Globalisasi dan Tantangan Fakultas Hukum

Globalisasi, pengertiannya tergantung dari sudut mana kita memandang. Globalisasi mencakup bidang yang demikian luas, dari siaran radio dan televisi keuangan dan perdagangan, teknologi, penyebaran tenaga kerja, peraturan perundang-undangan, sampai dengan emansipasi wanita. Dari sudut ekonomi, globalisasi sudah terjadi pada saat dimulainya perdagangan rempah-rempah, kemudian tanam paksa di Jawa, sampai tumbuhnya perkebunan-perkebunan di Hindia Belanda dua abad yang lalu Sebaliknya, impor barang- barang dari Eropa sudah terjadi ke Hindia Belanda pada masa itu Iklan dalam surat kabar “Bintang Barat” yang terbit di Betawi 20 Juni 1885 memberitakan, bahwa kapal-api “Princess Marie” telah tiba di Betawi dengan membawa 1 peti sprey, 30 bal benang lawe merah, 26 peti kaen putih, 1 peti barang glass dan 1 peti coklat Kapal api “Utrech” membawa 1 peti paku besi alus, 1 peti kertas, pena dan tinta. Pada bulan Juli 1885, kapal-api “Zwerver” membawa 200 pipa mentega, 50 pipa bier, 200 peti glass jendela dan 200 peli genteng glass.
Suatu peristiwa yang menarik 44 tahun kemudian Kongres Amerika pada tahun 1929 memisahkan Blaine Amendment yang melarang impor produk-produk yang dihasilkan narapidana atau buruh yang bekerja dibawah paksaan. Ketentuan itu, yang berlaku tgl 1 Januari 1932, mengancam tembakau Deli, komoditi andalan ekspor Hindia Belanda ke Amerika Serikat. Amendemen itu dtcetuskan oleh putra James Gilliespie BLaine, calon Presiden dari partai Republik yang anti perbudakan (1830-1893).
Dengan surat tertanggal 12 Mei 1931, Menteri Luar Negeri Belanda mengatakan kepada Gubernur Jenderal B.C.de Jonge, bahwa Secretary of State (Menteri Luar Negeri) Amerika Serikat akan mempertimbangkan untuk tetap memperbolehkan impor tembakau Deli, apabila pemerintah jajahan Belanda akan mencabut “poenale sanctie” dalam jangka waktu tertentu. Tuan-tuan kebun tembakau di Deli mendesak pemerintah jajahan Belanda agar segera mencabut “poenale sanctie” tersebut, karena Blaine Amendment akan melumpuhkan perkebunan-perkebunan mereka.
Globalisasi ekonomi pada masa itu lahir dengan kekerasan dalam alam kolonialisme, Pada masa kini globalisasi ekonomi berkembang dengan jalan damai melalui perundingan dan pejanjian internasional. Globalisasi hukum mengikuti globalisasi ekonomi tersebut, dalam arti substansi berbagai undang-undang dan perjanjian-perjanjian menyebar melewati batas-batas negara Globalisasi hukum tersebut dapat terjadi melalui perjanjian dan konvensi internasional, perjanjian privat, dan institusi ekonomi baru. Globalisasi hukum tersebut kemudian diikuti pula oleh globalisasi praktek hukum, dimana antara lain konsultan hukum suatu negara dan suatu sistim hukum, dapat bekerja dinegara lain yang mempunyai sistem hukum yang berbeda.
Bertambah luasnya globalisasi bisnis telah menciptakan permintaan terhadap konsultan hukum yang mampu ikut dalam negosiasi transaksi yang mengaitkan berbagai jurisdiksi. Globalisasi dari ekonomi dunia akan terus berlangsung : demokrasi dan rule of law akan makin meluas ke berbagai negara dan globalisasi dari praktek hukum juga akan terus berlangsung. Kerjasama antara Sarjana Hukum dari berbagai bangsa untuk mengerti sistim hukum dan budaya masing-masing, akan membawa manfaat bagi pembangunan hubungan transnasional. Hubungan ini bisa berlangsung melalui telepon, fax, E-mail dan modem, scrta tele-conference. Perkembangan komersil atau non komersil dewasa ini menuntut ketepatan yang lebih berkenaan dengan hukum asing. Sebelum melakukan investasi dan berdagang ke luar negeri, kaum bisnis perlu mempelajari hukum asing.
Keberadaan konsultan hukum asing disuatu negara tidak dapat dihindarkan lagi. Satu atau dua tahun belajar hukum asing tidak cukup dibandingkan dengan pengetahuan dan pengalaman bertahun-tahun dari sarjana hukum setempat. Kerjasama sarjana hukum lokal dan asing suatu yang tambah penting sekarang dan dimasa datang. Globalisasi, menurut hemat saya, mencakup ruang lingkup yang luas daripada gejala yang berbeda-beda, dimana perbedaan itu mungkin atau lebih penting dari persamaannya. Globalisasi lebih dimengerti, jika diartikan sebagai perkembangan dan interkoneksi dalam perdagangan dan pasar uang yang melewati batas-batas nasional, hal mana difasilitasi oleh perkembangan teknologi yang cepat dan luas. Untuk penulis-penulis lainnya globalisasi tidak hanya sekedar ekonomi, tetapi juga mencakup dimensi kebudayaan, agama dan politik.
Globalisasi, implikasinya bagi pendidikan hukum adalah pembaruan kurikulum fakultas hukum. Adalah perlu bagi fakultas hukum di Indonesia untuk mengembangkan mata kuliah yang cakupannya internasional, studi perbandingan dan hukum transnasional sebagai mata kuliah pilihan. Dengan demikian, mahasiswa mendapat pengetahuan tentang perkembangan eksternal dan bagaimana kedudukan dan peranan negaranya dalam keadaan tersebut Belajar perbandingan hukum akan melahirkan idea bahwa mungkin ada berbagai alternatif memecahkan masalah-masalah hukum yang kita hadapi.
Tentu harus diingat pemecahan masalah tersebut tetap menceminkan tradisi dan budaya dan masing-masing masyarakat. Perluasan pengajaran hukum internasional publik dan privat serta studi perbandingan hukum menjadi penting. Tambah luas globalisasi ekonomi, tambah besar tekanan atau keperluan untuk terciptanya harmonisasi hukum dari berbagai negara. Fakultas hukum tidak diharapkan untuk mengajarkan hukum asing, tetapi fakultas dapat mengembangkan kurikulum yang akan membantu mahasiswa mendapatkan pengertian tentang sejarah dan perkembangan budaya hukum lain. Dimensi dasar yang lain untuk mendukung studi perbandingan hukum adalah pengertian akan adanya budaya yang berbeda-beda dari berbagai bangsa dan penguasaan bahasa.
Belajar bahasa asing adalah bagian yang paling dasar untuk studi perbandingan hukum. Pengetahuan bahasa asing dan bahasa hukum asing adalah penting, karena tidak semua kata yang sama dapat diterjemahkan dan mengandung arti atau makna yang sama “Hypotheque” dalam Civil Law tidak sama dengan “mortgage” dalam Common Law, karena konsepsinya berlainan. Oleh karenanya terjemahan langsung dari kata tersebut kepada kata yang lain akan menimbulkan pengertian yang keliru.
Perkembangan hukum telah terjadi selama tiga tahun terakhir ini. Banyak Undang-Undang baru lahir, yang sebelumnya asing bagi kita. Diantaranya UU Anti Monopoli, UU Rahasia Dagang, UU Design Industri, UU Sirkuit Terpadu, dan sebagainya. Banyak lagi undang-undang yang akan lahir, baik karena kebutuhan internal maupun tuntutan eksternal. Badan-badan baru lahir mengikuti lahirnya undang-undang baru Namun sebagian besar fakultas hukum tidak mengikuti perkembangan baru tersebut, terutama kurikulumnya. Satu dan lain hal karena kesenjangan staf pengajar dan perpustakaan. Hal inipun pernah terjadi di negara maju pada masa yang lain.
Fakultas hukum harus mengkombinasikan atau menghubungkan teori hukum dan praktek hukum .Team pengajar perlu terdiri dan dosen yang memberikan hukum dalam teori dan praktisi yang memberikan hukum dalam praktek di Amerika, beberapa fakultas hukum telah menerapkan disamping kegiatan pendidikan yang biasa di fakultas, mahasiswa hukum ikut dalam kerja praktek dikantor pengacara, konsultan hukum, pengadilan atau biro hukum perasahaan.
Pekerjaan ini tidak begitu sukar, kerjasama dan pengawaaan sarjana yang sudah berpengalaman, walaupun hanya beberapa jam seminggu, akan amat bermanfaat bagi mahasiswa tahun terakhir dalam mempersiapkan dirinya menjadi sarjana hukum yang kompeten. Gejala perbedaan jarak antara akademisi hukum dan profesi hukum semakin lebar di Indonesia. Akibatnya sebagian besar sarjana hukum yang dihasilkan oleh fakultas- fakultas hukum penuh dengan teori, normatif, doctrinal dan deskriptif.
Fungsi utama dari fakultas hukum adalah untuk mempersiapkan mekanisme untuk menjadi sarjana hukum yang kornpeten dibidangnya. Fungsi utama seoring dosen adalah bagaimana mengembangkan dan memelihara keahlian dibidang mana dosen tersebut mengajar, dalam usaha untuk mengalihkan keahlian tersebut kepada para mahasiswanya. Keakademisian mencakup semua aktivitas dimana dosen memerlukannya untuk memelihara dan mengembangkan keahlian Kegiatan ini dapat dalam berbagai bentuk, umpamanya, penelitian dan penulisan untuk publikasi, menyarankan materi kuliah yang baru, memonitor perkembangan terakhir bidang hukum yang digelutinya. berpartisipasi dalam kegiatan yang professional, konsultasi untuk kantor konsultan hukum, atau semata-mata berpikir. Tidak ada rumus tunggal untuk kombinasi kegiatan-kegiatan tersebut. Namun demikian, seorang dosen secara berkala harus mengerjakan beberapa kegiatan itu, untuk menjadi seorang dosen yang efektif.
Disamping riset dan menulis artikel, ada baiknya dosen dapat diatur pada masa luangnya bekerja pada kantor konsultan hukum, pengacara, kantor pemerintah atau pengadilan. Hal ini akan membuat dosen mampu mengangkat hal-hal yang actual dalam praktek, berdasarkan pengalamannya sendiri, kedalam kelas pada waktu ia memberikan kuliah. Mereka yang kemudian terjun sebagai pengacara, kerja di biro hukum pemerintah atau kemudian menjadi hakim atau jaksa, tentu meminta pula berbagai mata kuliah baru, yang sebelumnya tidak ada, untuk kebutuhan praktek.
Kurikulum “legal writing” (penulisan hukum) termasuk mata kuliah penting di fakultas hukum, karena banyak tulisan para sarjana hukum kita dangkal, tidak ada analisis, argument, evaluasi dan permikiran, kering dengan catatan kaki dan daftar kepustakaan. Padahal mereka yang dapat menghasilkan tulisan hukum yang baik adalah perlu, merupakan pendekatan yang lebih baik untuk mendapatkan pengertian yang lebih dalam, analitis dan pemikiran yang kritis. Majalah hukum harus dimiliki oleh fakultas hukum. Ia tempat berlatih para mahasiswa melakukan editing, membetulkan bahasa hukum, dan bagaimana membangun kritik, analisis dan argumen. Majalah hukum adalah merupakan suatu prestise bagi fakultas hukum. Jika mau melihat fakultas hukum yang baik, selain staf pengajar, kurikulum, perpustakaan, majalah hukum sebagai penerbitan fakultas adalah suatu ukuran yang cukup menentukan. Selanjutnya. tutorial adalah penting dalam setiap proses belajar mahasiswa. Tutor yang membimbing mereka untuk masuk lebih jauh kedalam ilmu pengetahuan. Intervensi tutor harus mendorong otonomi mahasiswa dalam proses belajar. Tutor menjadi sparring partner mahasiswa, mendorong mereka untuk mengingat-ingat pengetahuan yang lalu,, menantang mereka untuk mencari jawaban yang mungkin terhadap masalah-masalah yang ditugaskannya. Dalam waktu yang tidak lama lagi, pada abad 21 ini, mahasiswa-mahasiswa kita akan secara rutine membawa “notebook
computer” untuk mengikuti kuliah jarak jauh melalui “Legal Education Network Services” (LENS), jaringan internet, dimana para mahasiswa dapat mengikuti instruksi dosen, mengirimkan pekerjaan rumah mereka, atau saling berdiskusi dengan para mahasiswa lain yang jaraknya ribuan kilometer.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s