Abe dan Pertaruhan Ekonomi Jepang

abenomi

Tingkat pertumbuhan produk domestik bruto 3,5% diumumkan oleh Tokyo Rabu pekan lalu yang menunjukkan bahwa ekonomi Jepang tumbuh paling cepat diantara negara G7. Karena pasar saham Tokyo mencapai dasar 6 bulan yang lalu, indeks saham Nikkei telah melonjak hampir 80 persen. Sementara itu, yen telah mengalami langkah terbesarnya dalam 6 bulan yang sama terhadap dolar. Semua peristiwa ini tampaknya terkait dengan pemilihan Shinzo Abe dan otoritas yang dipilihnya di  Bank of Japan.

 

Bahkan setelah 20 tahun stagnasi, Jepang tetap merupakan negara dengan tingkat ekonomi terbesar ketiga di dunia, dengan PDB 2012 sebesar $ 6 triliun sama dengan  gabungan antara Perancis, Italia dan Spanyol. Pemodal, pemimpin bisnis, dan ekonom di mana-mana mulai bertanya: Apakah Jepang akhirnya memerlukan mengambil tindakan yang radikal  untuk memperbaiki ekonomi dan mengakhiri  masa “dekade yang hilang”  di negeri sakura ini? Akan tetapi hal itu merupakan pertanyaan yang salah.  Bagaimanapun, pertanyaan itu dianggap mengacaukan 2 hal yang sangat berbeda dan  harus secara hati-hati dibedakan untuk memahami apa yang terjadi di Jepang.

 

Pertanyaan pertama adalah apakah Jepang benar-benar berkomitmen untuk melakukan tindakan jauh lebih radikal dari apa yang sudah diputuskan dalam 20 tahun terakhir. Pertanyaan kedua adalah apakah tindakan ini, jika disertai dengan tekad dan ketekunan, akan memperbaiki ekonomi Jepang?

 

Pertanyaan pertama dijawab dengan  “ya” pada Maret lalu, ketika Abe menunjuk Haruhiko Kuroda sebagai Gubernur Bank of Japan. Kuroda adalah pemikir yang independen dan berasal dari  birokrat  yang gemar mencari konsensus dan sistem ini telah mendominasi kebijakan Jepang selama 20 tahun. Kuroda  segera menunjukkan hal ini  dalam pertemuan pertamanya  dengan Dewan Gubernur. Dia mengumumkan stimulus moneter  dengan proporsi yang relative mengejutkan terhadap ukuran ekonomi Jepang  karena menjadi tiga kali lebih besar dibandingkan pelonggaran kuantitatif  yang diputuskan Federal Reserve di Amerika Serikat.

 

Akan tetapi penjelasan inimasih menyisakan pertanyaan kedua: apakah ekspansi makroekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya di Jepang berhasil memberikan dampak diharapkan untuk pertumbuhan ekonomi? Jawabannya adalah “mungkin.”

 

Kebanyakan  analis ekonomi dan invetasi mengurai argumen secara bottom-up di mana menurut laporan perusahaan penelitian dan sektor industri secara rinci, menempatkan probabilitas keberhasilan jauh di bawah 50 persen. Jepang, di atas segalanya, memiliki masalah struktural yang mendalam: populasi menyusut, misalokasi investasi, utang publik yang sangat besar, lobi oleh para proteksionis dalam pelayanan industri dan pertanian, praktek perburuhan yang tidak fleksibel, manajemen imajinatif, dan sebagainya. Tak satu pun dari persoalan-persoalaan tersebut dapat diperbaiki oleh kebijakan moneter.

 

Mengapa kemudian memiliki investor pasar saham berubah begitu spekualatif? Karena investor  yang bersifat top-down, yang mencari keuntungan dari pertumbuhan ekonomi makro, telah mengabaikan skeptisisme investor bercorak bottom-up. Untuk melihat mengapa mereka telah melakukan hal ini – dan mengapa mereka mungkin benar – mari kita kembali ke dua pertanyaan di atas.

 

Analis bottom-up, yang kebanyakan mengkaji tentang masalah struktural,  secara masuk akal berpendapat bahwa kebijakan ekonomi makro tidak akan membantu Sony menciptakan iPhone berikutnya. Kebijakan itu tidak akan menekan dana pensiunan menjadi pemborosan atau menghentikan perusahaan-perusahaan Jepang dari  penimbunan laba dan malah tidak mendistribusikan kelebihan kas kepada pemegang saham melalui dividen yang lebih tinggi atau untuk pekerja melalui upah yang lebih tinggi.  Investor top down, di sisi lain, melihat ekspansi fiskal dan moneter walaupun belum pernah terjadi sebelumnya sebagai alasan yang cukup baik untuk membeli saham Jepang dan menjual yen. Tapi jika spekulasi terus dilakukan dengan alasan Jepang akan tetap bertahan dalam kondisi tersebut, mereka bisa mengubah realitas ekonomi Jepang dan memenangkan kontes intelektual mereka dengan analis skpetis yang bercorak bottom-up.

 

Hal ini bisa terjadi karena empat alasan.

 

Pertama, efek kekayaan diciptakan oleh kenaikan pasar saham dan  kejatuhan mata uang bisa mengubah beberapa masalah struktural. Andrew Sheng dari Fung Global Institute telah menghitung bahwa keuntungan dalam kekayaan rumah tangga Jepang dihasilkan dari pergerakan pasar baru-baru ini  yang sudah setara dengan hampir 40 persen dari PDB. Ini merupakan kekayaan ekstra yang telah memberikan kontribusi terhadap perbaikan besar dalam kepercayaan konsumen dan kemungkinan akan meningkatkan belanja konsumen dan ekspansi bisnis, terutama dalam industri jasa. Demikian pula, keuntungan ekstra bagi eksportir Jepang akibat yen yang lemah untuk meningkatkan upah dan dividen, juga mendorong lebih banyak konsumsi.

 

Kedua, karena spekulasi pasar ekuitas Jepang sebagian besar didorong oleh investor, yang berfokus pada isu-isu ekonomi makro,  maka sebagian besar investor jangka panjang tradisional, yang berkonsentrasi pada masalah struktural dan analisis perusahaan bottom-up, telah melewatkan salah satu peluang investasi terbesar dalam tahun-tahun ini. Jika keuntungan pasar saham Jepang kemudian menurun, investor makro tidak akan peduli. Tapi fakta bahwa banyak investasi tradisional telah ditinggalkan menunjukkan bahwa spekulasi di Jepang mungkin dalam jangka panjang akan menjauh, bukan mencapai puncaknya. Jika spekulasi pasar  terus brlangsung hingga bahkan beberapa bulan lagi, investor bottom-up  yang skeptis harus mulai membeli jika mereka ingin bertahan dalam bisnis. Setelah berhasil menarik investor, mereka akan menemukan alasan untuk percaya bahwa fundamental perusahaan dan ekonomi telah membaik. Alih-alih menanyakan apakah kebijakan moneter akan membantu Sony menciptakan iPad berikutnya, mereka akan mulai berspekulasi bahwa Sony harus memiliki beberapa produk baru yang brilian karena harga sahamnya telah meningkat begitu cepat.

 

Ketiga, jika analisis makroekonomi  mulai membanjiri skeptisisme struktural, perubahan dapat diharapkan untuk mengubah realitas ekonomi itu sendiri. Investasi, konsumsi dan pekerjaan semua akan tumbuh cepat jika spekulasi pasar keuangan menghasilkan kepercayaan prospek pertumbuhan jangka panjang di Jepang. Jepang kemudian bisa menjadi kasus klasik dari John Maynard Keynes mengenai gambaran “insting hewani” dan apa George Soros menyebut “refleksivitas” – untuk menjelaskan kemampuan pasar keuangan yang mampu mengubah realitas ekonomi.

Keempat, stimulus makroekonomi dalam beberapa bulan terakhir hanya awal, bukan akhir, dari program Abe. Abenomics telah digambarkan sebagai bergerak dengan 3 anak panah  yaitu stimulus fiskal, ekspansi moneter dan reformasi struktural. Panah ketiga akan dipenuhi hanya jika Abe memenangkan pemilihan Majelis Tinggi pada bulan Juli yang akan datang. Setelah pemilu, Abe hampir dipastikan akan membuat reformasi struktural di berbagai bidang seperti kompetisi internasional, partisipasi tenaga kerja perempuan, deregulasi kerja, harga energi yang lebih rendah, dan pajak perusahaan. Reformasi ini kemungkinan akan ditentang oleh oposisi berkat lobi-lobi politik yang kuat. Tetapi untuk beberapa hal setidaknya hampir pasti untuk terus menerus dilakukan.

 

Abe mungkin akan mengatakan  Jepang akan tidak punya pilihan. Ekspansi fiskal dan moneter yang sudah dimulai pada beberapa bulan pertama Abenomics telah begitu ekstrim sehingga tidak ada jalan kembali. Kecuali Jepang dapat mencapai pertumbuhan ekonomi lebih cepat, eksperimen radikal Abe dengan stimulus makroekonomi akan menciptakan  utang yang semakin besar dan dampak moneter yang begitu besar sehingga akan membangkrutkan sistem keuangan dan mungkin memicu inflasi.

 

Singkatnya, Abe telah bertaruh untuk negaranya pada keberhasilan program ekonominya. Dia sekarang akan dipaksa untuk melakukan apa pun untuk mencapai pertumbuhan yang kuat baik melalui stimulus makroekonomi dan reformasi struktural.

 

Aritmatika keuangan Abenomics berarti bahwa stagnasi tidak lagi ditoleransi  akan menjadi pilihan bagi Jepang.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s