Tragedi Rwanda: Medan Geopolitik AS dan Prancis

 

Dunia saat ini tengah memperingati ulang tahun ke-20 dari genosida Rwanda. Cerita resmi genosida terhadap penduduk Tutsi dipicu oleh milisi Interahamwe dari pemerintah Habyarimana usai kecelakaan pesawat yang menyebabkan kematian Presiden Habyarimana. Bukti menunjukkan bahwa Amerika Serikat memainkan peran rahasia dalam menembak jatuh pesawat.
Perancis dituduh mendukung pemerintahan Habyarimana. Amerika Serikat memainkan peran samar dalam memicu genosida.
Tujuan utama adalah untuk menggantikan pengaruh Prancisatas Afrika Tengah. Perlu dicatat bahwa situasi yang sama sedang berlangsung di Republik Afrika Tengah yang secara historis telah menjadi wilayah pengaruh Perancis. Perpecahan etnis antara Kristen dan Muslim bertujuan untukmengembangkan pengaruh Washington di Republik Afrika Tengah.

 

Tragdi genosida” memiliki tujuan strategis dan geopolitik. Pembantaian etnis menjadi sandungan bagi kredibilitas Perancis yang memungkinkan Amerika Serikat untuk membangun pijakan neokolonial di Afrika Tengah. Dari pengaturan kolonial semasa penjajahan Belgia dan Prancis, ibukota Rwanda, Kigali, telah dikendalikan ekspatriat Tutsi yang dipimpin colonial Prancis-jelas berkultur Anglo-Amerika. Bahasa Inggris telah menjadi bahasa dominan dalam pemerintahan dan sektor swasta. Banyak perusahaan swasta yang dimiliki oleh orang Hutu diambil alih pada tahun 1994 dari kepemilikan Tutsi ekspatriat. Yang terakhir ini telah diasingkan ke Amerika Serikat dan Inggris.

 

The RwandaPatriotic Army (RPA) berbahasa Inggris dan Kinyarwanda, Universitas yang sebelumnya dikaitkan dengan Perancis dan Belgia berubah menjadi berkultur Inggris. Sementara bahasa Inggris telah menjadi bahasa resmi bersama Perancis dan Kinyarwanda, pengaruh politik dan budaya Perancis akhirnya akan terhapus. Washington telah menjadi penjajah baru dari negara francophone itu.

 

Sebelum pecahnya perang sipil Rwanda, RPA merupakan bagian dari Angkatan Bersenjata Uganda. Tak lama sebelum invasi ke Rwanda pada Oktober 1990, label militer dialihkan. Tentara Uganda bergabung dengan jajaranRPA. Sepanjang perang saudara, RPA memperoleh pasokan logistic dari pangkalan militerAmerika Serikat di Uganda. Tutsi menugaskan perwira dalam tentara Uganda guna mengambil alih posisi di RPA. Invasi Oktober 1990 oleh pasukan Uganda diumumkan sebagai perang kemerdekaan.

 

Rezim Habyarimana memiliki peralatan militer, termasuk peluncur rudal 83mm buatan Perancis. Senjata ringan buatan Belgia dan Jerman, dan senjata otomatis seperti kalachnikovs dari Mesir, China dan Afrika Selatan. Sebagian pengadaan senjata itu dibiayai lewat bantuan militer langsung dari Perancis, pinjaman lunak Bank Dunia, Dana Pembangunan Afrika (AFD), Dana Pembangunan Eropa (EDF) serta bantuan Jerman, Amerika Serikat, Belgia dan Kanada yang dialihkan menjadi belanja militer dan melengkapi logistik milisi Interhamwe.

 

Dalam kata-kata mantan Menteri Kerjasama Bernard Debre dalam pemerintahan Perancis Perdana Menteri Henri Balladur:

 

“Apa yang lupa katakan adalah Perancis di satu sisi, Amerika berada di sisi lain, mempersenjatai Uganda, yang kemudianmempersenjatai Tutsi. Saya tidak ingin menggambarkan konfrontasi antara Perancis dan Amerika Serikat, tetapi kebenaran harus dibuka.”

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s