SINETRON DAN KERENTANAN KRISIS EKONOMI

Jauh sebelum sinetron menjadi primadona acara di televisi swasta saat ini, cikal bakal sinetron lahir dari Televisi Republik Indonesia (TVRI) sejak siaran rutin pertamanya pada 24 Agustus 1962. Istilah “sinetron” (akronim dari “sinema” dan “elektronik”) konon berasal dari penulis Arswendo Atmowiloto dan pengajar film Institut Kesenian Jakarta (IKJ) Soemardjono untuk menyebut film yang diproduksi secara elekronis di atas pita magnetik.

Kini sinetron digunakan secara generik untuk menyebut program film televisi yang terdiri dari beragam genre (drama, legenda, misteri, remaja dan sebagainya) dan beragam format (seri, serial, sinetron lepas, telesinema).

Menurut dokumentasi TVRI, sinetron pertama (saat itu masih disebut dengan TV play) yang diproduksi pada 31 Desember 1962 berjudul Sebuah Jendela ditulis oleh Alex Leo Zulkarnain (Radio Televisi dan Film dalam Era 50 Tahun Indonesia Merdeka, 1995, hal.320). Gerhana merupakan sinetron yang pertama kali syuting di luar studio, disertai dengan kilas balik film, diproduksi pada 7 April 1963.

Tidak ada catatan mengenai cerita kedua sinetron itu. Akan tetapi, jika kita simak tujuan TVRI, menurut pasal 4 Keputusan Presiden No.215 tahun 1963, adalah “menjadikan alat hubungan masyarakat (mass-communication media) dalam melaksanakan pembangunan mental/spiritual dan fisik bangsa dan negara Indonesia serta pembentukan manusia sosialis Indonesia pada khususnya”, maka sulit membayangkan sinetron-sinetron itu tak membawa “pesan pemerintah”apalagi mereka lahir dari rahim televisi pemerintah.

Dalam masa Orde Baru sinetron produksi TVRI senantiasa membawa “pesan pembangunan” atau mengangkat apa yang dikonstruksikan sebagai “kebudayaan nasional.” Sebagaimana disampaikan oleh Menteri Penerangan Budiarjo pada ulang tahun TVRI ke-10, “TVRI bekerja dengan landasan falsafah setiap informasi yang berasal dari pemerintah harus merangsang potensi yang dimiliki masyarakat untuk berpartisipasi dalam setiap program nasional serta kegiatan lain yang memotivasi masyarakat melalui pendidikan dan persuasi” (Direktorat Televisi, 1972, hal.17). Sinetron Keluarga Rahmat dan Rumah Masa Depan, misalnya, ikut menyebarluaskan pesan program Keluarga Berencana (KB) dan transmigrasi.

Keluarga Rahmat adalah sinetron TVRI yang tayang pada tahun 1987. Serial ini cukup populer, karena Soeharto yang kala itu masih jadi presiden sempat muncul untuk berjabat tangan dengan Pak Sadikin, karakter pensiunan pegawai negeri.

Sinetron ini identik dengan karakter antagonis bernama Ibu Subangun. Ibu Subangun adalah seorang istri yang jahat. Ia selalu ingin menang, mendominasi keluarga, suka pamer, dan menyepelekan suaminya.

Karakter yang diperankan Thenzara Zaidt ini sukses mengaduk-aduk emosi penonton. Ironisnya, ketika karakter ini hanya tampil sebentar atau bahkan tidak tampil, banyak surat pembaca di tabloid atau majalah yang mempertanyakan keberadaannya. Seorang penonton bahkan merasa menonton Keluarga Rahmat tanpa Ibu Subangun, ibarat sayur tanpa garam.

Industri sinetron mengalami pertumbuhan yang pesat awal tahun 1990- an sebagai respon atas maraknya stasiun televisi swasta serta mati surinya industri perfilman di Indonesia. Pada pertengahan 1992 hanya ada 12 film yang mampu diproduksi dibandingkan 118 film pada tahun sebelumnya.

Untuk memenuhi kebutuhan pasokan program lokal pada stasiun televisi swasta, hampir sebagian besar perusahaan film mengubah dirinya menjadi rumah produksi (production house). PT.Parkit Film, misalnya, yang dimiliki Raam Punjabi kini berubah menjadi PT. Tripar Multivision Plus dan menjadi salah satu rumah produksi yang paling mendominasi.

Perubahan perusahaan film menjadi rumah produksi, tak pelak, dikuti ramai-ramai pindahnya para pekerja film ke rumah produksi. “Realistis saja, perfilman Indonesia sedang suram. Sinetron merupakan alternatif yang terbaik, “ kata Ratno Timur, ketua Persatuan Artis Fim Indonesia (PARFI) (Tempo, 20 Juni 1992). Dalam nada yang sama, penulis skenario terkemuka Asrul Sani mengatakan, “ Pesaing film Indonesia sekarang bukan hanya film impor, tapi juga sinetron. Sinetron telah menjadi primadona hiburan di rumah-rumah” (Tempo, 20 Juni 1992).

Sinetron lantas menjadi episentrum persaingan program bukan hanya antar stasiun televisi swasta, tapi juga antara TVRI dan stasiun televisi swasta. Pada 1992, misalnya, TVRI menargetkan bakal menayangkan tak kurang 322 sinetron, padahal anggaran TVRI hanya 3,2 miliar per tahun.

Ini karena bagi pengelola TVRI, sinetron merupakan kekuatan dan keahlian TVRI (mengingat TVRI-lah yang pertama kali melahirkan sinetron) dalam menghadapi gempuran program asing ber-rating tinggi yang ditayangkan oleh sejumlah stasiun televisi swasta (Kitley, 2000:104).

Untuk memberi tempat yang luas bagi penayangan sinetron, TVRI secara rutin membesut program yang bertajuk “Sepekan Sinetron” dengan variasi tematik, seperti “Sepekan Sinetron Remaja, “ “Sepekan Sinetron Anak-Anak” dan sebagainya. Sementara itu, salah satu stasiun televisi swasta, Televisi Pendidikan Indonesia (TPI), menurut manajer program Sam Haesy, menayangkan tujuh sinetron setiap minggunya atau 468 sinetron setahunnya (Tempo, 20 Juni 1992).

Jika ditilik dari sisi rating dan muatannya, sesungguhnya industri sinetron di Indonesia amat rentan terhadap krisis ekonomi dan perubahan politik. Misalnya, terjadi penurunan produksi yang cukup tajam (40 persen) pada akhir 1998 akibat krisis moneter yang bergulir sejak 1997 yang diikuti oleh merosotnya belanja iklan.

Atas dasar alasan ekonomis, stasiun televisi swasta lebih memilih menyiarkan program yang murah seperti variety shows, talk shows atau menyiarkan ulang (rerun) program lama ketimbang membeli program sinetron yang saat itu harganya Rp 93-125 juta per episodenya. Sementara itu waktu siaran yang meningkat dari 2.781 jam pada 1996 menjadi 3.719 jam pada 1998, turun menjadi 2.939 jam (61 jam per minggu) pada 1998. Begitu pula yang terjadi ada PT. Mulivision Plus mengalami penurunan produksi dari 15 judul per tahun pada 1996, 22 judul per tahun pada 1997, menjadi hanya 12 judul per tahun pada 1998.

Kedatipun pemulihan ekonomi makro akibat krisis moneter berjalan lambat, perkembangan industri hiburan (sinetron) agaknya justru sebaliknya. Sebagaimana diungkapkan oleh manajer poduksi Genta Buana Pitaloka, Sindu Darma, “Pada masa krisis ini pun orang [ternyata] tetap butuh hiburan. Maka sampai saat ini pun kami tetap berproduksi, karena memang ada permintaan. Dan, itu berlangsung sampai sekarang.” (Kompas, 4 Agustus 2002).

Dalam seminggu pada 2002 tak kurang 70 jam siaran diisi oleh tayangan sinetron pada jam tayang utama (pukul 19.00-21.00). Menurut survai AC Nielsen pada pertengahan Februari 2002, 10 program televisi yang memiliki rating di atas 12 didominasi oleh sinetron (Kontan, 11 Maret 2002).

Dari seluruh tayangan sinetron itu rumah produksi PT. Multivision Plus mengisi 16 jam siaran atau sekitar 15 judul dalam seminggu yang ditayangkan oleh empat stasiun televisi swasta setiap hari, kecuali hari Sabtu. Sementara rumah produksi lain, PT Prima Entertainment, mengisi 14 jam siaran dalam seminggu (Kompas, 4 Agustus, 2002).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s