Saat Laki-Laki Mengelola Rumah Tangga

Mari kita perhatikan dalam kehidupan rumah tangga sehari-hari, apakah suami atau isteri yang menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengelola urusan rumah tangga (dari mengasuh bayi/anak hingga memikirkan tambahan penghasilan? Salah satu gejala global yang abadi mengenai hal itu adalah persoalan ketimpangan gender akibat tidak ada kesetaraan dalam pembagian kerja mengelola rumah tangga. Hal ini nampak dari kenyataan bahwa laki-laki (suami) merupakan pencari nafkah (yang mayoritas bekerja di luar rumah) dan perempuan (isteri) merupakan pengelola rumah tangga utama, termasuk dalam aspek reproduksi. Ketimpangan ini dapat dikonfirmasi dalam 2 data utama. Pertama, secara global perempuan memperoleh rata-rata 22% kesempatan kerja di luar rumah dibandingakn laki-laki. Kedua, ketidaksetaraan dalam menangani masalah rumah tangga. Suatu kajian paling kontemporer (2008) termasuk di negara yang berkategori pendapatan rendah, menengah, dan tinggi, menegaskan bahwa perempuan memperoleh kesempatan mengelola urusan rumah tangga 2-10 kali lipat lebih besar dibandingkan laki-laki. Serupa dengan itu, studi pada negara kawasan Amerika Latin dan Karibia (2006) menghaslkan kesimpulan bahwa laki-laki tidak pernah secara dramatis menambah perannya dalam pekerjaan rumah tangga, dan bahkan saat mereka tinggal dengan orang tua mereka, dan juga saat semakin banyak perempuan bekerja di sektor-sektor lain. Bahkan studi yang dilakukan di Kyrgyztan dan Brazil (2006) menunjukkan bahwa faktor kunci mengapa perempuan bekerja di luar rumah setara dengan memelihara anak dan anggota keluarga yang lain.

Suatu survey yang dilakukan di negara-negara Eropa (2002) menunjukkan bahwa banyak perempuan yang mengurangi jam kerja mereka supaya dapat menikmati lebih banyak lagi waktu untuk anak-anak. Dalam survey tersebut, 50-70% responden setuju bahwa perempuan yang mempunyai anak usia sekolah untuk bekerja paruh waktu. Survey yang sama juga menunjukkan bahwa proporsi perempuan usia 25-49 tahun yang bekerja paruh waktu bervariasi antara 70% di Belanda dan 11% di Portugal. Sementara kaum laki-laki menghabiskan lebih banyak jam kerja, terutama bagi yang masih mempunyai anak-anak kecil.

Diantara negara-negara Eropa, perempuan menghabiskan lebih banyak waktu untuk tinggal di rumah dibandingkan laki-laki, dengan tingkat perbedaan yang kecil, seperti di Denmark, Finlandia, dan Swedia, dengan tingkat perbandingan tajam di Italia dan Austria. Perbedaan itu tergantung jumlah keluarga yang dimiliki dan apabila merupakan keluarga kecil, maka ada kecenderungan baik laki-laki maupun perempuan sama-sama bekerja di luar rumah. Secara keseluruhan, ada kecenderungan umum bahwa dalam keluarga yang memiliki anak, perempuan mengurangi jam kerja di luar rumah sementara laki-laki justru menambah jam kerja mereka.

Suatu studi oleh WHO (2007) mengatakan bahwa untuk kepentingan jangka panjang, perempuan cenderung secara dramatis mengambil keputusan nntuk berhenti bekerja secara profesional dengan pertimbangan untuk mengasuh anak. Sebaliknya, laki-laki cenderung mempertahankan pekerjaan mereka, hanya meluangkan sedikit waktu untuk urusan rumah, dan tak butuh waktu lama untuk memutuskan tetap bekerja dalam hal terjadi perselisihan antara bekerja dan keluarga.

Di beberapa negara yang dikategorikan memiliki pendapatan tinggi, ada kecenderungan perubahan peran suami. Di Amerika, misalnya, sebuah penelitian (2000) menunjukkan bahwa perempuan secara substantif menikmati masa jam kerja lebih banyak dibandingkan laki-laki, sekalipun perempuan itu tidak melakukan pekerjaan apapun, dan laki-laki bekerja lebih lambat dibandingkan 20 tahun yang lalu. Serupa dengan itu, riset di Norwegia (2009) mengkonfirmasikan adanya penambahan waktu lebih banyak bagi laki-laki untuk aktivitas rumah tangga dibandingkan 20 tahun yang lalu. Sudah hampir satu dekade belakangan ini, laki-laki dengan anak kecil di Swedia mengurangi jam kerja mereka (Statistik Swedia, 2003).  Di lnggris dan Irlandia Utara, para laki-laki telah menghabiskan waktu untuk mengasuh anak rata-rata 44 menit per hari pada 1987 dan berubah menjadi 90 menit di tahun 1999. Hasil dari sejumlah riset itu juga menambahkan, tak ada lagi “takdir” bahwa perempuanlah yang harus mengurangi jam kerja saat mempunyai anak; bahkan negosiasi untuk pengambilan keputusan itu lebih terbuka dibandingkan dengan masa yang lalu, yang berarti pola tradisional dalam bentuk ketidaksetaraan dalam beban pengasuhan anak telah bergeser menjadi pola baru.

Kajian oleh The International Men and Gender Equality Survey (2010) yang mengambil responden dari para suami di 7 negara mengatakan bahwa perubahan pola pengasuhan tergantung pada tingkat pendapatan negara dan baik laki-laki maupun perempuan telah sama-sama berpartisipasi dalam kehidupan anak-anaknya. Diantara negara yang disurvey itu sebanyak 5 negara yaitu Brazil, Chile, Kroasia, India, dan Meksiko, bahwa mayoritas laki-laki menjalankan peran penting dalam pengasuhan anak-anak mereka. Kajian ini juga menunjukkan bahwa 20%-65% laki-laki mengatakan bahwa mereka menemukan makna kehidupan saat anak bungsu mereka dilahirkan. Seperti yang sering nampak dalam berbagai kajian, lamanya waktu untuk mengasuh anak bagi para suami menjadi semakin bertambah. Pada sisi lain, sebanyak 14%-46% perempuan di 5 negara itu mengatakan bahwa suami atau patner laki-laki mereka menghabiskan waktu yang relatif sama dengan mereka untuk mengasuh anak-anak.

Persoalan peran laki-laki dan perempuan dalam mengelola rumah tangga juga dipengaruhi dengan adanya tingkat perceraian. Dengan perceraian itu, semakin bertambah kesempatan bagi kaum laki-laki untuk mengelola rumah tangga mereka. Di Amerika misalnya, perselisihan perkawinan tumbuh 8,5% (1960) menjadi lebih tinggi 10,6% di awal 1980-an; yang kemudian menurun lagi menjadi 7,3% (2007), suatu penurunan hampir 31% dibandingkan awal 1980-an.  Di Jepang, pada 2008, tingkat perkawinan (dari tiap 1.000 jiwa penduduk) adalah 5,8% dengan usia laki-laki pertama kali menikah rata-rata 30,2 tahun dan 28,5 tahun untuk perempuan dan kondisi ini sudah berlangsung hampir 20 tahun. Diantara 27 negara Uni Eropa, tingkat perkawinan dari tiap 1.000 penduduk semakin menurun:  sesudah tahun 2000 menjadi 5% lebih rendah dibandingkan dalam masa akhir 1990-an.

Di banyak negara, data juga menunjukkan perkawinan berakhir dengan perceraian. Dalam perspektif kesetaraan gender, perempuan (dan juga laki-laki) di banyak negara mempunyai kebebasan untuk untuk meninggalkan hubungan negatif atau bahkan sama sekali tidak menikah, tetapi dalam sejumlah kasus pasangan (khususnya laki-laki) tampaknya memilih tidak menikah karena tidak adanya sarana finansial dan sosial. Dibandingkan kebiasaan di mana perempuan (isteri) yang menjadi penanggung jawab pengasuhan anak sesudah perceraian, suatu kecenderungan muncul di mana semakin banyak anak-anak yang diasuh oleh ayah biologisnya sesudah perceraian terjadi dibandingkan pada masa lalu. Di negara Uni Eropa, tahun 2005 angka perceraian mencapai 1 juta kasus, yang setara dengan adanya 42 perceraian dalam tiap 100 perkawinan, atau dalam rata-rata tahunan, terjadi 2 perceraian diantara 1.000 orang.

Tingkat perceraian yang semakin tinggi juga terjadi di Amerika Latin. Di Panama, tingkat perceraian meningkat hampir dua kali lipat dari 3,8% dari tiap 1.000 orang (1986) menjadi 6,2% (1996). Dalam pola hitungan yang sama, di Nikaragua 16% perempuan bercerai pada 1998 dan di Kosta Rica, tingkat perceraian pada 1999 meningkat menjadi 29% dibandingkan waktu-waktu sebelumnya. Di Australia, 1 diantara 4 perkawinan berakhir dengan perceraian dan tingkat inisiatif perceraian oleh laki-laki mencapi 64,2% dibandingkan perempuan pada angka 26,1% (data 2004).

Kecenderungan tersebut menambah angka perempuan yang menjadi kepala rumah tangga dan semakin banyak laki-laki yang terpisah dengan anak-anak. Dewasa ini, antara 15%-45% rumah tangga di Amerika Latin dan Karibia dipimpin oleh perempuan dan sering sebagai single parent. Kondisi ini paling banyak dijumpai di Brazil dengan angka 33,81%. Di Meksiko, sebanyak 25% rumah tangga dipimpin oleh perempuan sebagai orang tua tunggal (2001). Sekitar ¼ rumah tangga di Amerika Tengah dipimpin oleh perempuan: 28,24% di Nikaragua, 18,4% di Guetamala, 26% di Honduras, dan 33,5% di El Savador. Di negara kawasan Karibia yang berbahasa Inggris, angka itu menjadi lebih tinggi, yaitu 37%-49%. Di Amerika Serikat, sebanyak 8% rumah tangga dipimpin oleh perempuan.  Kondisi yang sama dialami di Vietnam (26%) dan Jepanag (29,5%).

Secara umum, kebanyakan (bekas) suami tidak tinggal dengan anak-anak mereka. Suatu surbey yang dilaksanakan di 43 negara di 5 benua menunjukan bahwa sebanyak 3 diantara 10 laki-laki yang berusia 25-39 tahun dan sebanyak 2 diantara 10 laki-laki usia 30-39 tahun yang berstatus sebagai ayah, tidak tinggal dengan anak-anak mereka. Situasi semacam ini lebih sering terjadi di kawasan perkotaan dibandingakan pedesaan. Adanya banyak faktor penyebab fakta ini, seperti putusnya perkawinan, kebiasaan menyekolahkan anak dari desa ke kota, dan ketika orang tua menitipkan anak-anak mereka dengan famili mereka, seperti yang lazim terjadi di Afrika Barat.

Suatu survey yang pernah dilaksanakan di Amerika (1993) mengkonfirmasikan bahwa lebih dari ¼ anak-anak tidak pernah mengenal ayah mereka sebelumnya dalam rumah tangga yang dipimpin oleh perempuan sebagai orang tua tunggal. Studi yang lain juga mengindikasikan bahwa begitu perceraian terjadi, ada kecenderungan bahwa suami menutup penuh hubungan yang terjadi sebelumnya. Studi ini menunjukkan bahwa rumah tangga diperhitungkan dengan memperhatikan relasi yang terjadi antara ayah dengan anak-anak.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s