Deandels dan Jalan Pos

Herman Willem Daendels yang berkuasa di abad 19 dan Sultan Agung pendiri wangsa Mataram yang berkuasa di abad 17 ternyata memiliki kaitan erat lewat keberadaan Jalan Raya Pos. Sebagian jalur Jalan Raya Pos (Gr ote Post Weg) yang dibangun oleh Daendels merupakan bagian dari jalan desa yang dirintis dan ditempuh pasukan Sultan Agung saat menyerang Batavia tahun 1628 dan 1629.

Daendels adalah seorang Marsekal yang diangkat menjadi Gubernur Jenderal di Hindia Belanda oleh Louis Napoleon, Raja Belanda. Louis Napoleon sendiri adalah adik Napoleon Bonaparte, kaisar Perancis yang diangkat sebagai wakil pemerintah perancis yang saat itu menguasai Belanda. Salah satu tugas yang diembankan kepada Daendels memperbaiki pertahanan Belanda di pulau Jawa dari kemungkinan serangan balatentara Inggris yang saat itu sudah memblokade pulau Jawa.

Jalan Raya Pos adalah jalan yang panjangnya kurang lebih 1000 km yang terbentang sepanjang utara Pulau jawa, dari Anyer sampai Panarukan. Dibangun pada masa pemerintahan Gebenur-Jendral Herman Williem Daendels. Pada tiap-tiap 4,5 kilometer didirikan pos sebagai tempat perhentian dan penghubung pengiriman surat-surat. Tujuan pembangunan Jalan Raya Pos adalah memperlancar komunikasi antar daerah yang dikuasai Daendels di sepanjang Pulau Jawa dan sebagai benteng pertahanan di Pantai Utara Pulau Jawa. Untuk mempertahankan Pulau Jawa dari serangan Inggris, Daendels membutuhkan armada militer yang kuat dan tangguh. Daendels membentuk pasukan yang berasal dan masyarakat pribumi. Daendels kemudian mendirikan pendidikan militer di Batavia, dan tempat pembuatan atau pabrik senjata di Semarang.

Sikap Daendels yang keras terhadap monarki di Jawa untuk mengakui Raja Belanda sebagai junjungan dan meminta perlindungannya membuat mereka dendam kepadanya. Ia mengubah jabatan para pejabat Belanda yang ada di kraton Solo dan Yogyakarta yang awalnya residen menjadi minister sehingga posisi mereka tidak lagi sebagai pejabat Belanda melainkan sebagai wakil Raja Belanda dan wakilnya di Kraton Jawa. Peraturan terhadap Raja – raja Jawa yang telah ditetapkan di masa VOC pun tidak lagi berlaku. Minister sejajar dengan Raja, memakai payung seperti Raja, tidak lagi duduk di lantai, membuka topi atau mempersembahkan sirih sebagai kehormatan terhadap Raja serta wajib disambut Raja dengan berdiri ketika mereka datang di kraton. Minister juga tidak perlu turun dari kereta jika di tengah jalan bertemu dengan Raja, cukup membuka jendela kereta dan boleh berpapasan dengan kereta Raja.

Meski ketentuan ini diterima oleh Pakubuwana IV di Surakarta, namun Sultan Hamengku Buwana II tidak. Daendels terpaksa menggunakan tekanan agar Sultan Yogyakarta bersedia melaksanakannya meski dalam hati tidak terima. Maka ketika orang – orang Inggris datang, mereka bersama dengan para Raja mengkhianati Belanda.

Blockade Inggris atas pulau Jawa telah menyebabkan Daendels harus datang ke Hindia Belanda melalui perjalanan panjang dengan menumpang kapal dagang berbendera Amerika Serikat asal New York. Setelah melalui perjalanan panjang, pada tanggal 5 Januari 1808 Daendels tiba di Anyer. Perjalanan dari Anyer ke Batavia dilakukan Daendels melalui darat dengan mempergunakan kereta kuda yang ditempuhnya selama 4 (empat) hari. Kondisi jalan tersebut lebih parah ketika musim penghujan karena tidak dapat dilalui.

Sebagai seorang yang berpengalaman di bidang strategi perang, dia menganggap jarak tempuh Anyer – Batavia selama 4 hari terlalu lama karena dapat menghambat distribusi bantuan yang diperlukan jika terjadi penyerangan oleh Angkatan Laut Inggris. Guna mengatasi pemasalahan tersebut, Daendels segera mengumpulkan semua pembesar pribumi di Semarang guna konsolidasi dalam upaya memperkuat pertahanan pulau Jawa agar tidak sampai jatuh ke tangan pasukan Inggris.

Karena perjalanan laut tidak memungkinkan, perjalanan dari Bogor ke Semarang dilakukan Daendels dengan kereta kuda melalui Bandung (Tatar Ukur) dan memakan waktu 10 hari perjalanan. Blokade laut yang dilakukan oleh Inggris dan lamanya perjalanan yang dibutuhkan untuk menempuh jarak dari Anyer ke Batavia dan dari Bogor ke Semarang memberikan inspirasi pada Daendels untuk membangun jaringan jalan sepanjang pulau Jawa yang dapat dilalui semua jenis kendaraan. Tujuannya, adalah agar waktu tempuh perjalanan darat antar kota dapat dipersingkat. Secara strategi Militer, kondisi tersebut dapat berdampak pada kemudahan dan kecepatan dalam permintaan atau pengiriman bala bantuan ketika diperlukan.

Sampai pertengahan abad ke 18, perjalanan dari Batavia ke pedalaman Priangan dilakukan dengan naik perahu atau rakit melewati Sungai Citarum dan Cimanuk. Baru pada tahun 1786, jalan setapak yang bisa dilewati kuda mulai menghubungkan Batavia, Bogor, Cianjur dan Bandung. Perhatian terhadap pembangunan jalan di pulau Jawa, termasuk ruas Batavia, Bogor, Cianjur dan Bandung, baru mendapat perhatian pemerintah kolonial Belanda pada masa pemerintahan gubernur jenderal Herman Willem Daendels (1808-1811) melalui pembangunan jalan raya pos yang membentang dari Anyer sampai Panarukan atau Jalan Raya Pos atau “De Groote Postweg”(Kunto, 1984:11-13).

Sejarawan Mona Lohanda  menjelaskan, beberapa ruas Jalan Raya Pos merupakan perluasan dari jalan yang pernah dirintis atau digunakan pasukan Sultan Agung dari Mataram.  Ketika itu Sultan Agung bermaksud mengukuhkan kekuasaan di tanah Jawa dengan menyerang Batavia lalu menguasai Banten. Itu sebabnya Kesultanan Banten tidak membantu pengepungan yang dilakukan Sultan Agung terhadap Batavia.

Penulis Belanda Pierre Heiboer dalam Klamboes, Klewang, Klapperbomen Indie Gewonnen en Verloren menulis, semula Sultan Agung tidak memandang Belanda di Batavia sebagai musuh. Namun, sikap Sultan Agung berubah saat dia berusaha mengalahkan Banten.

Heijboer menulis …Vijanden van Mataram werden ze pas toen ze weigerden de sultan sch epen te lenen voor de verovering van Bantam. Het brach Agoeng tot het besluit … eerst Batavia veroveren en daarna Bantam yang kurang lebih berarti permusuhan berawal ketika Belanda menolak meminjamkan kapal kepada Sultan Agung untuk menyerang Banten, Sultan Agung pun memutuskan untuk mengalahkan Batavia terlebih dahulu, selanjutnya Banten ditaklukkan.

Sebelumnya, seperti dalam tulisan Pramoedya Ananta Toer, Jalan Pos Jalan Daendels, disebutkan Sultan Agung telah melebarkan kekuasaan dengan menguasai dataran tinggi Priangan. Setiap tahun, para bangsawan Pasundan pun diwajibkan datang ke Mataram sebagai wujud kesetiaan pada Sultan Agung.

Semasa menyerang Batavia, Sultan Agung memiliki dua panglima yakni Bahureksa yang berasal dari suku Jawa dan Dipati Ukur yang merupakan bangsawan Sunda. Pasukan bergerak dari wilayah Jawa Tengah dan dataran tinggi Priangan di Jawa Barat. Salah satu gudang beras pasukan Sultan Agung terdapat di sekitar Cirebon, Jawa Barat dan Tegal, Jawa Tengah. Ribuan rakyat desa dikerahkan menjadi tenaga bantuan untuk mendukung pasukan Sultan Agung.

Mengingat usulan pembangunan jalan raya baru dipastikan tidak akan dikabulkan pemerintah kerajaan Belanda dengan alasan akan memakan dana besar dan menguras kas pemerintah, maka Daendels mengajukan usulan kepada pemerintah pusat di Belanda berupa perbaikan sistem jalan di pulau Jawa, bukan membangun jalan baru yang memakan dana besar. Pada pelaksanaannya, Daendels memperbaiki jalan dari Cisarua sampai Karangsembung dengan biaya pemerintah sepanjang lebih kurang 150 km.

Untuk membangun jalan raya sisanya sepanjang 850 km, Daendels pada tanggal 5 Mei 1808 memerintahkan aparat pemerintahan di pulau Jawa untuk mengerahkan pekerja rodi (pekerja sukarela dengan tidak dibayar) yang tugasnya adalah memperbaiki dan meningkatkan kualitas jaringan jalan yang sudah ada hingga dapat dilalui oleh semua jenis kendaraan.

Perintah Daendels inilah yang menjadi awal penderitaan dan kesengsaraan orang Indonesia dalam membangun jaringan jalan terpanjang di dunia pada masa itu. Kesengsaraan dan penderitaan tersebut disebabkan karena selama pembangunan jalan, peralatan yang dipergunakan adalah peralatan sederhana yang dibawa pekerja dari rumah masing-masing, medan yang berat, serangan penyakit mematikan (malaria), tidak tercukupinya asupan makanan, serta berbagai bentuk kekejaman lainnya. Rakyat tidak dapat menolak perintah sang Gubernur Jenderal walau dirasa merugikan, karena penolakan akan berujung pada penyiksaan dan kematian.

Pada bulan Juni 1808 setibanya di Karangsambung, Daendels menyediakan dana 30000 (tiga puluh ribu) Gulden untuk membayar tenaga kerja. Dana tersebut habis di luar dugaannya. Sehingga tidak ada lagi dana untuk pembiayaan pembuatan jalan tersebut.

Pada pertengahan Juli 1808, Daendels berkunjung ke Semarang. Ia mengundang semua bupati di sepanjang pantai utara Jawa. Dalam pertemuan itu ia menyampaikan bahwa pembuatan jalan itu harus diteruskan demi kesejahteraan rakyat. Para bupati diperintahkan untuk menyediakan tenaga kerja dengan konsekwensi membebaskan mereka dari kewajiban bekerja untuk bupati dan fokus pada pembuatan jalan. Para bupati juga diharuskan menyediakan kebutuhan pangan bagi para pekerja tersebut. Pekerjaan ini diawasi secara serius oleh para prefect yang merupakan kepala daerah pengganti Residen VOC. Setelah kesepakatan tercapai, pembuatan jalan diteruskan dari Karangsambung hingga Cirebon.

Pada bulan Agustus 1808, pembuatan Jalan Raya Pos telah sampai di Pekalongan. Sementara itu, jalan Pekalongan hingga Surabaya telah ada. Jalan tersebut telah dipakai pada tahun 1806 oleh Gubernur Pantai Timur Laut Jawa Nicolaas Engelhard untuk membawa pasukan Madura dalam rangka menumpas pemberontakan Bagus Rangin. Oleh karenanya Daendels hanya melebarkan saja. Ia memerintahkan pembuatan  jalan dari Surabaya hingga Panarukan yang digunakan sebagai pelabuhan ekspor paling ujung di Jawa Timur pada waktu itu.

Untuk mendukung proyek tersebut, Daendels selaku Gubernur Jenderal Hindia Belanda memerintahkan kepada Bupati di sepanjang jalur yang dilewati Jalan Raya Pos harus membangun pusat pemerintahannya di daerah yang dilalui Jalan Raya Pos yang sedang dibangun, jika berada jauh dari jalan raya pos maka harus segera dipindahkan. Berkaitan dengan hal tersebut, tanggal 25 Mei 1810 Daendels mengeluarkan surat perintah kepada bupati Bandung, Wiranatakusumah II yang isinya perintah untuk memindahkan ibukota kabupaten Bandung dari Karapyak ke daerah yang dilalui oleh Jalan Raya Pos. Perintah Gubernur Jenderal tersebut segera dilaksanakan oleh Bupati Bandung, Wiranatakusumah II. Setelah berbulan-bulan mencari lahan yang ideal untuk pusat pemerintahan dan pembangunan pendopo kabupaten, maka pada tanggal 25 September 1810 secara resmi ibukota kabupaten Bandung pindah dari Karapyak ke lokasi baru di sisi selatan Jalan raya Pos tepian yang tepat di tepian sungai Cikapundung (kawasan Alun-alun Bandung, sekarang).

Selain itu, harapan yang disampaikan Daendels kepada pengelola kota Bandung ketika melakukan inspeksi pembangunan jembatan yang melintas di atas sungai Cikapundung, yaitu “Zorg, dat als ik terug kom hier een stad is gebound !” yang artinya “coba usahakan, bila aku kembali datang di tempat ini telah dibangun sebuah kota !” (Kunto, 1984:14). Harapan atau keinginan Daendels tersebut mendorong pemerintah kabupaten Bandung untuk berbenah hingga terwujud sebuah kota. Hal ini menunjukkan, secara tersirat harapan atau perintah Daendels tersebut menunjukkan perlunya dibangun berbagai fasilitas pendukung pemerintahan di Bandung yang dapat menjadi peyangga Batavia.

Uraian tersebut menunjukkan, bahwa perintah pemindahan ibukota kabupaten yang dilalui Jalan raya Pos ke tepian jalan raya pos memiliki tujuan agar memudahkan komunikasi dan konsolidasi pemerintahan dalam menghadapi ancaman penyerangan pasukan Inggris. Selain itu, perintah pemindahan Ibukota kabupaten Bandung dari Karapyak dan harapan Daendels ketika melakukan inspeksi pembangunan jembatan Cikapundung memiliki maksud agar Bandung dipersiapkan sebagai kawasan penyangga Batavia atau dengan kata lain sebagai tempat pengungsian.

Ketika baru saja menginjakkan kakinya di Pulau Jawa, Daendels berangan untuk membangun jalur transportasi sepanjang pulau Jawa guna mempertahankan Jawa dari serangan Inggris. Angan-angan Daendels untuk membangun jalan yang membentang antara Pantai Anyer hingga Panarukan, direalisasikannya dengan mewajibkan setiap penguasa pribumi lokal untuk memobilisasi rakyat, dengan target pembuatan jalan sekian kilometer. Yang gagal, termasuk para pekerjanya, dibunuh. Kepala mereka digantung di pucuk-pucuk pepohonan di kiri-kanan ruas jalan. Gubernur Jenderal Daendels memang menakutkan. Ia kejam, tak kenal ampun. Dengan tangan besinya jalan itu diselesaikan hanya dalam waktu setahun saja (1808). Suatu prestasi yang luar biasa pada zamannya.

Angan-angan Daendels untuk membangun jalan yang membentang antara Pantai Anyer hingga Panarukan, direalisasikannya dengan mewajibkan setiap penguasa pribumi lokal untuk memobilisasi rakyat, dengan target pembuatan jalan sekian kilometer. Yang gagal, termasuk para pekerjanya, dibunuh. Kepala mereka digantung di pucuk-pucuk pepohonan di kiri-kanan ruas jalan.
Jalan Raya Pos menghubungkan kota-kota berikut: Anyer- Serang- Tangerang- Jakarta- Bogor- Sukabumi- Cianjur- Bandung- Sumedang- Cirebon- Brebes- Tegal- Pemalang- Pekalongan- Kendal- Semarang- Demak- Kudus- Rembang- Tuban- Gresik- Surabaya- Sidoarjo- Pasuruan- Probolinggo- Panarukan.

Bila melihat kota-kota yang dilalui oleh Jalan raya pos, ternyata rute jalan raya tersebut tidak hanya menyusuri pesisir utara pulau Jawa dan menghubungkan kota-kota pelabuhan utama, karena dari Batavia jalan berbelok ke selatan menuju tengah-tengah pulau Jawa dan setelah melalui Tatar Ukur (Bandung, sekarang) rute jalan raya tidak terus ke selatan melainkan kembali berbelok menuju pesisir utara pulau Jawa, tepatnya menuju kota pelabuhan Cirebon. Dari Cirebon, jalan raya tersebut menyusuri pesisir utara pulau Jawa menghubungkan kota-kota pelabuhan yang berada di Jawa Tangah dan Jawa Timur hingga berakhir di Panarukan.

Bersamaan dengan saat pembangunan jalan raya, Daendels juga mendirikan jasa pos dan telegraf, sehingga jalan ini dikenal sebagai Jalan Raya Pos (De Groote Postweg).

Banyak sejarawan berpendapat bahwa Jalan Raya Pos (Postwegen) atau yang kini disebut dengan Jalan Daendels dibuat oleh Daendels dari Anyer hingga Panarukan. Pada kenyataannya jalan dari Anyer hingga Banten telah ada ketika Daendels tiba di Jawa.

Menurut Plakaatboek van Nederlandsch Indie jilid 14, jalan yang dibuat oleh Daendels dimulai dari Buitenzorg menuju Cisarua kemudian diteruskan hingga Sumedang pada bulan Mei 1808, sumber lain berpendapat bahwa jalan Daendels ini dibangun mulai dari Meester Cornelis (Jatinegara) selanjutnya ke selatan (Buitenzorg).

Dalam peta Raffles terbitan London tahun 1817 (peta ini lebih tua daripada peta-peta Belanda) dapat diketahui bahwa Jalan Raya yang dibuat Daendles dimulai dari Banten. Kondisi alam yang sulit berupa batuan pegunungan Cadas di Sumedang mengakibatkan pekerjaan tersebut berhenti. Para pekerja menolak melanjutkan pekerjaan yang sangat berat itu.

Keadaan ini membuat Pangeran Korel turun tangan dan menghadap Daendels. Ia meminta pengertian dan pemahaman Daendels atas keberatan para pekerja tersebut. Daendels pun memerintahkan Brigadir Jenderal von Lutzow yang menjabat sebagai komandan pasukan Zeni untuk segera mengambil tindakan. Dengan tembakan artileri bukit cadas berhasil diratakan. Pembuatan jalan berhasil diteruskan hingga Karangsambung. Dimulai dari Karangsambung, pembuatan jalan dilakukan dengan system kerja upah.

Jalan yang niat awalnya dibangun untuk tujuan militer dan mulai digunakan sejak tahun 1809, pada perkembangan berikut justru berkembang menjadi sarana perhubungan sangat penting di Pulau Jawa. Jalan ini telah menjadi saksi bisu lalu lintas berbagai barang komoditas yang diangkut melintasinya sejak masa penjajahan hingga sekarang.

Kini, di usia yang sudah memasuki dua abad, Jalan Raya Pos telah berperan sebagai salah satu urat nadi utama perekonominan Indonesia, khususnya di Pulau Jawa.Sejarawan Indonesia yang mayoritas menggunakan data utama berupa arsip Belanda pun terpaksa menjadi korban kesalahan dengan meyakini pembuatan jalan tersebut dari Anyer hingga Panarukan melalui kerja rodi.

Selain itu manfaat dari jalan tersebut tidak pernah disebutkan diantaranya adalah semakin banyaknya hasil produk kopi dari pedalaman Priangan yang diangkut ke pelabuhan Cirebon dan Indramayu dimana sebelumnya kebanyakan membusuk di gudang – gudang kopi Sumedang, Limbangan, Cisarua dan Sukabumi. Jarak antara Batavia dan Surabaya yang sebelumnya ditempuh selama 40 hari pun cukup dengan 7 hari saja sehingga sangat bermanfaat bagi pengiriman surat yang kemudian oleh Daendels dikelola dalam dinas Pos.

Menetang Deandels

Pejabat Belanda yang tidak menyukai Perancis dan tetap setia kepada dinasti Oranje yang melarikan diri ke Inggris banyak yang tidak sepaham dengan Daendels. Meski demikian mereka tidak bisa berbuat banyak, sebab penentangan terhadap Daendels akan berakibat pemecatan dan penahanan.

Hal ini terjadi pada beberapa pejabat diantaranya; Prediger (Residen Manado), Nicolaas Engelhard (Gubernur Pantai Timur Laut Jawa) dan Nederburgh (bekas pimpinan Hooge Regeering). Mereka di pecat dan kembali ke Eropa. Melalui informasi yang dikirim dari para pejabat lain yang diam-diam menentang Daendels seperti; Peter Engelhard (Minister Yogyakarta), F. Waterloo (Prefect Cirebon), dan F. Rothenbuhler (Gubernur Ujung Timur Jawa), mereka menulis keburukan Daendels.

Di dalam tulisan itu disebutkan bahwa pembuatan Jalan Raya Pos dilakukan dengan kerja paksa/rodi dan memakan banyak korban jiwa. Meski demikian tulisan tersebut menuai kontroversi sebab mereka sendiri tidak berada di Jawa ketika jalan tersebut dibuat. Kejanggalan ini dibuktikan dengan tulisan yang menyebutkan bahwa pembangunan Jalan Raya Pos dimulai dari Anyer hingga Panarukan, sementara Daendels memulai pembuatan jalan dari Buitenzorg. Sangat disayangkan data yang paling banyak ditemukan adalah arsip – arsip mereka yang disimpan di Belanda, sedangkan data – data yang dilaporkan Daendels atau para pejabat yang setia kepadanya seperti J.A. van Braam (Minister Surakarta) tidak ditemukan kecuali tersimpan di Perancis. Hal itu dikarenakan Daendels melaporkan semua pelaksanaan tugasnya kepada Napoleon setelah penghapusan Kerajaan Belanda pada tahun 1810.

Atas pertimbangan Napoleon Bonaparte, dalam rangka penyerbuan ke Rusia maka Daendels dipanggil pulang ke Perancis. Kekuasaannya diserahkan kepada Jan Willem Janssens. Napoleon memerlukan seorang jenderal yang handal dan pilihannya jatuh kepada Daendels. Dalam korps tentara kebanggaan Perancis (Grande Armee), ada kesatuan Legiun Asing (Legion Estranger) yang terdiri atas kesatuan bantuan dari raja-raja sekutu Perancis. Di antaranya adalah pasukan dari Duke of Wurtemberg yang terdiri atas tiga divisi (kira-kira 30 ribu tentara). Tentara Wurtemberg ini sangat terkenal sebagai pasukan yang berani, pandai bertempur tetapi sulit dikontrol karena latar belakang mereka sebagai tentara bayaran pada masa sebelum penaklukan oleh Perancis. Napoleon mempercayakan kesatuan ini kepada Daendels dan dianugerahi pangkat Kolonel Jenderal.

Setibanya di Paris dari Batavia, Daendels disambut sendiri oleh Napoleon di istana Tuiliries dengan permadani merah. Di sana ia diberi instruksi untuk memimpin kesatuan Wurtemberg dan terlibat dalam penyerbuan ke Rusia pada tanggal 22 Juni 1812.

Setelah kekalahan Napoleon di Waterloo dan Belanda merdeka Kembali, Daendels menawarkan dirinya kepada Raja Willem I tetapi ditolak. Ia tidak terlalu suka terhadap mantan Patriot dan tokoh revolusioner ini. Namun pada tahun 1815 Daendels ditawari pekerjaan menjadi Gubernur Jenderal di Ghana. Ia meninggal dunia di sana akibat penyakit Malaria pada tanggal 8 Mei 1818.