati masyarakat ataukah tidak.

Resensi yang bersifat kritis atau resensi kritik bisa jadi sesuatu yang negatif karena digunakan sebagai alat “pertempuran” antar penerbit. Penerbit yang menghalalkan segala cara agar buku yang diterbitkannya laku bisa saja membayar seorang penulis resensi untuk menjelek-jelekkan buku terbitan penerbit lainnya. Namun, jika sekali saja praktik seperti ini ketahuan masyarakat, sudah pasti harga diri mereka – baik penerbit maupun penulis resensi – akan jatuh.

Resensi sebuah buku tidak melulu menyoal satu buku itu saja. Akan lebih menarik jika penulis resensi juga membandingkan dengan buku-buku lain yang menyoal hal yang sama. Meski di Indonesia gaya penulisan resensi macam ini belum populer, tak ada salahnya jika kita mencoba membuatnya.

Kadang-kadang saya merasa heran dengan orang-orang yang kesulitan bergaul dengan buku, bahkan buku ‘ringan’ sekalipun. Padahal kalau mereka sempat berpikir, upaya yang dicurahkan penulis untuk menghasilkannya tidak main-main.

Selain itu, tulisan-tulisan berbobot para tokoh di abad pertengahan membuktikan bahwa mereka tidak sekadar menulis buku. Sebagai contoh, tulisan-tulisan Ibnu Rusyd atau Averroes masih saja terus dibahas para pecinta filsafat di abad Facebook saat ini.

Satu buku bahkan bisa merepresentasikan puluhan tahun jerih payah penulisnya. Kalau kita memegang kitab Shahih Bukhari, Anda bayangkan berapa tahun dan berapa wilayah yang harus Imam Bukhari jelajahi sebelum menghasilkan sebuah masterpiece tersebut?

Sementara pembaca hanya memerlukan waktu beberapa jam mungkin juga hari untuk melahapnya. Namun, mengapa ada di antara kita yang masih saja malas membaca!?

Maka, sekaranglah waktunya bagiku untuk membuktikan keseriusanku menulis. Mungkin inilah rencana yang bisa kulakukan, sebagai pelajaran bahwa aku memang mau hidup dari menulis.

Satu. Aku harus benar-benar fokus pada menulis. Tak ada pekerjaan apa pun yang dilakukan, hingga menjadikan alasan tidak fokus pada menulis. Aku mungkin menolak semua order pekerjaan yang tak ada hubungannya dengan tulis menulis. Semacam desain dan setting, aku hanya meluangkan waktu seminggu tiap bulan, untuk biaya hidup saja. Jadi yang seminggu untuk kerja, yang tiga minggu untuk fokus belajar menulis.

Dua. Benar-benar memaknai yang dibaca. Semua yang dibaca, selalu dicerna dengan jiwa, hingga ada hikmah yang bisa diambil manfaatnya. Dan benar-benar mendalam, tidak sekadar lewat saja.

Aku akan mencoba membaca buku-buku yang telah kupunya dengan samangat belajar yang berbeda. Bukan lagi sekadar baca, yang nempel di otak, tapi kemudian lewat. Akan kudata buku mana saja yang bisa menunjang belajarku untuk menulis. Dan akan kutiru gayanya, agar aku mendapatkan kemampuan menulis yang sama. Untuk kemudian belajar lepas dari pengaruhnya.

Tiga. Benar-benar peka pada gerak pelajaran. Aku harus melembutkan hati, agar tak terlewatkan segala hikmah yang mampir di kehidupanku sehari-hari. Intinya, aku harus menguatkan ibadah harianku. Paling tidak, kalau selama ini hanya shalat jamaah dan dhuha saja, dan sering bolong rowatibnya, harus segera didisiplinkan untuk tidak jadi kebiasaan.

Empat. Benar-benar belajar menulis dengan waktu yang disiplin. Harus benar-benar menulis. Apapun yang ditulis. Dan aku telah memilih waktu pagi hari. Dari semenjak bangun tidur, sampai shalat dhuhur. Aku harus menulis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s