Perempuan Inggris di Abad ke-19

Pada abad ke-19 perempuan kelas menengah dan kelas atasdilarang mencari nafkah mereka sendiri.

Pada saat itu perempuan di Inggris diharapkan untuk menikah dan memiliki anak. Namun, jumlah penduduk laki-laki diketahui jauh lebih sedikit. Sensus Penduduk selama periode itu mengungkapkan ada jauh lebih banyak perempuan daripada pria. Hal ini disebabkan karena tingkat kematian anak laki-laki jauh lebih tinggi dibandingkan anak perempuan ; sejumlah besar laki-laki bertugas di angkatan bersenjata di luar negeri dan pria lebih mungkin untuk beremigrasi daripada wanita. Pada 1861 ada lebih dari 10 juta perempuan yang tinggal di Inggris dan Wales tetapi hanya ada penduduk laki-laki sebanyak 9 juta.

Hukum di Inggris didasarkan pada gagasan bahwa perempuan akan menikah dan suami akan mengurus mereka. Sebelum disahkannya 1882 Marital Property Act, ketika seorang wanita telah menikah maka kekayaannya disahkan untuk suaminya. Jika seorang wanita bekerja setelah menikah, penghasilannya juga milik suaminya .
Perempuan kelas menengah dan atas harus tetap bergantung pada seorang pria : pertama karena ia perempuan dan kemudian sebagai seorang istri. Setelah menikah, sangat sulit bagi seorang perempuan untuk bercerai.

The Matrimonial Causes Act tahun 1857 memberikan seorang suami hak untuk menceraikan istridengan alasan perzinahan. Namun, perempuan yang sudah menikah tidak dapat memperoleh perceraian sekalipun dapat membuktikan bahwa sang suami telah berselingkuh. Setelah bercerai, anak-anak menjadi asuhan suami dan seorang perempuan yang berceraidapat dilarang untuk bertemu anak-anaknya.

Banyak profesi yang menjadi tabu bagi para perempuan. Di pertengahan abad ke-19 itu hampir tidak mungkin bagi perempuan menjadi dokter, insinyur, arsitek, akuntan atau bankir.
Setelah perjuangan panjang kalangan medismenerima kemungkinan perempuan untuk menjadi dokter. Meski begitu, pada tahun 1900 hanya ada 200 dokter perempuan. Tidak sampai 1910, perempuan diperbolehkan menjadi akuntan dan bankir. Namun, masih belum ada diplomat, pengacara atau hakim dari kalangan perempuan. Perempuan diizinkan untuk menjadi guru. Pada tahun 1861 lebih dari 72% guru adalah perempuan, tetapi mengajar saat itu dianggap sebagai pekerjaan dengan status yang rendah dan juga dengan tingkat pendapatan tidak memadai.

Pada awal abad ke-20 itu sangat sulit bagi perempuan untuk mendapatkan pendidikan universitas. Pada tahun 1870 Emily Davies dan Barbara Bodichon membantu mendirikan Girton College, sebuah sekolah tinggi pertama bagi perempuan, tapi itu tidak diakui sebagai universitas. Pada tahun 1880 Newnham College didirikan di lingkungan Cambridge University. Pada 1910 hanya ada lebih dari seribu siswa perempuan di Oxford dan Cambridge. Namun, mereka harus mendapatkan izin untuk menghadiri kuliah dan tidak diperbolehkan untuk mengambil gelar sarjana. Tanpa gelar sarjana itu sangat sulit bagi perempuan untuk memasuki dunia kerja.

Pada 1910 perempuan merupakan hampir sepertiga dari angkatan kerja. Pekerjaan sering dilakukan secara paruh waktu atau secara temporer.
Dewan Industrial Perempuan berkonsentrasi pada perolehan informasi tentang masalah-masalah perempuan dalam sector ketenagakerjaan dan pada tahun 1914 telah menyelidiki 117 perdagangan manusia. Pada tahun 1915 Clementina Black menerbitkan buku yang berjudul Married’s Women Work. Informasi ini kemudian digunakan untuk membujuk Parlemen untuk mengambil tindakan terhadap eksploitasi perempuan di tempat kerja.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s