Insiden Pekerja Filipina di Taiwan

Pemerintah Filipina sedang berjuang untuk menenangkan lebih dari 10.000 pekerja Filipina yang kontrak mereka dibekukan menyusul perselisihan perikanan bilateral dengan Taiwan. Pekerja menanggung dampak tersebut dalam 2 bulan setelah pasukan keamanan pantai Filipina membakar dan menembaki sebuah kapal Taiwan 9 Mei lalu dan menyebabkan tewasnya Hung Shih-cheng, nelayan Taiwan, di wilayah perairan yang dipersengketakan.

Taipeh telah menuduh Manila tidak serius dalam memberikan respon atas kejadian tersebut sehingga pemerintah setempat kemudian membekukakan kontrak atas pekerja Filipina pada 15 Mei yang lalu dan memaksa sekitar 10.ooo diantara mereka untuk kembali ke Filipina. Walaupun kemudian sudah dilaksanakan penyelidikan oleh tim gabungan diantara kedua negara, akan tetapi Manila terus menerus menahan publikasi hasil penyelidikan tersebut. Sikap otoritas Filipina itu membuyarkan para pekerja yang berharap dapat memperoleh penghasilan atau memperpanjang kontrak kerja mereka di Taiwan.

Menurut pengacara perburuhan, Emmanuel Geslani, pembekuan tersebut telah mencegah pengusaha Taiwan guna memperpanjang kontrak mereka dengan para pekerja Filipina. Padahal kontrak-kontrak itu selesai pada akhir Mei, Juni, atau Juli, sehingga kepulangan mereka ke Filipina merupakan tindakan yang prematur. Kebanyakan pekerja itu telah mencari nafkah di Taiwan selama 3 tahun dan bersiap-siap untuk memperpanjang kontrak mereka saat perselisihan diantara kedua negara terjadi. Akibat kebijakan pembekuan itu, banyak diantara pengusaha Taiwan yang kemudian melakukan rekrutmen pekerja dari negara di Asia Tenggara lainnya.

Kepala Badan Ekonomi dan Kebudayaan Filipina di Taiwan, Arnadeo Perez,  menyetujui pendapat Geslani, akan tetapi jumlah sesungguhnya dari para pekerja itu belum dilakukan verifikasi. Sekalipun para pekerja Filipina begitu ingin memperpanjang kontrak, tetapi mereka tetap harus balik sebelum kontrak kerja berakhir. Karena Badan Ekonomi dan Kebudayaan Taiwan di Manila menolak untuk merekomendasikan visa bagi mereka, sudah pasti para pekerja itu pun tertutup kesempatannya untuk menuju Taiwan.

Meskipun  pemerintah tidak berdaya dalam memecahkan masalah visa, Filipina akan melakukan yang terbaik untuk menyelesaikan konflik antara kedua negara, kata Perez, dalam upaya nyata untuk menenangkan para pekerja di luar negeri yang tidak sabar dan khawatir. Dia juga meminta agar pekerja memberikan pemerintah mereka lebih banyak waktu untuk menyelesaikan masalah. Pemerintah Filipina sebelumnya berharap untuk mengembangkan cara lain bagi para pekerja untuk mencari nafkah, sebuah  pendekatan dianggap tidak praktis oleh Geslani. Bagaimanapun, upah dan tunjangan di Taiwan sangat sulit untuk dikompensasikan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s