POTONGAN JURNAL DARI BANGKOK

Setelah Paris karya Prisca Primasari dan Melbourne karya Winna Efendi, saya agak sangsi untuk membaca seri Setiap Tempat Punya Cerita. Saya bukan tipe orang yang senang traveling, jadi saya tidak tetarik dengan premis setting di negara lain. Apalagi ini Bangkok. Saya bahkan tidak pernah tertarik untuk pergi ke Thailand.
Ternyata novel Bangkok: The Journal (Setiap Tempat Punya Cerita #3) ini cukup asyik untuk dinikmati. Gaya bahasa Moemoe Rizal dalam novel setebal 436 halaman ini sangat ringan dan renyah.Novel ini diterbitkan oleh Gagasmedia.
Kisah diawali saat Edvan sukses menjadi arsitek ternama. 10 tahun yang lalu ia meninggalkan rumah demi mencari peruntungannya sendiri. Ia ingin membuktikan kalau ia bisa mandiri tanpa campur tangan orang tua.
Suatu hari adiknya menelpon untuk memberi tahu kalau ibunya sudah meninggal. Sebenarnya Edvan tidak ingin kembali. Ia sudah melepaskan diri dari kehidupan masa lalunya dan tidak ingin bertemu dengan adiknya lagi.
Tapi Edvan kembali ke Indonesia.
Ibu Edvan meninggalkan sebuah wasiat berupa lembar terakhir jurnal perjalanannya di Bangkok sewaktu masih muda. Jurnal tersebut terdiri dari 7 buah dan Edvan harus mencari 6 sisanya di Bangkok.
Lalu petualangan pun dimulai. Melewati pelosok-pelosok Bangkok bersama pemandu lokal bernama Charm, Edvan menemukan hal-hal yang tidak pernah dibayangkannya.
Narasi Edvan juga lucu dan agak menyerempet sedikit (maklum, dia cowok) sehingga saya suka senyum-senyum sendiri pas baca. Penjelasan setting Bangkoknya sangat kuat dan detail, membuat saya merasa seperti benar-benar ada di Bangkok. Memang saya terkadang agak bosan di bagian penjelasan tempat-tempat yang dikunjungi Edvan, tapi saya masih bisa menikmati ceritanya.
Banyak sisi yang menyentuh di buku ini. Saya suka sekali karena penulis mengambil tema transgender. Thailand adalah salah satu negara yang sangat bebas menerima transgender, homo, dan lesbian. Penulis sangat pintar memasukkan sisi budaya Thailand ini ke dalam cerita. Saya suka hubungan Edvan dan adiknya, bagaimana akhirnya Edvan bisa menerima sosok adiknya yang sangat berbeda dari dirinya. Walaupun pencarian jurnal adalah tujuan utama Edvan, justru jurnal itu bukan bagian yang paling menonjol dari cerita ini. Jurnalnya bagus sih. Saya bisa mengenal ayah dan ibu Edvan dari potongan-potongan jurnal itu. Bahkan saya ikut merasa sedih karena yang tersisa dari ayah ibu Edvan hanyalah sebuah kenangan dan masa lalu saja. Tapi saya lebih suka mengikuti kejadian-kejadian kecil yang dilalui Edvan selama di kota itu, terutama pertemuan Edvan dengan orang-orang yang unik dan interesting.
Novel yang ringan dan menghibur. Saya tidak begitu suka dengan endingnya sih, tapi boleh lah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s