MENENGOK BIOSKOP DI SOLO TEMPO DOELOE

Pertunjukan bioskop pada tahun 1914 sudah menjadi tontonan umum di Surakarta. Bioskop dapat dilihat lewat pertunjukan keliling di alun-alun, baik pada bulan-bulan biasa atau pada musim sekaten. Selain di alun-alun, juga diselenggarakan di Schouwburg, sebuah gedung pertunjukan untuk orang-orang Eropa, atau di Taman Sriwedari. Bioskop mewakili seluruh budaya baru, budaya kota yang tumbuh di Surakarta.

Gedung Bioskop Schouwburg terletak di pusat keramaian kota. Keramaian kota itu terletak antara perempatan Pasar Gede, Bank Indonesia, Kantor Pos, Balai Kota. Kehidupan orang Surakarta yang menyukai hidup santai, menikmati semua hiburan mulai dari tari bergerak sampai bioskop. Awal perkembangan film terjadi di Schouwburg. Hiburan menjadi perilaku orang Surakarta yang menyukai kehidupan di malam hari, sehingga Pemerintah Kota memandang perlu untuk memadai masyarakat yang haus hiburan. Akhirnya bermunculan bioskop dari pinggiran, menengah, sampai tengah kota. Hiburan dapat membangkitkan dan menghidupkan perekonomian masyarakat mulai dari pedagang kaki lima, penjual kaset, penjual koran, tukang becak serta warung makan. Bahkan orang-orang Cina berjualan makanan dengan memakai batu angkring orang Jawa. Konsep ini yang mengatakan bahwa Surakarta tak pernah tidur.

Munculnya Bioskop memberi pengaruh positif dan negatif bagi masyarakat kota Surakarta. Dampak positif bioskop di Surakarta yaitu masyarakat dapat mengenal tontonan baru berupa gambar hidup yang diperankan oleh manusia langsung dalam bentuk film di ruangan khusus.

Selain itu pemerintah daerah juga mendapat penghasilan tambahan dari pajak perfilman ini baik pajak tanah, gedung bangunan, dan pajak film itu sendiri. Selain dampak positif, muncul dampak negatif dari perbioskopan ini antara lain pertunjukan lain yang lebih dulu tenar tergeser, dikarenakan masyarakat lebih tertarik terhadap film daripada Wayang Orang, Ketoprak, ataupun Srimulat. Kemunculan Bioskop ini dapat menggeser tradisi lokal Surakarta, masyarakat mulai melupakan tontonan- tontonan lokal, bahkan menganggap remeh tontonan tradisional tersebut.

Berdasarkan data Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI), bahwa mulai tahun 1950 grafik produksi film dalam negari menunjukkan garis yang menanjak dari 24 judul. pada tahun 1955 mengalami kejayaan dengan menghasilkan 59 judul film. Dan di tahun 1959 produksi film menurun dan mencapai titik terendah dengan hanya 17 judul.

Ada dua perusahaan film yang sejak awal dari tahun 1955 memperlihatkan kesungguhan untuk membuat film-film baik. Setidaknya nampak dari tema dan isi ceritanya. Sebagai perusahaan yang bernaung dibawah Kementrian penerangan dan mempunyai misi untuk memberi penerangan dan pendidikan rakyat, yaitu Perusahaan Film Negara (PFN) dan Perusahaan Film Nasional Indonesia (PERFINI) yang berdiri secara swasta.

PFN berusaha membuat film-film yang mengandung unsur-unsur penerangan dan pendidikan berusaha menampilkan film-film itu sebagai karya seni. Maksud dan tujuan jelas tercermin dari judul-judulnya. Misalnya: 1) film “Jiwa Pemuda” (1951), dengan Bactiar Effendi sebagai sutradara dan R. Sukarno, Noorhasanah dan Djauhari Effendi sebagai pemain, 2) “Rakyat Memilih” (1951) disutradari oleh R. Arifin dengan Chatir Harro, Ida Prijatni sebagai pemain, 3) “Antara Tugas Dan Cinta” (1952) disutradarai oleh Bactiar Effendi dan Titin Sumarni sebagai salah seorang pemain, 4) “Si Pincang” (1952) disutradarai oleh Kotot Sukardi, 5) “Mardi and The Monkay” (1952) disutradarai oleh Key Mander, menyangkut dunia anak-anak dengan segi-segi sosiologi, 6) “Kopral Jono” (1954) disutradarai oleh Basuki Effendi dan dibintangi oleh R. Sukarno dan Arati, dan 7) “Jayaprana” (1955) adalah sebuah cerita Rakyat Bali, disutradarai oleh Kotot Sukardi.

Salah satu bioskop tahun 1914 adalah Schowburg. Bentuk bioskop ini barupa lanyar tancap, yang oleh warga disebut gambar sorot atau gambar hidup. Filmnya bisu, hanya gambar bergerak. Mereka hanya menyaksikan gambar yang disorotkan dari proyektor ke layar. Lantas, pemilik layar tancap menyediakan sebuah orgel-elektrik besar sebagai instrumen pengiring gambar-gambar bisu yang ditampilkan. Jika hujan datang, penonton seketika bubar menyelamatkan diri dari guyuran air hujan.

Tidak lama kemudian muncullah bioskop tenda keliling. Bagi yang hendak menonton, harus membayar ongkos karcis sebesar 10-15 sen. Penduduk menamakannya “bioskop pes”. Pasalnya, film yang diputar tentang penyakit pes di pedesaan. Film ini sengaja dikampanyekan atas instruksi pemerintah Belanda untuk memberi pengetahuan kepada masyarakat agar membiasakan hidup sehat
dan bersih biar terhindar wabah pes, lantaran penyakit ini meneror penduduk.

Tenda bioskop dihias sedemikian rupa dengan dekorasi bendera dan umbul- umbul. Salah satu sisi bagian dalam tenda terpampang sebuah layar besar di mana gambar idoep diproyeksikan. Sisi-sisi lainnya ditempeli poster-poster film unggulan yang hendak diputar. Lantai tenda dilapisi vloer dan alas semacam tikar. Meski sarana pertunjukan film terbilang masih sederhana.

Dari malam ke malam bioskop terus memperoleh animo yang baik dan selalu penuh penonton. Rasa penasaran orang atas film-film yang akan dipertunjukkan seolah tak kunjung reda. Saat cuaca kering maupun hujan, setiap malam orang-orang berbondong ke Alun-alun dan segera memenuhi tenda bioskop. Saat itu bioskop lazim tampil sebagai bagian dari sebuah gedung kesenian. Film dalam bioskop ialah salah satu bentuk pertunjukan yang ditawarkan di roemah koemedie, di samping pertunjukan konvensional seperti koemedie stamboel, tonil, dan konser orkes musik.

Tahun 1950-1979 merebak belasan bioskop di Kota Bengawan. Antara lain, Bioskop Star di Widuran, Dhady Theatre dan Ura Patria (UP) Theatre di Pasar Pon, Galaxy Theatre di jalan Perintis Kemerdekaan (Purwosari), Solo Theatre di Sriwedari, Nusukan Theatre di Nusukan, Regent Theatre di Jalan Veteran, Golden Theatre di Wingko, Bioskop Trisakti, President Theatre, dan Rama Theatre (sebelah Barat Panggung Jebres), serta Bioskop Kartika di Beteng. Iklan film dilakukan dengan memasang papan yang bertuliskan nama bioskop dan jam main filmnya di titik-titik wilayah yang strategis. Di bawahnya ada lembaran tulisan yang berisi judul film, nama aktor dan artisnya. Selain itu, pihak bioskop juga mengiklankan dengan menggunakan mobil berkeliling kota. Bagian depan mobil diselimuti kain gambar film dan dilengkapi corong untuk menyiarkan judul dan bintang film.

Tahun 1950-1979 merebak belasan bioskop di Kota Bengawan, antara lain, Bioskop Star di Widuran, Dhady Theatre dan Ura Patria (UP) Theatre di Pasar Pon, Galaxy Theatre di jalan Perintis Kemerdekaan (Purwosari), Solo Theatre di Sriwedari, Nusukan Theatre di Nusukan, Regent Theatre di Jalan Veteran, Golden Theatre di Wingko, Bioskop Trisakti, President Theatre, dan Rama Theatre (sebelah Barat Panggung Jebres), serta Bioskop Kartika di Beteng.

Bioskop Ura Patria (UP) berdri tahun 1950. Terletak di sebalah barat utara perempatan pasar Pon di jalan, Brigjen Slamet Riyadi No 100 Solo . Pada waktu dahulu sebelum manjadi gedung bioskop, merupakan gedung kesenian jawa atau gedung ketoprak yang diberi nama “Gedung Sono Harsono”. Film-film yang sering diputar kebanyakan juga film barat yang merupakan film besar. Seperti “Gian” yang artinya raksasa, film itu menggambarkan penambangan atau pengeboran minyak tanah pada waktu dahulu di Amerika Serikat.

Kisah berdirinya bioskop ini dilatarbelakangi rasa ingin menyumbang hiburan untuk masyarakat Surakarta. Selain itu munculnya inisiatif tersebut dikarenakan ada suara-suara dari tentara Belanda bahwa yang dapat mendirikan bioskop hanyalah orang Belanda, sementara rakyat Indonesia hanya sebagai kuli. Hal ini yang menjadi tantangan untuk mendirikan bioskop oleh para tunas Tentara Pembangunan.

Bioskop Dhady Theatre beralamat di Jalan Slamet Riyadi Nomor 96. Tempatnya di sebelah utara Timur perempatan Pasar Pon. Pada waktu dahulu, sebelum dijadikan gedung bioskop, gedung itu menjadi gedung pertunjukan kasenian tradisional yang namanya “Tonil Stik” yang dipertunjukkan adalah tari-tarian anak-anak, termasuk Koor atau nyanyi-nyanyian dan juga dagelan.

Bioskop Dhady Theatre berdiri sejak tanggal 27 Desember 1951. Pemilik dari bioskop ini adalah R. Sudarsono. Wakijan BA bertanggung jawab atas bioskop ini karena pemilik bioskop tinggal di Jakarta. Dhady Theatre bergabung dengan GPBSI pada tahun 1952. Tahun 1979 terdapat dua klas, dengan klas satu ada enam ratus (600) jumlah seats atau kursi, dan klas dua dua ratus (200) kursi.

Bioskop Trisakti Theatre terletak di Jalan Sraten Nomor 91 Surakarta. Berdiri pada tanggal 15 Agustus 1968. Pemilik dan Penanggung jawab bioskop ini adalah Karsono Hadiputranto, penanggung jawab dari bioskop UP. Bioskop Trisakti bergabung dengan GPBSI pada tanggal 15 Agustus 1968. Bioskop ini berdiri di Surakarta, kemudian bergabung dengan Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI) pada tanggal 15 Agustus 1968.

Bertempat di Jalan Widuran Nomor 64. berdiri sejak tanggal 22 Desember 1970. Sama Seperti Bioskop Trisakti Theatre, Bioskop Star Theatre bergabung menjadi anggota GPBSI pada saat berdiri yaitu tanggal 22 Desember 1970. Pemilik dari bioskop ini adalah Danurahardjo Sutandio, sedangkan yang bertanggung jawab adalah Mulyadi.

Bioskop Solo Theatre terletak di Jalan Slamet Riyadi Nomor 235b. Berdiri pada tanggal 7 September 1972. pemilik dari bioskop ini adalah PT. Sanggar Film Semarang, dengan Ananto Pratikyo BS sebagai penangung jawab bioskop ini. Solo Theatre bergabung dengan GPBSI pada tanggal 23 September 1972. Bioskop ini merupakan bioskop golongan “A” di Surakarta, dengan dua klas yaitu klas satu sebanyak enam ratus tiga puluh lima (635) kursi, dan klas dua sebanyak seratus enam puluh lima (165) kursi.

Bioskop New Fajar Theater  berdiri pada tanggal 1 Juni 1973, kemudian bergabung dengan GPBSI pada tanggal yang sama pula yaitu tanggal 1 Juni 1973. Pemilik dan penanggung jawab bioskop ini bernama Iswahyuya. Ini merupakan bioskop golongan “A”. Bioskop ini terdiri dari dua klas, yaitu klas satu terdapat empat ratus (400) kursi, dan klas dua terdapat dua ratus (200) kursi.

Bioskop Nusukan Theatre terletak di Jalan Nusukan Surakarta. Bioskop ini berdiri pada bulan November 1974. ini termasuk bioskop golongan “C” di Surakarta. Terdapat satu klas, yaitu klas tiga yang tiga ratus (300) kursi. Penanggung jawab dari bioskop ini bernama Soedibyo Soedjarwadi. Bergabung dengan GPBSI pada tanggal 16 Januari 1975.

Tahun 1977 Solo Theatre adalah bioskop dengan jumlah penonton terbanyak di Surakarta. Diikuti oleh Dhady Theatre urutan kedua dan Nusukan Theatre urutan ketiga dengan sepuluh ribu enam puluh empat (10064) penonton. Sementara bioskop dengan jumlah terendah di Surakarta ada di Kartika Theatre, New Jaya Theatre, dan Presiden Theatre.

Di Surakarta, film-film bagus atau baru akan ditanyangkan di bioskop golongan “A” seperti Presiden Theatre, New Fajar Theatre, Dhedy Theatre, Star Theatre, Solo Theatre, UP Theatre. Sementara bioskop-bioskop golongan “B” dan “C” harus setia menanti giliran pemutaran film dari bioskop golongan “A” tersebut. Banyak penonton yang sudah menonton film di Bioskop golongan “A” malas untuk menonton lagi di bioskop golongan “B” dan “C’ Hal ini yang akhirnya menyebabkan banyak bioskop di Surakarta bangkrut, karena bioskop tersebut tetap harus membayar pajak tontonan, pajak gedung, sementara penghasilan mereka kurang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s