Mengunyah Buku

“Kemampuan membaca itu sebuah rahmat. Kegemaran membaca; sebuah kebahagiaan.”

Buku telah melahirkanku, menjadi orang yang melek kata. Yang tiap hari berkutat dengan kata-kata, yang penuh dengan beragam cetusan ide dan pikiran. Sesuatu yang tak mungkin dilakukan, oleh teman-teman SDku, yang sampai sekarang tinggal di desa. Mengunyah kenyataan sebagai mana adanya, tanpa perlu memikirkan hal-hal yang ada di balik semua yang tak dipahaminya. Sesuatu yang tak terjangkau nalarnya.

Dengan menjadi pengunyah buku, aku merasa telah melewati semua itu.

Aku tak lagi menjadi anak desa yang lugu, yang hanya memikirkan urusan perut. Yang hanya mengisi kerja dengan kerja keras, dan bukan kerja cerdas. Yang otaknya hanya dipenuhi kebutuhan sendiri, sehari-hari, tanpa sekali pun terlintas bahwa ada masalah global yang membuatnya terpinggirkan dari putaran jaman.

Cara berpikir mereka, adalah khas orang desa, yang tak neko-neko dan aneh-aneh.

Lurus-lurus saja. Semacam hidup adalah untuk mencari kerja. Kerja sekeras-kerasnya, untuk memenuhi kebutuhan makan harian. Kerja keras hari ini, untuk memenuhi kelaparan esok hari. Begitu terus menerus, setiap hari, sepanjang tahun.

Tak pernah terpikirkan tentang dunia lain. Tentang dunia yang menawarkan beragam perang pemikiran, yang membuat otak setajam sabit dan cangkul mereka.

Tak pernah mereka mengangankan apalagi menginginkan makanan ruhani, yang bernama buku, yang mengandung beragam ilmu. Buku yang bagi mereka adalah barang asing, dan tak berguna. Karena membaca, bagi mereka, adalah pekerjaan sia-sia. Pekerjaan orang yang tak punya pekerjaan. Pekerjaan para pemalas yang tak mau bekerja keras.

Bagi mereka, membaca bukanlah pekerjaan mulia, yang mampu mengangkat harkat manusia. Melainkan bekerja sekeras-kerasnya, dan menjadi orang paling kaya, itulah yang mereka anggap menaikkan kehormatannya.

Sementara aku, sejak kecil justru telah terpikat dengan pesona buku. Dan menghabiskan sebagian besar waktu bermainku, dengan asyik masyuk bersama buku.

Dan itu berlanjut hingga remaja, buku menjadi teman berpikir dan merenung yang tak pernah menjemukan. Aku larut dalam bermacam pemikiran orang-orang besar. Mengunyah perasan perasaan dari bermacam kisah tragedi atau pun komedi kehidupan.

Kecintaanku pada buku membuatku selalu bekerja di dunia buku. Tanpa memperhitungkan apa ijazahku. Namun karena kecintaanku, dan akrabku pada buku, membuat orang yakin bahwa aku paham dunia buku.

Dan hari ini, setelah ribuan buku yang pernah kumamah dan kukunyah, sepertinya sudah saatnya untuk mulai menulis buku. Dari lima ribuan bukuku, kalau puluhan ribu lembarnya, dari jutaan pemikiran yang bersliweran, rasanya menjadi sebuah kesia-siaan kalau tak ada sedikitpun yang tertangkap maknanya. Tak ada yang diikat dalam tulisan.

Bukankah cara paling mudah sederhana untuk mengikat makna, adalah dengan menuliskannya. Bukan dengan membicarakannya dengan ucapan berbusa-busa. Verba volant, sricpta manen, begitu orang bijak bilang. Apa yang terucap akan hilang bersama angin, apa yang tertulis akan mengabadi dan tak lekang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s