Fair Game: Intrik, Mata-Mata, dan Rumah Tangga

Baru saja menonton film “Fair Game.” Fim yang diproduksi pada tahun 2010 ini merupakan film yang menceritakan biografi seorang agen intelijen dan disutradarai oleh Doug Liman. Aktris Naomi Watts dan Sean Pane merupakan karakter tokoh utama. Film ini disusun menurut memoir yang disusun oleh Valerie Plame  Fair Game: My Life as a Spy, My Betrayal by the White House, dan tulisan Joseph C. Wilson, The Politics of Truth: Inside the Lies that Led to War dan Betrayed My Wife’s CIA Identity: A Diplomat’s Memoir.

Sutradara Doug Liman bersama-sama Valerie Plame dan suaminya, Joseph Wilson

Joe Wilson dan Valerie Plame Wilson

Plame dan Wilson adalah pasangan suami isteri. Plame (lahir 13 Agustus 1963) menyelesaikan studi di Pane University (1985) . Setelah lulus kuliah, pindah ke Washington, DC, dan menikah dengan Sesler, Plame bekerja di sebuah toko pakaian sambil menunggu hasil lamarannya ke CIADia diterima ke dalam kelas pelatihan 1985-1986 sebagai petugas CIA dan kemudian berkarier hampir 20 tahun lamanya di lembaga intelijen kondang itu.

Sementara, Wilson (kelahiran 6 November 1949) adalah diplomat karier yang telah bertugas di banyak negara seperti Gabon (1992-1995), Irak (1988-1991), Kongo (1986-1988), dan pernah menjadi penasehat Presiden Bill Clinton untuk masalah Afrika (1995-1997).

Wilson, yang kemudian juga menentang kebijakan Bush menyerbu Irak, menjadi terkenal ketika menulis di harian New York Times sebuah artikel dengan judul “What I Didn’t Find In Africa.” Sebelumnya, pada 2002, ia telah melakukan perjalanan ke Nigeria untuk mencari bukti apakah Presiden Saddam Hussein telah membeli uraniaum dari negara kaya minyak di Afrika itu.

Salinan artikel Joseph Wilson di harian New York Times, edisi 6 Juli 2003

Tentu saja kita semua tahu, tahun-tahun itu adalah tahun di mana AS getol memerangi terorisme dengan segala keputusan kontroversial Presiden George Bush. Tulisan Wilson seketika menentang langsung ucapan Bush dalam pidato kenegaraan di hadapan Kongres dan dianggap merusak skenario pemerintah (atas masukan CIA) bahwa Saddam mempunyai senjata pemusnah massal dan harus segera diserbu.

Presiden Bush saat menyampaikan pidato kenegaraan di hadapan Kongres pada 20 Januari 2002

Plame menikah dengan Wilson pada tahun 1998 dan melahirkan anak kembar mereka pada tahun 2000, dan terus melakukan perjalanan ke luar negeri pada tahun 2001, 2002, dan 2003 sebagai bagian dari pekerjaan yang dirahasiakan. Dia berhasil bertemu dengan para pekerja di industri untuk memperoleh keterangan intelijen. Salah satu proyek di mana dia terlibat telah memastikan bahwa Iran tidak memiliki senjata nuklir.

Selama ini, bagian dari pekerjaannya adalah memastikan penggunaan tabung aluminium yang dibeli oleh Irak. Analis CIA sebelum invasi Irak yang digunakan sebagai sumber di Gedung Putih  percaya bahwa Irak sedang berusaha untuk memperoleh senjata nuklir dan tabung aluminium tersebut digunakan untuk penganyaan sentrifugal terhadap bahan senjata nuklir.

Kolega Plame, seperti David Corn dan Mikhael Issikof dari Direktorat Proliferasi CIA menolak analisis tersebut. Meskipun demikian, CIA kemudian mengirimkan pesan kepada Wilson, suami Plame, supaya pergi ke Nigeria untuk memperoleh informasi pembelian tabung alumnium itu oleh Irak.

Michael Isikoff

David Corn

Atas kejadian-kejadian selama 2002-2003 tersebut, karir Plame kemudian mengalami kehancuran. Sebuah artikel yang ditulis oleh Robert Novak di Washington Post pada 14 Juli 2003 menjadi penanda karir Plame di dunia intelijen. Tulisan Novak dengan jelas menguak posisi Wilson dan kemudian dengan tegas menyebut nama Plame sebagai petugas CIA, sesuatu yang diharamkan terjadi dalam aturan birokrasi jaringan mata-mata itu. Plame memperoleh kecaman dan menyebabkan keluarganya nyaris berantakan. Sembari mengakui kebenaran artikel itu, ia menyatakan mengundurkan diri dari CIA pada Desember 2005.

Robert Novak

Dalam konferensi persnya 28 Oktober 2005, penuntut umum khusus Patrick Fitzgerald menjelaskan secara rinci perlunya kerahasiaan tentang  investigasi besar kebocoran intelijen yang dimulai pada musim gugur 2003 yang kemudian mendorong pendakwaan terhadap pejabat tinggi pemerintahan Bush, Lewis Libby, karena berkaitan dengan Valerie E. Wilson.

Patrick Fitzgerald

Lewis Libby

Lewis Libby, Kepala Staf Wakil Presiden Dick Cheney, kemudian menjadi bahan spekulasi atas bocornya identitas Plame dan agen intelijen lain, Judith Miller, yang dikenal sebagai seorang wartawan New York Times. Libby juga dituding telah mengungkap peran Wilson dalam kunjungan ke Nigeria dan itu dikaitkan dengan posisi isterinya di CIA.

Pada 6 Maret 2007, menyusul penyelidikan dewan juri atas terbongkarnya identitas Plame, Libby terindikasi sebagai pelaku. Dalam urusan kebocoran identitas Plame, ia disangka dalam 5 tuduhan: satu tuduhan menghalang-halangi peradilan, dua tuduhan sumpah palsu, dan dua tuduhan lain terkait dengan kebohongan.

Akan tetapi Libby tidak dipersalahkan mengungkap identitas Plame.Pada tanggal 2 Juli 2007, Presiden George W. Bush memberikan keringanan hukuman dengan mempertahankan hukuman percobaan, karena menurut kepala negara, pidana penjara bagi Libby adalah sesuatu yang berlebihan. Libby adalah pejabat tertinggi di lingkungan Gedung Putih yang dijatuhi pidana karena skandal pemerintah sejak John Poindexter, penasihat keamanan nasional untuk Presiden Ronald Reagan dalam perkara IranContra.

John Poindexter

Pada 13 Juli 2006, Wilson dan Plame mengajukan gugatan perdata atas terbongkranya identitas Plame kepada petinggi pemerintahan Gedung Putih dan satu diantaranya adalah kepada Wakil Presiden Dick Cheney. Namun hakim John D. Badges menolak gugatan tersebut pada 19 Juli 2007. Putusan pengadilan banding pada 12 Agustus 2008 memperkuat putusan tersebut. Bahkan, hingga masa pemerintahan Presiden Obama, proses persidangan masih berlangsung walaupun akhirnya Mahkamah Agung pada 21 Juli 2009 menolak untuk memeriksa perkara.

Valerie Plame Wilson saat memberikan kesaksian di DPR, 16 Maret 2007

Pada 16 Maret 2007, Plame diminta untuk bersaksi atas panitia khusus yang dibentuk oleh DPR. Ada 3 hal penting sebagai inti pernyataan di bawah sumpah dalam forum wakil rakyat itu. Plame menyatakan, “Nama dan identitas saya secara serampangan disalahgunakan oleh pejabat pemerintah senior di Gedung Putih dan Departemen Luar Negeri ; penyalahgunaan ini terjadi karena” alasan murni politik.” Kemudian Plame alasan pengunduran diri dari CIA akrena Saya tidak bisa lagi melakukan pekerjaan yang dalam hal itu sangat terlatih.” Plame juga mengatakan bahwa dia tidak berurusan dan sama sekali tidak tahu sama sekali penugasan suaminya ke Nigeria sehingga menyangkal tuduhan nepotisme dan ia menegaskan tiadanya otoritas dalam dirinya berkenaan dengan hal itu.

Naomi Watts (kanan) memerankan Valerie Plame (kiri)

Fair Game, menunjukkan kerumitan manakala suami dan isteri sama-sama bekerja di pemerintahan untuk urusan yang berdekatan. Karena sikap oposisi Wilson terhadap Bush, maka menjadi logis kemungkinan motivasi Libby membuka identitas Plame sebagai agen intelijen. Urusan ketidaksuakaan dalam menyatakan pendapat bisa mengancam bukan saja hubungan rumah tangga, tetapi menjadi pintu pembuka terkuaknya kerja intelijen yang acapkali menyediakan bahan mentah bagi Presiden untuk memutuskan sesuatu. Bagaimana kalau analisis intelijen itu keliru?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s