Film dan Kelas Pekerja di Eropa Timur

Keberadaan kelas-kelas dan perjuangan kelas dalam masyarakat, Marx bukanlah orang pertama yang menemukan konsep ini. Dalam surat kepada kawannya Joseph Weydemeyer di New York, Marx mengatakan, “jauh sebelum aku, sejarawan borjuis telah mendeskripsikan sejarah perkembangan perjuangan di antara kelas-kelas ini…” (Phil Gasper (ed.), “The Communist Manifesto A Road Map to History’s Most Important Political Document,” Haymarket Books, 2005, hlm. 39).

Pembahasan tentang perjuangan kelas ini sangat esensial, karena menentukan maju-mundurnya dan pendek-luasnya kekuasaan kedua kelas ini. Semakin besar kekuasaan kelas buruh maka semakin mampu mereka memblok perkembangan kapital dan selanjutnya mengalahkannya di semua front perjuangan (teori, politik, dan organisasi), demikian sebaliknya. Itu sebabnya, inti dari seluruh kebijakan kapitalis adalah bagaimana mengalahkan kekuatan kelas buruh sehingga mereka semakin leluasa memperluas dan mengakumulasi kapital. Inilah mengapa memahami kelas dan perjuangan kelas merupakan esensi dari dari Marxisme.

Pada tahap ini gerakan kaum buruh tampil dalam bentuk yang terserak-serak di seluruh negeri, dan kemudian hancur karena kompetisi di antara mereka sendiri. Jika pun mereka menyatu dalam satu wadah organisasi tertentu, itu bukan karena konsekuensi dari aktivitas mereka untuk bersatu, tapi karena konsekuensi dari persatuan  kaum borjuis, yang demi mewujudkan dan mempertahankan kepentingan kelasnya maka mereka harus memaksa seluruh proletariat untuk bergerak dalam satu irama. Pada tahap ini, kaum buruh tidak melawan musuh mereka sendiri, tetapi melawan musuh dari musuh mereka, yakni sisa-sisa monarkhi absolut, tuan tanah, borjuis non-industrial, dan kelas menengah. Jadi, seluruh gerakan historis terkonsentrasi di tangannya borjuasi, setiap kemenangan yang diperoleh adalah kemenangannya borjuasi.

Namun, seturut perkembangan industri, kaum buruh turut berkembang, tidak hanya dalam hal jumlah, tapi juga kekuatannya dan kepercayaan dirinya pun semakin besar. Akibatnya, keberagaman kondisi-kondisi kehidupan dan kepentingan di antara anggota kelas pekerja semakin menyusut, terlebih ketika situasi ekonomi dalam keadaan krisis dan kompetisi di antara sesama borjuasi semakin tajam. Hal ini menyadarkan kelas buruh bahwa musuh mereka bukanlah mesin-mesin atau pabrik-pabrik, tapi kondisi kerja yang panjang dengan upah yang rendah, sehingga perjuangan kemudian diarahkan pada tuntutan: jam kerja yang pendek dan upah yang tinggi. Koalisi-koalisi yang terbentuk pun bukan lagi koalisi antara individu buruh dengan individu borjuis, tapi koalisi antar kelas untuk memenangkan kepentingan kelasnya.

Dalam kondisi dan tuntutan ini maka kemenangan mulai berpihak pada proletariat. Tetapi perjuangan memenangkan jam kerja pendek dan upah tinggi ini, hanya hanyalah kemenangan yang bersifat sementara, sangat lokalis, dan terbatas pada pabrik tertentu. Akibat perkembangan alat-alat transportasi dan komunikasi, kaum buruh kemudian mulai bisa berkomunikasi satu sama lain lebih cepat, bisa saling kontak antara stu daerah dengan daerah lain, sehingga perjuangannya tidak lagi bersifat lokal dan terbatas pada pabrik tertentu, namun semakin menasional sehingga kemudian  dimenangkannya undang-undang sepuluh jam di Inggris.

Dari kemenangan-kemenangan ini, kesadaran pekerja semakin terakumulasi menjadi kesadaran kelas, dan setiap perjuangan kelas adalah perjuangan politik. Konsekuensinya, pengorganisasian buruh sebagai sebuah kelas pada akhirnya adalah mengorganisasikan mereka ke dalam sebuah partai politik.

Keberadaan kelas pekerja memiliki sejarah panjang di Eropa Timur. Mereka menjadi aktor utama dalam pergerakan Revolusi Bolshevik dengan menurunkan kekuasaan Tsar yang sudah berkuasa berabad-abad. Sergei Eisenstein mengabadikan perjuangan heroik mereka pada filem October: Ten Days That Shook the World. Pada poster-poster, dan filem-filem era Uni Soviet, kelas pekerja digambarkan begitu heroik, hingga dibuatkan monumen, Worker and Kolkhoz Woman.

Workers Leaving the Lumière Factory yang dibuat oleh Louis Lumière tahun 1895, menampilkan buruh pria dan wanita yang berjalan dari pintu keluar pabrik dan keluar dari frame filem, menuju ke kiri dan kanan hingga tertutup pintunya. Gambaran bersejarah itu menandai sebuah cabang seni baru. Gambaran tentang pekerja ini adalah gambar bergerak tertua yang ditayangkan di layar lebar untuk masyarakat banyak. Kelas pekerja dan filem sudah menjadi sahabat sejak awal dia dibuat. Dan ketiga filem yang akan dibahas, telah melanjutkan keakraban tersebut dalam sudut pandang, regional, dan masa yang berbeda.

Ketiga filem yang ditampilkan, Earth of the Blind (1992), Factory (2004), dan Artel (2006) berada di masa yang sama, pasca-komunis yang dibuat setelah runtuhnya Uni Soviet, hanya saja rentang waktunya yang berbeda. Baik Factory dan Artel tidak memiliki selisih tahun pembuatan yang jauh, dan dibuat oleh sutradara yang sama. Dibandingkan kedua filem tersebut, Earth of the Blind dibuat 2 tahun setelah Lithuania merdeka dari Uni Soviet.

Secara teknis visual, ketiga filem ini memiliki perbedaan yang begitu mencolok, tapi sama-sama menggunakan medium 35mm. Earth of the Blind menggukanan tone color sepia dengan kontras warna yang rendah, hingga hampir menyerupai filem hitam-putih, menyebabkan filem ini terlihat seperti filem yang dibuat pada tahun 1920an, secara sengaja agar terlihat tua dan rapuh. Tidak ada dialog dalam filem ini. Suara kebanyakan diisi oleh ambience yang continous, suara kehampaan, dan suara decitan besi kursi roda, tapi tidak banyak. Pendekatan teknis visual Factory sangat berbeda dengan Earth of the Blind, kontras warnanya begitu terasa, frame statis, hampir tidak ada gerakan kecuali pada satu bidikan (shot). Lain pula dengan Artel yang menggunakan medium hitam-putih, tapi memiliki kesamaan teknis dari bidikannya yang statis. Sama dengan Earth of the Blind dan Factory, tidak ada dialog dalam Artel, suaranya menyatu dalam visual, merekam apa yang terjadi saat itu secara berkelanjutan.

Dari ketiga filem tersebut, Artel memiliki akhir yang paling optimis, dengan bergantinya musim, dan mencairnya salju, maka mendapatkan ikan tidak lagi begitu sulit, dan mereka bisa kembali menggunakan perahu terbalik yang menganggur selama musim dingin.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s