Tidak Salat Karena Takut Dibunuh

Judul artikel ini terinspirasi dari cerita Cak Lontong ketika diwawancarai dalam acara gelar wicara (talk showHitam Putih beberapa bulan lalu. Semasa kuliah, Cak Lontong memang tergolong orang yang krtitis terhadap persoalan yang ada di sekitarnya—salah satunya bahasa. Waktu itu di tempat kosnya, ia membaca informasi di dinding kamar mandi yang tertulis “Buang Air Harap Disiram”. Tanpa rasa bersalah, ia menghabiskan air bak mandi tersebut. Hal ini tentu saja membuat Ibu Kos marah ketika salah seorang teman Cak Lontong melaporkan bahwa air bak mandi habis tanpa sisa. Ibu Kos marah-marah karena biaya listrik sedang mahal. Dengan enteng Cak Lontong menjawab “Saya salah apa? Saya hanya melakukan apa yang tertulis di dinding kamar mandi. Saya mandi itu buang air kan, Bu? Jadi, saya siram. Saya menyiram itu buang air juga kan, Bu? Ya, saya siram lagi. Sampai air bak mandi habis.” Ibu kos hanya diam, sedangkan teman-temannya tertawa terbahak-bahak.

Kasus Cak Lontong di atas barangkali terkesan sepele. Namun, menurut saya, hal itu amat serius. Ia melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang tertulis di informasi. Hal ini memang tampak lucu. Kelucuan ini terkadang membuat kita—terutama saya—sadar akan pentingnya berbahasa yang baik dan benar sehingga tidak menimbulkan kerancuan kepada pembacanya.

Kerancuan informasi yang ditulis Ibu Kos di atas kurang menambahkan kata ‘kecil/besar’ setelah kata ‘buang air’. Karena ‘buang air kecil/besar’ berarti ‘kencing/berak’. Berbeda dengan ‘buang air’ saja yang bermakna denotatif, yakni ‘membuang air’. Atau lebih lengkapnya bisa ditambahkan keterangan waktu: “Setelah Buang Air Kecil Harap Anda Menyiramnya”. Atau bisa juga seperti ini: “Buang Air Harap Disiram”. Namun, ditakutkan masih menimbulkan kerancuan. Siapa yang disiram?

Kasus tersebut barangkali juga sering kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Baik di plang jalan, spanduk, baliho, maupun percakapan di jejaring sosial. Semisal saya menemukan percakapan lucu dan agak nyeleneh berikut ini di Facebook.

“Tong, kamu nggak salat Jumat?”

Nggak, Mak.”

“Lah, kenapa?”

“Tadi kata khatib ‘Yang Bawa HP Harap Dimatikan’. Daripada Entong dibunuh sama orang satu masjid mending Entong nggak salat, Mak”.

“Ya, sudah. Kamu salat di rumah saja, Tong”.

Dalam percakapan tersebut, apa yang dilakukan Entong memang tidak salah. Ia melakukan sesuai dengan pesan khatib. Ia tidak mau salat Jumat karena takut dibunuh—lantaran ia membawa ponsel.

Kekeliruan informasi khatib terletak pada bentuk predikat. Frase ‘Harap Dimatikan’ merujuk pada subjek. Subjek informasi tersebut adalah ‘Yang Bawa HP’—yang bawa HP adalah manusia= Entong. Jadi, Entong akan dibunuh kalau salat membawa ponsel. Seharusnya predikat tersebut berimbuhan me- yang juga disertai dengan objek sehingga menjadi: ‘Yang [Mem]bawa HP Harap Mematikan Ponselnya’. Atau barangkali kalau predikat ‘mematikan’ dirasa masih mengganjal, Anda bisa menggantinya dengan kata ‘menonaktifkan’ sehingga menjadi: ‘Yang [Mem]bawa HP Harap Menonaktifkan Ponselnya’. Atau bisa juga Anda mengubahnya menjadi kalimat larangan: ‘Dilarang Mengaktifkan HP! atau ‘Nonaktifkan HP Anda!’

Bukankah dengan begitu lebih sederhana, singkat, dan jelas. Tabik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s