Perkembangan Televisi Berita di Eropa

Ruang televisi bukanlah sebuah black box steril karena ada kepentingan bisnis dan politik yang turut menentukan berita yang disiarkan. Bahkan kegiatan produksi berita telah menjadi kegiatan mengkonstruksi realitas daripada sekadar menggambarkan sebuah realitas (Ishadi S.K., Media dan Kekuasaan: Televisi di Hari-Hari Terakhir Presiden Soeharto, halaman 2).

Perkembangan dunia penyiaran di Indonesia tidak lepas dari realitas itu. Semenjak kebijakan yang mematahkan dominasi dan monopoli TVRI sebagai lembaga penyiaran, dengan diizinkannya lembaga penyiaran swasta pada 1989 dan seterusnya, ada dinamika besar dalam pengelolaan media. Ada perubahan dari yang berorientasi pada titik berat informasi dan propaganda (televise pemerintah) menjadi televise yang high culture dengan acara yang condong kepada kepentingan dan manfaat idealis bagi masyarakat (televisi publik).

Posisi TVRI pada masa Orde Baru mengkonfirmasi satu hal mengenal pengelolaan media televisi: tanpa persaingan dan abai terhadap kualitas siaran untuk memuaskan penonton.

Terutama sejak larangan iklan niaga pada 1983 dan kemudian menguras hampir sebagian besar pendapatan TVRI untuk membiayai banyak program hiburan yang begitu menarik pemirsa sejak decade 1970-an, maka rating tidak pernah menjadi orientasi televisi pemerintah ini.

Sedikit sekali acara hiburan yang disajikan kepada pemirsa. Program pemberitaan mengarah kepada “berita seremonial” (istilah Arswendo Atmowiloto) yang mengabaikan akurasi. Menurut Ishadi S.K. (lihat sumber di atas), publik saat itu mengolok-olok pemberitaan TVRI sebagai jurnalisme “baru-baru ini”, karena kerapnya pembaca berita menggunakan frasa itu, yang menunjukkan peristiwa yang diberitakan sudah berlangsung beberapa hari sebelumnya. Karena dilarang menayangkan pendapat kritis, sebagian berita besar adalah success story berupa liputan pembangunan.

Namun sejak reformasi, ruang pemberitaan televise menjadi beraneka ragam. Ada kebebasan membuat materi siaran pemberitaan, sekalipun secara internal bisa saja muncul analisis benturan kepentingan antara bisnis (baca: pemilik stasiun televisi) dengan hak public atas informasi.

Ragamnya lembaga penyiaran yang mengelola berita telah menjadi pula fenomena global, termasuk di kawasan Uni Eropa. Di Eropa terdapat tak kurang 214 saluran televisi, 46 diantaranya dipancarteruskan dengan satelit. Dari jumlah itu, sebanyak 110 merupakan siaran televise nasional, sedangkan 60 yang lain adalah televise berjaringan Eropa/internasional.

Diantara siaran pemberitaan televisi yang terkemuka di Eropa, 6 diantaranya dimiliki oleh swasta dan lainnya dikelola berdasarkan kemitraan pemerintah dan swasta (seperti bermacam-macam stasiun televisi nasional dengan bahasa masing-masing di Eropa dan CCTV News, yang dikendalikan oleh Tiongkok).

Salah satu stasiun televisi berita swasta yang diterima luas di Eropa adalah CNN, yang memberikan lisensi dengan basis di Inggris. Stasiun televisi ini bersaing keras dengan BBC World News. Ada 3 stasiun televisi swasta yang masuk dalam kategori saluran 10 besar dengan penonton terbanyak CNN International (menjangkau 38 negara), Al Jazeera (berbasis di Qatar, 12 negara), dan Sky News International (Inggris, 26 negara). Saluran-saluran televisi yang dikelola pemerintah juga memainkan peran penting dalam ceruk pasar ruang pemeberitaan seperti BBC News World (Inggris, menjangkau 37 negara), Deutsche Well (Jerman, 30 negara)), France 24 (edisi bahasa Inggris, di Prancis, 32 negara), dan sebagainya. Saluran televisi berita berbahasa Inggris mendominasi Eropa. Sekalipun berbasis di Eropa, ada pula jaringan pemberitaan yang ditujukan untuk pemirsa di luar Eropa seperti Africa 24, BBC Arabic, BBC Persian, Deutche Welle Arabic, Deutsche Well Asia, DW-TV Latin America, dan sebagainya.

Diantara 105 siaran televisi berita nasional di Eropa, mayoritas (84 stasiun) dimiliki oleh swasta, sementara sisanya (21 stasiun dimiliki oleh publik). Ada negara yang memeiliki lebih dari satu stasiun televisi berita yang dimiliki oleh pemerintah. Spanyol memiliki 3 stasiun (Canal 24 Horas, Canal 3/24, dan Canal;Nou 24). Negara yang hanya memiliki satu stasiun televisi berita yang dimiliki pemerintah adalah Belanda, Republik Ceko, dan Irlandia. Negara di mana stasiun televisi berita swasta dominan antara lain Turki, Albania, Romania , Prancis, Bulgaria, Kroasia, Hongaria, Latvia, Lithuania, Swedia, Bosnia dan Herzegovina, bekas Yugoslavia, Serbia, dan Slovakia. Jika dikaji, stasiun televisi berita yang dimiliki oleh pemerintah sebanyak 14% dan sedangkan jaringan televisi internasional sebanyak 30%.

Pertumbuhan stasiun televisi berita di Eropa telah berkembang salaam 40 tahun. Gelombang pertumbuhan pertama terjadi pada tahun 1980-an, termasuk dirintis oleh CNN International, Sky News International, dan the TRT Habes (Turki). Awal 1990-an lahir BBC News World, Euronews, dan Deutsche Welle. Di penghujung 1990-an muncul stasiun yang dipancarkan dengan satelit seperti Al Jazeera, dan Canal 24 Horas. Ini mewakili perkembangan penting stasiun televisi berita internasional di Eropa. Decade ini juga menjadi awal pertumbuhan stasiun televisi berita nasional seperti LCI (Prancis), n-tv (Jerman), TV8 (Swedia), dan CCN (Turki).

Dalam beberapa tahun terakhir, dalam jangka waktu 5-6 tahun, sebanyak 25 stasiun pemberitaan ditutup. Beberapa diantaranya beralih kepada layanan mobile telephone. Sejumlah kanal kemudian berkonsentrasi untuk membuat aplikasi bagi smart phone seperti RTL24 (Belanda) dan I>Tele (Prancis).

Pada bulan JUni 2013, stasiun televisi berita milik pemerintah Yunani, NET TV, dijual kepada swasta. Sebelumnya, CNN menutup jaringan televisi di Spanyol (2010), YLE 24 (Filandia) ditutup tahun 2007, kemudian berturut-turut the Dutch Channel Het Gesprek (2010), Al Gore Current TV di Italia (2011) dan versi Eropa (2012), dan Info TV (Slovenia) pada awal 2013. Saluran televisi berita Denmark, DR Update, ditutup Maret 2013 dan menjadi kanal bagi siaran anak-anak.

Walaupun tersapu krisis ekonomi global, sebanyak 28 saluran berita diluncurkan di Eropa sejak 2010. Misalnya beberapa versi bahasa non Inggris dari Euronews (yang paling akhir di Yunani dan Hongaria). Kemudian 2 stasiun televisi baru di Romania (2012), dan Al Jaazera di wilayah Balkan (2012). Stasiun televisi lain diluncurkan di Albania, Portugal, dan Polandia (2013), kemudian di Bosnia dan Herzegovina, Kroasia, dan Polandia (2012).

Menarik disimak bahwa banyak stasiun televisi, termasuk yang melakukan siaran berjaringan internasional, memberikan layanan paling banyak adalah dalam bahasa Arab. Hal ini seperti Al Jazeera (Arabic), BBC Arabic, Euronews (Arabic), France 24 (Arabic), dan Sky News Arabic (yang diluncurkan pada Mei 2012). Namun, kanal berbahasa Turki tetaplah yang paling banyak di kawasan Eropa. Layanan lain disajikan dalam bahasa Inggris, Prancis, Jerman, dan Italia.

Bahasa menjadi layanan penting dalam layanan pemberitaan. Albania memiliki 2,8 juta penduduk dan telah mempunyai 8 saluran televisi berita dalam bahasa Albania. Di samping bahasa resmi Kosovo, juga menyajikan informasi dalam bahasa minoritas lain seperti Italia, Macedonia, Montenegro, Romania, dan Serbia.

Penduduk Romania berjumlah 21 juta, sedikit lebih banyak dari Belanda (17 juta). Belanda memiliki 2 stasiun televisi berita yang dikelola oleh pemerintah, sementara di Romania ada 7 stasiun televisi berita swasta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s