Sekelumit Masalah Kesehatan Global

Harian Kompas, Rabu, 22 Mei 2013 halaman 1 menurunkan berita “Situasi Kesehatan: Indonesia Tertinggal dari Tetangga.” Dikutip di sini, antara lain “Indikator kesehatran Indonesia dari tahun ke tahun menunjukkan perbaikan. Namun, laju perbaikan itu masih lambat. Situasi kesehatan masih tertinggal jauh dari Singapura, Malaysia, Thailand, dan Filipina. Bahkan Indonesia sudah disalip Vietnam yang beberapa tahun lalu masih di belakang.” Dalam paragraf selanjutnya ditulis bahwa salah satu indikator kesehatan itu adalah Angka Kematian Ibu (AKI). Menurut data Indeks Pembangunan Manusia yang dikeluarkan oleh Program Pembangunan PBB 2013, AKI Indonesia masih 220 per 100.000 kelahiran hidup. Sementara negara tetangga di ASEAN, seperti Singapura mencatatkan angka 3, Brunei 24, Malaysia 29, Thailand 48, Vietnam 59, dan Filipina 99. Indonesia hanya lebih baik dari Laos, Kamboja, dan Timur Leste.

Masih perlu terus menerus dilakukan perbaikan dan komitmen pemerintah dalam meningkatkan indikator kesehatan itu. Meskipun demikian, persoalan indikator kesehatan sesungguhnya tidak bisa dilepaskan dari situasi global. Komitmen politik, ketercukupan dana, dan kapasitas sumber daya manusia, yang menyebabkan pelaksanaan dan jangkauan program di setiap negara menjadi berbeda-beda.

Kita lihat masalah kesehatan di tingkat global. Anak yang mengalami kurang gizi diperkirakan mencakup 35% dari penyebab kematian anak yang berusia di bawah usia 5 tahun. Proporsi kondisi anak-anak semacam itu di negara-negara berkembang sudah mengalami penurunan dari 29% (1990) menjadi 18% (2010).  Secara global, telah juga ada kemajuan signifikan mengenai upaya untuk mencegah kematian anak di bawah usia 5 tahun. Antara 1990-2010, kematian balita telah turun menjadi 35%, dari 88 kematian tiap 1.000 kelahiran hidup menjadi 57. Penurunan itu di tingkat global juga telah dipercepat dari 2,1% (1990-2010) menjadi 2,6% (2005-2010).  Di kawasan Afrika—yang menyumbang jumlah kematian hampir separuhnya—penurunan kematian balita bertyambah 1,8% (1990-2010) menjadi 2,8% (2005-2010).  Bertentangan dengan kemajuan ini, banyak negara di kawasan ini yang tidak mau menjalankan target PBB tingkat kematian dari 2/3 (1990) hingga tahun 2015. Pada umumnya, 34 dari 143 negara dengan tingkat pendapatan rendah dan menengah, akan memenuhi target itu jika prestasi dalam 2005-2010 dapat dipertahankan.

Pada tahun 2010, program imunisasi telah menjangkau 85% anak-anak usia 12-23 tahun. Banyak negara bahkan telah mencapai tingkat tertinggi dalam capaian tersebut, yaitu 65% atau mempertahankan angka 90% di tahun 2010. Antara tahun 2000-2010, angka perkiraan untuk kematian telah turun menjadi 74%, yang berarti menjangkau 1/5 dari penyebab kematian bayi. Hampir 20% balita telah memperoleh vaksin. Usaha-usaha untuk memperbaiki kualitas imunisasi ini terus menerus dikembangkan.

Untuk AKI, telah turun secara signifikan dari perkiraan di tahun 1990 sebanyak 543.000 menjadi 287.000 di tahun 2010. Antara 1990-2010, AKI mencapi 3,1% per tahun. Pada tahun 2008, 63% perempuan berusia 15-49 tahun yang telah menikah menggunakan alat kontrasepsi, sementara 11% menginginkan penundaan kelahiran tetapi tidak menggunakan kontrasepsi. Jumlah perempuan yang menerima layanan selama kehamilan mencapai 81% (2005-2011), tetapi kewajiban untuk memeriksakan kehamilan minimal 4 kali selama masa kehamilan telah menurun sebanyak 55%. Sebanyak 90% perempuan hamil telah memperoleh layanan dari tenaga kesehatan terdidik di 3 wilayah kerja WHO. Hanya saja untuk wilayah tertentu, jumlah itu masih kurang dari 50% seperti di kawasan Afrika.

Mengenai perkiraan kematian akibat malaria dan estimasi 216 juta kasus di tahun 2010 telah berkurang menjadi 655.000 kematian, 86% adalah menimpa balita. Di 8 negara Afrika, sudah ada pengurangan lebih dari 50% kasus malaria. Laporan-laporan kasus malaria yang diterima WHO di wilayah lain telah berkurang hampir 50% pada 35 negara diantara 53 negara (2000-2010), di mana rata-rata mencapai jumlah 25%-50% di 4 negara. Untuk tingkat global, diperkirakan pada 2000-2010 serangan malaria akan mencapai 1,8%.

Sejak 2006, secara global kasus-kasus baru mengenai TBC juga telah melambat. Pada 2010, diperkirakan ada 8,8 juta kasus baru dengan 13% menimpa kepada mereka yang terinfeksi HIV.  Pada tahun 2010, diperkiarakan 1,1 juta orang dengan infeksi HIV meninggal karena TBC. Sejak 1990, kematian karena TBC telah turun hampir 1/3 dengan tingkat yang berbeda-beda di tiap-tiap kawasan. Pada 2009, keberhasilan upaya kesehatan untuk penyakit ini mencapai 87% di seluruh dunia, mewakili 1/3 keberhasilan di tahun itu yang ditargetkan 85% oleh WHO.

Penyakit tropik (menurut WHO ada 17 penyakit) menyerang 149 negara dan menimpa hampir 1 miliar penduduk.  Dengan pengecualian demam berdarah, penyakit ini disebabkan karena kerusakan organ, kondisi terlalu miskin, komunitas marjinal, sehingga menyebabkan cacat, kelumpuhan permanen, dan kematian. Sejak 2007, WHO telah menyusun strategi yang lebih terkoordinasi untuk mengatasi penyakit ini.

Dari sejumlah masalah itu nampaknya yang penting untuk diperhatikan adalah ketersediaan obat. Sekalipun nyaris semua negara sudah mempublikasikan daftar obat essensial, akan tetapi ketersediaannya di layanan kesehatan umum masih memprihatinkan. Penelitian WHO menunjukkan bahwa hampir 70 negara dengan tingkat pendapatan menengah dan rendah, fasilitas layanan kesehatan yang menyediakan obat generik hanya 42% (milik pemerintah) dan 64% (swasta).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s