Film Jelek” Film Bagus

Keterlibatan kaum terpelajar dalam dunia filem Indonesia sangat diperlukan bila mutu filem Indonesia diharapkan lebih baik daripada saat ini. Dari awal, filem Indonesia tidak pernah bisa menjangkau kelas menengah dan kaum terpelajar. Hal ini terlihat pada tahun 1926-1937, filem-filem Indonesia yang dibuat tidak mendapatkan cukup peminat dari kelas menengah. Perlu diingat bahwa kaum terpelajar pada saat itu kebanyakan berpendidikan Belanda, dan sudah sering menonton filem luar negeri. Sementara itu, filem Indonesia dibuat oleh pedagang kelontong yang tidak mempunyai latar belakang budaya yang dapat memenuhi selera kaum terpelajar. Kaum terpelajar sama sekali tidak toleran terhadap filem Indonesia. Akibatnya, orang-orang filem memutuskan untuk mencari audience dari kelas bawah.

Pada tahun 1950-an, tampaknya keadaan berbalik sama sekali. Perang telah membawa bermacam-macam perubahan. Kelas menengah seperti Aryati, yang berpendidikan MULO diajak main filem. Keadaan ini sebetulnya dimulai pada zaman Jepang, yakni saat Jepang melihat filem sebagai media yang ampuh untuk propaganda, dan kemudian melibatkan kaum terpelajar dalam pembuatan filem, sehingga muncul berbagai filem yang berbau propaganda.

Pada awal revolusi, orientasi tentang filem mulai berubah. Saat itu, mulai dikenal konsep Film Nasional, yang diperkenalkan oleh Usmar Ismail. Usmar dan teman-temanlah yang setuju bahwa filem-filem yang mereka buat merupakan ekspresi kesenian dan intelektual mereka; dan cita-cita mereka adalah melahirkan filem-filem yang mempunyai kepribadian bangsa. Saat itulah saya anggap sebagai dimulainya Sejarah Film Nasional. Di luar Usmar, orang belum menangkap cita-cita ini.

Pada saat itu, perusahaan-perusahaan filem milik Cina, yang dulu sebelum perang, sempat gulung tikar kemudian hidup kembali. Ini disebabkan orang-orang Indonesia, dengan diliputi semangat nasionalisme yang menggebu-gebu dan suasana kemerdekaan, berbondong-bondong menonton filem Indonesia. Filem-filem apa saja, asalkan buatan dalam negeri, harus ditonton. Perusahaan-perusahaan ini kembali membuat filem-filem Indonesia dengan tema-tema revolusi, walaupun konsepnya masih saja filem hiburan.

Filem-filem Usmar, seperti Darah dan Doa (judul bahasa Inggrisnya Long March) dan Enam Djam di Jogja mendapatkan sambutan yang baik dari masyarakat. Tetapi kemudian, bangsa Indonesia yang baru merdeka ini, tidak sabar menunggu perkembangan. Tahun 1952, orang mulai “geregetan”. Sudah merdeka, kok filemnya masih jelek-jelek melulu. Kejengkelan ini sebetulnya bukan semata-mata kepada filem Indonesia, tetapi pada semua situasi ketika itu; kemudian banyak serangan kepada filem kita.

Kalangan terpelajar dan kelas menengah menulis di surat kabar lewat surat pembaca atau artikel, mencerca dan bahkan ada yang menulis bahwa filem Indonesia hanya patut dilihat oleh orang-orang yang tinggal di kebon. Orang-orang filem terkejut, lalu berusaha mendekati kemauan kalangan terpelajar Indonesia. Ada usaha membuat filem-filem yang berisi sedikit mengenai masalah-masalah kebangsaan. Inilah usaha mereka untuk dapat disebut membuat filem-filem yang berbobot. Tetapi seperti juga sebelum perang, karena pembuat filem tidak memiliki kemampuan yang memadai, bahkan teknis fotografi pun belum mahir, maka muncullah filem-filem yang ke atas tidak sampai, ke bawah kejauhan. Artinya, filem ini di bawah kurang disukai, di atas disebut kampungan. Apa yang terjadi? Sama seperti sebelum perang. Mereka meninggalkan penonton dari kelas menengah sama sekali: dan membuat filem-filem untuk kelas bawah saja. Mereka membuat filem-filem semacam cerita seribu satu malam, siluman-siluman, filem anggar, cerita-cerita perkelahian. Filem Usmar dan teman-temannya, tetap konsisten. Tetapi filem-filem itu tertutup oleh begitu banyaknya filem-filem buruk di masa itu; sehingga Usmar tidak mau mengerjakan atau membuat filem lagi.

Sebagian besar koran atau penerbitan, tidak mau lagi memuat tentang filem. Kelompok terpelajar yang membaca Indonesia Raya, tidak bisa lagi membaca tentang filem Indonesia. Filem jarang sekali muncul, sehingga kelas menengah ini sedikit sekali mendapatkan gambaran tentang filem. Mereka hanya tahu puncak-puncaknya saja, atau yang baik sekali, atau yang buruk sekali. Tentang situasi di dunia filem itu sendiri: kenapa terjadi demikian, apa yang perlu dilakukan kelas menengah untuk memperbaiki situasi dan juga pengertian apa yang harus diberikan saat itu tidak ada kritik atau pembahasan. Sehingga banyak orang yang menyimpulkan bahwa filem Indonesia itu parah, tanpa mengetahui betul situasi perfileman.

Karena itu, filem Indonesia dengan sangat mudah digeser oleh filem Malaysia, apalagi filem India. Situasi seperti ini sangat merugikan bagi Usmar Ismail. Sekarang, paling tidak ada tempat untuk mengemukakan persoalan, sedangkan pada zaman Usmar, tempat itu tidak ada sama sekali. Sehingga, orang pada masa itu tidak mengenal Usmar, apa filemnya, dan apa golongan dia, nobody knows. Orang filem sedikit yang tahu tentang Usmar, orang luar mengenal dia sebagai penyair di zaman Jepang, dan sebagai tokoh filem, tetapi filemnya seperti apa, mungkin tidak pernah ditonton. Baru sekarang orang-orang menghargai filem Usmar.

Filem Indonesia kemudian dipaksa pemerintah untuk hidup kembali, tetapi pada saat itu sudah banyak perusahaan filem yang mati. Yang kemudian muncul antara tahun 1957-1965 adalah pertikaian konsep filem, bukan lagi kritik tentang filem. Masa itu merupakan era intervensi politik dalam kebudayaan. Orang-orang kiri mencoba menggunakan filem sebagai medianya, setelah gagal menggunakan media seni yang lain, dan ini mengingat seniman pada umumnya tidak mau terikat dalam satu wadah politik. Mereka mencoba memasuki filem, karena merasa lebih mudah menggunakan orang-orang filem. Tonggak-tonggak yang dianggap akan jadi penghalang, seperti Usmar Ismail dan Djamaluddin Malik disingkirkan lebih dahulu, agar filem ini bisa dijadikan terompet yang keras. Akibatnya, terjadi dua blok: blok revolusioner atau blok kiri dan blok anti revolusioner atau blok Amerika.

Setelah tahun 1965, persoalan tentang filem lain lagi. Perdebatan tentang filem tidak meneruskan perdebatan yang terdahulu, karena pada saat itu dunia filem kita sudah mati. Orang filem sudah praktis tidak ada lagi. Ada yang sudah jadi wartawan, dan macam-macam. Filem sudah dianggap penyakit, semua studio mati, bioskop yang ada tinggal 20%. Jadi masalahnya: bagaimana menghidupkan filem lagi, mulai baru lagi, karena bioskopnya juga sedikit.

Kata “berani” menjadi penekanan, kalau berani, boleh masuk, baik bagi pembuat maupun pemain filem. Generasi ini didorong oleh motif berani. Hal ini membuat sedih para perintis filem. Seyogyanya saat itu orang sudah harus mulai was-was, karena dunia filem dikuasai oleh generasi baru yang “berani”. Pada waktu itu diupayakan dua langkah, yang mungkin utopis, yaitu menyelenggarakan festival film tahun 1974, serta pendidikan dan kursus-kursus singkat untuk menambah pengetahuan orang filem, dan sekaligus menginjeksikan ideologi.

Pada mulanya, hal ini dianggap non-sense oleh kebanyakan orang, tapi ternyata sekarang sudah ada perbaikan. Secara teknis, juga kita sudah mulai baik. Bahwa dari segi wawasan kita masih miskin, harus dilihat apa dan darimana bahan mentahnya? Menurut saya harus ada langkah tambahan dari pihak lain untuk membuat filem lebih baik; yaitu dari kalangan intelektual, dunia kampus. Mereka perlu memberikan darah baru kepada dunia perfileman. Dan ini jangan dianggap non sense, tetapi sebaliknya feasible [layak], karena dengan orang-orang yang masuk ke dunia filem seperti sekarang ini pun, kita sudah bisa membuat filem-filem yang lumayan. Memang masih banyak filem yang jelek, tetapi sudah ada filem yang bagus.

Bahkan dunia internasional pun sudah menaruh perhatian pada kita. Orang filem sendiri pelan-pelan mulai menggugah dan mengusik-usik terus agar orang-orang terpelajar tidak tinggal diam. Diusahakan terus agar mencampur orang filem dengan kalangan terpelajar, dari dunia kampus, tetapi dunia kampus jangan terlalu galak, jangan apriori; sehingga banyak orang-orang baik yang masuk ke dunia filem dan membuahkan “penyakit” baru bagi orang filem.

Bisa disebut bahwa filem saat ini dipegang oleh generasi yang lahir dalam situasi yang kurang menguntungkan. Tetapi sejarah memperlihatkan kepada kita, bahwa filem itu bisa dikembangkan; mengapa tidak lebih dikembangkan lagi? Dunia filem membuka diri pada perkembangan yang ada. Dengan berisi orang-orang yang lebih berkualitas, memasukkan orang baru dan “penyakit baru”, yang tidak berkualitas tentu akan minggir sendiri. Untuk itu diperlukan pendidikan, baik formal mau pun non-formal, yang baik. Nah siapa yang harus bertanggung jawab? Jangan hanya orang filem. Kalau filem disadari sebagai media yang secara nasional penting, maka tanggung jawabnya jangan hanya diserahkan kepada orang filem saja.

Memang masih banyak filem yang jelek, tetapi sudah ada filem yang bagus. Bahkan dunia internasional pun sudah menaruh perhatian pada kita. Orang filem sendiri pelan-pelan mulai menggugah dan mengusik-usik terus agar orang-orang terpelajar tidak tinggal diam. Diusahakan terus agar mencampur orang filem dengan kalangan terpelajar, dari dunia kampus, tetapi dunia kampus jangan terlalu galak, jangan apriori; sehingga banyak orang-orang baik yang masuk ke dunia filem dan membuahkan “penyakit” baru bagi orang filem. Bisa disebut bahwa filem saat ini dipegang oleh generasi yang lahir dalam situasi yang kurang menguntungkan.

Tetapi sejarah memperlihatkan kepada kita, bahwa filem itu bisa dikembangkan; mengapa tidak lebih dikembangkan lagi? Dunia filem membuka diri pada perkembangan yang ada. Dengan berisi orang-orang yang lebih berkualitas, memasukkan orang baru dan “penyakit baru”, yang tidak berkualitas tentu akan minggir sendiri. Untuk itu diperlukan pendidikan, baik formal mau pun non-formal, yang baik. Nah siapa yang harus bertanggung jawab?

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s