Sepakbola Eropa: Kemandirian dan Pendapatan

Hampir 50 tahun lampau, sepakbola professional masih menjadi urusan domestik setiap negara Eropa. Liga utama adalah arena kompetisi tunggal, dan satu-satunya kompetisi internasional adalah Piala Dunia. Kompetisi ini pun masih memperoleh sedikit perhatian. Sebagian besar penggemar hanya tahu sedikit tentang klub sepakbola idola mereka. Sekalipun untuk pertama kali Piala Dunia ditayangkan televisi pada tahun 1954, akan tetapi jangkauan siaran hanya mencakup 10% wilayah Eropa.

Sifat internasionalisasi sepakbola telah bergerak sejak abad ke-20 namun perkembangannya begitu lamban. Inggris misalnya, masih menolak keterlibatan pemain asing, dan Jerman masih berkutat di liga amatir.

Namun pemain-pemain sepakbola Amerika Latin telah bergerak lintas negara, dengan menjadi pemain di Italia dan Spanyol. Peruntungan ekonomi relatif masih terbagi merata. Industry penyiaran sedang dalam masa pertumbuhan, harga tiket murah, dan jarang terdengar keterlibatan sponsor.

Pasar pemain Eropa masih dapat dikendalikan dan upah yang diperoleh pemain umumnya masih rendah. Para pemain kebanyakan bermain amatiran dan pemain professional harus mencari pekerjaan tambahan di musim panas untuk menambah pundi-pundi mereka. Di Inggris, misalnya, upah ditentukan menurut kesepakatan dengan klub dan biasanya setara dengan yang diterima oleh seorang pekerja kasar.

Sebagian besar klub dikontrol oleh sebuah komite yang dipilih dan klub itu harus membayar manakala akan menjadi anggota liga. Akuntabilitas masih langka. Tiap pemilik klub berkuasa mutlak atas organisasinya, bukan karena persoalan uang, akan tetapi karena mereka juga menjadi anggota komite. Di Inggris, setiap pemilik klub dilarang mengelola uang mereka sendiri oleh perserikatan sepak bola.

Di negara lain, ada keterlibatan perusahaan dalam memberikan dukungan keuangan kepada klub. Namun semua itu bukan untuk kepentingan komersial, akan tetapi karena tuntutan serikat buruh dan hal itu karena para penggemar masih terisolir dalam sebuah kawasan perkotaan tertentu.

Misalnya, klub Eindhoven didukung oleh Phillips (Belanda), kemudian Schoux didukung oleh perusahaan mobil Peugeot (Prancis), Bayer Leverkusen didukung oleh Bayer (Jerman), dan Juventus didukung oleh Fiat (Italia).

Klub-klub sepakbola tumbuh pesat di negara yang memiliki jumlah penduduk relatif padat seperti Jerman, Prancis, Inggris, Spanyol, dan Italia. Pada tahun 1956 (saat Masyarakat Ekonomi Eropa dibentuk), liga didominasi oleh klub berdasarkan jumlah perolehan kemenangan.

Di Spanyol, Real Madrid dan Barcelona masing-masing telah memperoleh 8 kejuaraan. Di Italia, Juventus, AC Milan, dan Inter, memperoleh 6 kejuaraan. Sementara di Inggris, Manchester United, Arsenal, dan Liverpool meraih 5 kemenangan.

Ke-9 klub tersebut telah mendominasi liga hampir selama 60 tahun dan posisi mereka memiliki kekuatan separuh diantara G14 (yang sesungguhnya memili 18 anggota). Dalam perserikatan sepakbola Uni Eropa, mereka juga separuh dari kekuatan lobi yang ada. Hanya Jerman dan Prancis yang belum berhasil menjadi kekuatan dominan.

Diantara  anggota G14 lainnya, Bayern Munich, Borussia Dortmund, dan Bayer Leverkusen memenangkan liga Jerman hanya sekali dalam dekade 1947-1956 (tapi ketika itu liga nasional belum terbentuk). Marseille, Paris Saint-Germain, dan Olympique Lyonnais juga hanya meraih satu gelar Perancis (liga yang didominasi oleh Nice and Reims). hanya ada tiga anggota G14 di luar 5 negara besar.

Ajax dan PSV di Belanda juga hanya menang 2 gelar dalam dekade yang sama, tapi liga nasional baru saja dibentuk. Porto di Portugal telah memenangkan satu gelar, 7 dari sembilan lainnya dimenangkan oleh Sporting Lisbon dan 2 lagi oleh Benfica.

Jika menengok besar kecilnya negara, biasanya masing-masing negara itu hanya didominasi oleh 2 klub besar saja. Misalnya Celtics dan Rangers (Skotlandia), Ajak dan PSV (Belanda), dan Benfica dan Porto (Portugal).

Periode akhir Perang Dunia Kedua hingga 1990 merupakan periode stagnasi atau penurunan. Di Inggris kehadiran penonton turun dari sekitar 18 juta per musim pada akhir tahun 1940-an menjadi hanya 8 juta per musim pada tahun 1990. Di Jerman dan Perancis tingkat kehadiran penonton statis, antara 6-7 juta.  Hanya Italia yang mencatat peningkatan berkelanjutan selama periode tersebut, dari 6 juta pada tahun 1960 sampai dengan 8 juta pada tahun 1990.

Sejak tahun 1990, liga Inggris, Jerman, dan Perancis telah menikmati pertumbuhan penonton yang pesat. Di Inggris kehadiran penonton meningkat lebih dari 50%, dari 8 juta menjadi 13 juta. Di Prancis dan Jerman naik hampir 2 kali lipat, dari 6 juta menjadi hampir 12 juta di Jerman dan dari sekitar 4 juta menjadi  8 juta di Perancis. Selama periode yang sama laju pertumbuhan penonton di AS rata-rata lebih lambat. Hanya di Italia yang masih stagnan sejak tahun 1990-an.

Pendapatan klub atas penjualan tiket juga perlu disimak. Antara tahun 1947 hingga 1990, pendapatan tiap klub rata-rata meningkat 42%.

Yang pasti, ini lebih baik daripada tingkat pertumbuhan rata-rata di Inggris selama periode tersebut, tapi lebih suram dibandingkan dengan liga utama AS. Jika kita bandingkan dengan kinerja klub rata-rata di liga utama, dibandingkan periode yang sama pendapatan MLB tumbuh sekitar 4 % persen per tahun secara riil hingga tahun 1990, sedangkan laba NFL tumbuh sekitar 7 % per tahun dan pendapatan NBA tumbuh sebesar 10% per tahun. Namun, sejak tahun 1990 pendapatan divisi Inggris telah tumbuh pada tingkat yang luar biasa dari 13 % per tahun secara riil.

Pada tahun 1956 rata-rata klub liga Inggris memiliki pendapatan sekitar $ 3 juta diukur dengan nilai uang saat ini, dibandingkan dengan rata-rata $ 20 juta untuk klub MLB, $ 7 juta untuk klub NFL dan $ 2 juta untuk NBA club.

Pada tahun 1990 pendapatan klub di Inggris telah meningkat menjadi sekitar $ 20 juta sementara MLB, NFL dan NBA masing-masing $ 75 juta, $ 68 juta dan $ 45 juta. Selama 15 tahun terakhir liga Inggris telah memperoleh pendapatan rata-rata $ 125 juta, dibandingkan dengan $ 142 juta untuk MLB, $ 167 juta NFL dan $ 101 juta untuk NBA.

Penyebab meningkatnya pendapatan keuangan klub-klub Eropa adalah (i) meningkatnya pendapatan dari lisensi hak penyiaran; (ii) meningkatnya pendapatan dari iklan dan sponsor; dan (iii) komersialisasi tiket yang semakin tajam.

Televisi mungkin telah menjadi kontributor tunggal yang paling penting untuk transformasi ini. Sampai akhir tahun 1980-an banyak lembaga penyiaran nasional di Eropa adalah BUMN (seperti BBC). Di Inggris klub tidak bersedia untuk menjual langsung hak untuk menyiarkan liga sepak bola secara langsung sampai tahun 1983, dan ketika mereka melakukannya memperoleh kurang dari £ 3 juta per musim dan harus dibagi terhadap 92 klub Liga Sepakbola. Di Jerman hak untuk menyiarkan pertandingan Bundesliga senilai DM 10 juta di pertengahan 1980-an. Pada tahun 1984 hak eksklusif untuk menyiarkan liga sepak bola Prancis nasional dan internasional seharga FFr 10 juta.

Atas dasar ini masuk akal untuk memperkirakan bahwa pada tahun 1985 nilai gabungan dari siaran 5 liga terbesar bernilai tidak lebih dari € 30 juta. Menurut Deloitte (2005) pendapatan TV gabungan dari lima besar liga lebih dari € 250 juta pada tahun 2003/04. Ini merupakan peningkatan seratus kali lipat dalam waktu hanya 20 tahun.

Selama tahun 1980-an ada serangkaian krisis keuangan di klub sepak bola Eropa (misalnya di Inggris pada awal tahun 1980, di Perancis dan Spanyol pada akhir 1980-an).

Salah satu tanggapan terhadap krisis ini dengan mengadopsi pendekatan yang lebih komersial untuk pengelolaan klub. Inggris pada tahun 1982 mengizinkan direksi klub diberikan gaji, menyiarkan pertandingan langsung, mengizinkan sponsor seragam klub, dan memperbolehkan klub menanamkan saham di pasar modal (Tottenham adalah klub Inggris pertama yang melakukannya pada tahun 1983). Di Perancis pembatasan dilonggarkan untuk memungkinkan klub  mencari pembiayaan sendiri. Cara lain adalah mencoba dan mengatur olahraga lebih erat dan membatasi wewenang pengelolaan klub (misalnya dengan membentuk DNCG di Perancis, sebuah komite yang ditunjuk oleh liga untuk memeriksa keuangan klub). Keinginan untuk mengelola klub yang lebih besar dan keinginan mengendalikan pasar dalam rangka melestarikan pesaing dan struktur yang ada, tetap di jantung perdebatan atas masa depan industri sepakbola Eropa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s