Subsidi Energi di Negara Arab

Peran penting yang dimainkan berbagai jenis bahan bakar primer dan listrik dalam pembangunan ekonomi dan sosial menyebabkan banyak pemerintah dengan beberapa argumen mendukung subsidi harga energi dan mempertahankan kontrol ketat dari sektor energi dalam negeri. Harga energi yang rendah, terutama untuk listrik dan bahan bakar berkualitas tinggi seperti produk minyak bumi, membantu kelompok pendapatan terendah mendapatkan akses ke bentuk-bentuk energi modern. Selain itu, subsidi membantu pemerintah melindungi pendapatan warga, terutama bagi mereka yang mempunyai tingkat penghasilan terendah dari distribusi pendapatan, sehingga memberikan kontribusi bagi pengentasan kemiskinan. Mempertahankan kontrol harga energi juga bisa membantu mengimbangi fluktuasi harga komoditas dan konsumsi terhadap fluktuasi harga di pasar internasional. Di banyak negara kaya minyak, harga energi yang rendah digunakan sebagai alat untuk mendistribusikan keuntungan negara kepada penduduk tanpa perlu kemampuan administrasi yang luas dan pengawasan anggaran negaran. Subsidi juga digunakan untuk mempromosikan industrialisasi dan diversifikasi ekonomi yang ditujukan untuk menciptakan peluang kerja dan meningkatkan daya saing global suatu perekonomian. Akhirnya, mengendalikan harga energi sering dianggap sebagai alat penting untuk manajemen ekonomi makro, terutama pengendalian inflasi.

Dunia Arab juga  tidak terkecuali dalam hal pengendalian harga energy. Penggunaan subsidi  baik eksplisit maupun implisit pada bentuk energy yang paling sering digunakan seperti minyak mentah, produk minyak, gas alam, dan listrik – telah menandai harga energy domestik di lingkungan negara-negara Arab selama beberapa dekade. Subsidi itu sendiri telah ditentukan dengan tingkat yang beragam dalam aspek politik dan ekonomi, tercermin dalam berbagai jenis ekonomi – mulai dari negara eksportir hidrokarbon terbesar di dunia seperti Arab Saudi dan Qatar, hingga negara pengimpor energi  seperti Yordania, Lebanon, dan Maroko. Rentang yang berbeda konteks politik dan ekonomi membuat dunia Arab merupakan wilayah yang kaya akan pengalaman, yang penting dipelajari berkaitan dengan dampak kebijakan harga energi.

Makna khusus dari subsidi energi adalah keadilan sosial dan isu kritis pengentasan kemiskinan. Kemiskinan masih banyak tersebar di seluruh dunia Arab, terutama di bagian Levant dan Afrika Utara. Kemiskinan berkisar antara 11% di Yordania, 30% di Maroko, 40% di Mesir, dan hampir 60% di Yaman. Implikasi yang parah mencakup ketidakcukupan akses untuk makanan dan nutrisi sehat, pendidikan dan pelayanan kesehatan dasar, dan juga untuk kekurangan akses energi itu sendiri. Sementara subsidi energi merupakan suatu jaring pengaman sosial yang penting bagi masyarakat miskin, karena dalam banyak kasus rumah tangga kaya cenderung untuk menangkap sebagian besar subsidi. Selanjutnya, dalam banyak kasus, subsidi BBM dapat menghapus sumber daya yang substansial dari ‘pro-poor’ sektor-sektor seperti kesehatan dan pendidikan, dan dari proyek-proyek sosial dan infrastruktur yang lebih bermanfaat bagi rumah tangga dengan golongan berpenghasilan rendah.

Memperluas akses energi telah menjadi salah satu tujuan utama bagi pemerintah di seluruh dunia ketika memberikan subsidi berbagai jenis energi. Kemiskinan energi, didefinisikan sebagai kurangnya akses rumah tangga terhadap listrik atau bentuk modern bahan bakar untuk memasak dan pemanas, tetap merupakan tantangan utama di banyak bagian dunia berkembang, termasuk dunia Arab. Menurut UNEP, diperkirakan 1,6 miliar orang tidak memiliki akses ke listrik, sedangkan lebih dari 2 miliar orang masih bergantung pada bahan bakar tradisional seperti kayu dan arang untuk memasak. Di dunia Arab, angka-angka dari tahun 2002 menunjukkan bahwa 65 juta orang di dunia Arab tidak memiliki akses listrik, dan 60 juta lainnya sangat kekurangan pasokan listrik, baik di daerah perkotaan maupun pedesaan. Beberapa negara memberlakukan mempunyai kebijakan tariff ini sehingga tarif listrik menjadi  bervariasi 100% do Kuwait,  lalu 7,7% di Comoros, Djibouti, Mauritania, dan Somalia. Dalam hal memasak dan pemanas, hampir seperlima dari penduduk Arab bergantung pada bahan bakar non-komersial seperti kayu, pupuk, dan residu pertanian, khususnya di Comoros, Djibouti, Sudan, Yaman, Somalia,  Aljazair, Mesir, Maroko, dan Suriah.

Pembiayaan subsidi energi mmengambil sumber yang berbeda-beda, tergantung pada berbagai faktor seperti apakah negara yang bersangkutan merupakan net exported atau net imported  produk minyak bumi, organisasi sektor energi, struktur kepemilikan aset energi; distribusi jaringan gas dan produk minyak bumi, dan kondisi keuangan pemerintah.  Negara Arab yang dikategorikan sebagai net exported  energi bukan saja meliputi negara-negara berpenghasilan tinggi seperti Arab Saudi, Kuwait, dan Uni Emirat Arab, tetapi juga negara menengah dan ekonomi berpenghasilan rendah seperti Aljazair, Mesir, Irak, dan Yaman, yang menghadapi tingkat kemiskinan yang cukup besar, tetapi memiliki pilihan yang berbeda yang berkaitan dengan harga energi domestik yang dikonsumsi daripada mereka melakukan impor. Hal ini juga harus dicatat bahwa sangat sedikit eksportir energi adalah net exported countries. Mesir dan Yaman, misalnya, banyak mengimpor minyak mentah (Mesir) dan produk olahan (Yaman), sementara beberapa negara-negara Teluk, terutama Uni Emirat Arab dan Kuwait, adalah pengimpor gas alam. Oleh sebab itu mungkin saja ditemukan perbedaan atas sumber pembiayaan  subdisi pada satu negara dibandingkan dengan negara yang lain, termasuk subsidi terhadap berbagai jenis energi.

Pengaruh subsidi pada harga bahan bakar dapat diilustrasikan dengan perbandingan harga eceran rata-rata untuk bensin dan solar lintas-negara Arab. Harga untuk bahan bakar dalam sampel yang terendah di negara-negara Teluk Arab, dengan keragaman yang cukup besar antara harga bensin dan solar terdapat Mashreq (Suriah, Yordania, dan Lebanon) dan Afrika Utara (Tunisia, Maroko). Jika dibandingkan dengan indikator yang biaya paling dasar (dengan harga minyak mentah dunia rata-rata 30 sen AS / liter pada tahun 2010) jelas bahwa produsen minyak Arab yang paling membebankan pengguna domestik di bawah harga biaya minyak mentah dijual di pasar internasional. Selain itu, Mesir dan Yaman sebagai importir produk minyak, mengalami kerugian fiskal dengan harga internasional penuh dan menjual di dalam negeri dengan harga yang telah disubsidi.

Kenaikan harga BBM internasional sejak tahun 2002 telah memberikan kontribusi besar terhadap beban pemasangan subsidi BBM dan listrik di sejumlah negara Arab. Untuk negara-negara pengimpor energi, beban fiskal ini adalah sebagian eksplisit – dalam bentuk defisit fiskal, yang dibiayai melalui pinjaman dalam negeri atau asing (meskipun kegiatan off-budget tertentu sudah dikurangi guna mempermudah perhitungan). Sebaliknya, sebagian atau seluruh biaya fiskal untuk subsidi energi di negara produsen minyak Arab tetap sebagai pendapatan awal yang bisa dihabiskan atau diinvestasikan dalam dana investasi berikutnya. Misalnya, nilai total subsidi energi diperkirakan dalam kasus Mesir pada tahun 2010, US $ 20.28 miliar, maka defisit fiskal negara itu akan dianggarkan sebesar $ 19.2bn untuk 2010/2011, atau 9,3 persen dari PDB nominal. Besaran subsidi energi untuk beberapa produsen minyak Arab diperkirakan lebih mencolok mencolok. Selain itu, untuk  negara importir minyak dan gas seperti Suriah, Yordania, dan Maroko, volume bahan bakar dalam negeri yang dikonsumsi merupakan beban besar yang menguras cadangan devisa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s