BAJAJ BAJURI: KELOKALAN, KEJELATAAN, DAN KETERPINGGIRAN

Ketidakpastian ekonomi dan politik yang mengiringi proses reformasi tidak membuat sinetron komedi kehilangan pamornya. Beratnya beban hidup yang mesti ditanggung telah menjadikan banyak orang menghabiskan waktunya di depan pesawat televisi sebagai cara melepaskan kepenatan hidup serta kejenuhan dibombardir oleh berita-berita politik atau kriminalitas.

Bajai Bajuri (Trans TV – 2004)

Di sinilah sinetron komedi menemukan tempatnya yang dengan cerdik meramu hiburan ringan dengan potret dunia sehari-hari kaum jelata. Salah satu sinetron komedi yang popular dan menempati jam tayang utama itu adalah Bajaj Bajuri yang disiarkan oleh stasiun televisi TransTV sejak 2002 hingga sekarang. Kisah dalam Bajaj Bajuri berkisar pada kehidupan sehari-hari keluarga Bajuri, yang terdiri dari Bajuri, Oneng, Emak (mertua Bajuri), serta tetangga dekatnya yang tinggal di wilayah pemukiman padat kelas bawah di Jakarta.

Karakter Bajuri, diperankan oleh Mat Solar

Karakter Oneng, yang diperankan oleh Rieke Dyah Pitaloka

Popularitas sinetron komedi Bajaj Bajuri bahkan telah menggerakkan majalah berita prestisius Tempo memilih trio penulis skenario Bajaj Bajuri, Hardi, Aris Nugraha, dan Chairul Rijal, sebagai “Tokoh 2004 Pilihan Tempo” (Tempo Edisi Khusus, 27 Desember 2004).

Forum Film Bandung (FFB), yang diprakarsai para pengamat, akademisi dan pecinta film di Bandung, mengganjar Bajaj Bajuri sebagai “Sinetron Komedi Terpuji 2004.” Di samping itu, pemeran pembantu dalam Bajaj Bajuri artis senior Nani Wijaya meraih penghargaan “Artis Pendukung Sinetron Terpuji.” (Kompas, 17 Apil 2005).

Tak kurang sutradara film Indonesia terkemuka Garin Nugroho menyebut sinetron komedi Bajaj Bajuri sebagai “sastra rakyat hari ini” (Tempo, 24 April 2005). Yakni, sastra yang tak semata terungkap dalam tradisi lisan, melainkan dalam tradisi bertutur yang dilantunkan secara audiovisual di ruang-ruang keluarga.

Menurut sineas Garin Nugroho, sukses Bajaj Bajuri tidak dapat dilepaskan dari ”kemampuannya menempatkan nilai kelokalan dalam memburu rating” (Tempo, 24 April 2005). Nilai kelokalan dalam Bajaj Bajuri itu tampak dalam berbagai aspek, seperti wajah, setting tempat, situasi yang muncul, nama hingga bahasa. Meski warna lokal sangat kental dalam Bajaj Bajuri, semua itu tetap dibahasakan dalam grammar televisi global. Yang membedakan Bajaj Bajuri dengan sinetron komedi Betawi lainnya, adalah sepenuhnya bertumpu pada naskah ketimbang improvisasi para pemainnya.

Kisah dalam Bajaj Bajuri berkutat di sekitar Bajuri (sebagai penarik bajaj), istrinya Oneng (yang memiliki usahan salon kampung) dan Emak (ibu Oneng). Masing-masing tokoh utama ini memiliki karakter yang beragam, khas dan unik. Bajuri yang tinggal di rumah mertua selalu sial dan sangat takut pada Emak (mertuanya), Oneng yang sedikit bego-bego pintar namun tulus, dan Emak yang mata duitan, sok tahu serta cenderung seenaknya.

Karakter utama ini masih ditambah lagi dengan para tetangga Bajuri yang memiliki karakter berwarna seperti Ucup (penarik ojek yang memimpikan punya pacar yang cantik), Said (keturunan Arab yang pandai berbisnis), Mpok Hindun (istri supir truk yang genit), Pak Yanto (supir truk yang mata keranjang), Mpok Minah (janda beranak satu yang selalu takut salah dan menyakiti hati orang lain) , Mpok Leha (pemilik warung yang punya banyak piutang pada pelanggannya), Mila (mahasiswi pondokan yang hobi bersolek dan bergosip), Sahili (anak Mpok Minah yang tengah tumbuh menjadi ”anak baru gede”), Pak RT (yang korup dan sering memanipulasi warganya) dan belakangan muncul karakter ibu Bajuri Nyak Ipah (yang senang ikut campur urusan rumah tangga anaknya).

Daya tarik dan kekuatan cerita dalam Bajaj Bajuri, harus diakui, ada dalam kemampuannya melahirkan karakter yang unik tersebut. Ini juga diakui sendiri oleh penggagas dan penulis skenario Bajaj Bajuri Aris Nugroho, “ Saya memang memerinci setiap karakter secara detail. Setiap karakter saya uraikan hingga lima halaman supaya setiap pemeran tahu betul siapa si Oneng dan siapa si Ucup tanpa kesulitan berarti. Setiap tokoh sudah baku sehinga siapa pun sutradaranya tidak akan mengubah sedikit pun karakter tokoh-tokoh Bajaj Bajuri “ (Suara Merdeka, 8 Desember 2004).

Dalam kenyataannya, sutradara Bajaj Bajuri kadangkala berbeda dari satu episode ke episode, namun penonton tetap berhadapan dengan karakter yang sama dan tak berubah. Inilah yang membedakan Bajaj Bajuri dengan sinetron komedi Betawi lainnya: kisah dan kelucuannya sepenuhnya bertumpu pada naskah ketimbang improvisasi para pemainnya.

Sebagaimana dikatakan Aris Nugraha, “ Jadi pemain harus patuh pada scenario dan dilarang berimprovisasi. Inilah yang saya sebut 90 % pekerjaan selesai di atas meja. Sebab sebuah cerita seharusnya dibangun dari naskah, bukan imajinasi yang liar. Di sini, yang saya butuhkan adalah aktor” (Suara Merdeka, 8 Desember 2004). Tipologi karakter, atau bisa juga disebut karakter yang stereotipikal, memang formula program televisi yang mengambil format seri atau serial. Di sinilah acapkali tercipta relasi yang bersifat emosional antara penonton dengan karakter-karakter dalam seri atau serial di televisi.

Penanda dari keterpinggiran dalam Bajaj Bajuri tampak dari setting di mana seluruh cerita itu berlangsung. Rumah yang didiami tokoh-tokoh dalam Bajaj Bajuri tampak saling berimpit dindingnya satu dengan yang lain. Salon kampung sebagai usaha (bisnis) Oneng, misalnya, berada di ruang tamu yang dipakai sebagai ruang tunggu pelanggan sekaligus untuk menerima tamu.

Kesempitan ruang yang didiami keluarga Bajuri, yang merupakan representasi kalangan pinggiran itu, tercermin dalam setting adegan yang terbatas: ruang tamu dan kamar tidur. Penanda ruang marginalitas lainnya adalah warung makan dan pangkalan ojek. Warung makan merupakan usaha sektor informal yang menunjukkan keuletan kalangan bawah mensiasati sempitnya bidang usaha.

Warung makan juga menjadi tempat bertemunya (meeting point) kalangan masyarakat bawah memperbincangkan Sementara itu, pangkalan ojek kini menjadi tempat pertemuan warga kampung di samping pos ronda. Pekerjaan menarik ojek sendiri adalah bidang usaha yang dipilih oleh kebanyakan orang Betawi yang menjadi korban penggusuran dan terus tersisih oleh warga pendatang.

Dalam Bajaj Bajuri amat gampang kita menemukan ragam pekerjaan yang digeluti oleh kaum pinggiran. Ragam pekerjaan itu antara lain : sopir bajaj (Bajuri), penarik ojek (Ucup), sopir truk (Pak Yanto), tukang sayur (Bejo), pembantu rumah tangga (Parti) dan seterusnya. Penghasilan dari sektor informal semacam itu tentu saja tak mencukupi kebutuhan sehingga utang menjadi pilihan untuk bertahan hidup.

Tokoh Emak (mertua Bajuri) adalah seorang pengutang yang piawai sampai akhirnya dijauhi oleh tukang sayur. Mpok Leha yang membuka usaha warung makan harus merelakan diutang oelh para pelanggannya. Tak jarang karena kekurangan uang mereka terjebak oleh lintah darat. Dalam salah satu episode yang berjudul “Bajuri Fried Chicken” dikisahkan ketika Bajuri dililit utang lintah darat yang keturunan Arab, ia mencoba ikut lomba makan bakmi di restoran Mie Betawi Sedap meski ia kalah.

Kendatipun kadangkala pecah konflik-konflik kecil di antara keluarga Bajuri dan tetangga, solidaritas di antara mereka tak pernah pupus. Dalam beberapa episode acara peringatan kemerdekaan setiap tanggal 17 Agustus sering menjadi saat menunjukkan solidaritas warga yang menyelenggarakan secara gotong-royong. Menariknya, muncul sindiran terhadap ulah Pak RT yang mengkorup dana yang dihimpun dari masyarakat. Begitu pula dalam salah satu episode, Pak RT menipu masyarakat yang menarik iuran warga untuk kepentingan pribadi. Ini jelas hal yang biasa kita temui dalam keseharian kita di mana korupsi telah merambah sampai di tingkat bawah. Solidaritas yang tulus kalangan bawah dengan gampang dikhianati oleh birokrat yang korup.

Berbeda dengan umumnya film Indonesia atau sinetron arus utama, marginalitas (kejelataan) dalam Bajaj Bajuri tidaklah menjadi sumber dramatisasi untuk menguras air mata penonton atau membangkitkan rasa iba.

Kejelataan dalam Bajaj Bajuri adalah siasat melakukan parodi terhadap marginalitas dan sekaligus melakukan sindiran terhadap wacana yang dominan. Dalam Bajaj Bajuri kita menemukan Pak RT yang korup, suami (Pak Yanto) yang selalu berselingkuh dengan dalih pergi bekerja, sosok ibu (Emak) yang materilistis dan culas. Hampir tidak ada karakter dengan sisi yang sempurna dan ideal. Di samping itu, hal-hal yang tengah berlangsung dalam masyarakat seperti play station, fried chicken, pertandingan sepak bola dijadikan bahan olok-olok sekaligus menyindir perilaku masyarakat secara umum.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s