Saat Pekerja Film Dituduh Komunis

Pada tahun 1947, Kongres membentuk Panitia Khusus Penyelidikan Tindakan-Tindakan Anti Amerika. Sasarannya adalah para pekerja film (artis, penulis naskah, produser, dan sutradara) film Hollywood. Ada 41 orang yang diperiksa dan kemudian menghasilkan 19 nama yang dituduh berhalauan komunis. Tentu saja halauan itu—untuk ukuran AS yang menjunjung tinggi kebebasan berpendapat—yang sedang menjalani Perang Dingin menjadi sesuatu yang harus dipersoalkan.
Pada Oktober 1947, Panitia Khusus yang dipimpin oleh J. Parnell Thomas memeriksa Ketua Dewan Industri Perfilman, Roy M. Brewer. Ia menyebut dalam kesaksian itu adanya 13 nama sutradara, penulis naskah, dan artis yang diduga berpandangan komunis, antara lain John Garfield dan Dalton Trumbo.
Kemudian, Panitia Khusus juga memeriksa Bertolt Brech, seorang artis emigrant, yang sesudah memberikan keterangan pergi ke Jerman Timur.
Larry Parks, satu-satunya pekerja film yang menggeluti profesi tunggal sebagai aktor, mengaku di depan Panitia Khusus bahwa ia bergabung dengan Partai Komunis tahun 1941 tetapi keluar 4 tahun kemudian. Ketika ditanya siapa saja anggota Partai Komunis saat itu, Parks berujar: “Saya lebih suka, jika diizinkan, untuk tidak menyebutkan nama-nama lainnya. Jangan hadirkan di hadapan saya untuk menghina Kongres ataupun saya harus ke penjara karena bersusah payah menjadikan diri saya sebagai pemberi informasi.”
Panitia Khusus kemudian memutuskan untuk melaksanakan dengar pendapat tertutup untuk Larry dan 2 hari kemudian, Panitia memberikan keterangan pers bahwa Larry menyebut beberapa nama lain.
Pekerja film yang lain, seperti Leo Townsend, Isobel Lennart, Roy Huggins, Richard Collins, Lee J. Cobb, Budd Schulberg, dan Elia Kazan, karena takut mereka akan masuk penjara, bersedia menyebutkan nama orang-orang yang menjadi anggota kelompok sayap kiri. Jika orang-orang ini menolak untuk menyebutkan nama, mereka akan ditempatkan dalam daftar hitam yang telah disusun oleh studio film di Hollywood.
Tetapi, pekerja film sebanyak 10 orang, yang dikenal sebagai Hollywood Ten, menolak untuk memberikan keterangan di hadapan Panitia Khusus. Mereka adalah Herbert Biberman, Lester Cole, Albert Maltz, Adrian Scott, Samuel Ornitz, Dalton Trumbo, Edward Dmytryk, Ring Lardner Jr., John Howard Lawson, dan Alvah Bessie. Mereka mengklaim bahwa Amandemen Pertama Konstitusi Amerika Serikat memberi mereka hak untuk melakukan hal ini. Tetapi Kongres dan pengadilan menolak klaim ini. Kesepuluh orang ini diperiksa dan diputus bersalah karena telah penghinaan kepada parlemen (contempt of Parliament) dan dijatuhi pidana antara 6-12 bulan penjara.
Pada bulan Juni 1950, 3 mantan agen FBI dan produsen televisi sayap kanan, Vincent Harnett, menerbitkan Red Channels, sebuah pamflet berisi 151 nama penulis, sutradara, dan artis yang menjadi anggota organisasi subversif sebelum Perang Dunia Kedua tetapi belum masuk daftar hitam. Nama-nama itu telah dikompilasi dari file FBI dan analisis rinci atas Daily Worker, sebuah surat kabar yang diterbitkan oleh Partai Komunis Amerika.
Salinan daftar itu dikirim ke semua pihak yang mempekerjakan orang-orang di industri hiburan. Nama-nama itu masuk dalam daftar hitam sampai mereka bersedia memberikan keterangan kepada Kongres dan meyakinkan bahwa mereka telah benar-benar meninggalkan masa lalu radikal mereka.
Edward Dmytryk, salah satu anggota Hollywood Ten, memiliki masalah keuangan sebagai akibat dari menceraikan istri pertamanya. Karena harus menjual pesawat pribadi dan didorong oleh istri barunya, Dmytryk mencoba untuk mendapatkan namanya dihapus dari daftar hitam. Pada 25 April 1951, Dmytryk muncul di hadapan Panitia Khusus. Kali ini ia menjawab semua pertanyaan mereka termasuk menyebutkan 26 mantan anggota kelompok sayap kiri.
Dmytryk juga mengungkapkan orang-orang seperti John Howard Lawson, Adrian Scott dan Albert Maltz telah menempatkan dia di bawah tekanan guna memastikan film-filmnya membawa propaganda Partai Komunis.
Kesaksian Dmystryk terutama merusak kredibilitas Hollywood Ten. Jika orang-orang ini tetap menolak untuk menyebutkan nama-nama yang pekerja film yang berhalauan komunis, mereka akan ditambahkan ke daftar hitam yang telah disusun oleh studio film Hollywood.
Dalam waktu-waktu selanjutnya, lebih dari 320 orang ditempatkan pada daftar hitam yang kemudian menghabisi karier mereka di industri hiburan.
Pekerja film lain terus menghasilkan scenario dengan menggunakan nama samaran. Dua diantara penulis yang menggunakan cara ini adalah Dalton Trumbo, untuk skenario Roman Holiday (1953) dan The Brave One (1956) dan Michael Wilson, untuk karya Bridge Over the River Kwai (1957), bahkan memenangkan Academy Awards untuk skenario mereka.
Pada tahun 1960 Dalton Trumbo menjadi penulis pertama yang menggunakan namanya sendiri ketika ia menulis skenario untuk film Spartacus. Berdasarkan novel karya penulis yang masuk dalam daftar hitam lainnya, Howard Fast, film ini mengedepankan semangat pemberontakan.
Trumbo merujuk kembali ke pengalamannya saat menghadapi Panitia Khusus. Pada akhirnya, ketika Roma akhirnya mengalahkan pemberontakan, para budak yang ditangkap menolak mengidentifikasi Spartacus. Akibatnya, semua dihukum.
Ironisnya, film Spartacus mengambil lokasi di lahan milik William Randolph Hearst. Koran yang dimiliki oleh Hearst termasuk rajin mengumbar analisis mengenai kemungkinan subversif kaum komunis di Paman Sam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s