NOVEL SEJARAH: PENCATAT DAN DOKUMEN

Penciptaan karya sastra tidak pernah terlepas dari kondisi sosial historis masyarakat yang melahirkannya. Karya sastra ditulis oleh pengarang, yang merupakan anggota masyarakat, berdasarkan keadaan realitas yang terjadi di masyarakat. Karya sastra lahir sebagai pencatat, dokumen, bahkan juga melakukan evaluasi terhadap realitas yang terjadi dalam masyarakat. Sejumlah karya sastra Indonesia telah menunjukkan adanya hubungan yang tak terpisahkan antara isi (muatan) karya dengan realitas yang terjadi dalam masyarakatnya. Novel Sitti Nurbaya (Marah Rusli, 1920), misalnya menggambarkan kembali keadaan masyarakat Minang- kabau pada masa kolonial Belanda. Novel Para Priyayi (Umar Kayam, 1999), menggambarkan keadaan masyarakat Jawa pada masa kolonial Belanda sampai awal Orde Baru. Novel Saman (Ayu Utami, 1998), menggambarkan keadaan masyarakat Indonesia pada akhir pemerintahan Orde Baru.

Para Priyayi: Sebuah Novel

Adanya hubungan antara karya sastra dengan realitas yang terjadi dalam masyarakat, seperti dicontohkan dalam ketiga novel tersebut, menunjukkan bahwa untuk memahami karya sastra diperlukan kajian yang melibatkan hubungan antara karya sastra dengan segi-segi kemasyarakatan. Dengan memahami karya sastra dalam hubungannya dengan realitas sosial, budaya, dan politik yang terjadi dalam masyarakat, maka tidak mustahil seorang pembaca sastra akan menemukan kembali realitas sejarah yang digambarkan dalam karya sastra. Dalam hal ini, realitas sejarah, khususnya yang berhubungan dengan peristiwa masa lampau, tidak hanya ditemukan dalam teks-teks sejarah, tetapi juga dalam karya sastra, misalnya novel. Berdasarkan pembacaan awal terhadap sejumlah novel Indonesia, dapat ditemukan sejumlah novel yang menggambarkan kembali peristiwa sejarah yang pernah terjadi di Indonesia.


Peristiwa sejarah merupakan salah satu sumber inspirasi yang cukup menarik bagi bagi sejumlah sastrawan, sehingga mereka kemudian menuliskannya kembali ke dalam karya-karya yang ditulisnya. Salah satu sastrawan yang banyak memanfaatkan peristiwa sejarah Indonesia dalam penulisan novel-novelnya adalah Ayu Utami. Empat buah novelnya, Saman (1998), Larung (2001), Manjali dan Cakrabirawa (2010), serta Cerita Cinta Enrico (2012) kesemuanya mengambil peristiwa sejarah sebagai bagian dari cerita yang ditulisnya. Beberapa peristiwa sejarah yang dapat dikenali kembali dalam novel-novel tersebut antara lain adalah peristiwa pemberontakan 30 September 1965, kerusuhan Juli 1998 di Jakarta, dan peristiwa PRRI di Padang.

Peristiwa sejarah dalam novel-novel tersebut terjalin dalam cerita karena menjadi bagian dari para tokoh novel. Bahkan, dapat dikatakan bahwa novel-novel tersebut ditulis untuk memahami dan mereinterpretasikan sejumlah peristiwa sejarah Indonesia. Peristiwa sejarah dalam novel-novel tersebut terjalin dalam cerita karena menjadi bagian dari para tokoh novel. Bahkan, dapat dikatakan bahwa novel-novel tersebut ditulis untuk memahami dan mereinterpretasikan sejumlah peristiwa sejarah Indonesia.

Peristiwa sejarah sosial politik yang terdapat dalam novel-novel Ayu Utami adalah (1) demontrasi dan pemogokan buruh di Medan 1 Maret 1994 sampai dengan 16 April 1994, (2) Peristiwa Gerakan 30 September 1965 di Jakarta, (3) tragedi 27 Juli 1996 di Jakarta, (4) Pemberontakan PRRI di Padang 15 Februari 1958, dan (5) demonstrasi mahasiswa ITB pengangkatan kembali Soeharto sebagai Presiden RI.

Peristiwa-peristiwa tersebut direpresntasikan oleh Ayu Utami dalam empat buah novelnya, yaitu Saman, Larung, Manjali dan Cakrabirawa, dan Cerita Cinta Enrico. Melalui keempat novelnya tersebut tampak adanya representasi yang mencoba mempertanyakan kebenaran pencatatan peristiwa-peristiwa tersebut dalam teks-teks sejarah yang ada selama ini (sejarah konvensional), terutama yang diakui kebenarannya oleh pemerintah (penguasa) Orde Baru.

Kesadaran akan pentingnya sejarah sangat kurang. Mudah dipahami bahwa novel sejarah sangat sedikit jumlahnya, dan tidak begitu populer. Buku teori khusus mengenai genre sastra tersebut juga belum ada. Padahal di masa lalu genre sastra yang menyajikan sejarah sangat dominan, dan dianggap sebagai karya besar yang sekaligus bernilai sastra dan sejarah. Kesusastraan Minang memiliki tambo dan kesusastraan Jawa memiliki babad, suatu prototip novel sastra. Berbagai babad, babad Tanah Jawi misalnya, merupakan sumber sejarah penting dari masa pemerintahan raja-raja Jawa dan menjadi sumber informasi para sejarawan.

Menurut teori Walter Scott yang ingin menjaga kemurnian sejarah, tokoh-tokoh dan peristiwa sejarah harus menempati kedudukan sekunder sebagai latar belakang, tokoh utama diperankan oleh tokoh fiktif (Fleishman 1971). Sebaliknya menurut Lukacs, novel sejarah merupakan cerminan masa kini dalam suatu masa lalu, atau suatu usaha untuk memahami/menampilkan masa kini melalui masa lalu, yang berarti bahwa tokoh sejarah dapat menduduki tokoh utama tetapi perwatakannya dan tampilannya dalam aksi disesuaikan dengan interpretasi pengarang (Lukacs 1963).

Katrologi Bumi Manusia menampakkan versi Lukacs. Begitu pula Arok Dedes. Novel terakhir itu menggunakan tokoh-tokoh sejarah sebagai tokoh utama maupun tokoh penunjang, setidaknya nama tokoh-tokoh tersebut dapat ditemukan dalam buku Pararaton dan Negarakertagama.

Namun tokoh-tokoh sejarah tersebut disesuaikan dengan tuntutan naratif sang pengarang. Perlawanan rakyat Sigi yang memberikan data buku sumber di halaman belakang juga menggunakan tokoh sejarah sebagai tokoh utama maupun pelengkap.

Sementara Subang Zamrud Nurhayati menggunakan tokoh fiktif sebagai tokoh utama, peristiwa dan tokoh sejarah yang sesungguhnya hanya berkedudukan sebagai latar belakang atau tokoh pelengkap .

Roro Mendut juga seperti itu, menggunakan tokoh fiktif sebagai tokoh utama. Nama Wiroguno tak terdapat pada daftar nama panglima Sultan Agung dalam fakta, begitu pula nama Roro Mendut . Oleh karena itu Subang Zamrud Nurhayati yang juga berlatar masa pemerintahan Sultan Agung tak menyebut Wiroguno sebagai salah satu tumenggung Sultan Agung.

Novel sejarah, karena menceritakan peristiwa sejarah yang penuh intrik, mau tak mau memerlukan banyak tokoh. Tokoh yang terlibat dalam sejarah akan menyebut tokoh-tokoh sejarah sebelumnya yang menjadi panutan atau contoh kegagalan. Kelima novel yang diteliti memperlihatkan jumlah tokoh yang mengesankan: katrologi Bumi Manusia mempunyai 345 tokoh, Arok Dedes 171, Roro Mendut 85 , Subang Zamrud Nurhayati 94 , dan Perlawanan Rakyat Sigi yang tipis 22 tokoh. Jumlah tersebut melebihi jumlah tokoh dalam novel detektif yang memerlukan tokoh-tokoh yang mencurigakan untuk menyesatkan pembaca.

Juga adanya sisipan teks sejarah yang bersifat metasejarah (menjelaskan sejarah) berupa sileps atau lebih panjang daripada sebuah sileps yang amat ringkas itu. Bumi Manusia dan Arok Dedes memperlihatkan sisipan semacam itu dalam jumlah yang berlimpah.

Alur Tunggul Ametung terpotong-potong oleh banyak alur lain, alur Mpu Parwa, alur para brahmana yang lain, alur Lohgawe, Kebo Ijo dan tentu saja alur Arok dan alur-alur kecil tokoh-tokoh lain. Alur Minke, tokoh utama dalam katrologi Bumi Manusia, diselingi oleh alur Nyai Ontosoroh, Annelies, Mellema ayah dan anak, dan banyak alur lain, bahkan kemudian diambil alih oleh alur Pangemanann yang juga berisi alur-alur atau potongan alur lain. Dalam novel sejarah yang lebih sederhana seperti Subang Zamrud dan Roro Mendut, juga Perlawanan Rakyat Sigi, alur-alur sisipan semacam itu, yang merujuk pada peristiwa sejarah yang terjadi sebelumnya, juga ditemukan.

Warna realis yang kuat diperlihatkan oleh katrologi Bumi Manusia, yang ditimbulkan oleh deskripsi dan jumlah tokoh yang amat banyak; terdapat 345 tokoh dalam novel tersebut. Tokoh-tokoh dari berbagai lapisan masyarakat, berbagai kebangsaan dan etni, dengan kehidupan yang berbeda-beda ditampilkan, seperti dalam kehidupan nyata. Tokoh-tokoh yang terlibat peristiwa-peristiwa sejarah yang penting juga disebutkan, meskipun tak terlibat dalam cerita utama. Dan tokoh-tokoh utamanya, meskipun tak selalu mendapat uraian, ditampilkan secara penuh dalam berbagai kegiatan dan situasi. Selain itu disisipkan pula tokoh-tokoh dari masa-masa sebelumnya.

Kesan erotis dan fantastik yang kuat ada pada Subang Zamrud Nurhayati, yang menceritakan kisah cinta yang tragis antara seorang panglima utusan Sultan Agung dari Mataram dengan seorang hulubalang pasukan wanita kerajaan Aceh, dengan latar belakang usaha koalasi dua kerajaan untuk mengusir Belanda dari bumi Indonesia. Adegan-adegan erotis yang agak panjang cukup banyak berulang dalam novel tersebut dan menjadi daya tarik utama.

Dan adegan-adegan tersebut selalu diawali oleh gosokan pada sebuah cincin keramat. Benda itulah yang menimbulkan peristiwa-peristiwa fantastik pada pemiliknya. Cincin itu sebelumnya adalah milik Cleopatra dan Marc Atonius, yang kemudian secara ajaib dihibahkan kepada semua kekasih terkenal di dunia. Ruang-ruang dalam novel tersebut juga mendapat sentuhan fantastik melalui detil dan deskripsi verbalnya. Alur juga diawali oleh suatu peristiwa fantastik: sang penutur dari abad XX dalam tak sadar masuk ke abad XVII dan menjadi panglima Sultan Agung.

Roro Mendut juga mengalir progresif dalam irama yang lamban, mengisahkan perjalanan Mendut sebagai tawanan Tumenggung Wiroguno di Mataram sampai dia mati tertusuk keris sang panglima ketika mereka ditemukan dalam pelarian mereka. Peristiwa-peristiwa besar seperti penyerangan kadipaten Pathi, pembunuhan, hanya sedikit, di bagian awal dan akhir novel saja. Terbanyak adalah peristiwa-peristiwa kecil dan pribadi diselingi banyak deskripsi. Tak banyak sorot balik. Peristiwa-peristiwa mental semacam merenung, teringat, terkenang, melamun banyak sekali berulang mewarnai buku tersebut. Dan yang ditonjolkan adalah kegalauan perasaan sang Tumenggung yang mengalami masa tua

Mengingat pentingnya novel sejarah untuk memberi akar pada bangsa, apalagi menghadapi globalisasi budaya, pemerintah sebaiknya mendorong penulisan novel sejarah dengan jalan memberi hadiah pada novel sejarah terbaik, menyelenggarakan perlombaan penulisan novel sejarah, kritik terbaik atas novel sejarah, dan di atas segalanya memberi tempat penting pada pelajaran sejarah, meningkatkan mutunya, sejak sekolah dasar sampai dengan universitas, sesuai dengan tingkatan dan kebutuhan masing-masing bidang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s