MENERBITKAN BUKU, MELESTARIKAN BUDAYA

Dinasaurus mati punah beribu tahun yang lalu meninggalkan fosil. Dari fosilnya orang dapat meneliti bahwa dinasorus adalah binatang sebangsa reptil yang besar berkembang-biak dengan bertelur (ovovivipar).

Lagu Tak Gendhong, Di Mana-mana sangat populer dinyanyikan oleh Mbah Surip. Mbah Surip meninggal dunia belum tiga tahun yang lalu. Tetapi siapakah dia, lahir di mana, kapan, isterinya berapa, kita tidak tahu. Terlupakan.

Sajak bahasa Jawa: Amenangi jaman edan/ Ewuh aya ing pambudi/ Melu edan nora keduman/ Yen tan melu anglakoni/ Boya keduman milik/ Kaliren wekasanipun/ Ndilalah kersaning Allah/ Begja-begjane kang lali/ Begja kang eling lamun waspada. (Mengalami zaman gila, serba sulit dalam alam pikiran, ikut menjadi gila hati tak kuat, apabila tidak ikut tidak akan mendapatkan bagian, yang dapat berakhir dengan kelaparan. Namun, menurut takdir Tuhan, betapa pun bahagia orang yang lupa, lebih bahagia orang yang sadar dan waspada).

Penggemar sastra Jawa sudah sangat mengerti bahwa sajak yang menekan filsafat hidup tadi karangan Ranggawarsita, yang telah meninggal 1874 (137 tahun yang lalu). Namun siapa Ranggawarsita sampai sekarang pun banyak para ahli sastra yang tahu, karena dia adalah pujangga Kraton Surakarta yang telah banyak menulis buku. Karena tulisannya diterbitkan jadi buku itulah sampai sekarang buku-buku Ranggawarsita masih banyak didiskusikan di Inggris, Prancis dan Belanda.

Meskipun lagu Tak Gendhong Di Mana-mana pernah populer, namun karena lelakon budayanya tidak ditulis jadi buku, baru meninggal beberapa tahun saja nama penciptanya maupun lagunya lenyap begitu saja. Hilang dari ranah sejarah. Tetapi Ranggawarsita, meskipun telah wafat seratus tahun lebih, namanya maupun karyanya tetap dibicarakan orang sampai sekarang, karena dia menulis buku dan bukunya diterbitkan.

Jadi penerbitan buku adalah pelestarian karya budaya, atau seperti fosil pada dinasaurus. Dengan karya budaya diterbitkan menjadi buku, meskipun sudah mati ratusan tahun yang lalu, karya budaya tadi masih bisa diteliti bagaimana kejadiannya. Seperti kehidupan dinasaurus bisa diteliti dari fosilnya.

Peristiwa di dunia ini sudah berlangsung 21 abad, namun kalau tidak tercatat dan diterbitkan jadi buku tidak akan terdeteksi sejarahnya. Tetapi yang ditulis pada buku, akan terus diketahui oleh generasi manusia berabad berikutnya dengan cara membacai bukunya. Oleh karena itu saya menyebutkan menerbitkan buku dan membaca buku itu kiat hidup modern. 

Membaca buku dan menulis buku adalah kiat hidup modern, karena itu membaca buku dan menulis buku harus dibudayakan pada putera bangsa. Meskipun usia budaya membaca buku dan menulis buku sebagai kiat hidup modern itu sudah berawal dari 400-an tahun Sebelum Masehi, namun amat sayang bahwa putera bangsa Indonesia sampai abad ke-21 ini masih amat jarang yang harkat hidupnya berkiat membaca buku dan menulis buku.

Sehingga peristiwa budaya atau sejarah yang penting seperti peristiwa 10 November 1945 di Surabaya tidak banyak pemuda Indonesia yang tahu rincinya karena tidak diterbitkan jadi buku. Dan putera bangsa tidak tahu peristiwa rincinya karena tidak punya budaya membaca buku. Sungguh sayang sekali.

Sedang bangsa Indonesia hingga sekarang, 90% kiat hidupnya tidak berbudaya membaca buku, apalagi menulis buku. Dan oleh karena banyak putera bangsa tidak berbudaya membaca buku, bangsa Indonesia boleh dikata bukan orang pandai, mungkin cerdas tetapi curang, dan tidak hidup dengan kiat modern.

Itu bisa kita rasakan keadaan Indonesia sekarang. Tidak modern berarti kuna, primitif. Dan orang primitif tertinggal zaman, bodoh, miskin, tidak kreatif, tidak inovatif, sulit diatur, tidak berperadaban baik, serakah, korup. Buku itu jendela dunia, membaca buku itu bukan saja sama dengan melihat dunia.

Socrates (470-399 SM) adalah tokoh yang paling banyak menyiarkan ilmunya dalam seluruh sejarah filsafat, sehingga dia merupakan salah seorang filosuf yang mempunyai pengaruh paling besar terhadap pemikiran Eropa selama hampir 2500 tahun ini. Socrates banyak menyiarkan pemikiran filsafatnya hanya melalui pidato-pidatonya (bersuara, didengarkan, ditonton, seperti halnya kegiatan HM Cheng Hoo Djadi Galajapo).

Juga ketika Socrates mengadakan pembelaan atas hukuman mati minum racun oleh pengadilan di Athena, hanya dipidatokan. Baik pemikiran filsafatnya maupun pidato pembelaannya, menjadi misi kemanusiaan yang tersebar di seluruh dunia hingga berabad-abad lamanya karena pidato-pidatonya tadi ditulis oleh Plato (murid Socrates) setelah kematian Socrates.

Plato menuliskan pidato pembelaan Socrates pada buku Apologi. Di samping Apologi Plato juga melestarikan (ditulis jadi buku) seluruh karya utama Socrates yang dipidatokan di depan banyak orang kumpulan Epistles dan kira-kira 25 Dialog filsafat yang pernah didiskusikan dan dipidatokan Socrates. Kita bisa mendapatkan karya-karya ini berupa buku sekarang berkat tindakan Plato menuliskannya jadi buku yang bisa dibaca dan dipelajari sejak Plato mendirikan akademi (semacam sekolah zaman sekarang).

Kalau  tidak jadi buku dan dibaca pada buku, apa manfaat filsafat Socrates yang diuraikan secara lisan demi untuk menata kehidupan manusia ~ kebenaran, etika, kebaikan dan kejahatan  ~ masa depan yang ideal? Lenyap seperti lagu Tak Gendhong Di Mana-mana.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s