Mengharap Pusat Arsip Film

Dalam tempo sekitar sepuluh tahun, dijamin filem berwarna akan rusak gambarnya kalau tidak disimpan secara memadai. Copy terakhir filem Asrul Sani “Apa yang Kau Cari Palupi?”, pemenang Festival Film Asia 1970, kini warna gambarnya sudah kemerah- merahan.

Ternyata unsur-unsur kimia yang melapisi seluloid itu tidak ambil pusing, bahwa filem ini amat penting bagi Indonesia dan bahwa itulah copy satu-satunya yang masih tinggal, karena negatif filemnya sudah musnah. Begitu didorong oleh kadar temperartur dan kelembaban yang tinggi, unsur-unsur kimia itu bereaksi mengusir lapisan warna kuning dan biru. Proses berikutnya adalah menghilangnya lapisan warna merah, maka lenyap pula satu warisan budaya kita. Seluloid hanya tinggal kosong-blong.

Filem-filem hitam-putih memang lebih tahan dari filem berwarna. Produksi PERFINI, yang sudah berusia 20-an tahun dan tersimpan di gudang biasa, sebagian besar masih utuh ketika dipindahkan ke penyimpanan Sinematek. Sayangnya, justru filem “Krisis”, karya Usmar Ismail yang sangat terkenal itu yang telah hancur sama sekali. Negatifnya juga lengket, karena terkena air dan didiamkan. Copy lainnya hanya tinggal potongan-potongan saja dan sedang digerogoti jamur, tumbuhan dari filem.

Di tiap negeri selalu hanya ada satu saja arsip filem induk. Di situ terhimpun semua arsip pokok yang menyangkut filem. Pengkhususan begini memang tidak bisa dihindarkan oleh negeri yang sudah memandang arsip sebagai hal yang sungguh-sungguh penting. Karena arsip khusus akan sempat menaruh perhatian terhadap yang berkecil-kecil di bidang garapannya.

Seperti potongan-potongan filem yang semula mungkin tidak akan berarti sebagai arsip umum, atau bahkan selebaran bioskop yang sama sekali tidak bermutu sebagai barang cetakan. Memang, “Imperial War Museum” Inggris punya juga bagian arsip filem, yakni khusus menyimpan dokumentasi filem perang saja. Dokumentasi mengenai filem dan perfileman yang umum terhimpun di British Film Archive. Museum Tropen di Den Haag menyerahkan koleksi filemnya untuk diarsipkan dan dikelola oleh Nederlands Filmmuseum, Amsterdam [sekarang EYE Filmmuseum].

Maka di situ kita bisa menyaksikan rekaman filem dari “dolanan” anak Sunda tahun 1920-an, atau ingin nonton filem cerita “Pareh” (1935) yang dibintangi oleh RD Mochtar untuk pertama kalinya main filem, atau menyaksikan karya sutradara Belanda yang baik.

Maka itu, alangkah baiknya kalau dari sekarang ini aneka ragam filem yang diproduksi oleh berbagai Departemen/lnstansi bisa dihimpun pengarsipannya di Sinematek Indonesia. Paling tidak negatifnya.

Mungkin filem penyuluhan Keluarga Berencana atau cara membiakkan katak beberapa tahun kemudian dianggap kadaluwarsa dan dinilai lebih tepat dibuang saja, tapi setelah berada dalam arsip Sinematek sekian puluh tahun memiliki nilai yang tinggi sebagai bahan studi. Bahkan kumpulan kertas selebaran program bioskop ternyata bisa dijadikan salah satu acuan studi tentang perkembangan selera penonton.

Dengan adanya pemusatan arsip akan sangat memudahkan bagi para peneliti. Maka itu pula kemudian sinematek bisa menjadi pusat pertemuan berbagai pihak dan kepentingan. Karena ternyata filem bisa menjadi sumber penelitian bagi berbagai disiplin ilmu. Dan persentuhan yang terjadi dengan orang filem di situ memperkaya cakrawala percaturan budaya filem kita. Dalam skala kecil, gambaran harapan itu sudah bisa dilihat di Sinematek kita sekarang ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s