MEMOTRET SEJARAH BANGSA MELALUI FILM

image-10

Kondisi sosial Indonesia setelah reformasi tahun 1998 tak hanya bisa ditilik dari persaingan elite politik, tetapi juga dari budaya populer yang berkembang di kalangan orang-orang biasa. Setelah rezim Orde Baru runtuh, identitas keindonesiaan diekspresikan dengan sangat beragam, termasuk lewat budaya populer.

Ariel Heryanto merupakan intelektual Indonesia yang saat ini menjadi profesor di School of Culture, History and Language The Australian National University. Buku Identitas dan Kenikmatan pertama kali ditulis dalam bahasa Inggris (terbit tahun 2014). Versi Indonesia buku tersebut merupakan terjemahan kritikus film Eric Sasono dan diterbitkan Kepustakaan Populer Gramedia (Juni 2015).

Dalam buku itu, Ariel membahas upaya kaum menengah muda perkotaan Indonesia dalam merumuskan ulang identitas pada dekade pertama abad ke-21. Kajiannya berfokus pada budaya populer, khususnya budaya layar, yakni produk-produk sinema, televisi, internet, dan media sosial.

Buku mengupas kebangkitan kekuatan politik Islam, tragedi tahun 1965, persoalan keturunan Tionghoa, serta fenomena budaya K-pop. Ariel banyak merujuk film-film populer, semisal Ayat-ayat Cinta, Perempuan Berkalung Sorban, dan Jagal.

Menurut Ariel, budaya populer penting dikaji untuk memahami keanekaragaman ekspresi dan identitas setelah Orde Baru runtuh. Saat rezim itu masih tegak, identitas keindonesiaan selalu ditentukan penguasa. Saat Orde Baru lenyap, seluruh dogma yang diciptakannya ikut runtuh.

Kini, tidak ada kekuasaan dominan yang bisa menggantikan produksi pengetahuan dominan setelah keruntuhan Orde Baru. “Kita menemukan upaya-upaya yang sangat majemuk dalam mendefinisikan apa arti menjadi Indonesia. Upaya itu tecermin dalam budaya populer,” katanya.

Karena bisa menjangkau sebagian besar penduduk, budaya populer juga menjadi arena pertempuran ideologi guna mencapai posisi hegemonis dalam kekosongan kekuasaan bangsa.

Kemunculan dan maraknya produksi film Indonesia bertemakan Islam merupakan topik bahasan menarik. Dalam bukunya yang terbaru, tema ini dikupas Ariel Heryanto dalam dua bab. Ariel antara lain membahas soal Islamisasi dalam budaya populer (budaya layar) pada dekade pertama abad ke-21.

Topik Islamisasi dalam dunia perfilman Indonesia juga menjadi bahasan Eric Sasono pada ”Film-film Indonesia Bertema Islam Dewasa Ini: Jualan Agama atau Islamisasi?” yang terdapat dalam buku Mau Dibawa ke Mana Sinema Kita: Beberapa Wacana Seputar Film Indonesia (Salemba Humanika, 2010).

Mengawali tulisannya, Eric mempertanyakan fenomena maraknya film Indonesia bertemakan Islam, apakah itu merupakan komodifikasi agama atau Islamisasi? Apakah agama dijadikan barang dagangan sehingga pasar memengaruhi agama dan agama kehilangan makna? Atau agama yang sakral didistribusikan dan dikonsumsi lewat mekanisme pasar sebagai upaya untuk bertahan dari gempuran konsumsi global kontemporer? (hal 58).

Bagi Eric, film bertema Islam lebih dari sekadar komodifikasi agama. Dengan menelusuri film-film bertema Islam pada masa Orde Baru dan setelah Orde Baru, Eric memperlihatkan hubungan komodifikasi dengan agama bukan proses yang mudah. Pada era Orde Baru, komodifikasi agama tidak menjadi perhatian umat Muslim. Pada masa itu, tema-tema film Islami dipenuhi dengan wacana pembangunan. Penggambaran Muslim dan Islam lebih banyak dikaitkan dengan isu sosial politik.

Adapun setelah Orde Baru, film digunakan untuk mempromosikan spektrum Islam yang lebih luas dengan segala aspek komersialnya. Didorong oleh masifnya budaya konsumerisme, pasar menuntut agar identitas agama dimasukkan menjadi sebuah kekuatan produk sehingga film juga harus dapat mencerminkan berbagai model kereligiusan.

Pada awal masa Orde Baru, rezim estetikanya memuja segala yang serba samar, seperti dunia politik, hingga muncul seni lukis abstrak. Ada kesan, makin sulit dipahami makin bagus suatu karya. Gaya abstrak ini diimbangi ?dengan lirisisme sehingga seniman menumpahkan emosinya dan merekam kehidupan jiwanya. Hal tersebut terjadi pada seni rupa dan sastra, yang melahirkan penyair seperti Sapardi Djoko Damono.

Berkembang pula ekspresionisme ?ala Soedjojono dan Hendra Gunawan, yang memandang lukisan sebagai jiwa yang kelihatan (jiwa kethok). Soedjojono tidak hanya mengejar kebagusan, tetapi juga kebenaran.

Pada masa Orde Baru, seni juga interaktif dan merespons lingkungan seperti seni jalanan. Seni makin “merampas” semua elemen dari beragam disiplin ilmu, seperti budaya populer, iklan, berita, sastra, hingga arsitektur. Seni bisa eksis di luar forum tradisional pameran, digelar di ruang publik, lokasi spesifik seperti di atas Planetarium, dan situs-situs nonseni. Di bidang sastra muncul puisi “mbeling” oleh Remy Sylado.

Menurut Ariel, periode ini seolah memberikan harapan akan adanya kebebasan, tetapi di dalamnya juga mengandung sejumlah kekhawatiran, baik itu yang menyangkut mengemukanya Islam politik di Indonesia, perdebatan publik terkait pelanggaran hak asasi manusia masa lalu, keterbelahan para elite politik, naiknya gengsi perekonomian negara-negara Asia, maupun revolusi komunikasi digital. Dengan kerangka inilah, Ariel memotret dengan hati-hati, kaya akan data, serta mengajukan pelbagai pertanyaan serius yang menyangkut bagaimana film-film Indonesia masa kini diproduksi, didistribusikan, dan diberi makna para penontonnya.

Ariel mengingatkan kita bahwa sejarah menunjukkan Indonesia memiliki kekayaan manusia-manusia kreatif, tetapi turbulensi politik membuat sejumlah manusia kreatif ini disingkirkan oleh kelompok pemenang dalam masa pertengahan 1960-an. Kelompok yang menang dan membuat modernisasi di Indonesia menyingkirkan para manusia kreatif itu dalam catatan sejarah resmi dan dalam ingatan publik.

Tingkat kreatifitas dalam bentuk film misalnya dapat dibuktikan dengan data tahun 2014 walaupun belum menyentuh semangat kebudayaan yang diinginkan.

Laporan dari Kamar Dagang dan Industri Indonesia menyebutkan, pada 2014 setidaknya terdapat 257 film asing masuk ke Indonesia. Sementara produksi film nasional pada tahun yang sama sebanyak 126 judul. Hal ini berarti terdapat 383 judul film yang diputar di bioskop selama setahun. Bisa dikatakan hampir setiap hari ada film baru yang diputar di bioskop Indonesia.

Meski demikian, banyaknya judul film yang tersaji belum menarik animo masyarakat yang tinggi untuk menonton ke bioskop. Hasil jajak pendapat yang dilakukan Kompas minggu lalu menunjukkan hal demikian. Mayoritas responden (60 persen) mengatakan, frekuensi mereka pergi menonton ke bioskop tidak tentu. Belum tentu sekali dalam seminggu, belum tentu pula sekali dalam sebulan. Kesempatan menonton memang tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan dana, tetapi juga ketersediaan waktu luang dan faktor lain.

Hasil jajak pendapat juga memperlihatkan, film-film yang banyak digemari masih didominasi film asing, terutama dari Amerika Serikat atau Eropa. Hal ini diungkapkan oleh lebih dari separuh responden (55 persen). Pilihan film lain yang ditonton responden adalah film nasional (24,5 persen) dan film Asia (11 persen).

Pada bab-bab berikut, Ariel kemudian memotret bagaimana (post-)Islamisasi juga menjadi konsep yang masuk dalam film Indonesia dan berkembang serta memunculkan adanya kontestasi apa yang dianggap sebagai ”film Islam Indonesia”, apakah itu dalam bentuk karya-karya dari sutradara Hanung Bramantyo, ataupun karya sutradara lain, seperti Chaerul Umam dan Deddy Mizwar.

(Post-)Islamisasi di layar kaca ternyata bukanlah realitas yang terpisah dengan fenomena yang ada dalam kehidupan sehari-hari di Indonesia. Sejumlah film Hanung Bramantyo mendapatkan respons yang beragam di masyarakat, baik pujian maupun cercaan. Mulai dari film Ayat-ayat Cinta, Perempuan Berkalung Sorban, hingga ?.

Sejumlah film Hanung mendapat respons keras dari kelompok yang menganggap film itu justru mencemarkan nama Islam. Salah satunya film ? yang sempat beredar beberapa minggu, yang membuat kelompok radikal meminta film ini dicabut dari peredarannya di bioskop karena sejumlah adegan yang menurut mereka tidak pantas (hlm 71).

Kontestasi lain yang disorot Ariel adalah film-film yang menyangkut tema peristiwa tahun 1965. Film yang dibahas Ariel di sini merupakan film layar lebar dan sejumlah film dokumenter yang mulai berkembang pada masa setelah tahun 1998. Ariel mencatat ada kemajuan bahwa film layar lebar mulai berani mengangkat peristiwa 1965 sebagai latar dari film yang dibuat, antara lain film Gie dan Sang Penari. Namun, film-film ini dianggapnya tak berani mengangkat pokok perkara soal konflik pada tahun 1965 (dan masa sesudahnya) sebagai bahasan utama filmnya. Peristiwa tahun 1965 tak lebih dari sekadar setting atau latar belakang tanpa keberanian mengeksplorasi lebih jauh, ataupun mempertanyakan ”sejarah resmi” yang telah beredar selama ini.

Di antara melimpahnya produksi film pada era pasca 1998, keberanian dan gugatan serius atas peristiwa tahun 1965 justru ditunjukkan para pembuat film dokumenter. Misalnya, film Menyemai Terang dalam Kelam,Perempuan yang Tertuduh, Bunga Tembok, Jembatan Bacem, dan Sinengker: Sesuatu yang Dirahasiakan. Kemunculan film dokumenter ini didahului dengan hadirnya film dokumenter karya sutradara luar negeri, seperti Shadow Play, Terlena: Breaking of a Nation, 40 Years of Silence, The Women and the Generals, juga yang paling terkenal Act of Killing–belakangan juga muncul Senyap–karya sutradara Joshua Oppenheimer.

Ariel dengan jeli membahas film tersebut satu per satu, dan ia memberikan kritik pada setting yang dipergunakan masing-masing film, narasi yang disampaikan, penggambaran dalam film, hingga logika internal dalam film tersebut. Ariel membedakan film-film ini dalam tiga jenis dilihat dari siapa yang memproduksinya. Pertama, Lembaga Kreativitas Kemanusiaan pimpinan Putu Oka Sukanta—mantan anggota LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakyat) yang dilarang pasca tahun 1965. Kedua, produser dari kalangan lembaga swadaya masyarakat (LSM). Ketiga, produser dari kalangan perfilman profesional.

Ariel mengatakan, film Sang Penari, misalnya, adalah film yang berani mengambil posisi dari korban langsung peristiwa 1965 walaupun pada akhirnya film ini tak berani menggugat sejarah resmi Orde Baru yang mengambinghitamkan kelompok komunis dalam peristiwa penculikan para jenderal. Sebaliknya, Ariel memberikan pujian khusus pada film dokumenter karya Lexy Rambadeta berjudul Mass Grave yang menurut dia berani menusuk ke jantung persoalan peristiwa tahun 1965 saat terjadi pembantaian massal di sejumlah tempat di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Film Mass Grave mendokumentasikan bagaimana proses sejumlah korban peristiwa 1965 mencari kuburan massal dari anggota keluarga atau teman mereka. Yang tragis adalah dalam film juga ditunjukkan penolakan sekelompok masyarakat kepada kelompok ini untuk menguburkan kembali jasad mereka yang ditemukan dari kuburan massal tersebut. Tak heran jika untuk bab ini Ariel menyebut sebagai ”kontestasi yang tak pernah berakhir”.

Di luar topik di atas, Ariel pun membahas tentang bagaimana kelompok masyarakat minoritas—semisal kelompok masyarakat Tionghoa—juga menjadi problematis dalam tampilan film Indonesia. Namun, kondisi ini membaik pada dekade pertama abad ke-21 ketika tampilan tentang kelompok Tionghoa dalam film Indonesia tak mengulang stereotip yang telah didengungkan di zaman Orde Baru sebagai kelompok masyarakat yang terpisah, menguasai ekonomi, dan dianggap apolitis. Bahasan lain oleh Ariel menyangkut fenomena K-Pop di Indonesia dan gejala ”Asianisasi” dalam konteks budaya populer global.

Ada dua kesalahan kecil yang rasanya perlu disampaikan di sini, yaitu tentang kelompok Elsham yang disebut sebagai produser dua film dokumenter: Bunga Tembok dan Jembatan Bacem. Yang tepat, produser film itu adalah ELSAM (Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat) dan berbasis di Jakarta. Sementara kalau Elsham adalah kelompok serupa namun berbasis di Jayapura. Kesalahan kecil lain yang menyangkut penulisan nama sutradara dari film Puisi Tak Terkuburkan. Orang di Indonesia lebih akrab mengenal sutradara ini dengan nama Garin Nugroho.

Di luar kesalahan kecil tadi, buku ini sangat menarik dibaca dan juga kaya dengan data, serta dibungkus dengan kerangka pemikiran yang kuat dan juga kritis. Tak hanya mereka yang minat pada dunia film yang akan merasakan manfaat buku ini. Mereka yang ingin memotret sejarah bangsa Indonesia lewat film juga akan melihatnya sangat berguna.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s