Budaya Membaca dan Menulis Sebagai Kebutuhan

Kapankah membaca buku dan menulis buku menjadi kiat hidup manusia, sehingga disebut modern? Sejak filosof Yunani Plato (428-347 S.M) mendirikan sekolah filsafat yang dinamai Academus, sesuai dengan pahlawan legendaris Athena.

Karenanya sekolah itu dikenal sebagai Akademi. Dan sejak itu beribu “akademi” didirikan di seluruh dunia. Plato adalah murid Socrates. Socrates (470-399 S.M) adalah tokoh yang paling banyak menyiarkan ilmunya dalam seluruh sejarah filsafat, sehingga dia merupakan salah seorang filosof yang mempunyai pengaruh paling besar terhadap pemikiran Eropa selama hampir 2500 tahun ini.

Socrates banyak menyiarkan pemikiran filsafatnya hanya melalui pidato-pidatonya (bersuara, didengarkan, indrawi). Juga ketika dia mengadakan pembelaan atas hukuman mati minum racun oleh peengadilan, hanya dipidatokan. Baik pemikiran filsafatnya maupun pidato pembelaannya menjadi misi kemanusiaan yang tersebar di seluruh dunia hingga berabad-abad karena ditulis oleh Plato setelah kematian Socrates.

Plato menuliskan pidato pembelaan Socrates pada buku Apologi. Di samping Apologi, Plato juga melestarikan (ditulis jadi buku) seluruh karya utama Socrates (yang dipidatokan, diucapkan secara indrawi) ~ misalnya kumpulan Epistles dan kira-kira 25 Dialog filsafat yang pernah didiskusikan dan dipidatokan Socrates.

Kita bisa mendapatkan karya-karya ini (berupa buku) sekarang berkat tindakan Plato menuliskannya jadi buku yang bisa dibaca dan dipelajari sejak Plato mendirikan akademi. Kalau tidak jadi buku dan dibaca pada buku, apa manfaat filsafat Socrates yang diuraikan secara lisan demi untuk menata kehidupan manusia ~ kebenaran, etika, kebaikan dan kejahatan ~ masa depan yang ideal? Socrates tidak pernah menuliskan apapun, meskipun banyak orang sebelumnya melakukan (menulis).

Socrates adalah conto tokoh yang penuh teka-teki, juga bagi rekan-rekan sezaman mereka. Tak satu pun di antara mereka menuliskan sendiri ajaran-ajarannya, maka terpaksa kita mempercayai gambaran yang kita dapatkan tentang mereka dari murid-murid mereka.

Tapi kita tahu bahwa mereka adalah jagoan dalam seni berdiskusi. Mereka menentang kekuasaan masyarakat dengan mengecam segala bentuk ketidakadilan dan korupsi. Dan akhirnya, aktivitas-aktivitas mereka mengakibatkan mereka kehilangan nyawa.

Satu contoh lagi, bahwa untuk memenuhi kemakmurannya, manusia modern selain kodrat indrawinya serta menggunakan alat, juga harus membaca buku dan menulis buku.

Contoh yang lain yang tulisannya pada buku mempengaruhi dianut dan dipercaya masyarakat luas adalah (sekedar contoh) buku tulisan Karl Marx (1818-1883 Das Capital 1867), Adolf Hitler (Meinkamf), Charles Darwin (1809-1882, The Descent of Man, 1871, The Origin of Species, 1859), Sigmund Freud (1856-1939, Libido Sexualita, apa yang kita kerjakan desakan dari seks), Sir Isaac Newton (1642-1727 teori gravitasi, tentang jatuhnya apel), Dale Cornegie (How to Win Friends and Influence People), Syaikh Muhammad Al-Ghazali, Karen Armstrong ( A History of God), Thomas Stamford Raffles (The History of Java), Ranggawarsita, R.A.Kartini, Tan Malaka, Bung Karno, Sutan Syahrir, Himawan Soetanto (Yogyakarta 19 Desember 1948), Nurcholis Madjid, Mario Teguh, Andrea Hirata.

Siapa pun yang membaca bukunya dengan intensif pasti mendapatkan tambahan ilmu, dan dengan tambahan ilmunya tadi dirinya tentu lebih siap menghadapi zaman karena banyak akal dan daya upaya berprakarsa. Takdirnya berubah daripada sebelum membaca buku-buku tadi. Tetapi kalau sepanjang hidupnya tidak membaca buku sama sekali, orang akan hidup sebagaimana kodrat-fitrah-alamiahnya. Yaitu bodoh. Miskin. Ketinggalan zaman.

Manusia modern (yang punya kiat berbudaya membaca buku dan menulis buku) telah dimulai sejak Pluto (428-347 S.M.) mendirikan sekolah filsafat Academus. Kalau suku bangsa Jawa yang hidup sekarang ini tidak punya budaya membaca buku dan menulis buku, maka manusia tadi adalah orang kuna atau premitif yang hidup di zaman modern. Hidup ketinggalan zaman 25 abad (4 abad S.M + Abad 21 kini).

Berbudaya membaca buku dan menulis buku mutlak menjadi kiat hidup modern. Sebab dengan berbudaya membaca buku dan menulis buku, manusia bisa mengubah takdirnya, yaitu bisa menjalani profesi modern (jadi guru, dokter, insinyir, professor, sastrawan).

Kalau tidak punya budaya membaca buku dan menulis buku mulanya hanya bisa jadi petani dengan cangkulnya (hidup zaman dulu), atau sopir taksi dengan mobilnya (hidup zaman sekarang tetapi pengetahuannya kuna). Rumusnya: (kodrat-indrawi + menggunakan alat). Tidak bisa jadi dokter, hakim, insinyir, sastrawan, karena tidak punya budaya membaca buku dan menulis buku, yang rumusnya (kodrat-indrawi + menggunakan alat + berbudaya membaca buku dan menulis buku).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s