SI UNYIL DAN SI TITIK

Sebenarnya, secara teknis, TVRI bersiaran pertama kali saat peringatan HUT Kemerdekaan RI, 17 Agustus 1962, dengan kualitas gambar yang belum memuaskan. Maklum, awal siaran ketika itu hanya menggunakan pemancar 100 watt yang lebih dikenal dengan nama Saluran 5. Begitu Asian Games IV yang digelar di Jakarta dibuka, TVRI pun secara resmi mengudara. Memang, pendirian TVRI dimaksudkan untuk bisa menyiarkan pesta olahraga bangsa-bangsa se-Asia tersebut.

Ketika itu, pemerintah memasukkan pengelolaan medium televisi sebagai bagian dari Komando Urusan Asian Games (KUPAG) yang dipimpin oleh Jenderal TNI D. Suprajogi. Menteri Penerangan, R. Maladi, selanjutnya mengeluarkan SK tentang pembentukan Panitia Persiapan Televisi (P2TV), tanggal 25 Juli 1961. P2TV terdiri dari orang-orang Radio Republik Indonesia (RRI) dan Pusat Film Nasional (PFN). Mereka inilah yang memiliki andil dalam pendirian TVRI, ditambah dengan sejumlah mahasiswa ITB. Disebutkan pula, terdapat kontribusi University of New South Wales, Australia, yang menyediakan dosen teknik radio televisi bernama Douglas Cole.

Sepanjang kehadirannya, TVRI telah mengalami beberapa kali perubahan kelembagaan. Tercatat dalam sejarah, TVRI pernah berbentuk yayasan, lalu berubah menjadi salah satu bagian dari organisasi dan tata kerja Departemen Penerangan dengan status sebagai Direktorat yang bertanggungjawab pada Direktur Jenderal Radio, Televisi, dan Film (RTF). Setelah itu, berubah lagi menjadi Perusahaan Jawatan di bawah pembinaan Departemen Keuangan. Tak lebih dari dua tahun, status TVRI berganti menjadi persero (PT) di bawah pembinaan Kantor Menteri Negara BUMN. Kini, setelah berlakunya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran, posisi TVRI bukan lagi sebagai lembaga penyiaran milik pemerintah tapi bermetamorfosis sebagai LPP. TVRI ditetapkan sebagai LPP berbentuk badan hukum yang didirikan oleh negara.

Dari berbagai pergantian itu tergambarkan pula dinamika politik yang mewarnai perjalanan TVRI.

Menurut sineas Garin Nugroho, hubungan televisi, pemerintahan dan gerakan pro atau antidemokratisasi memang amat kuat. Di awal kemunculannya, TVRI pernah merasakan era Demokrasi Terpimpin dengan Bung Karno sebagai tokoh sentralnya. Jatuhnya Bung Karno diganti Pak Harto, menempatkan TVRI sebagai corong dan alat propaganda Orde Baru. Kontrol dan sensor atas siaran-siaran yang dapat menggangu stabilitas negara dan jalannya roda pembangunan diperlakukan secara ketat. Jangan harap mereka yang bersuara kritis dan berseberangan dengan pemerintah bisa tampil di layar TVRI. Proses seleksi, cegah-tangkal, proteksi dan sensor berlebihan terhadap orang-orang dan organisasi atau lembaga yang dianggap berseberangan dengan kepentingan pemerintah yang berkuasa merupakan praktik yang kerap terjadi.

Sesudah 21 tahun mengudara (sejak 27 Agustus 1962), Menteri Penerangan (saat itu), Harmoko, dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Brigjen Prof. Dr. Nugroho Notosusanto, berinisiatif membuat serial televisi lokal. Dalam hal ini, satu-satunya televisi nasional ketika itu, TVRI, berhasil membuat film seri bulanan berjudul Lingkaran dan menayangkan serial anak Si Unyil dan Si Huma hasil kerja Perusahaan Produksi Film Negara (PPFN).

“Lingkaran” merupakan serial detektif karya sutradara Bambang Rachyadi (1983).

Si Unyil menjadi film seri televisi Indonesia produksi PPFN yang mengudara setiap hari Minggu pagi di stasiun TVRI dimulai pada tanggal 5 April 1981 sampai 1993, Minggu pagi di stasiun RCTI dimulai pada tanggal 21 April 2002 hingga awal 2003 dan berpindah ke TPI pada medio 2003 hingga akhir 2003 setiap Minggu pukul 16.30 WIB sebelum program berita Lintas 5. Si Unyil ini diciptakan oleh Drs. Suyadi.

Dalam Si Unyil, Suyadi setidaknya menciptakan berbagai karakter boneka. Mulai dari Si Unyil, Pak Raden, Pak Ogah, Bu Bariah, Ableh, Meilani, Cuplis, Usro, Ucrit, Kinoi hingga Ibu Unyil. Suyadi sendiri memilih karakter Pak Raden untuk diperankannya. Pak Raden merupakan seorang yang sering marah-marah kadang dengan menggunakan bahasa Belanda, pelit namun juga baik hati.

Boneka Si Unyil tidak hanya sukses di televisi. Berbagai boneka Si Unyil juga dijual. Begitu pula adanya iklan yang menggunakan karakter Si Unyil, buku-buku maupun makanan.

Karakter Pak Ogah bahkan kemudian diadopsi namanya dalam kehidupan sosial. Pak Ogah memiliki karakter pemalas dan selalu minta uang bila membantu.

Ditujukan kepada anak-anak, film seri boneka ini menceritakan tentang seorang anak Sekolah Dasar (yang lalu akhirnya setelah bertahun-tahun lamanya bisa mencapai posisi Sekolah Menengah Pertama) bernama Unyil dan petualangannya bersama teman-temannya.

Kata “Unyil” berasal dari “mungil” yang berarti “kecil”. Si Unyil telah menjadi salah satu bagian tak terpisahkan dari budaya populer di Indonesia, dan banyak orang tidak dapat melupakan berbagai unsur seri ini, mulai dari lagu temanya yang dimulai dengan kata-kata “Hom-pim-pah alaiyum gambreng!” sampai tokoh-tokoh seperti Pak Raden dan Pak Ogah dan kalimat seperti “Cepek dulu dong!” Saat ini boneka-boneka si Unyil telah menjadi koleksi Museum Wayang di Jakarta.

Film ini pernah dicoba diangkat lagi oleh PPFN dengan bantuan Helmy Yahya pada tahun 2001, dengan meninggalkan atribut lama dan memakai atribut baru agar sesuai dengan jamannya, akan tetapi usaha itu gagal.

Pada tahun 2007, acara ini dihidupkan lagi dengan nama Laptop Si Unyil, digawangi oleh Trans7. Karakter, lagu pembuka, dan cerita tetap dipertahankan, kecuali beberapa yang diperbaharui seiring zaman. Seperti ucapan Pak Ogah, yang dulu “Cepek dulu dong” kini jadi “Gopek dulu dong“; dan Unyil didampingi temannya membahas hal-hal pendidikan dengan laptop yang dimiliki teman si Unyil.

Di samping itu ada pula serial Si Titik. Kelahiran dua film seri televisi produksi Pusat Produksi Film Negara (PPFN) ini cuma berselang setahun. Si Unyil berusia lebih tua, ia tayang perdana di TVRI pada 5 April 1981, sedangkan Si Titik mengudara setahun setelahnya. Namun, popularitas Si Titik, yang juga film seri cerita boneka ini, kalah jauh dibanding Si Unyil. Seri televisi ini hanya bernapas selama delapan episode. Adapun Si Unyil disiarkan TVRI hingga 603 episode pada tahun 1992.

Walau kalah populer, tapi Si Titik rupanya memiliki bobot yang lebih berat. Unsur pembentuk ‘bobot’ dalam Si Titik adalah soal standar produksi, sisi artistik dan isi ceritanya berikut para karakternya. Dibuat dengan standar produksi dan artistik yang lebih tinggi dan rumit, karakter-karakter dalam film ini sangat berbeda dengan Si Unyil.

Si Titik sendiri adalah bagian dari mitos-mitos persepsi publik ciptaan Orde Baru tersebut. Dalam sejarah kelahirannya, Si Titik diproduksi di bawah arahan G. Dwipayana, Direktur PPFN kala itu. Dwipayana jugalah mantan petinggi militer yang pernah terlibat dalam produksi film-film propaganda penting Orde Baru. Sebut saja, Serangan Fajar (Arifin C. Noer, 1982) dan Pengkhianatan G 30 S/PKI (Arifin C. Noer, 1984).

Berbeda dengan Si Unyil yang menampilkan suasana sehari-hari dan karakter anak-anak beserta aktivitas mereka pada lazimnya, maka Si Titik mengambil pendekatan yang berbeda. Alih-alih memuat karakter-karakter yang lucu, menyenangkan dengan latar yang umum kita jumpai, Si Titik malah dipenuhi dengan boneka-boneka yang seram.

Dari segi naratif, Si Titik juga dinilai sangat surealis. Menurutnya, film seri televisi melaburkan antara kronik tak masuk akal dengan kejadian riil di Indonesia. Pemirsa dengan mudah mengasosiasikan satu kejadian di penceritaan dengan kejadiaan aktual Indonesia era tahun 1982-1985. Pembauran antara nyata dan imajinasi kemudian menghadirkan kisah-kisah luar biasa dan ganjil.

Film ini mengambil setting di hutan yang meski permai, indah dan penuh bunga berwarna-warni, adalah tempat perburuan, tempat di mana karakter-karakter polisi ataupun tentara serta orang-orang bersenjata merencanakan hal-hal mengerikan.

Dipilihnya hutan sebagai latar tempat Si Titik memang memiliki alasan kuat. Dalam kisahnya, Titik sendiri adalah seorang anak gadis anggota Pramuka yang menjadi korban kecelakaan pesawat yang jatuh di tengah hutan. Kondisi ini kemudian memunculkan niatan Titik untuk berteman dengan para binatang dan mengajari mereka baca-tulis. Latar hutan ini menjadi sentral ketika perbincangan soal pendatang baru dan para transmigran dihadapkan dengan penduduk lokal, yakni para binatang, mulai dari harimau sampai katak.

Namun pesan yang paling menarik dan mungkin menyeramkan dari film ini tergambar secara eksplisit di dalam mise en scene-nya, yakni keberadaan karakter aparat keamanan di dalam film, kantor mereka (Pos Pegawai Pertolongan Alam) yang dipasangi peta Papua (Orde Baru: Irian Jaya), dan pentingnya binatang-binatang di dalam film untuk bisa membaca dan menulis. Adakah hubungan antara aparat keamanan, peta Papua, program transmigrasi, dan keputusan menjadikan binatang sebagai subyek program pemberantasan buta huruf?

Dalam catatannya, Vero juga memaparkan bahwa pemerintahan Orde Baru telah mengintesifkan program transmigrasi sejak tahun 1970-an. Dalam buku “La Terre d’en Face-La Transmigration en Indonesie” terbitan 1997—yang kemudian diterbitkan buku versi bahasa Indonesia berjudul “Ayo Ke Tanah Sabrang“—karya Patrice Levang, dijelaskan bahwa selama tahun 1979-1984, ada sekitar 500 ribu keluarga atau kira-kira dua juta jiwa menjadi target program transmigrasi.

Untuk Papua secara khusus, sejak pendudukan Indonesia di tahun 1963, tidak hanya transmigrasi namun juga operasi-operasi militer dilaksanakan untuk mengubah orang Papua yang dianggap primitif menjadi ‘beradab’. Program pemberantasan buta huruf menjadi bagian penting dari proses ini sejalan dengan upaya Orde Baru untuk memodernkan rakyat Indonesia, terutama di pedesaan. Contohnya dengan proyek Pemberantasan Buta Huruf (PBH) dan program Kejar Paket.

Si Titik membuka kemungkinan untuk membaca mesin propaganda Orde Baru dengan cara lain. Si Titik agaknya berdiri di atas motif pembelajaran dan penjinakan ketakutan. Pembelajaran pertama berasal dari konfrontasi dengan latar tak biasa, seperti hutan belantara ataupun tempat-tempat khusus macam Papua. Adapun pembelajaran kedua datang dari penjinakan, seperti program pemberantasan buta huruf, transmigrasi, dan ‘pertolongan alam’.

Bukan kebetulan bahwa hampir semua film horor Orde Baru juga mengambil setting di hutan dan pedesaan, karena di sanalah horor dan ketakutan Orde Baru sebenarnya berakar. Hutan dan pedesaan adalah tempat-tempat di mana ‘rakyat’ dulu pernah dimusnahkan.

Konflik Si Titik berkisar soal kekerasan dan intrik-intrik penguasaan satu kawasan. Si Titik mengajar hewan-hewan ajaib untuk membaca dan menulis. Upaya ini berlawanan dengan pihak-pihak yang mencoba menjajah para sahabatnya. Beberapa kali sahabat Titik harus terbunuh dan dikeroyok. Malahan, Titik disekap dan tampak dilecehkan dalam salah satu episodenya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s