POLITIK EKSPANSI SULTAN AGUNG

Buku ini menyoroti secara khusus masa pemerintahan Sultan Agung  (1613-1645) dan sedikit mengenai pendahulunya, Panembahan  Seda Krapyak (1601-1613). Diungkapkan bahwa, dengan politik ekspansi Sultan Agung, Mataram berhasil melebarkan radius kekuasaan dan pengaruhnya. Upaya menghalau VOC, misalnya, meskipun gagal, telah  menimbulkan rasa hormat para penguasa pribumi di luar Jawa.

item image #0

Sultan Agung merupakan penguasa yang sangat menentang praktik perdagangan kongsi dagang VOC milik Belanda. Menurut Sultan Agung praktik dagang yang dilakukan VOC penuh kecurangan dan merugikan rakyat pribumi (Purwadi, 2007 : 366). Wilayah kekuasaan Mataram pada Masa Sultan Agung meliputi Jawa Tengah, Jawa Timur, dan sebagian Jawa Barat.

Kerajaan Mataram dapat mencapai puncak kejayaan pada waktu diperintah Sultan Agung. Wilayah kekuasaan Mataram pada Masa Sultan Agung meliputi Jawa Tengah, Jawa Timur, dan sebagian Jawa Barat. Sepeninggal Sultan Agung, untuk pemerintahan raja selanjutnya wilayah kekuasaan Mataram semakin lama semakin berkurang (Handayani, 1991 : 1). Sultan Agung berusaha memperluas daerah kekuasaan untuk memulihkan kesatuan politik dan ingin menyatukan seluruh Jawa. Hal ini ditandai dengan penyerangan diberbagai daerah agar menjadi daerah bawahan Mataram.

Sultan Agung menggunakan taktik melakukan penyerangan di berbagai daerah dengan menggunakan tiga cara yaitu dengan menghancurkan musuh dan memusnahkan daerah, menyerap harta kekayaan, dan mengkombinasikan antara menghancurkan musuh, memusnahkan daerah, dan menyerap atau diplomasi. Hal ini Sultan gunakan ketika melakukan penakukan di pesisir Pantai utara Pulau Jawa.

Penaklukan dengan taktik menghancurkan musuh menyebabkan kerugian pada jatuh korban, menimbulkan kekacauan, dan perekonomian mengalami kerugian. Memusnahkan orang lain tidak dengan tangan sendiri berarti memperluas atau memperbesar kekuasaan pemimpin, tetapi hanya mencerai-beraikan kekuasaan lawan. Menghancurkan musuh adalah cara paling kasar untuk menaklukan musuh. Menyerap dalam taktik disebut sebagai diplomasi merupakan cara halus untuk mendapatkan pengakuan keunggulan dan kekuasaan.

Penyerapan dalam teori dianggap sebagai tunduknya kerajaan secara sukarela kekuasaan seseorang penguasa yang tertinggi (Koentjaraningrat, 1984 : 81). Ekspansi yang dilakukan oleh Sultan Agung menggunakan strategi seimbang yaitu dengan mengarahkan politik ekspansi ke arah timur dan arah barat. Tahun 1613-1625 politik ekspansi yang dijalankan Sultan Agung yang ditujukan ke Jawa Timur dengan diakhiri takluknya Surabaya pada 1925. Tahun berikutnya 1625-1636 sasaran serbuan militer ditujukan ke Jawa Barat untuk menghancurkan kota Batavia.

Ada cerita unik ketika pasukan Mataram menyerbu Batavia pada 1629. Raja Mataram, Sultan Agung (1593-1646) berambisi menaklukkan Batavia untuk memuluskan jalan menaklukkan Kesultanan Banten. Pasukan Mataram menyerbu Batavia dua kali, tahun 1628 dan 1629.

Adapun episode pertempuran yang berkaitan dengan “tahi” terjadi di salah satu menara benteng pertahanan Belanda, Hollandia, pada malam hari 20 Oktober 1629. Kisah tersebut ditemukan dalam buku karya penjelajah Belanda, Johan Nieuhof (1618-1672), Het Gezandtschap der Neêrlandtsche Oost-Indische Compagnie, aan den grooten Tartarischen Cham, den tegenwoordigen Keizer van China (Kedutaan Besar dari Kongsi Dagang Belanda Republik Belanda kepada Tartar Cham, Kaisar Cina) yang kali pertama terbit pada 1665 di Belanda.

Kala itu, pertahanan Hollandia dipimpin oleh sersan asal Jerman, Hans Madelijn. Sudah kehabisan senjata untuk mempertahankan benteng dari pasukan Mataram, Hans menelurkan gagasan sinting. “Benteng itu dipertahankan oleh hanya 15 serdadu. Mereka kehabisan peluru, dan untuk bertahan terpaksa melemparkan segala macam benda yang bisa dilempar, konon termasuk isi tangki kakus,” tulis Parakitri T. Simbolon dalam Menjadi Indonesia.

Sejarawan Adolf Heuken dalam Historical Sites of Jakarta, mencatat, “saat mereka diserang oleh peluru jenis baru ini, orang-orang Jawa itu langsung melarikan diri sambil berteriak jengkel, “0, seytang orang Hollanda de bakkalay samma tay (Oh, Belanda setan, kalian berkelahi pakai tahi!).”

“Ini adalah kata berbahasa Melayu pertama yang tercatat dalam buku yang ditulis oleh orang Jerman,” tambah Heuken.

Hermanus Johannes de Graaf dalam bukunya, Puncak Kekuasaan Mataram: Politik Ekspansi Sultan Agung mengatakan kejadian itu dijadikan dalih untuk menghentikan pengepungan. “Akan tetapi Valentijn melihat bahwa bukan karena alasan inilah mereka mundur melainkan terutama juga karena mereka melihat datangnya pasukan pembebasan dari kota menuju ke arah mereka,” tulis de Graaf mengutip dari catatan penulis Belanda, Francois Valentijn (1666-1727).

Batavia gagal direbut dan prajurit Mataram pulang dengan terlunta-lunta. Orang Mataram kemudian menjuluki Batavia sebagai “Kota Tahi”, baik dalam artian umpatan maupun merujuk peristiwa konyol yang mereka alami di benteng Hollandia.

Letnan Gubernur Thomas Stamford Raffles (1781-1826) dalam bukunya, History of Java, menulis bahwa julukan tersebut masih digunakan oleh orang-orang Jawa setidaknya sampai awal abad ke-19. Sebuah kampung bernama “Kota Tahi” juga pernah eksis sebelum namanya menghilang di pertengahan abad yang sama. Adapun di bekas lokasi situs benteng Hollandia kini berdiri pusat perbelanjaan Glodok.

Titik puncak ekspansi adalah pada tahun 1628 dan 1629 dan berakhir dengan pengajuan politik damai dari Gubernur Jenderal Van Diemen (1636). Tahun 1637-1641 politik ekspansi ditujukan lagi ke Jawa Timur terutama untuk menaklukan Blambangan. Tahun 1641-1645 ekspansi dilanjutkan ke Jawa Barat serta untuk memadamkan pemberontakan di Sumedang dan Ukur juga membangun koloni dan pos pertahanan yang lebih dekat dalam rangka penyerbuan kembali Batavia.

Ekspansi ke arah timur merupakan prioritas utama ekspansi Sultan Agung dikarenakan kota- kota pantai di Jawa Timur mempunyai kekuatan sosial politik yang mempunyai basis ekonomi untuk menandingi Mataram. Sultan Agung lebih memusatkan ke arah Timur untuk menguasai Surabaya dan pemusatan ke arah barat untuk merebut dan mengusir Belanda dari Batavia (Daliman, 2012 : 268).

Adanya politik ekspansi di Kerajaan Mataram yang dijalankan Sultan Agung menjadikan wilayah Kerajaan Mataram semakin bertambah yakni meliputi Jawa Tengah, Jawa Timur, dan sebagian Jawa barat. Wilayah Timur yang tunduk terhadap Kerajaan Mataram antara lain Madiun, Kediri, Malang, Renong, Lumajang, Wirasaba, Pati, Pajang, Pasuruan, Lasem, Tuban, Gresik, Sukadana, Madura (Bangkalan, Arosbaya, Balega, Sampang, dan Pakacangan), dan Surabaya. Wilayah Barat yang dapat dikuasai adalah Banten, akan tetapi Batavia tidak bisa dikuasai oleh Mataram. Wilayah ujung timur yang menjadi daerah kekuasaan Mataram adalah Blambangan (Haq, 2012 : 24-39).

Daftar Pustaka

Daliman. 2012. Islamisasi dan Perkembangan Kerajaan-Kerajaan Islam di Indonesia. Yogyakarta : Ombak

Haq, Z. 2012. Nasionalisme Religius Kasultanan Mataram. Bantul : Kreasi Wacana.

Koentjaraningrat. 1984. Kebudayaan Jawa. Jakarta : Balai Pustaka.

Purwadi. 2007. Sistem Pemerintahan Kerajaan Jawa Klasik. Medan : PujaKesuma.