Uber-Uber Digital

Perseteruan Uber, GrabCar (GrabTaxi) dengan perusahaan taksi konvensional semakin membuktikan bahwa Era DIGITAL sudah memasuki kehidupan semua orang. Sebelumnya, perseteruan di era digital terjadi antara tukang ojek pangkalan versus Go-Jek dan GrabBike.

Diakui atau tidak, sejak perusahaan e-commerce meramaikan transaksi jual-beli, sejak itulah perseteruan antara perusahaan berbasis digital dengan pusat perbelanjaan (mal) dan pengembang rumah toko (ruko) sudah berlangsung. Sejumlah pengembang ruko mengalihkan investasinya di sektor perumahan, karena sejak 2014 sejumlah ruko mulai sepi pembeli. Konsumen memilih memesan barang yang diinginkan via toko online atau e-commerce.

Ya. Diakui atau tidak, kini Indonesia sudah memasuki era digital yang massif. Namun, pesatnya kemajuan era digital belum disadari bahkan dimanfaatkan semua elemen masyarakat. Masih ingat bagaimana telepon rumah dilindas Warung Telepon (Wartel). Wartel ditemui hampir di setiap gang perkampungan. Wartel kemudian dilibas Handphone (HP). HP digeser perannya dengan Feature Phone.

Belum semua masyarakat memakai HP dan Feature Phone, sudah muncul produk Smart Phone (telepon pintar). Toh, tak semua fitur-fitur pada Smart Phone bisa dimanfaatkan secara optimal oleh penggunanya. Sebagian besar dari mereka mengikuti trend, tapi masih gagap mengaplikasian fitur-fitur canggih pada Smart Phone.

Masyarakat bisa mengakses info-info terkini via Smart Phone sehingga peran media cetak (koran, tabloid dan majalah) bergeser. Menikmati hiburan atau film-film terbaru bisa diakses dari home theatre maupun berlangganan Netflix tanpa mengantre panjang di bioskop. Industri tour and travel harus menutup sebagian gerainya ketika konsumen bisa memesan tiket pesawat, KA, kapal laut dan hotel dengan hanya menyentuh Smart Phone atau tablet mereka.

Ketika industri e-commerce sudah menggeliat dengan transaksi hingga triliunan rupiah, pemerintah baru tanggap menyusun aturan main terkait kepastian hukum, investasi hingga pajak. Hal serupa terjadi saat pemerintah gagap mengatasi konflik horizontal antara ojek pangkalan versus Gojek dan GrabBike. Kini, pemerintah uber-uberan (baca: berkejaran) menyusun regulasi saat Uber dan GrabCar/GrabTaxi bersitegang dengan angkutan umum (taksi, angkot dan bajaj).

Bukan hanya di Indonesia. Kegagapan menyelami pesatnya era digital juga dirasakan CEO Nokia, Jorma Ollila ketika Nokia resmi mengundurkan diri dari panggung bisnis gadget dan telekomunikasi. “Nokia tidak pernah melakukan kesalahan. Namun, hingga saat ini kami masih termenung dan mencari alasan mengapa kami kalah.” BlackBerry sudah limbung lebih dahulu.

Fenomena di atas ternyata masih relevan dengan analisis sosiolog dan futurolog Alvin Toffler melalui bukunya, “Future Shock: Third Wave” yang terbit tahun 1980. Toffler menyatakan bahwa perubahan teknologi sejak abad kedelapan belas telah terjadi sangat cepat sehingga banyak orang yang mengalami stres berlebihan dan kebingungan karena ketidakmampuan mereka untuk beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan strategis.

Itulah inovasi. Di penjuru dunia, inovasi melampaui aturan. Pakar teknologi Vivek Wahdwa menulis: “Bahan utama inovasi adalah kemampuan untuk menantang otoritas dan melanggar aturan.” Potret tumbuhnya industri baru era digital ini direkam oleh Bank Dunia dalam laporan panjangnya berjudul “Digital Dividends, World Development Report 2016”.

Maka, pesan penulis kepada semua pelaku industri yang belum atau sudah mulai terimbas tren digital adalah; ”Saatnya masuk dan bertarunglah dengan memanfaatkan layanan berbasis aplikasi. Di era digital, konsumen menyukai layanan digital yang memudahkan hidupnya. Perusahaan atau produsen harus memahami perilaku konsumen digital ini jika ingin bertahan di era digital.”