Bollywood, Perkembangan dan Tantangan di Tingkat Global

Industri film India, terutama Bollywood, telah berkembang dalam dua abad terakhir. Semua perkembangan tersebut itu telah menjadi cerita panjang hampir 9 dekade, dengan gambar hidup yang telah berubah menjadi sebuah kerajaan ekonomi multicabang dan luas.  Sinema India dewasa ini merupakan ini  industri film terbesar di dunia dalam hal jumlah film dan telah menghasilkan sekitar 27.000 film dan ribuan film dokumentasi pendek. Setelah memantapkan dirinya sebagai industri  yang patut diakui, industri film India telah membuat banyak kemajuan di hampir semua bidang, seperti infrastruktur ritel, pembiayaan, pemasaran dan distribusi. Dengan penyebaran besar India diaspora dan pertumbuhan brand India, telah membuat terobosan di pasar internasional. Bahkan, pada masa lalu, ekspor  film India  lebih tinggi daripada penjualan domestik. Industri ini telah membuat kemajuan dalam 4 aspek globalisasi, yaitu, barang/jasa, modal, teknologi dan people. Di masa depan untuk mendapatkan pangsa pasar yang besar dan menyaingi Hollywood dalam soal keuangan, industri ini perlu diberitakan dukungan peluang dan modal, terutama dalam pemasaran internasional dan distribusi.

India sebetulnya merupakan negara pertama yang “melek sinema.” Pada tahun 1896, setahun setelah kamera film ditemukan di Prancis, gambar hidup itu dipertunjukkan oleh penemunya, Lumiere bersaudara, di Mumbai (dulu bernama Bombay, dan dari kata ini kemudian membentuk kata Bollywood), yang pada waktu itu masih dijajah Inggris.  Pada waktu itu diputar untuk pertama kalinya 6 film yang berdurasi pendek. Sebuah film yang berjudul King Harishchandra untuk pertama kali diputar pada tahun 1913 dan berkategori sebagai film bisu. Film Lights of Asia karya  Himansu Rai merupakan film yang pertama kali diproduksi yang bekerjasama dengan Jerman (1925). Sementara itu, “gambar idoep jang bisa bitjara”  pertama kali diputar pada tahun 1931 dengan judul Alam Ara. Pada tahun 1933, untuk pertama kali berhasil diproduksi film berwarna (yang dicetak dan diproses di Jerman) dengan judul Sairandhri dari Prabhat Studios. Sesudah dilaksanakannya Kongres Produser Film India (1935) pada tahun 1940, Pemerintah Kolonial mendirikan Badan Pertimbangan Perfilman.

Sesudah Festival Film India dilaksanakan di Mumbai (1952 dan sejak 1974 acara ini menjadi acara tetap tiap tahun), maka pemerintah memberlakukan UU Perfilman (1952) yang menggantikan UU lama (1918), disusul dengan UU Hak Cipta (1958). Geliat industri film bersamaan dengan percobaan penyelenggaraan siaran televisi (1956) dan penyiaran dengan program tersistematisasi (1965).setelah didirikan Institut Film India

Setelah pencapaian jumlah produksi film terbesar di dunia pada tahun 1971 yang mencapi 433 judul per tahun, maka Mumbai pun kemudian berkembang menjadi pusat industri film terbesar di dunia.

Perfimlan India, terutama Bollywood, telah banyak perubahan sejak awal pertumbuhan awal. Beberapa perubahan besar terjadi pada pergantian abad ketika produk film Indiamemperoleh status sebagai sebuah industri. Setelah itu film India berkembang ke arah yang baru. Salah satu perubahan tersebut adalah interaksi yang lebih intens antara kekuatan global dan lokal yang terjadi selama tahun 1990-an. Hari ini, setiap fungsi dan kegiatan yang berkaitan dengan bisnis film India menjadi didefinisikan dengan baik dan sistematis, baik itu infrastruktur ritel, aspek keuangan, pemasaran atau distribusi. Hanya dalam waktu kurang dari 5 tahun sesudah perkembangan terbaru tersebut, industri film telah menjadi sebuah bisnis yang terorganisir. Ini adalah industri film India yang baru. Produser film India tertarik untuk membuat struktur perusahaan yang serius serta bisnis asing menanamkan investasi ke industri film. Sebuah tampilan kapital lalu menggelanyuti Bollywood dan semakin memiliki perkembangan yang besar. Salah satu indikatornya adalah  jumlah produksi film Bollywood yang mencapi lebih dari 1000 judul film per tahun sehingga hal ini menempatkan sebagai industri film terbesar di dunia. Studio sudah berkembang di tingkat global dan pendapatan dari banyak film di masa lalu tidak begitu jauh lebih tinggi di luar negeri daripada di India. Film-film India telah terlihat di daftar 10 film di Inggris dan Amerika.

Dalam Tempo edisi 16 Juni 2013 halaman 63 dikatakan bahwa tidak semua film India itu bisa disebut sebagai film Bollywood. Secara umum sinema India bisa dikategorikan ke dalam 4 golongan yaitu Bollywood yang berbahasa Hindia, sinema regional, sinema pararel, dan sinema diaspora.

Kategori Bollywood merujuk kepada film India yang berbahasa Hindia, bahasa resmi Republik India.  Pasar film Hindi ini boleh dikatakan tersebar ke seluruh India dan banyak diekspor ke seluruh dunia, termasuk Inggris, Amerika, Indonesia, negara-negara Afrika, bahkan Jepang. Kemudian, sinema regional adalah film yang menggunakan bahasa non-Hindia. Jumlahnya tidak sedikit mengingat ada ratusan bahasa di 29 negara bagian India. Sinema regional ini cukup tinggi produksinya.  Ada sekurang-kurangnya 5 bahasa lokal yang digunakan dan jumlah produksi setiap tahun hampir mencapai 100 judul. Bahkan 2 diantaranya jumlahnya sangat dekat dengan produksi Bollywood, yaitu sinema Telugu (192 film) dan Tamil (185 film). Bahasa apapun yang dipakai, resep yang khas dalam tayangan film ini adalah tokoh-tokoh khayalan dengan perbuatan kepahlawanan hebat, konflik hitam-putih, dan digulirkan setidaknya dalam 3  jam dengan 20-an lagu dan tarian. Kemunculan Inspektur Veejay sebagai tokoh polisi yang jahat sudah menjadi seteriotip (Tempo, 16 Juni 2013, halaman 64).

Sementara itu, sinema pararel adalah film yang merujuk kepada perfilman yang berkembang di luar indyustri. Ini adalah film art house, film seni, atau film personal yang tidak mau tunduk kepada kekuatan modal. Di dunia internasional, jenis film ini paling dikenal lewat karya Satyajit Ray, sineas berlatar dari keluarga Bengali. Kebetulan pula para perintis jalan gelombang baru (new wave) sinema Indian ini banyak berbahasa Bengali. Selian Satyajit Ray, para aktivis film berbahasa Bangali antara lain Mrinal Sen, Shyam Benegal, Bimal Roy, dan Shaji Neelakantan Karun. Mereka tumbuh bersama gerakan Le Nouvelle Vague di Prancis dan nerorealisme di Italia. Dan, mereka yang kemudian mendominasi kehadiran India di festival internasional bergengsi.

Adapun sinema diaspora adalah karya-karya perantau India di luar negeri, seperti Mira Nair (film Namesake) yang tinggal di New York,Deepa Mehta (Bollywood/Hollywood) di Kanada, dan Gurinder Chada di London. Karya mereka sebagian besar berbahasa Inggris, tetapi menampakkan topik keindiaan yang kuat, seperti mengangkat persoalan warga keturunan India. Contohnya film Bnd It Like Beckham karya Gurinder.

Kiprah industri film India memang sudah merambah dunia dan memberikan keuntungan yang signifikan. Perusahaan-perusahaan film yang tercatat di Bursa Saham London, seperti Eros, Adlabs, India Film Company, dan UTV telah menarik institusi keuangan untuk membenamkan investasi bernilai jutaan poundsterling.  Perusahaan film Barat berbagai keuntungan secara signifikan terhadap perusahaan-perusahaan film tersebut. Pada 24 Januari 2005, Percept Picture Company telah bersepakat dengan Further Films and Sahara One, sebuah perusahaan film milik Michael Douglas, dengan kontrak senilai US$ 50 juta guna menghasilkan film Racing the Monsoon. Pada bulan September, Sahara mengumumkan kesepakatan lain, yaitu menggandeng produser film Hollywood Donald Rosenfeld untuk membuat film Tree of Life dengan aktor Colin Farrell. Ini merupakan 2 diantara 6 kesepakatan untuk membuat film bersama dengan produser Hollywood. Pada 20 Oktober 2005, Sony Pictures membuat kesepakatan dengan Sanjay Leela Bhansali untuk membuat film Saawariya. Film ini dirilis di seluruh dunia dengan 1.000 kopi, suatu jumlah yang tidak pernah terdengar sebelumnya untuk film India, yang biasanya rata-rata hanya mencapai 250 kopi. Ini juga menjadi pertama kali sebuah perusahaan di Hollywood memproduksi film India.

Bollywood menghadapi sejumlah tantangan dalam proses globalisasi. Pangsa pasar yang relatif kecil dan terfragmentasi adalah masalah besar. Untuk membuka potensi Bollywood dalam pasar global maka  produksi, distribusi dan ritel disesuaikan dengan kebutuhann pasar. Meskipun terus kehilangan pendapatan dari film box office hingga seperlima dari India, Hollywood sedang penuh antusiasme untuk menggarap pasar bersama dengan China. Pada tahun 2005 itu diinvestasikan US$ 150 miliar ke dalam bisnis film di China. Sebagian besar uang itu digunakan untuk produksi film dan membangun infrastruktur ritel di Cina. Hal ini karena pasar film Cina tetap, terlepas dari segala permasalahannya, lebih mudah, lebih terorganisir jika dibandingkan dengan India.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s