RITUAL: AKTIVITAS PADAT MAKNA

Ritual merupakan sebuah kompleks aktivitas yang padat makna. Di dalamnya terdapat sistem ide yang menjadi landasan ideologis, yang kemudian maujud dalam praktik sosial dan benda-benda budaya. Oleh karena itu para ahli ilmu sosial klasik pun beranggapan bahwa ritual adalah representasi dari masyarakat itu sendiri. Nilai terpenting dalam ritual adalah penciptaan dan pemeliharaan ikatan sosia.

Ritual merupakan sebuah fenomena sosial yang sangat kompleks dan mencakup spektrum yang sangat luas. Meskipun ia dianggap sebagai milik sah atau properti studi agama dari segi aktivitasnya, terdapat banyak sekali hal (termasuk yang tidak berkaitan dengan agama) yang secara teknis dapat dimasukkan dalam kategori ritual. Turner membagi ritual ke dalam dua kelompok besar; yakni ritual yang bersifat religius dan ritual yang bersifat sekular (Turner, 1995).

Ritual yang pertama didasari oleh alasan dan dogma- dogma religius, sementara yang kedua lebih mirip dengan perayaan (James, 2003). Catherine Bell (1992) membagi ritual ke dalam 6 kategori besar, yakni ritus yang berhubungan dengan siklus hidup (rites of passage), ritus kalender (calendrical) dan peringatan, ritus pertukaran dan kerukunan, ritus yang berhubungan dengan kesusahan, ritus perayaan, dan ritus politis.

Dari segi perspektif keilmuan yang digunakan, Bell (1992, 1997: 3) menunjukkan betapa ritual telah menjadi objek kajian, metode penelitian, perspektif, dan bahkan menjadi style dalam berbagai disiplin ilmu. Secara umum, studi tentang ritual dapat digolongkan pada dua kelompok besar: pada tingkat pemikiran teoritis (bagaimana istilah ritual itu digunakan dalam wacana akademis) dan pada tingkat praksis (bagaimana ritual itu dilakukan) (Bell, 1997). Jika kelompok pertama lebih menekankan pada runutan pemikiran dalam memahami ritual, kelompok kedua lebih menekankan pada spektrum aktivitas yang dapat digunakan oleh para ahli sebagai ‘jendela’ untuk memahami dinamika sosial. Oleh karena itu, bagi kelompok kedua ini cakupan aktivitas ritual yang begitu luas tersebut pada dasarnya berujung pada persoalan keyakinan dan integrasi sosia.

Ritual pada dasarnya adalah social performance yang berguna untuk mengkomunikasikan ulang simbol-simbol dan menegaskan kembali batas-batas (Govers, 2006: 12). Di dalam ritual terdapat struktur-struktur dan batas-batas yang tegas tentang siapa yang boleh melakukan apa. Pun di dalamnya terdapat sistem nilai, norma, dan keyakinan yang menjadi justifikasi ideologis mengapa ada prosedur dan persyaratan tertentu yang tidak boleh dilanggar. Pendeknya, ritual dan masyarakat merupakan sebuah paket realitas sosial yang padat, kompak, dan saling mempengaruhi. Pergeseran-pergeseran di dalam praktik ritual sebenarnya merefleksikan perubahan sosial dan sebaliknya, pergeseran tatanan kehidupan masyarakat pasti akan memunculkan pergeseran dalam ritual.

Untuk itu Bell (1992) menegaskan bahwa untuk memahami apa yang ada di balik sebuah ritual hendaknya memperhatikan tiga hal pokok. Pertama, ritual hendaknya dianalisis dan dipahami di dalam konteks senyatanya, karena dengan hanya dengan itulah berbagai spektrum aktivitas ritualistik dapat dipahami secara utuh. Mengapa ada suatu peristiwa di suatu komunitas tertentu dianggap penting dan dijadikan ritual, sementara di komunitas yang lain hal itu dianggap sebagai suatu hal yang biasa terjadi. Kedua, ritual harus dipahami sebagai pergerakan tubuh yang terjadi di dalam sebuah lingkungan ruang yang dikonstruksi, sehingga di dalamnya terdapat proses penanaman dan penerimaan nilai yang penting dalam komunitas. Ketiga, ritual hendaknya dipahami sebagai cara berperilaku yang cenderung mempromosikan otoritas (Bell, 1992: 81-82).

Artinya, lokalitas menjadi konteks penting yang harus diperhatikan dalam studi ritual. Mulai dari aspek pengetahuan lokal yang menjadi landasan pelaksanaan ritual, nilai-nilai yang hendak ditanamkan atau ditegaskan ulang, hingga struktur sosial para aktor yang terlibat di dalam sebuah ritual harus dicermati. Padahal, sebagai sebuah konteks, semua hal tersebut tidak dapat dilepaskan dari dinamika yang terjadi pada konteks yang lebih besar dan dengan sendirinya menuntut penyesuaian-penyesuaian. Oleh karena itu, sangat menarik untuk mencermati pergeseran-pergeseran di dalam ritual di dalam konteks masyarakat yang sedang mengalami proses transformasi. Sebagai sebuah aktivitas yang dilandasi oleh landasan religius, biasanya ritual sangat sulit untuk diubah karena menyangkut sistem ide yang fundamental.

Sebuah konteks penting dalam diskusi tentang perubahan sosial kontemporer di Indonesia adalah reformasi. Namun, secara umum istilah ini lebih populer diartikulasikan dalam isu politik daripada isu kultural, sehingga tidak banyak ahli antropologi yang membahas hal ini secara mendalam. Era reformasi ditandai dengan jatuhnya rezim Soeharto dan diikuti dengan perubahan mendasar dalam tatanan politik. Tuntutan akan kebebasan politis dan finansial yang menguat ditanggapi pemerintah dengan implementasi kebijakan desentralisasi, atau lebih populer dengan otonomi daera.

Studi tentang ritual dalam ilmu sosial lebih banyak berangkat dari perspektif fungsi, yakni mulai dari bagaimana ritual itu mampu menyalurkan dan menjembatani emosi yang bersifat individual, untuk penyembuhan, kompromi dengan alam gaib, menjaga kelestarian alam, hingga pada upaya menjaga harmoni sosial yang ada pada tingkat komunitas (Bowie, 2000: 151). Satu perspektif yang agak berbeda adalah menempatkan ritual sebagai aktivitas semacam pertunjukan atau permainan drama kultural yang sifatnya transformatif.

Sementara itu, pendekatan yang melihat ritual sebagai mekanisme sosial berangkat dari asumsi bahwa bentuk ritual dan ekspresi keyakinan tentang sesuatu yang transedental itu dapat berjalan efektif karena disimbolisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, nilai-nilai yang ada di balik ekspresi simbolik dalam ritual dalam hal ini menjadi sangat penting untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dalam kehidupan sosial (Bowie, 2000: 157-158). Inti dari pendekatan ini adalah ritual sebenarnya merupakan cerminan dari masyarakat itu sendiri, berikut dengan semua kekuatan-kekuatan yang mengatur serta menggerakkan proses sosial di dalamnya.

Pada konteks inilah ritual muncul sebagai arena yang tepat untuk memahami kontestasi- kontestasi yang ada di dalam sebuah masyarakat. Interpretasi dan reinterpretasi atas aturan adat, manuver para aktor yang terlibat, emosi dan tingkat ketakziman para peserta, negoisasi dan kompromi yang terjadi antarfaksi, menjadi hal penting yang harus diperhatikan secara lebih jeli. Dalam hal ini ritual hendaknya dipahami sebagai sesuatu yang tidak berada pada sebuah ruang kosong, melainkan ada dalam sebuah lingkungan yang berisi dua hal yang terlibat dalam hubungan dialektis, yakni lingkungan fisikal (struktur) dan kesadaran (kultur). Keduanya saling membentuk dan terbentuk dalam kerangka waktu.

Sebagai sebuah ruang sosial, ritual memuat di dalamnya terdapat kumpulan aktor, interaksi, sumberdaya, kepentingan, posisi-posisi, serta aktivitas (negoisasi, aplikasi ‘aturan main’, strategi). Lebih jauh, dengan mencermati pergeseran-pergeseran dimensi dalam sebuah ritual, artikel ini akan menunjukkan jaringan dan pola interaksi antarpelaku, posisi sosial, ‘aturan main” yang disepakati, motivasi dan kepentingan, strategi, dan reproduksi makna-makna. Dalam hal ini ritual tidak dapat dipandang hanya sebagai sebuah proses yang kontinual, revival, atau reinventif, akan tetapi juga inovatif, karena orang dapat saja menciptakan adat atau tata cara baru dalam ritual.

Daftar Pustaka

Alexander, B. C. (1997). Ritual and Current Studies of Ritual: Overview. Anthropology of Religion: A Handbook. S. D. Glazier. Westport, CT: Greenwood Press, hlm. 139-160.

Bell, C. (1992). Ritual Theory, Ritual Practice. New York: Oxford University Press.

Benda-Beckmann, F. v. and K. v. Benda-Beckmann (2001). Recreating the Nagari: Decentralisation in West Sumatra. The 3rd conference of the European Association for Southeast Asian Studies (EUROSEAS), London

Bowie, F. (2000). The Anthropology of Religion: An Introduction. Oxford: Blackwell Publishing.

Govers, C. (2006). Performing the Community: Representation, Ritual and Reciprocity in the Totonac Highland of Mexico. Berlin: LIT Verlag.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s