Menulis, Merawat Penalaran, Bahagian Menunggu

Tatkala mulai senang belajar dalam dunia karang mengarang, kira-kira hampir 20 tahun lampau, ada pengalaman yang berharga. Saya tidak pernah berfikir teknis ada kertas atau tidak, ada mesin ketik (saat itu lo) atau tidak. Itu soal gampang.

Bisa nunut sesekali, atau ditulis tangan. Sebab, yang bergemuruh dalam diri seseorang yang berjuang belajar menulis adalah soal-soal kualitatif. Bagaimana menghayati kehidupan, merenungi masalah-masalah, peka terhadap nilai-nilai, kerja keras dengan otak, akal budi, perasaan, dan hati nurani. Soal kertas dan mesin ketik, itu masalah yang gampang diatasi. Bisa numpang tetangga. Tetangga pasti senang ada tetangganya yang belajar kreatif sebab mereka mestnya bukan orang sakit jiwa.

Menulis adalah sebuah kesaksian. Itu hal yang saya yakini. Sebab manusia adalah makhluk yang khusus: ia mengingat-ingat. Maka kelak sejarah akan mencatat. Sebab sejarah bagaimanapun, memang suatu ikhtiar melawan lupa. Dan sejarah membutuhkan penulisan.

Dalam hal ini, menulis sejatinya adalah merapikan kenangan. Jika kita udah berpindah dunia, maka tulisan kita yang akan jadi kenangan bagi anak cucu kita nantinya. Hingga mereka bisa tahu bahwa ibu dan nenek mereka pernah menulis dan meninggalkan kenangan. Dan, ketika mereka rindu dengan kita, mereka dengan mudah bisa membaca kembali tulisan kita.

Seorang penulis harus tahu siapa pembaca yang ditujunya. Penulis juga harus paham apa yang ditulisnya. Jangan mengkhotbahi pembaca dan percaya akan ada orang yang tertarik dengan tulisan kita.

Saya menulis bukan untuk mengubah sikap mereka yang membenci saya. Saya menulis untuk merawat penalaran dalam diri saya — dan mudah-mudahan yang membaca ikut merawat penalaran dalam diri mereka. Kebencian hanya menggerogoti yang berharga di antara kita.

Ketika usia SMA, saat-saat paling berat dalam hidup saya adalah menunggu tulisan saya di muat di media massa. Karena cuma itulah harapan saya satu-satunya dalam memperoleh uang. Tak terbayangkan marahnya hati ini jika sudah dikirimi berkali-kali tetapi tetap tak ada yang dimuat juga. Ingin rasanya saya mengobrak-abrik kantor redaksi media itu. Ingin saya mengajak orang sekampung untuk mengeroyok redakturnya hingga hancur-lebur. Bahagia rasanya membayangkan redaktur yang kejam itu babak belur dikeroyok massa.

Walau ternyata tidak. Kebahagaian yang sesungguhnya ternyata saya dapati ketika saya berlaku sebaliknya yakni dengan cara terus menulis, terus mengirim dan terus menunggu. Pada saat tulisan muncul untuk kali pertama, rasanya seluruh dunia seperti hendak meledak oleh kegembiraan saya. Waktu itu, bahkan terpilih menjadi presiden Amerika pun tidak akan sanggup melawan kegembiraan saya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s