MAX HAVELAAR: MITOS DAN DIPLOMASI KEBUDAYAAN BELANDA

Max Havelaar

Max Havelaar. Itu nama sebuah novel karya Multatuti (nama pena Eduard Douwes Dekker), yang diterbitkan pertama kali pada 1860 di negeri Belanda. Eduard sendiri merupakan mantan Asisten Residen Lebak yang nuraninya merasa terganggu dengan kesewenang-wenangan kaum arsitokrat setempat terhadap rakyat miskin di Lebak (diwakili oleh sosok Saija dan Adinda).

Max Havelaar adalah karya terkemuka Multatuli, yang ia tulis berdasarkan salinan surat-surat ketika dia menjabat sebagai asisten residen di Lebak. Pengerjaannya terbilang cepat, hanya satu bulan. Pada 15 Mei 1860, novel tersebut diluncurkan oleh penerbit De Ruyter, Amsterdam.

Buku Max Havelaar terbitan pertama 1860 (kiri) dan cetakan kelima 1881 (kanan)

Buku ini merupakan rangkaian beberapa cerita (bundel) yang diantaranya berisi kisah tentang Batavus Droogstoppel, seorang pedagang kopi dan contoh yang tepat tentang seorang borjuis kecil yang membosankan dan kikir, yang menjadi simbol bagaimana Belanda mengeruk keuntungan dari koloninya di Hindia-Belanda. Cerita yang lain diceritakan oleh Stern, Sjaalman dan Max Havelaar.

Secara garis besar, buku ini menceritakan tentang kisah perjalanan Multatuli ketika menjabat sebagai asisten residen di Lebak, Rangkasbitung, karesidenan Banten yang digambarkan sebagai tokoh bernama Max Havelaar yang membela rakyat pribumi dari ketertindasan oleh kaum penjajah. Sejumlah kisah tentang rakyat pribumi juga dirangkaikan dalam buku ini, misalnya, kisah tentang Saidjah dan Adinda.

Di antara kalimat-kalimat tentang kisah cinta yang mengharukan, tersirat tuduhan tentang eksploitasi dan kekejaman yang menjadikan orang-orang Jawa sebagai korbannya. Pada bagian akhir buku ini, Multatuli menyampaikan permintaan secara sungguh-sungguh langsung kepada Raja William III, yang dalam posisinya sebagai kepala negara, adalah yang paling bertanggung jawab untuk kesewenang-wenangan dan korupsi pemerintahan di Hindia Belanda.

Dengan gaya tulisan yang satiris, Multatuli menceritakan budaya berdagang Belanda yang hanya mengeruk keuntungan. Multatuli menggugat pejabat kolonial yang korup dan memuji mereka yang berusaha mendobrak ketimpangan tersebut.

Sejumlah kisah tentang masyarakat lokal dirangkaikan dalam buku ini, misalnya, kisah tentang Saidjah dan Adinda. Di antara kalimat-kalimat tentang kisah cinta yang mengharukan, tersirat tuduhan tentang eksploitasi dan kekejaman yang menjadikan orang-orang Jawa sebagai korbannya.

Di Indonesia, Max Havelaar dihargai karena inilah untuk kali pertama ada sebuah karya yang dengan lantang membeberkan nasib buruk rakyat yang dijajah. Max Havelaar bercerita tentang sistem tanam paksa yang menindas kaum bumiputra di Lebak, Banten. Di salah satu bagiannya memuat drama tentang Saijah dan Adinda yang sangat menyentuh hati pembaca, sehingga sering kali dikutip dan menjadi topik untuk dipentaskan di panggung.

Kemunculan Max Havelaar menimbulkan kegemparan besar yang belum terjadi sebelumnya di negeri kincir angin tersebut. Kendati sebagian pihak menyebut buku itu sebatas karya fiksi yang ciamik, namun penulisnya menegaskan bahwa isinya adalah fakta. Alih-alih mengakui buku tersebut sebagai karya fiksi semata, Eduard malah meminta pemerintah Belanda membuktikan kekeliruan isi bukunya tersebut.

Di Belanda, novel ini menggoncangkan pandangan umum mengenai tindakan-tindakan pemerintah mereka yang menyengsarakan negeri jajahannya. Max Havelaar dianggap karya penting dalam sejarah sastra Belanda dan selalu menjadi bacaan wajib di sekolah-sekolah, hingga kini. Ia juga diakui sebagai karya sastra dunia. Hermann Hesse, penyair, novelis, dan pelukis Jerman-Swiss yang juga peraih Nobel Sastra, dalam buku Die Welt Bibliothek (Perpustakaan Dunia) memasukkan Max Havelaar dalam deret buku bacaan yang sangat dikaguminya.

Di parlemen Belanda sendiri, nyaris tidak ada yang berusaha membantah isi novel tersebut. Memang pernah Mr. Van Twist berucap bahwa ia mungkin bisa membuktikan kesalahan Max Havelaar. Namun, dengan alasan “tidak tertarik untuk melakukannya” bantahan itu tak pernah sekata pun dikeluarkan oleh mantan Gubernur Jenderal Hindia Belanda tersebut.

Berbeda dengan kalangan politisi dan pemerintahan Belanda yang memilih diam menanggapi Max Havelaar, kritik justru berhamburan dari para akademisi negeri tersebut. Beberapa bahkan dengan berani menyebutnya sebagai mitologi.

Dalam sebuah artikel yang pernah dimuat oleh surat kabar Suara Pembaharuan pada Senin, 14 Desember 1987, berjudul: Max Havelaar, Mitos Belanda yang Membuat Kita Terkecoh, D.A. Peransi mengutip kata-kata Prof. Veth (Guru Besar di Leiden) yang mengatakan bahwa buku itu bukan roman karena nilai sastranya hanya embel-embel, bukan pula biografi karena tidak memaparkan fakta-fakta sejarah (De Nederlandsche Spectator 1860, hal.182). Kata Veth, Multatuli dalam sosok Max Havelaar, ibarat “orang Jawa yang mengamuk” (de amok makende Javaan).

Kolega Veth, Prof. Buys malah menyebut karya tersebut tidak memiliki disiplin penulisan, (J.T. Buys, Wetenschappelijke Bladen, 1860, III 24,32).Buys menandaskan lagi bahwa Multatuli hanya “mengagungkan dirinya” daripada “berkaitan” pada orang Jawa.

Di dalam ” Minnebrieven (1861, hal. 13, 17), Multatuli menulis “ De Javaan wordt mishandeld. Ik zal daaran een eind maken”. Orang Jawa dianiaya, aku akan mengakhirinya. Tekanan terletak pada “aku” dan bukan pada “orang Jawa”. Inilah yang membuat J. Saks dalam tulisannya, Lebak (Groot Nederlan, 1927, I 285/6) menegaskan lagi bahwa “Max Havelaar bukan sejarah akan tetapi suatu pembelaan, bahkan suatu pembelaan untuk diri sendiri”.

Mitos bahwa ia seorang sastrawan besar telah terbentuk. Mitos itu dikembangkan dan dibesarkan, yang tetap langgeng hingga kini melalui pelajaran-pelajaran di sekolah. Generasi masyarakat Indonesia yang mengenyam pendidikan Belanda (HIS, MULO, HBS, AMS, Lyceum dan Gymnasium) cukup mendalam mempelajari Max Havelaar dari Multatuli ini sehingga berkarat dalam mitos kebesarannya.

Bersamaan dengan penerimaan Max Havelaar sebagai karya sastra yang besar, tertelan pula mitos bahwa apa yang tertulis dalam Max Havelaar sungguh-sungguh terjadi. Di dalam buku-buku pelajaran sejarah SMP dan SMA sekarang satu atau sampai dua halaman kita baca bagaimana Multatuli dengan bukunya itu telah memperjuangkan nasib rakyat Indonesia di zaman kolonial Belanda. Ia nyaris disebut pahlawan Indonesia. Lebih celaka lagi tidak sedikit siswa dan mahasiswa, bahkan sarjana Indonesia yang mengidentikkan Eduard Douwes Dekker alias Multatuli pengarang Max Havelaar dengan Douwes Dekker alias Dr. Setiabudi. Kerancuan ini kalau tidak dibenahi segera tentu bisa sangat berbahaya.

Sebenarnya Multatuli sendiri dalam bukunya itu berkata bahwa, “Isapan jempol pada umumnya akan dianggap kenyataan” (Max Havelaar, terbitan tahun 1947, hal.158). Pada Halaman 159 ia berkata lagi, “Apakah salah dia atau salah aku apabila kebenaran kalau mau diakui mesti diselubungi dengan dusta?”

Melalui mulut tokoh Batavus Droogstopel, Multatuli berkata, “Ya, pertunjukan sandiwara merusak banyak orang, lebih merusak daripada roman. Karena begitu nyata dapat dilihat“ (Max Havelaar, hal.4). Seandainya pada zaman Multatuli medium filem sudah populer, pasti pendapatnya mengenai filem akan lebih keras lagi. Karena medium filem menyajikan “gambar hidup” yang bisa lebih meyakinkan orang.

Dalam kenyatannya, Eduard Douwes Dekker (Multatuli) memang bukan seorang pegawai pamongpraja yang sukses. Di Natal, Manado dan Ambon dan di pos nya yang terakhi, Lebak (1856) ia dinyatakan tidak sukses sebagai Asisten-Residen. Mengapa kebenciannya terhadap Raden Adipati Karta Natanegara begitu besar dan mendalam? Swath Abrahamsz kemenakannya sendiri yang seorang dokter, menulis bahwa Douwes Dekker, pamannya itu mengidap “neuruasthenie”, yang pada zaman itu diartikan sebagai gangguan kejiwaan.

Ditandai oleh perasaan keakuan yang kuat dan ketidak mampuan mengendalikan emosi. ” Nah, di suatu daerah di mana seorang seperti Raden Adipati Kartanegara dianggap raja oleh penduduk, keakuan Douwes Dekker (Multatuli) yang begitu besar tidak dapat menerimanya,” tulis Peransi.

Begitu besar egonya sehingga pada waktu Kern, seorang ahli linguistik dan Quack, seorang ekonom menghimbau agar setelah Max Havelaar terbit, orang Belanda mestinya lebih memperhatikan nasib orang Jawa, Multatuli pun naik pitam. Kern dan Quack dianggapnya musuh karena titik berat mereka jatuh pada “nasib orang Jawa” dan bukan pada “pembela orang Jawa”, yaitu Douwes Dekker (Multatuli) sendiri (idee 1034/5).

Pada Kongres Studi Belanda di Indonesia (23-27 November 1987) kontroversi di sekitar Max Havelaar karangan Multatuli, muncul lagi di permukaan. Ditambah lagi dengan pameran Multatuli di Erasmus Huis dan pemutaran filem Max Havelaar yang menghebohkan itu.

Kontroversi yang muncul sejak buku Max Havelaar ini terbit pada 1860 berkisar pada nilai kesusasteraannya dan ini yang lebih penting: Benar atau tidaknya kisah yang kita baca dalam Max Havelaar. Sekarang masyarakat umum telah menerima buku itu sebagai hasil karya sastra Belanda abad XIX, yang struktur maupun bahasanya berbeda dengan karya-karya sezamannya.

Di negeri Belanda, pada 2 Februari 2010 lalu, Universitas Amsterdam dan Multatuli Genootschap menggelar pameran “150 tahun Max Havelaar.” Walikota Amsterdam Job Cohen dalam sambutannya mengatakan, “Dan kepada tuan saya mempersembahkan buku ini, Willem III, raja, adipati besar, pangeran dan kaisar dari Insulinde yang cantik dan kaya, Jamrud Khatulistiwa, karena di tempat itu lebih dari 30 juta rakyatmu dianiaya dan diperas atas nama tuan,” ujarnya sebagaimana dikutip Fediya Andina dari Radio Nederland Wereldom roep.

Demikianlah Job Cohen membaca halaman terakhir buku Max Havelaar, sewaktu pembukaan pameran 150 tahun Max Havelaar dengan tajuk “Ini Bukan Roman, Ini Sebuah Gugatan.” Gugatan atas tindak korupsi dan ketidakadilan yang dilakukan para pejabat Indonesia dan Belanda di Lebak, Banten.

Dalam pameran itu juga dipresentasikan penulisan baru buku Max Havelaar dalam bahasa Belanda sehari-hari. Menurut Asosiasi Multatuli, yang memberi proyek penulisan buku itu, hampir 40% isi buku yang lama ditiadakan, karena bahasanya dianggap terlalu sulit dan bertele-tele.

Gijsbert van Es, anggota redaksi harian NRC Handelsblad yang menggubah Max Havelaar menerangkan, tujuan menulisan kembali Max Havelaar terbitan terbaru ini ditujukan untuk generasi muda Belanda sekarang. Menurutnya, ini sebuah buku yang menentang pemerasan, penindasan, dan sebuah buku yang membela pemerintahan yang baik. Karena itu, Max Havelaar masih tetap hidup dan aktual hingga sekarang.

Universitas Amsterdam dan Multatuli Genootschap juga berencana mengajukan permohonan resmi kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) agar buku Max Havellar masuk dalam daftar warisan dunia UNESCO, lembaga PBB yang menangani pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan.

Namun terlepas dari pendapat-pendapat miring tersebut, saya pikir apreasiasi tetap harus dipersembahkan kepada karya Eduard Douwes Dekker yang menurut Pramoedya Ananta Toer berhasil “membunuh kolonialisme”. Sebagai manusia, ia bisa saja memang pernah mengalami gangguan kejiwaan atau apapun, namun bisa saja kita juga menilai bahwa pernyataan-pernyataan para akademisi Belanda itu sebagai bentuk bias kolonialisme yang menjadi keniscayaan untuk orang-orang Belanda saat itu. Tentunya kita tak akan lupa kisah Snouck Hurgronje.

Pada 1972, HB Jassin menerjemahkan Max Havelaar dari bahasa aslinya Belanda ke dalam bahasa Indonesia. Setahun kemudian, Jassin mendapat penghargaan dari Yayasan Prins Bernhard atas karya terjemahannya. Dia diundang untuk tinggal di Belanda selama satu tahun.

Karya Multatuli lainnya yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia adalah Buah Renungan pada 1974. Penerjemahnya Asrul Sani, dengan memilih sebagian dari isi buku Volledige Werken, 7 jilid, karya Multatuli.

Novel Max Havelaar telah diterjemahkan ke dalam 40 bahasa dan difilmkan baik dalam bahasa Belanda maupun Indonesia. Di Indonesia, film Saijah dan Adinda merupakan produksi patungan Indonesia-Belanda, PT Mondial Film dan Fons Rademakers Produktive B.V. Biayanya 3 juta dolar, dengan masa pembuatan dua tahun (1974-1976).

Tapi film ini tak lolos sensor. Badan Sensor Film (BSF) beralasan film ini terlalu meremehkan rakyat Banten, yang digambarkan sama sekali tak berkutik terhadap penjajah. BSF menghendaki revisi dengan menambahkan adegan yang menunjukkan semangat perjuangan. Hiswara Darmaputra, produser dan pemilik PT Mondial Film, tak mau kompromi. Saidjah dan Adinda pun tersimpan di gudang BSF.

Saidjah-dan-Adinda

Salah satu cuplikan adegan film Max Havelaar

Uniknya, kopi yang dibawa Fons Rademakers, sutradara dan pemilik perusahaan film Fons Rademakers Produktive B.V., dibicarakan di mana-mana. Di lima kota besar (Los Angeles, San Francisco, Hong Kong, Johannesburg, dan Teheran) mendapatkan penghargaan. Bahkan pada 1978 film ini dipuji PBB sebagai “film terbaik yang dibuat negara ketiga”. Akhirnya, pada 1987, setelah sebelas tahun, BSF meloloskan film itu, dengan mengganti judul Max Havelaar.

Motif pembuatan filem ini, sebagaimana sudah dikemukakan tadi adalah menekankan aktualitas Max Havelaar. Maksudnya, apa yang digambarkan dalam buku dan filem Max Havelaar sekarangpun masih terjadi. Penguasa di pusat maupun di daerah masih juga memeras rakyat, kata Fons Rademakers dahulu dan masih juga terjadi kolaborasi antara orang Indonesia dan kekuasaan asing, kata Hiswara Darmaputra di media massa.

Isma Sawitri (Tempo, 5 Desember 1987) menulis bahwa, “Massa yang diam bisa ditemukan kapan saja, dalam masyarakat terjajah ataupun tidak terjajah. Nah, inilah yang ingin disampaikan oleh “saudara tua” kita Belanda dengan sikap paternalismenya. Dan kita menerimanya. Untung bahwa di media massa masih terdengar suara-suara kritis (Bintang Indonesia, 1 Oktober 1987 dan Editor, 5 Desember 1987).

Badan Sensor Film Indonesia kebobolan gawangnya, tulis Bintang Indonesia. Ternyata diplomasi kebudayaan Belanda berhasil seratus persen. Pasti memuji Max Havelaar, baik orang Belanda maupun orang Indonesia berseru: “Leve de Koningin! (Hidup Ratu!)”. Dan Saidjah serta Adinda tahun 1987 mati konyol di ujung bayonet (kebudayaan) Belanda.

Sejak buku  Max Havelaar terbit, pertanyaan ini menggelitik baik orang Belanda maupun orang Indonesia. Apakah benar Max Havelaar merupakan riwayat hidup Eduard Douwes Dekker? Apakah benar bahwa Raden Adipati Karta Natanegara, tokoh sejarah kita betul-betul buruk sebagaimana digambarkan Multatuli dalam Max Havelaar? Apakah benar bahwa rakyat Banten pada waktu itu mudah diperas dan ditindas. Apakah benar bahwa Douwes Dekker betul membela rakyat Banten? Apakah benar ia dalam sosok Max Havelaar mengucapkan pidato di hadapan Bupati? Kepala-kepala Desa dan rakyat sepanjang yang kita lihat dalam filemnya, dengan retorik yang brilian, yang kemudian dikagumi orang (termasuk banyak orang Indonesia)? Serentetan pertanyaan dapat kita susun dan harus kita susun kalau kita tidak mau menjadi Saidjah yang dengan konyol mati di ujung bayonet Belanda.

Kritik atas Max Havelaar-nya Multatuli sudah sangat keras semenjak tahun 1860. Prof. Veth, guru besar di Leiden mengatakan bahwa buku itu bukan roman karena nilai sastranya hanya embel-embel, bukan pula biografi karena tidak memaparkan fakta-fakta sejarah (De Nederlandsche Spectator 1860, hal.182). Multatuli dalam sosok Max Havelaar, ibarat “orang Jawa yang mengamuk” (de amok makende Javaan) berkata Veth lagi. Karya itu tidak memiliki disiplin penulisan, berkata Prof. Buys (J.T. Buys, Wetenschappelijke Bladen, 1860, III 24,32). Buys menandaskan lagi bahwa Multatuli hanya “mengagungkan dirinya” daripada “berkaitan” pada orang Jawa. Memang itu yang kita lihat dalam filem yang kini beredar.

Di dalam “Minnebrieven (1861, hal. 13, 17), Multatuli menulis “De Javaan wordt mishandeld. Ik zal daaran een eind maken”. Orang Jawa dianiaya, aku akan mengakhirinya. Tekanan terletak pada “aku” dan bukan pada “orang Jawa”. J. Saks dalam karangannya, Lebak (Groot Nederlan, 1927, I 285/6) menekankan lagi bahwa “Havelaar bukan sejarah akan tetapi suatu pembelaan, bahkan suatu pembelaan untuk diri sendiri”.

R.A. Van Sandick dalam bukunya Leed en liefuit Bantam (1893, hal 218) meniliti, “Apakah betul-betul Bupati Lebak yang digambarkan Multatuli begitu bengis?”. Di sekitar Lebak, katanya Bupati yang telah meninggal itu oleh penduduk dianggap orang saleh dan suci. Gambaran yang sama kita peroleh dari korespondensi para istri bupati pada zaman itu yang dikumpulkan oleh H. Mohamad Musa (1880).

Pidato yang termasyhur dan panjang, yang diucapkan di hadapan Bupati dan penguasa lain di daerah itu, dalam kenyataannya hanya berlangsung beberapa menit saja (G.Jockbloet: Multatuli, 1894, hal ii/2.57/8). Apalagi Eduard Douwes Dekker tidak menguasai bahasa Melayu atau bahasa Sunda dan tidak pernah mengadakan inspeksi ke pelosok-pelosok Banten Kidul (G.J.P. de la Valette, De Gids, 1910, II 383/4).

Di dalam buku maupun filem Max Havelaar, daerah Banten digambarkan sangat miskin dan rakyatnya lesu darah. Apakah benar gambaran Multatuli itu? Apakah karena egonya yang besar itu ia tidak sanggup lagi melihat bahwa rakyat Banten sejak 1830 tidak henti-hentinya mengangkat senjata terhadap ekspansi kolonialisme Belanda? Ia juga tidak mau melihat bahwa Kesultanan Banten mempunyai sejarah yang gemilang dan tidak pernah mau tunduk terhadap Belanda.

Dari catatan-catatan sejarah kita bisa mengetahui bahwa walaupun perang, baik antar daerah maupun dengan Belanda senantiasa berkecamuk, Kesultanan Banten tetap berdiri bahkan memperluas daerahnya. Beberapa daerah di Sumatera dan Kalimantan mengakui kekuasaan kesultanan ini dan setiap tahunnya menyerahkan upeti (Hussein Djajadiningrat; Critische beschouwingen van de sejarah Banten, Proefschrift Leiden 1913).

Hubungan diplomatik dengan Inggris telah ada di abad ke-17. Pada 1682, Sultan Banten mengirim suatu delegasi yang terdiri dari 33 orang ke London. Ketika kapal mereka memasuki Sungai Thames, dentuman meriam menyambut kedatangan mereka. Kapal itu penuh dengan muatan lada, rempah-rempah lain, permata dan burung merak emas yang dihiasi berlian. Ini semua sebagai hadiah kepada Raja Inggris. Pada salah satu hari selama kunjungan mereka di Inggris, mereka menyaksikan pertunjukan Macbeth dari Shakespeare (Daghregisters, gehouden int Casteel Batavia, Arsip Negara, Jakarta). Perhubungan dagang sangat intensif dan berlangsung lama setelah Jan Pieterszoon Coen datang. Dengan didirikannya Batavia perdagangan pindah ke tempat ini dan lambat laun Banten mengalami kemunduran.

Kesadaran berabad-abad yang berpangkal pada ide “Banten untuk orang Banten” dihadapkan dengan kenyataan pahit bahwa kolonialisme Belanda melakukan ekspansinya pula ke daerah ini. Ini menyebabkan orang Banten dari generasi ke generasi mengangkat senjatanya (yang oleh Belanda dianggap pemberontakan). Bahkan, tangan besi Daendels yang berusaha dengan kekerasan menguasai Kesultanan Banten tidak berhasil (1808). Keraton kesultanan menjadi pusat dari perlawanan dan perang gerilya. Baru pada 1832 Sultan Banten dikucilkan Belanda, daerah ini setapak demi setapak masuk dalam kekuasaan Belanda tetapi tidak tanpa perlawanan.

Pemerintah Kolonial Belanda membagi Banten dalam daerah kabupaten dan distrik. Penduduk yang tadinya tersebar, dipaksa untuk berkumpul dalam bentuk desa untuk memudahkan pengawasan. Setiap Desa dikepalai oleh seorang Jaro. Rumah-rumah penjagaan dan bivak didirikan sepanjang jalan dengan jarak tertentu, “Heeren diensten” mulai berlaku, Onderneming Belanda yang mengusahakan indigo, gula dan tembakau serta kopi telah membebani rakyat secara luar biasa (W.A. van Rees: Wachia, Taykong en Amir, Rotterdam 1859).

Pemerintah Kolonial Belanda menempatkan bupati-bupati yang dipilihnya dan memberi mereka gelar, seperti gelar Adipati (Staatsblad 1820, no 22). Di dalam Staatblad itu tertulis: “De Regenten zijn, onder de Indlandsche bevolking, de eerste personen in hunne regentschappen; zij staan onder onmiddelijke bevelen van de Resident”. Para bupati adalah orang-orang yang utama di antara orang pribumi di Kabupaten masing-masing dan berada dibawah perintah langsung dari Residen (Lihat juga; A.D.A. de Kat Angelino: Staatkundig beleid en bestuurszorg in Nederlandsch-Indie, den Haag 1930, hal 38-39). Membaca ini dapat kita mengerti bagaimana Douwes Dekker dengan egonya yang begitu kuat tidak bisa melihat seorang pribumi (Bupati) langsung berada di bawah Residen.

Raden Adipati Karta Natanegara yang tadinya menjadi demang di Jasinga diangkat oleh Belanda menjadi Bupati Lebak, menggantikan Pangeran Adipati Senajaya yang dicopot Belanda dengan sedikit paksaan. Sebagai Demang di Jasinga, Karta Natanegara memang telah berhasil menangkap seorang wanita Banten yang benama Nyi Gamparan, yang menjadi pemimpin perlawanan terhadap Belanda (1835). Sejak 1832, Nyi Gamparan memimpin perlawanannya yang gigih di daerah pegunungan Balagadang. Sebagai hadiah penangkapan Nyi Gamparan, Demang Jasinga itu menjadi Bupati Lebak (W.A. van Ress, op. cit).

Bukan saja Nyi Gamparan menggemparkan daerah Banten, tetapi juga Raden Bagus Jayakarta putra Bupati Serang yang sangat berpengaruh pada para kyai dan ulama. Raden Bagus Jayakarta telah menjadi otak perlawanan terhadap Belanda pada 24 Februari 1850 (jadi pada tahun Douwes Dekker diangkat menjadi Asisten-Residen di Lebak).

Bermula di Desa Kakal penduduk mengangkat kelewang dan tombaknya melawan Belanda. Perlawanan yang dilakukan oleh lebih kurang 200 orang, kemudian dihadapi oleh Letnan Dua Krieger de Back dengan pasukan Jayang Sekar dan 25 anggota kavaleri. Daerah Gudang Batu yang ganas alamnya menjadi pusat perlawanan, karena di situ pula tempat bermukim Haji Wachia yang oleh penduduk dianggap orang suci. Letkol. de Brauw datang dari Batavia dengan dua kapal, tetapi para pejuang makin hari makin bertambah. Penduduk telah membantu para pejuang secara moral dan material. Nama-nama seperti Haji Wachia, Mas Derik, Tubagus Ishak, Penghulu Dempol adalah nama-nama yang sangat ditakuti Belanda.

Anyer, Tegal Papak bahkan Serang akan diserbu para pejuang. Bala bantuan datang lagi dari Batavia untuk menghindari kekalahan makin besar yang diderita Belanda. Patroli yang terdiri dari orang Afrika, Jerman, Belanda dan Prusia pada tempat dan waktu yang tidak diduga diserang dan dikalahkan para pejuang. Di dalam filem Max Havelaar pada adegan-adegan permulaan kita melihat juga patroli itu (di filem yang beredar di Indonesia adegan itu diperpendek, sehingga ekspansi Belanda tidak muncul. Ini tentu merugikan kita). Puluhan desa dibakar oleh 130 infanteri yang datang dari Batavia untuk mematahkan sumber logistik para pejuang. (di dalam filem Max Havelaar kenyataan ini diputarbalikkan, yang membakar desa-desa adalah anak buah Bupati). M

ultatuli sendiri mesti tahu tentang ini karena mengenai Saidjah ia menulis, “Hij dool.derond in een dorp dat pas veroverd was door hed nederlandsche leger en dus in brand stond” (Ia berjalan di desa yang baru saja dikuasai Belanda dan tentunya sedang dibakar). Pertempuran yang menentukan terjadi di Tegal Papak. 500 pejuang di bawah pimpinan Mas Diah, berpakaian putih terpaksa kalah melawan Belanda yang memiliki bedil. Pertempuran itu berlangsung empat bulan, dan dilanjutkan di Lampung di bawah pimpinan Pangeran Singa Brantas dan Raden Intan.

Petikan singkat dari peristiwa-peristiwa ini dapat kita baca dalam buku R.A. van Ress tersebut dengan sangat mendetil, karena van Ress adalah kapten dari Nederlansch Indisch Leger (Tentara Hindia Belanda) yang juga ditugaskan menumpas para pejuang Banten.

Catatan-catatan sejarah ini sudah jelas menjawab pertanyaan: Mana yang benar di buku dan filem Max Havelaar?. Orang Banten bukan pelengkap penderita saja. Mereka juga mempunyai harga diri dan tidak akan muncul di jurang untuk mengadukan nasibnya kepada Max Havelaar. “Itu hanya fantasi belaka”, berkata Wertheim (Genei en Wereld: Multatuli, Hasselt 1970, hal 67).

Memahami sejarah dalam beberapa hal memang rumit, serumit seluk-beluk lakon manusia dalam kisah sejarah itu sendiri. Dan Eduard Douwes Dekker melalui Max Havelaar telah membuat sebuah karya yang melampaui zamannya. Karakter tokoh-tokohnya menakjubkan, dengan cerita yang akan terus menuai kontroversi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s