Ketika Belanda Percaya kepada Kekuatan Gaib

Buku The Hidden Force yang kumiliki merupakan edisi terbitan Oxford University Press – New York, tahun 1992. Diterjemahkan dari buku aslinya “De Stille Kracht” yang diterbitkan pertama kali oleh L.J. Veen Amsterdam tahun 1900. Penerjemahnya, Alexander Teixeira de Mattos berhasil membawakan buku tersebut dalam bahasa Inggris sangat indah, dengan tidak menghilangkan idiom-idiom bahasa Melayu yang khas. Untuk itu sebuah Glossary ditempatkan di bagian akhir buku. De Mattos adalah orang di balik kepopuleran karya-karya Louis Couperus  di negara-negara berbahasa Inggris.

Image

Ia secara tidak langsung menjadikan Louis Couperus sebagai penulis Belanda yang karya-karyanya paling banyak beredar dan dibaca oleh masyarakat berbahasa Inggris. Sebenarnya versi bahasa Indonesia atas buku ini pernah terbit dengan judul “Kekuatan Diam”, diterbitkan oleh Kanisius tahun 2011. Aku belum memilikinya saat ini, tapi menurut beberapa review, penerjemahanannya ke dalam Bahasa Indonesia kurang sempurna sehingga mengurangi keindahan buku. Terbukti lewat penggunaan judul “Kekuatan Diam” yang menurutku kurang menggambarkan isi buku. Aku lebih suka istilah “Kekuatan Tersembunyi” atau “Hidden Force” dalam bahasa Inggris sebagai terjemahan yang paling tepat untuk “De Stille Kracht“.

Kekuatan tersembunyi apa yang dimaksud  Louis Couperus dalam buku ini ? Tadinya aku berpikir ia hanya merujuk kepada kekuatan gaib yang menjadi atmosfir kehidupan masyarakat Indonesia saat itu, tapi ternyata lebih dari itu. Kekuatan tersembunyi tidak hanya membicarakan hal-hal mistis, melainkan intrik-intrik yang terjadi seputar kehidupan orang Belanda di tanah jajahannya : skandal cinta, intrik kekuasaan, konflik dengan pribumi dan lainnya lagi. Hampir seluruh tokoh dalam novel ini memiliki “Kekuatan Tersembunyi”-nya sendiri-sendiri. Lebih dari itu, novel ini menunjukan “Kekuatan Tersembunyi” sang penulis sendiri. Kemampuan Louis Couperus untuk melihat dualisme yang ada di dalam dirinya, di Hindia Belanda, di diri semua orang. Garmt Stuivelling, bekas guru besar sastra Belanda di Universitas Amsterdam menilai karya Couperus sebagai berikut :

Panorama-panorama luas dan aneka warna menggambarkan jaman klasik yang sudah bejat ahklaknya. Ini antara lain disebabkan karena pemilihan kara-kata yang lembek dan meriah sekaligus, sehingga alam kebudayaan silam ditampilkan kembali dengan suasana yang tepat dan jitu, ketika kemegahan dan kejahatan, kebijaksanaan dan kegilaan, saling bertalian, menjadikan suatu ikatan yang tak teruraikan. Dan dengan demikian Couperus menjadikan gaya yang intuitif-jitu itu sebagai ekspresi dari kepribadiannya sendiri yang teramat halus dan perasa : kebutuhannya akan keindahan yang mahal, pemujaanya terhadap udara yang hangat dan sinar matahari, rasa hidupnya yang dramatis, diterimanya segala kemungkinan dalam hidup manusia sebagai suatu dogma, kesadarannya akan nasib yang tak terelakkan serta tradisinya yang aristokratis…” (Dikutip Dick Hartono dalam Bianglala Sastra, hlm. 177)

Novel ini berpusat pada tokoh Van Oudijck, residen distrik Labuwangi, yang tinggal bersama istri keduanya, Leonie van Oudijck dan kedua anak hasil pernikahan pertamanya : yang perempuan bernama Doddy (17 tahun) dan yang laki-laki bernama Theo (23 tahun). Istri pertama sang Residen adalah seorang wanita indo yang setelah bercerai kemudian pindah ke Batavia. Nantinya akan terungkap bahwa selain dua anak yang diasuh oleh Van Oudijck, terdapat seorang anak lagi hasil hubungannya dengan seorang babu yang ditelantarkannya di kampung. Si anak yang disebut sebagai “Si Oudijck” oleh masyarakat setempat ini gemar berbuat kekacauan. Ia kerap mengirimi surat kaleng kepada ayahnya tersebut, mengabarkan selentingan-selentingan yang beredar di masyarakat, tapi Van Oudick tidak pernah menggubrisnya. Hubungan antara orang tua dan anak-anaknya  yang rumit itu, ditambah masuknya seorang tokoh bernama Addy de Luce, seorang pemuda rupawan anggota dinasti pengusaha gula ternama di Patjaram menjadi konflik utama yang mewarnai novel ini.

Residen Van Oudijck digambarkan sebagai tipikal orang Belanda di Indonesia.  Bangsa asing yang awalnya datang sebagai pedagang dan lambat laun menguasai tanah air dengan profesi barunya : Binnenlands Bestuur (Pegawai Pemerintahan). Seperti diketahui, para pejabat pemerintah merupakan pengisi kasta pertama negeri ini di masa kolonial. Selama ratusan tahun pendudukan Belanda di Indonesia itu pula, sejak jaman pedagang hingga jaman pegawai, mereka tetap berada di daerah yang asing, yang tak pernah dapat tersentuh oleh nalar orang barat sepenuhnya. Van Oudijck, seorang pejabat tulen, berusaha mewujudkan Hindia Belanda sebagai “tanah jajahan dengan pengelolaan terbaik se-dunia”, mendedikasikan diri sepenuhnya untuk masyarakat Labuwangi tanpa mampu menyadari “kekuatan tersembunyi” yang bersemayam dalam tanah kekuasaanya. Sebaliknya, orang-orang Pribumi merasa aneh dengan ketidakpahaman orang-orang Eropa  atas “kekuatan tersembunyi” yang menjadi keseharian mereka.

Si Kepala Opas, sambil berjongkok dengan obor di tangannya, mengintip tuannya dengan serius, sambil berpikir : “Dasar aneh, orang-orang Belanda ini!  …apa yang lagi dia pikirkan sekarang ? … Kenapa dia berperilaku seperti itu ?  … Di waktu dan tempat semacam ini … Ketika roh-roh lautan bermunculan … Ada buaya-buaya di bawah sana, dan setiap buaya adalah roh…. Lihat, orang lain lagi memberikan sesajen kepada buaya-buaya itu : pisang, nasi dan dendeng, serta telur rebus yang diapungkan di atas rakit bambu di bawah kaki mercusuar itu …  Apa yang kanjeng tuan lakukan di sini ? … nggak baik diam di sini, nggak baik diam di sini, celaka, celaka !

Van Oudicjk digambarkan sebagai seorang administratur idealis yang tidak terlalu memperdulikan hal lain kecuali karirnya. Ia bermimpi menjadi Gubernur Jenderal. Oleh karena itu ia tidak bisa mentorelir perilaku bawahannya, para bupati, yang dianggap kelewatan batas. Hal ini bisa merusak nama baiknya sebagai residen. Ketika Bupati Ngajiwa, adik dari Bupati Labuwangi didapatinya mabuk-mabukan dan gemar bermain judi. Ia pun langsung memberhentikannya, tak peduli kalau sang Bupati merupakan keturunan bangsawan Jawa yang menganggap posisi bupati sebagai anugerah yang tak bisa dilepaskan darinya. Ibu sang bupati, Raden Ayu berupaya mempengaruhi Van Oudijck agar mengubah keputusannya. Sang Ibu bahkan hingga merendahkan dirinya sedemikian rupa menurut tradisi Jawa (ia menyembah-nyembah kepada Residen Van Oudijck), tapi sang Residen tak bergeming. Baginya nasib rakyat lebih penting, ia tidak bisa membayangkan rakyatnya dipimpin oleh bupati yang gemar berjudi dan mabuk-mabukan. Di sinilah letak ketidakpahaman van Oudicjk terhadap masyarakat Jawa. Masyarakat yang bahkan tetap mengkramatkan pemimpin-pemimpin terkejam mereka sekalipun.

Kekecewaan keluarga Bupati atas keputusan Residen membangkitkan “kekuatan tersembunyi” yang mereka miliki sebagai orang Jawa dan tidak pernah dimiliki orang Eropa. Sejak itu mulailah muncul desas-desus perlawanan penduduk dan kejadian-kejadian mistik yang menimpa kediaman sang Residen. Dari batu-batu yang berterbangan, semilir suara kuntilanak (buku ini menyebutnya sebagai pontianak) dari pepohonan, penampakan-penampakan Haji berbaju putih, hingga puncaknya ketika tubuh sang Istri Residen diciprati sirih oleh makhluk halus di kamar mandi. Van Oudijck yang penasaran kemudian mengunci dirinya bersama beberapa anak buahnya di dalam kamar mandi tersebut semalam suntuk. Paginya mereka keluar dengan wajah pucat, tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Kejadian demi kejadian yang membuat tak seorang pun betah tinggal di kediaman sang Residen kecuali sang Residen sendiri. Bahkan dalam kondisi demikian, sang residen berusaha keras mempertahankan logikanya. Toh akhirnya semua kejadian tersebut berhenti setelah sang Residen  mengancam Raden Ayu apabila ia masih mendapati kejadian aneh di kediamannya. Ternyata di luar keengganan Van Oudijck untuk memahami fenomena mistik yang terjadi, ia tetap menyadari adanya “kekuatan tersembunyi” Raden Ayu untuk menyebabkan hal-hal demikian.

Jauh di dalam jiwa orang-orang Jawa ini, mereka tidak pernah dikuasai (oleh siapapun), walaupun mereka menunjukan senyuman dan sujud sembah sekalipun. Jauh di dalam diri mereka, di luar rasa hormat yang mereka tunjukkan, mereka merdeka dengan kehidupan misteriusnya, tersembunyi dari mata orang-orang barat

Adalah kenyataan bahwa walaupun orang-orang Belanda terbiasa dengan keberadaan hal gaib yang menyelimutinya di pulau Jawa, mereka tidak terlalu mengambil pusing untuk terlalu mengurusinya. Mereka punya kesibukan sendiri-sendiri, mengurusi administrasi, perkebunan atau perusahaannya masing-masing. Kegaiban seringkali dianggap hiburan saja. Dalam buku ini disebutkan adanya permainan “meja goyang” di kalangan orang Belanda dahulu, ketika beberapa orang dengan mengelilingi sebuah meja berkaki tiga, menaruh tangannya di atas meja tersebut sambil memanggil-manggil roh. Ketika roh telah hadir, ia akan berkomunikasi dengan cara mengangkat salah satu kaki meja dan mengetuk-ketukannya ke lantai.

Ketukan yang dihasilkannya lantas dihitung untuk dikonversi ke dalam abjad lalu menjadi kata-kata. Dalam buku ini, Adalah roh tersebut yang meramalkan terjadinya serangkaian konflik  di Labuwangi, Kebangkitan amarah rakyat, hingga skandal yang terjadi antara Leonie, istri residen dengan Theo, anak tirinya.

Hubungan antara ibu dan anak tiri adalah suatu aib yang menjijikan di kalangan masyarakat Eropa Hindia Belanda seabad yang lalu. Dengan mengangkat kasus kontroversial ini Couperus berusaha mengungkap kebejatan kehidupan sosial orang Eropa di Hindia Belanda yang sering ditutup-tutupi. Hubungan antara Leonie dan kedua anak tirinya yang sedemikian kompleks ini bahkan luput dari perhatian Residen Van Oudjick, hingga ketika skandal itu terungkap ia begitu tertekan dibuatnya.

“Sejak itu ia tidak lagi mempercayai apapun dan siapapun, ia tidak mempercayai istrinya dan anaknya serta bawahannya, ia bahkan tidak mempercayai kokinya…”

Van Oudijck akhirnya menceraikan Leonie, berhenti dari pekerjaanya sebagai residen, dan memulai hidup baru di Garut bersama istri barunya. Ia begitu cinta kepada tanah Jawa sehingga tidak sampai hati untuk meninggalkannya. Leonie dan beberapa kerabat Eropanya di Labuwangi memutuskan untuk pulang ke Eropa. Di Garut, van Oudijck menceritakan segala keresahannya kepada Nyonya Van Eldersma, bekas warganya di Labuwangi dulu.

Menurut Van Oudick, selama ini kehidupan keluarganya memang jauh dari bahagia. Ia tidak pernah merasakan kebahagiaan bersama istri dsan anak-anaknya. Ia mencari kebahagiaan dalam pekerjaan dan kesibukannya.

Tetapi itu, nyonya … yang terjadi dan tidak pernah saya mengertilah yang membuat saya kemari… Semua kejadian yang berlawanan dengan praktek hidup saya dan logika saya …  semua takhayul yang terkutuk itu yang bagaimanapun … terjadi juga … itulah yang mematahkan saya. Saya melawannya dengan sekuat tenaga, tetapi tenaga saya tidak memadainya. Yang itu, yang tak dapat dihilangkan … Saya tahu si bupati itulah yang menjadi dalangnya. Ketika saya mengancambya, gejala-gejala tadi lenyap juga. Tetapi, demi Allah, nyonya, katakanlah kepada saya, apakah gerangan itu ??? Nyonya mengetahuinya ? Tidak, bukan, tak seorang pun, tak seorang pun yang mengertinya. Malam-malam yang menggetarkan itu, suara-suara di atas kepala saya dan yang tak dapat diterangkan ; malam itu di kamar mandi bersama sang mayor dan beberapa pwerwira lain … Kami tidak bermimpi; kami melihatnya, kami mendengarnya yang itu jauh di atas kami, meludahi kami : seluruh kamar mandi penuh dengan ludah berdarah itu !! Orang lain yang tak pernah mengalaminya gampang saja menyangkalnya. Tetapi saya, kami semua, kami melihatnya, mendengarnya, merasakannya !!

Itulah yang menyebabkan saya tidak dapat lagi bertahan di sana. Itulah yang menyebabkan saya menjadi bungkam, menjadi seorang tolol… dalam hidup sehari-hari, dalam seluruh praktek dan logika saya, yang kini kelihatan sebagai suatu kehidupan yang salah tersusun, sebagai suatu lamunan yang abstrak belaka – karena sistem itu dilintasi hal-hal dari sebuah dunia lain… Saya bukan saya lagi …. Saya tidak tahu apa lagi yang saya pikirkan, apa yang saya perbuat, apa yang pernah saya jalankan. Dalam diri saya segala-galanya goncang… Demikian saya merosot sebagai seorang pejabat, lalu saya mengerti bahwa karier saya tamat sudah…

Couperus menulis novel ini berdasarkan pengamatannya selama tinggal di Pulau Jawa sekitar tahun 1899-1900. Sebelumnya ia pernah tinggal di Jakarta pada usia 9 – 14 tahun. Selama short visit -nya di Jawa tersebut, Couperus dan istrinya menginap di rumah iparnya, residen De La Valette, mula-mula di Tegal, kemudian di pasuruan. De La Vallete adalah seorang budayawan dan teman multatuli, yang diwujudkan dalam novel sebagai tokoh Van Oudijck. Di kediaman sang Residen di Pasuruan, Couperus menulis draft novel “De Stille Kracht“-nya. Ia banyak memasukan unsur-unsur pengalamannya selama tinggal di sana menjadi bahan-bahan dalam novelnya.

Sebagai contoh, kota Labuwangi, seting kejadian dalam novel tidak lain merupakan Pasuruan. Pabrik gula Patjaram yang dikuasai keluarga Addy de Luce tidak lain merupakan Pabrik Gula yang terdapat di daerah Ampel, milik keluarga Dezentje. Keluarga yang didirikan oleh Augustus Dezentje, mantan tukang masak balatentara Napoleon yang kemudian menikahi Raden Ayu Condrokusumo, putri raja Surakarta. Tunas terakhir keluarga Dezentje adalah seorang pelukis yang karya-karyanya menghiasi Istana Bogor, ia meninggal dalam keadaan teramat miskin karena Soekarno tidak pernah membayar lukisan-lukisan yang menjadi koleksinya.

Keluarga bupati yang bergelar “Adiningrat” dalam novel aslinya merupakan keluarga Cakraningrat yang telah sejak lama menguasai Madura dan sebagian Jawa Timur. Kejadian-kejadian gaib yang disebutkan Couperus pun memang benar adanya, ia mendapatkannya dari arsip rahasia Algemene Secretarie di Bogor. Berdasarkan suatu perkara guna-guna yang telah terjadi di Sumedang Jawa Barat.

Sebagai penutup. Novel ini berhasil menggambarkan potret kehidupan indis di jaman kolonial beserta keterasingan yang dialami orang Eropa di tanah jajahannya, yang walaupun telah dikuasai secara administratif, masih terdapat lapisan tertentu yang tidak dapat dikuasai sepenuhnya. Mereka tidak tinggal di tanah yang hanya diisi manusia, mereka baru menyadarinya setelah bertemu langsung dengan Kuntilanak, Genderuwo, Hantu Haji bersorban putih, Mahkluk yang meludahinya dengan sirih, jin, dan mahkluk gaib lainnya : Kekuatan Tersembunyi yang menyelimuti Pulau Jawa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s