Dominasi Edisi Lokal: Warna Pers India

Jagat penerbitan media massa di India begitu kompleks dan beragam. Pada tahun 2008, terdapat koran berbahasa Inggris dan 22 bahasa utama lain yang tertuang ke dalam 14 dialek. Hal itu merupakan pertumbuhan luar biasa sejak kemerdekaan (1947), dan khususnya sejak akhir 1970-an. Dipelopori oleh koran berbahasa Hindi, pertumbuhan ini makin marak seiring dengan tingkat melek huruf yang semakin meningkat, peningkatan daya beli konsumen, kesadaran politik, meluasnya teknologi computer dan percetakan, dan upaya tiap koran untuk memikat pembaca yang makin ketat. Pada tahun 1979, untuk pertama kalinya koran berbahasa Hindi berhasil menggeser edisi bahasa Inggris untuk ukuran tiras (3 juta menjadi 2,97 juta), dan kesenjangan ini terus bertahan memasuki era 1980-an dan 1990-an. Ditinjau dari segi bentuk sirkulasinya, pada tahun 2007, harian berbahasa Hindi memimpin dengan tiras 8,48 juta eksemplar, sementara harian berbahasa Inggris bertengger di angka 3,15 juta eksemplar.

Hal lain untuk memahami lonjakan pertumbuhan koran adalah jumlah pembaca. Di India, tukar menukar bacaan adalah hal yang lazim, khususnya diantara pembaca koran yang berbahasa India. Hal ini menjadi bukti adanya perbedaan antara sirkulasi dan jumlah pembaca. Sebuah survey di tahun 2006 menyatakan bahwa pembaca koran-koran berbahasa lokal tumbuh dari 191 juta menjadi 203,6 juta orang (diantara jumlah ini, sebanyak 81,6 juta merupakan pembaca koran berbahasa Hindi), sementara koran berbahasa Inggris stagnan pada jumlah 21 juta pembaca.

Penting untuk dicatat bahwa pertumbuhan dramatis koran-koran berbahasa Hindi telah digantikan kekuasaan jaringan media elektronik. Banyak pengamat percaya bahwa kenyamanan menikmati jaringan televisi kabel privat dank anal televisi satelit akan mengancam pertumbuhan koran. Meskipun demikian, koran-koran tersebut mampu menyesuaikan diri dengan inovasi teknologi dan kemudian melakukan reposisi sebagai media yang bersifat vital. Dengan konsistensi isi pada hal-hal lokal, distrik, dan edisi daerah, koran-koran berbahasa Hindi mampu menciptakan generasi baru pembaca dan dalam kaitan ini, mampu menahan keinginan mereka untuk menikmati media elektronik. Dengan memfokuskan diri kepada berita lokal dan cerita-cerita setempat, koran-koran berbahasa Hindi telah mendekatkan diri kepada para pembacanya.

Sejak kemerdekaan India (1947) hingga pertengahan 1980-an, politisi dan birokrat terganggu atau kadang-kadang merasa perlu untuk memperhatikan keberadaan koran-koran berbahasa Hindi tersebut. Koran berbahasa Inggris dianggap media nasional, sekalipun mempunyai daya sirkulasi yang lebih rendah. Sekarang, para politisi dan birokrat tidak dapat menghindarkan diri dari publikasi berita dalam bahasa Hindi dan koran-koran regional yang lain.

Dainik Jagran didirikan selama perjuangan pergerakan kemerdekaan oleh aktivis Puran Candra Gupta (1940). Edisi pertama koran ini  diterbitkan di Jhansi, Uttar Pradesh (1942), tetapi pada 1047 terbit di Kanpur, di samping Uttar Pradesh. Sejak pertama kali terbit, Dainik Jagran terus menerus meluaskan jangkauannya. Berdasarkan survey tahun 2006, koran ini menjadi media yang paling banyak dibaca di India, dengan 21,24 juta pembaca. Ini merupakan rekor pertama kali ditembus penerbitan di India yang mampu menggaet lebih dari 20 juta eksemplar per hari.

Sejak penerbitan pertama (1942) hingga 1989, Dainik Jagran mayoritas tersedia di Uttar Pradesh. Suatu penerbitan khusus yang menjangkau ke luar wilayah dilakukan pada tahun 1956, yaitu dari Bhopal, Madya Pradesh. Meskipun demikian, karena penerbitan di Uttar Pradesh sendiri telah memberikan keuntungan yang besar, maka negara bagian ini menjadi “jantung bahasa Hindi” dan mengambil peran penting untuk menciptakan persepktif politik khas di seluruh wilayah India. Sesudah edisi Bhopal, perluasan selanjutnya berlangsung hampir 20 tahun kemudian, dengan menerbitkan edisi penerbitan di Gorakhpur, Uttar Pradesh (1975). Edisi ini diikuti dengan penyampaian edisi lokal dari kota-kota di negara bagian ini, termasuk Lucknow (1979), ibukota Uttar Pradesh. Sampai akhir 1980-an, Dainik Jagran mampu untuk mempertahankan dominasinya di Uttar Pradesh. Dari sinilah pengaruh yang melampaui negara bagian ini dikembangkan.

Dainik Jagra kemudian menerbitkan edisi yang berasal dari ibukota India, New Delhi (1990) dan Punjab (1999). Koran ini juga mempunyai jaringan di 12 negara bagian lainnya. Sekarang, Dainik Jagra megelola penerbitan koran sebanyak 37 edisi dan mencetak lebih dari 200 edisi lokal yang lain, dengan tiap-tiap edisi menyasar pembaca dalam komunitas geografis tertentu.

Sukses yang diraih Dainik Jagra dilakukan karena kemampuan mengelola isu-isu lokal dari tiap edisi penerbitan dan menggunakan bahasa yang sesuai pada suatu wilayah tertentu. Sebagai hasilnya, perbedaan gaya isi berita dalam dua edisi penerbitan yang berbeda menjadi sesuatu yang lazim. Ini adalah kasus khusus yang tidak dijumpai dalam koran berbahasa Inggris. Di arena politik, Dainik Jagran merupakan pendukung utama ideologi Hindu. Sehubungan dengan kontroversi pada akhir 1980-an dan awal 1990-an, yang diikuti dengan pengrusakan masjid-masjid pada 6 Desember 1992, Dainik Jagran melaporkan kejadian ini dengan sesansional dan mendukung keberadaan ekstrimis Hindu. Sebagai hasilnya, pada Desember 1991, Dewan Pers India menilai bahwa koran-koran Hindi secara umum dan Dainik Jagran khususnya, “telah keluar dari etika jurnalistik.”

Pemimpin redaksi koran Dainik Jagran, Narendra Mohan (1934-2002) terpilih sebagai anggota Rajya Sabha, majelis tinggi Parlemen India dan mewakili kelompok nasionalis Hindu garis keras pada tahun 1980. Demikian juga, saat meletus Perang Kargil antara Pakistan dan India (1998), Perdana Menteri Atal Bihari Vajpayee, pemuka Partai BJP, memberikan wawancara eksklusif di Dainik Jagran, yang kemudian dikutip oleh koran-koran berbahasa Inggris, yang sekali lagi menunjukkan tingginya pengaruh koran ini.

Koran yang lain, Dainik Bhaskar, pertama kali diterbitkan pada tahun 1958 oleh pengusaha Dwarka Prasad Agarwal dari bisnis keluarga yang berbasis di Bhopal, ibukota negara bagian Madya Pradesh. Hampir 40 tahun media ini menguasai wilayah tersebut tetapi pada tahun 1995 mampu menembus luar batas negara bagian. Pada tahun 2009, koran ini menduduki posisi kedua dari segi jumlah pembaca setelah Dairin Jagra, dengan perkiraan pembaca sekitar 20,95 juta. Koran ini memimpin tiras di Madya Pradesh, Rajsthan, Chandigarh, dan Haryana.

Seperti Dainik Jagran, koran ini memfokuskan diri pada berita lokal dan hal-hal yang menyangkut isu kedaerahan yang lain. Tiap terbit meliputi 20 halaman dan mencakup 32 edisi yang terpisah, hanya 4-5 halaman yang memuat berita umum. Gaya manajemen mencoba meniru agresivitas Times Group dan secara teknik mengukuti gaya USA Today dan Times of India.

Kemudian, koran Punjab Kesari, sebuah harian, memulai penerbitan di Jalandhar (1965), diawali dengan penerbitan perdana sebanyak 1.500 eksemplar. Di tahun 1977 sirkulasi tumbuh hampir 72.000 eksemplar tiap hari. Pada masa pemberlakuan hukum darurat (1975-1977), ketika pemerintahan dipegang oleh Perdana Menteri Ny. Indira Gandhi (1917-1984, menjadi Perdana Menteri 1966-1977 dan 1980-1984) memaksakan sensor terhadap pers,Punjab Kesari memelopori tampilnya halaman muka yang berwarna, sehingga harian ini menjadi pelopor penggunaan halaman berwarna untuk halaman muka. Pada 1983, Punjab Kesari merilis penerbitan edisi New Delhi dan pada 1986 menjadi harian berbahasa Hindi terbesar di India.

Lala Jagat Narain (1889-1981), pendiri Punjab Kesari, tewas tertembak pada September 1981 selama pemberontakan Khalistan yang menggegerkan Punjab selama 1980-an. Alasan pembunuhan ini karena sikapnya dan juga harian tersebut menyokong kaum Sikh dengan mengeluarkan pernyataan yang memojokkan kalangan Khalistan. Pemberontakan itu juga menyisir agen dan penjaja Punjab Kesari dan 53 orang diantaranya tewas. Koran ini kemudian mengupayakan “dana perjuangan” dan menghasilkan 42 juta rupee dari pembaca dan disalurkan kepada keluarga yang menjadi korban. Jumlah uang yang diterima menunjukkan perhatian besar dari kalangan pembacanya. Punjab Kesari mempertahankan dominasi sebagai harian berbahasa Hindi selama 1980-an dan paruh pertama 1990-an. Pengelola harian ini menjalin hubungan dengan agen dan penjaja koran untuk mengetahui hal-hal yang diminati oleh pembaca.  Gaya manajemen ini menjadi perintis bagi harian berbahasa Hindi yang memberikan perhatian kuat kepada takaran lokal. Suatu hal yang kemudian menjadi perhatian kritis adalah terungkap bahwa koran ini membeli berita dari National Enquierer, tabloid yang terkenal jahat yang secara luas dijual di supermarket dan beberapa outlet di Amerika. Akibatnya, dominasi sebagai harian berbahasa Hindi mulai tergeser. Kisah Punjab Kesari ini mengilustrasikan kuatnya persaingan pasar koran dan kebutuhan adaptasi bagi koran-koran lokal sehubungan dengan perubahan selera pembaca sebagai upaya mempertahankan eksistensinya.

Koran Dina Thanthi, didirikan pada 1942 di Madurai, sebuah provinsi di wilayah Tamil Nadu. Koran ini merupakan koran berbahasa Tamil yang paling banyak diminati di India dengan sekitar 10,38 juta pembaca. Pendiri harian ini, S.P. Adithanar, merupakan pengacara yang terdidik di Inggris. Saat di Inggris, ia terinspirasi dengan tabloid Inggris, the Daily Mirro, dengan kemampuannya memikat banyak pembaca. Minat itu yang mendorongnya untuk mengelola harian dalam bahasa Tamil. Pada tahun 1940-an, Adithanar memulai edisi penerbitan di Madras, Salem, dan Tiruchchirappalli. Tetapi, edisi Salem gagal, sementara Tiruchchirappalli sempat tertunda dan baru dirintis pada 1954. Penerbit menggunakan jasa bus untuk mendistribusikan koran ke wilayah selatan Tamil.

Di masa lalu, para pembaca yang berada jauh dari pusat penerbitan koran menerima koran terlambat satu hari sesudahnya. Tetapi Adithanar menyodorkan fresh newspaper setiap pagi di kota Tamil, sesuatu yang tak pernah dilakukan media di Inda selama 40 tahun terakhir. Koran ini juga menggunakan foto secara ekstensif saat koran lain tidak melakukannya karena keterbatasan teknologi dan sumber daya. Koran Dina Thanthy menonjol dalam isi pemberitaan lokal, khususnya menyangkut berita kriminal. Penggunaan bahasa sehari-hari sesuai minat pembaca menjadi kunci lain suksesnya koran ini. Dewasa ini Dina Thanthy mempunyai 14 edisi daerah. Hal ini termasuk penerbitan yang berpusat di negara bagian lain (Karnakata dan Pondicherry) untuk memenuhi pembaca Tamil di kawasan itu.

Eenadu diterbitkan pertama kali pada 1974 dari negara bagian Visakhapatnam.  Koran ini merupakan koran berbahasa Telugu dengan tiras terbesar di India dan mempunyai 13,8 juta pembaca di tahun 2006. Koran ini dimiliki oleh Ramoji Rao, yang merupakan pelaku usaha dan konglomerat media. Rao dan penerbitannya memainkan peran penting dalam pembentukan partai politik Telugu Desam Party, suatu partai lokal di negara bagian Andhra Pardes, yang menentang dominasi Partai Konggres. Sebagai koran yang merintis juga penerbitan edisi lokal, pada tahun 1989 Eenadu pertama kali menerbitkan edisi daerah dengan format tabloid berwarna 8 halaman. Dengan membuka saluran telepon, tiap orang yang menginginkan koran ini dapat menikmatinya dan diantar dengan jasa bus. Dewasa ini telah menggunakan internet untuk meraih pembaca yang lebih luas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s