AYAH DAN ANAK: 3 FILM SEMINGGU

buku-klub-film

Segala kenangan tentang film dan masa kecil saya menye­ruak hebat saat saya membaca buku The Film Club karya David Gilmour beberapa waktu lalu. Saking tercenungnya, saya hanya mampu menulis­kan kesan-kesan pendek seusai membacanya, dan baru berniat mengulasnya lebih panjang setelah tahu buku ini telah diindonesiakan menjadi Klub Film (Gramedia Pustaka Utama, Desember 2011, terjemahan P. Herdian Cahya Krisna). Meski demikian, saya belum pernah membaca edisi Indonesianya dan tetap memakai buku aslinya sebagai rujukan, sehingga tidak bisa berkomentar lebih jauh mengenai kualitas terjemahannya.

David Gilmour adalah novelis dan kritikus filem Kanada. Ia juga seorang ayah. Jesse, anak lelakinya, adalah seorang remaja SMU beranjak dewasa, dan karenanya, tengah mengalami fase-fase pembangkangan yang dialami remaja manapun di dunia. Ia ogah sekolah, tak pernah bikin PR, tak punya tujuan jelas dalam hidup.

Singkat kata: Galau. Mungkin rumah tangga Gilmour sendiri berpengaruh terhadap kondisi psikologis Jesse, meski saya tak yakin. Gilmour telah bercerai dari Maggie, ibu Jesse, dan kini tinggal dengan perempuan lain, sementara Jesse tinggal bersama ibunya.

Saat nilai-nilai rapor Jesse terjun bebas dan kemalasannya mencapai taraf yang tak dapat diatur, Maggie angkat tangan dan memasrahkannya ke mantan suaminya. Gilmour pun akhirnya mengajak bicara Jesse dan membuat kesepakatan dengannya: Pertama, Jesse boleh tidak sekolah bila memang tidak menginginkan. Pikirkan hal ini barang beberapa hari (“Aku tak perlu beberapa hari”). Kedua, ia boleh tidak bekerja, tidur-tiduran seharian tanpa ngapa-ngapain, tapi sama sekali tidak boleh mencoba-coba narkoba (“Oke”). Ketiga, ia harus menonton tiga filem seminggu pilihan ayahnya (“Serius lu?”).

Maka demikianlah, dari (Fellini, 1963) sampai Rosemary’s Baby (Polanski, 1968), dari Psycho (Hitchcock, 1960) sampai Basic Instinct (Verhoeven, 1992), dari Onibaba (Kaneto Shindo, 1964) sampai La Dolce Vita (Fellini, 1960), buku ini adalah memoar Gilmour tentang upayanya mendidik anak remajanya dengan cara yang tak lazim.

Filem pertama yang ditonton “Klub Filem” ini adalah The 400 Blows (Truffaut, 1959). Kita tentu ingat penutup filem ini: Antoine kabur lewat bawah pagar dan lari ke arah pantai. Sampai di batas air, ia menoleh balik ke kamera yang menyorot wajahnya.

Dan demikianlah selanjutnya dengan Basic Instinct, North by Northwest, Crimes and Misdemeanors, dst. Dari nonton bareng ayah-anak tiga filem seminggu itulah, mengalir obrolan-obrolan mengenai perempuan, seks, makna hidup, cita-cita, pekerjaan, pergaulan dsb.

Sebagai ayah dua orang anak yang nanti juga akan menjadi remaja, saya anggap buku ini mengharukan dan memberi ilham tentang cara membesarkan anak di zaman yang semakin rumit. Tapi tentu saja saya juga tidak menganjurkannya untuk menjadi panduan utama dalam parenting (terlalu banyak alkohol dan kondom bersliweran).

Dan tentu saja kita harus membacanya dalam konteks masyarakat Kanada, yang kebebasan sosialnya pun masih sering membuat orang AS sendiri takjub. Tentu sulit membayangkan dalam konteks Indonesia seorang anak 16 tahun bisa curhat ke ayahnya bahwa pacarnya bisa orgasme dengannya, tapi mengapa saat memeluknya ia terus merasa hanya sebagai teman?

Dan tentu tak semua orang suka atau setuju dengan cara Gilmour. Beberapa orang tua dan pendidik di Kanada dan AS menghujatnya dengan keras dan menganggapnya sebagai orang tua egois yang bereksperimen dengan masa depan Jesse hanya demi penyaluran hobinya. Saya serahkan pada masing-masing pembaca untuk menilainya dalam konteks pendidikan di Indonesia.

Gilmour tidak membimbing Jesse untuk menjadi penggila filem atau kritikus yang serius. Filem di sini dipakai sebagai cara untuk merangsang daya berpikir kritis dan kreatif, untuk memberi arah dan keyakinan pada apapun pilihan jalan hidup yang dia ambil nantinya.

Dan pilihan itu bahkan mengejutkan Gilmour sendiri. Setelah memutuskan bekerja serabutan untuk mencukupi hidup sambil terus meneruskan program “Klub Filem” ini, pada akhirnya Jesse memutuskan melanjutkan sekolah menengahnya bahkan kuliah.

Mungkin menuliskan ending ini memang spoiler berat, tapi Anda tentu tahu bahwa filem yang benar-benar bagus tidak rusak kenikmatannya untuk ditonton secara utuh sekalipun bocoran soal ending-nya sudah sedikit Anda ketahui.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s