DIPONEGORO DAN RUANG KOSONG STUDI SEJARAH

Peter Carey, sejarawan yang paling ambisius menulis tokoh besar dalam panggung sejarah Jawa Pangeran Diponegoro, akhirnya berhasil menghidangkan biografi utuh sang Ratu Adil itu ke meja pembaca. Dia rela menghabiskan waktu selama kurang lebih 40 tahun demi memenuhi obsesi besarnya dan juga bersedia hidup ”di bawah bayang-bayang Diponegoro”. Jelas saja dalam proses penggarapan buku magnum opus-nya Kuasa Ramalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa, 1785-1855, tidak hanya dibutuhkan keahlian memakai metode sejarah yang canggih dan pembacaan sumber yang ekstra hati-hati, tetapi melawan rasa bosan tentunya bukan pekerjaan yang gampang bagi peneliti. Justru berkat kemantapan dan konsistensi inilah dirinya pantas disejajarkan dalam barisan pendek Indonesianis yang tekun merajut kisah sejarah Jawa, seperti Denys Lombart bersama maha karya Nusa Jawa: Silang Budaya, HJ de Graaf dengan seri monografinya, Merle Ricklefs melahirkan beberapa buku apik, filolog ternama CC. Berg, dan Nancy Florida menulis Menyurat yang Silam Menggurat yang Menjelang yang menjadi klasik.

Penerbitan dan karya tulis mengenai Pangeran Diponegoro bukan hal yang baru. Tetapi, sebagian dari mereka menulis dengan kadar subyektifitas yang tinggi dan memandang sejarah hitam-putih atau baik-buruk. Pilihan bahasa yang berapi-api dan penekanan sosok Diponegoro terlalu berlebihan (kalau tidak bisa disebut mengarah pengkultusan figur), malah mengakibatkan anakronisme sejarah. Hal demikian wajar terjadi jikalau menimbang adagium: “sejarawan menulis untuk kepentingan pada masa dimana ia hidup, bukan untuk kepentingan masa lalu”. Apalagi, merujuk catatan Kuntowijoyo (2003), periode itu tengah bersemi semangat dekolonisasi dan upaya menuju historiografi Indonesia modern yang ditandai dengan digelarnya seminar sejarah nasional Indonesia kali pertama di Yogyakarta 1957.

Kita hanya disuguhi kepingan fakta selektif-terbaik bahwa pangeran bertindak tanduk luhur sesuai pandangan normatif, juga seorang pejuang hebat di medan tempur dan berjiwa ksatria. Aspek lain yang sebenarnya jauh menarik seperti kehidupan sehari-hari Diponegoro, kecintaannya terhadap lingkungan, rasa humor, mudah jatuh hati pada perempuan, dan punya banyak istri, malah tidak diberi ruang analisis yang memadai. Sisi lain Diponegoro yang tidak senafas dengan norma atau nilai kebajikan malah dimaknai sebagai “aib sejarah”, sehingga dianggap tidak layak untuk dikupas tuntas. Hasilnya, riwayat hidup Diponegoro pun dalam keremangan meski sudah tersaji beberapa pustaka karangan anak negeri.

Sosok

Sosok yang dikultuskan sebagai pahlawan bukan berarti tanpa sisi lain. Dia juga manusia biasa seutuhnya yang memiliki pernak-pernik kehidupan. Ketika berumur 7 tahun, Diponegoro diajak nenek buyutnya tinggal di Tegalreja (lahan kemakmuran). Berkat pengaruh sang nenek, pangeran punya minat besar terhadap lingkungan hidup, sepenggal fakta yang tidak tertulis dalam buku Muh Yamin dan Sagimun. Memikirkan susunan letak pepohonan dan tambak, juga membangun panepen di Selorejo dikelilingi selokan berisi ikan beraneka jenis dan ditanami beragam jenis tumbuhan. Menyenangi pohon yang menebarkan “lapisan bunga putih” di kepala pangeran selama duduk bersemadi karena bunga putih itu harum semerbak.

Pria yang lahir pada 11 November 1785 ini menaruh perhatian pada masalah tata letak kebun buah, kebun sayur, dan semak belukar di atas lahannya di Selarong yang dipakai untuk menyepi selama bulan puasa. Beberapa ungkapan indah dalam otobiografinya mengulas panepen yang dibangun di dalam gua, tempat pertahanan di gunung atau di tengah sungai yang mengalir deras, atau pekarangannya di Selarong. Sampai Diponegoro merujuk dengan penuh perasaan pada bermacam jenis hewan yang menemaninya selama menyepi. Antara lain, ikan di Selorejo, penyu, burung perkutut, buaya, dan harimau sewaktu menyepi di hutan kala Perang Jawa, serta burung kakatua kesayangannya selama di tempat pembuangan Manado dan Makasar. Dalam pemahaman Jawa, berkarib dengan alam dan satwa yang demikian ini merupakan pantulan kepekaan dan keutuhan rohani manusia.

Kemudian, siapa duga Pangeran Diponegoro juga gemar berkelana dan berziarah. Lelaku tersebut membentuk mental kerohanian yang kuat serta fisiknya yang bagus. Dengan melakoni perjalanan ziarah sekitar 70 km, membantu Diponegoro kuat memikul beban derita fisik dalam medan Perang Jawa. Mulai mengunjungi pesantren pada usia 25 tahun (April 1805) karena ingin menyempurnakan pendidikan keagamaan dan menemukan guru yang layak membimbing perkembangan rohaninya. Pondok pesantren yang disambangi antara lain, Gading, Grojogan, Sewon, Wonokromo, Jejeran, Turi, dan Pulo.

Meniru leluhurnya, Diponegoro berkelana dan tirakat di tempat yang dianggap keramat oleh wangsa Mataram (Imogiri, Gua Surocolo, Gua Secang, Pamancingan/Mancingan, Parangtritis, dan Parangkusumo). Baginya, tirakat memberikan suatu masa sepi kala orang membersihkan diri dari pamrih sekaligus guna membenarkan gagasannya melalui penampakan dengan roh leluhur Jawa. Sengaja pergi ke Parangtritis hendak menempatkan diri setara dengan Senopati dan Sultan Agung yang menjalin hubungan istimewa dengan Ratu Kidul. Ini hanyalah sarana legitimasi saja, karena pangeran kurang percaya terhadap bantuan dari dunia roh halus yang tak lazim dalam peperangan melawan Belanda.

Selain hobi main catur, Diponegoro suka makan sirih yang menjadi kebiasaan para bangsawan dan raja. Di pengasingan Makasar, dirinya juga minum anggur bersama dengan orang-orang Eropa walau tidak menjadikan hal itu sebagai budaya yang berlebihan seperti para pangeran di keraton Jawa detik itu. Pangeran mempercayai minum anggur putih manis tidak bertentangan dengan Alquran mengingat kenyataan bahwa orang Eropa meminumnya sebagai “obat” penangkal mabuk akibat minum Madeira atau anggur merah, suatu pandangan yang menunjukkan Diponegoro punya penafsiran sendiri atas larangan Nabi (hlm. 144). Sayangnya, soal makanan Diponegoro belum diulas oleh Peter Carey.

Pintu Masuk

Apabila sejarah dipahami sebagai “garis yang tak pernah putus”, maka terhamparlah ruang kosong yang menggelitik untuk dikaji, dan tentu saja masih dalam konteks Diponegoro, dengan periode yang berlainan. Buku Kuasa Ramalan dapat digunakan sebagai pintu masuk.

Pertama, aspek pewarisan spirit perjuangan Diponegoro dalam diri anak turunnya. Di tempat pembuangan hidup bareng keluarga, selain memberi doktrin agama, Diponegoro juga menceritakan pangalaman pahit getir di medan laga. Yang tumbuh bukan hanya rasa bangga atas kegigihan Diponegoro saja, tidak mustahil sentimen terhadap kolonial makin mengakar. Dalam kaitan ini, menantang untuk ditelusuri seberapa jauh spirit Diponegoro terwarisi oleh keturunannya. Sebab ada kasus menarik, Sutartinah (kelak menjadi istri Ki Hajar Dewantara) dalam pohon silsilah adalah canggah Pangeran Diponegoro, masih memendam rasa anti- kolonial dan marah besar ketika diejek oleh sinyo-sinyo Belanda mengenai kisah tragis Diponegoro. Kian diejek dan didera, maka kian keraslah jiwa dan semangat Sutartinah untuk menempatkan dirinya di dalam garis keturunan “brandal Diponegaran” (BS Dewantara,
1984).

Kedua, kontak dua kebudayaan. Pangeran Diponegoro diasingkan di Manado tidak sendirian, tapi bersama puluhan pengikutnya dan sudah barang tentu mereka membawa budaya Jawa yang berbeda dengan budaya setempat. Tidak menutup kemungkinan dari sekian pengikutnya, bahkan keturunannya, tinggal dan berinteraksi sosial dengan penduduk di kawasan pengasingan. Lantas terdapat pengaruh dan perpaduan (akulturasi) budaya Jawa- Manado yang bisa ditinjau dengan mengamati jejak-jejak sejarah dan aktivitas masyarakatnya. Seberapa jauh nilai-nilai Jawa hidup di tempat tersebut.

Ketiga, pembentukan permukiman perdesaan pasca-Perang Jawa. Ditangkapnya Pangeran Diponegoro, berarti mengakhiri Perang Jawa, dan tidak sedikit dari para pendukung menyebar ke berbagai wilayah untuk menyelamatkan diri. Konon, mereka membentuk permukiman baru dan membangun komunitas sendiri. Ada cerita rakyat yang menarik untuk dibuktikan kebenaran historisnya, yaitu di daerah Kasuran (Sleman?) masyarakat lawas melestarikan tradisi tidak tidur beralaskan kasur (di tanah?). Ini dipahami sebagai bagian dari laku leluhur pada era Perang Jawa.

Keempat, memori kolektif masyarakat tentang Pangeran Diponegoro. Kenyataan bahwa sejak kemerdekaan Indonesia pada 1945, Diponegoro resmi menjadi seorang pahlawan nasional. Namanya menghiasi jalan-jalan besar, nama komando daerah militer tentara di Jawa Tengah, dan dijadikan nama universitas (Undip Semarang). Bagaimana sejarah Pangeran Diponegoro ditafsirkan ulang oleh masyarakat Indonesia dewasa ini merupakan tema yang tidak terlalu buruk untuk menjadi bahan riset. Lebih-lebih dengan hasil studi Peter Carey, sisi lain Diponegoro tergambar terang dan kadang tidak senafas dengan misi sejarah nasional Indonesia. Tim dari Jurusan Sejarah UGM kini (2012) tengah menelusuri warisan-warisan dan benda yang berkaitan dengan Pangeran Diponegoro, setidaknya telah menemukan 10 patung lelaki berpakaian jubah dan surban serba putih itu.

Kelima, sosok Pangeran Diponegoro bukan di mata sejarawan. Narasi sejarah Pangeran Diponegoro tidak mutlak milik sejarawan dan anak keturunannya. Semua orang, termasuk seniman, bebas memaknai Diponegoro dan Perang Jawa dengan ragam tindakan. November 2011 datang Sardono W Kusumo menggarap Java War: Opera Diponegoro 1825-1830 di Teater Jakarta. Dalam gelaran itu, seniman asal Solo ini menyuguhkan penari berkoteka dan juga seorang gundul yang tubuhnya penuh tato. Argumentasi Sardono, dalam konteks permasalahan global, mereka bisa saja merupakan representasi masyarakat pribumi yang masih terikat erat dengan ekosistem dan watak tanah, air dan hutan di Indonesia.

Mengenang Diponegoro dalam dunia sastra, tidak lupa menyebut nama penyair Chairil Anwar (1922-1949). Puisi Chairil “Diponegoro” (Februari 1934) yang sohor salah satu baitnya “sekali berarti setelah itu mati” merupakan ekspresi sanjungan semangat sang pangeran di dalam mengobarkan perlawanan terhadap kolonial. Dalam konteks zaman (1934), Chairil Anwar telah mendahului pemikiran dekolonisasi alias menjungkirbalikkan pandangan kolonial yang menempatkan Diponegoro sebagai pemberontak. Puncak kata, meski sosok Pangeran Diponegoro hidup lebih dari satu setengah abad silam, namun spiritnya masih bisa didaur ulang oleh masyarakat dan disalurkan dengan aneka kegiatan. Sejarahnya juga terus diinterpretasikan ulang, berarti bayang-bayang Diponegoro masih hidup dalam memori kolektif masyarakat Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s