Sejarah dan Sabar

Sejarah negeri ini, apa boleh buat, memang dibayang-bayangi prasangka yang penilaiannya berangkat dari hal-hal yang tampak. Maka ketika ternyata ada hal lain di balik itu, dan kemudian terkuak pula, keterkejutan dengan sangat cepat berlanjut pada ledakan emosi berlebihan.

Hidup di Indonesia sungguh seru. Setiap hari ada saja kabar yang jadi perdebatan secara nasional. Perdebatan massal yang berlangsung di beragam medan, mulai dari warung kopi sampai dinding Twitter, Path, dan Facebook. Perdebatan yang membentuk kubu-kubu, yang dalam perkembangannya membuat banyak orang tertuduh sebagai bagian dari pasukan nasi bungkus, liberal, dan aneka cap-cap lain.

Saya teringat pada satu lelucon tentang seorang pertanyaan seorang wartawan pada seorang menteri tentang gulai kambing. Si wartawan bertanya apakah pak menteri menyukai gulai kambing, yang kemudian dijawab tidak pernah memakannya lagi karena menderita penyakit tekanan darah tinggi dan kolesterol.

Si wartawan menuliskannya dan media tempatnya bekerja memuat utuh hasil wawancaranya dan memberinya judul: “Darah Tinggi, Pak Menteri Berhenti Makan Gulai Kambing.”

Jika Anda mau menanggapi kejadian-kejadian itu silakan saja. Semua diizinkan. Itu hak asasi. Tapi kalau mau sabar, tentu lebih baik.

Saat merayakan ulang tahun pernikahan, seorang suami memberikan pujian kepada istrinya yang selama sepuluh tahun mendampinginya dengan sabar. Istrinya tidak pernah membalas saat  dimarahi dan dibentak. Sang suami penasaran dan bertanya apa rahasia yang membuat istrinya begitu sangat sabar menghadapi dirinya ketika sedang marah. Sambil tersenyum, sang istri mengatakan yang dilakukannya adalah menarik napas sambil membersihkan sepatu. Suami menyimpulkan bahwa membersihkan sepatu adalah terapi kesabaran istrinya. Dengan tenang, istrinya menjelaskan, “Iya, aku bersihkan sepatu dengan menggunakan sikat gigi kamu.”

Saya mengutip anekdot di atas dari Internet untuk menggambarkan bahwa tidak mudah menjalani sabar dengan ikhlas. Istri yang terkesan sangat sabar ternyata diam-diam dengan sabar melakukan aksi balas dendam. Berhubung bulan Ramadan, saya tertarik menulis tentang sabar. Saya harus menulis tentang sabar ini dengan sabar supaya saya bisa menjelaskan dengan baik makna sabar. Saya pernah mencoba mencari tahu makna sabar dan menemukan banyak sekali definisi tentang makna sabar. Saya pun mencoba memahami satu per satu dengan sabar.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s