Ki Nartosabdo: Pendobrak Tradisi, Pioner Pembaruan

Bagi saya, Ki Nartosabdo adalah seniman luar biasa yang belum tergantikan sampai saat ini. Bahkan dalang kondang kelas dunia Ki Manteb Soedharsono yang merupakan murid almarhum juga mengakui demikian. Tidak hanya di bidang pedalangan di mana ia sangat mahir dalam olah sastra dan dramatisasi, dalam hal lagu-lagu dan gending-gending ciptaannya pun seakan tak lekang oleh zaman.

Popularitas Nartasabda walaupun telah almarhum, ternyata masih memiliki penggemar dalam acara siaran radio wayang kulit semalam suntuk yg disiarkan oleh radio amatir di wilayah ex- Karesidenan Surakarta hingga Jawa Timur.

Waridi (2005) dalam disertasinya menganggap Nartosabdo  sebagai salah satu pilar penjaga denyut hidup karawitan Jawa. Nartosabdo banyak melakukan gebrakan yang dianggap frontal. Begitu produktif dalam menciptakan gending. Sejumlah gending klasik yang semula dipandang bernuansa halus, monoton, kurang dinamis dan miskin garap (terutama vokal), kemudian dihadirkan kembali olehnya dengan wajah baru yang lebih segar, dinamis, populis dan tentu saja menghibur. Tak hanya mengaransemen ulang gending-gending yang dianggap “basi”, dalang kondang itu juga berhasil menciptakan karya-karya baru yang disenangi oleh segala lapisan masyarakat.

Salah satu pose Ki Nartosabdho ketika melakukan pargelaran

Salah satu pose Ki Nartosabdho ketika melakukan pargelaran

Di tengah pesatnya informasi dan maraknya lagu-lagu yang dibilang “moderen”, lagu-lagu ciptaan Ki Nartosabdo tetap mendapatkan tempat. Sebut saja lagu “Gambang Suling” yang diajarkan di bangku sekolah, ataupun lagu “Prahu Layar” yang hampir setiap penyanyi dangdut bisa menyanyikannya.

Kaset rekaman gending karya Ki Nartosabdho Vol 4 Produksi Fajar Record

Kaset rekaman gending karya Ki Nartosabdho Vol 4 Produksi Fajar Record

Ki Nartosabdo lahir di Klaten, 25 Agustus 1925 dengan nama asli Sunarto. Ia merupakan bungsu dari delapan bersaudara pasangan Partotanayo dan Madiah. Ayahnya seorang pengrawit, dan ibunya seorang mranggi atau pembuat warangka keris. Sejak berusia sebelas tahun Sunarto telah mampu memainkan rebab, kendang, dan gender. Kehidupan masa kecilnya yang serbasulit membuat Sunarto putus sekolah dan hanya sampai kelas empat saja pada pendidikan formalnya, yaitu Standaard School Muhammadiyah atau SD lima tahun.

Salah satu potret diri Ki Nartosabdo

Salah satu potret diri Ki Nartosabdo

Berbekal bakat seni yang ia miliki, Sunarto berusaha membantu perekonomian keluarga. Antara lain ia pernah menjadi pelukis, juga menjadi pemain biola dalam Orkes Keroncong Sinar Purnama. Bakat seni yang semakin berkembang itu membuatnya dapat melanjutkan sekolah di Lembaga Pendidikan Katolik.

Pada 1940 sampai 1942 Sunarto bergabung dengan grup Ketoprak Budi Langen Wanodya. Kemudian pada 1945 ia menjadi pemain kendang pada grup Sri Wandawa, lalu bergabung dengan grup Wayang Orang Ngesti Pandhowo pimpinan Ki Sastrosabdo. Sejak itulah Sunarto mengenal dunia pedalangan dari Ki Sastrosabdo sebagai gurunya. Bahkan karena jasa-jasanya membuat banyak kreasi baru di dalam grup tersebut, Ki Sastrosabdo mengganti nama Sunarto menjadi Nartosabdo pada 1948.

Ki Nartosabdho bersama-sama perintis dan pendiri Wayang Wong Ngesti Pandhawa, Semarang.

Ki Nartosabdho bersama-sama perintis dan pendiri Wayang Wong Ngesti Pandhawa, Semarang.

Pada 1950 Nartosabdo menikah dengan Tumini dan memiliki seorang anak bernama Jarot Sabdono.

Ki Nartosabdo bukanlah keturunan dalang lazimnya setiap dalang kondang lainnya. Ia menguasai dunia pedalangan karena belajar dan mengembangkannya secara otodidak.

Sejak kecil berada di lingkungan keluarga yang serba kekurangan. Namun dengan tekadnya ia mengabdi dan nyantrik kepada dalang Pujasumarta. Nyantrik dan ngenger adalah cara yang digunakan oleh para calon dalang atau penari agar ia dapat tampil seperti kemampuan yang dimiliki oleh gurunya. Maka dengan jalan mengikuti kemana saja Pujasumarta pentas, dengan harapan ia dapat mengamati, meresapi dan menghayati pakelirannya, yang pada gilirannya ia dapat melakukan seperti yang dikerjakan oleh gurunya itu.

Hal itu dilakukan oleh para dalang seperti Ganda Darman (almarhum, seorang dalang dari Sragen)  dan juga Nartasabdo yang pada waktu itu bersama-sama nyantrik pada Pujasumarta. Ia nyantrik kepada Arjasuganda, Nyatacarita, Gitacarita dengan cara mengikuti pementasan wayang dan ikut memainkan ricikan gamelan tertentu.

Dengan cara itu lama-kelamaan mendapat pengetahuan maupun keterampilan teknis pakeliran. Kira-kira tahun 1946 Nartasabdo merasa sudah cukup nyantrik dengan Pujasumarta, mencari pengalaman lain dengan menggabungkan diri dengan grup Wayang Orang Ngesti Pandawa di bawah pimpinan Sastrasabda, sebagai pemain kendang.

Kehadiran Nartasabda dalam jagad pedalangan memberi warna tersendiri pada wujud pakeliran, gaya permainannya yang mencakup: janturan, ginem, pocapan, banyol, gendhing, sulukan dan sanggit berbeda dengan pekeliran pada umumnya, walaupun ia pernah nyantrik/ngenger pada Pujasumarta.

Daerah Surakarta antara tahun 1945 sampai dengan 1956 muncul dalang – dalang terkenal yang popu- laritasnya sampai tingkat nasional, diantaranya ialah Pujasumarta dari Klaten, Nyatacarita dari Kartasuro, Sukoharjo, Wignyasutarno dari Surakarta, Arjacarita dari Nglaban Sukoharjo, Warsina Gunasukasna dari Wonogiri. Mereka merupakan dalang kesayangan masyarakat pada waktu itu, tidak jarang mereka diundang oleh Presiden RI pertama Sukarno untuk mementaskan wayang kulit di Istana Negara. Para dalang tampil di Istana Negara yakni Pujasumarta, Wignyasutarna dan Arjacarita.

Semenjak tahun 1957 kepopuleran Pujasumarta, Wignyasutarna, Arjacarita dan Nyatacarita mulai menurun oleh karena munculnya dalang Nartasabdo yang tampil mementaskan wayang kulit di RRI Jakarta dengan lakon Kresna Duta (1958). Sajian pakelirannya membuat terperangah dan terkejut bagi para dalang dan para penggemar pewayangan. Mereka para penonton terbiasa melihat pertunjukan wayang dengan kaidah-kaidah pakeliran gaya keraton, namun kali ini mereka melihat pertunjukan wayang berbeda dengan para dalang lain.

Pengalaman pertama mendalang itu konon sempat membuat Ki Nartosabdo demam panggung. Bagaimana tidak? Saat itu profesinya adalah pengendang, namun ia didorong oleh Sukiman, Kepala Studio RRI untuk menampilkan kemampuan mendalangnya.
Penampilan perdana itu justru membuat Ki Nartosabdo mendapat tempat di hati masyarakat pecinta wayang kulit. Berturut-turut ia pun mendapatkan kesempatan mendalang di Solo, Surabaya, Yogyakarta, dan sebagainya. Lahir pula cerita atau lakon-lakon gubahannya, seperti Dasagriwa, Mustakaweni, Ismaya Maneges, Gatutkaca Sungging, Gatutkaca Wisuda, Arjuna Cinoba, Kresna Apus, dan Bagawan Sendanggarba.

Salah satu kelebihan Ki Nartosabdo adalah akses yang luas terhadap perusahaan rekaman kaset. Ini adalah contoh produk Kusuma Record yang hingga sekarang masih dicari oleh penggemar.

Salah satu kelebihan Ki Nartosabdo adalah akses yang luas terhadap perusahaan rekaman kaset. Ini adalah contoh produk Kusuma Record yang hingga sekarang masih dicari oleh penggemar.

Gaya pakeliran Nartasabdo meramu dari gaya pakeliran dalang terkenal sebagi contoh: humor meniru Nyatacarita, sabet meniru Arjacarita, sedangkan catur dan dramatik meniru Pujasumarta dan Wignyasutarna yang juga guru pedalangannya, karena Nartasabda sebelum tampil sebagai dalang ia nyantrik pada Pujasumarta dan Wignyasutarna.

Kaset rekaman Ki Nartosabdo dari label Singobarong. Dengan label ini, umumnya yang direkam adalah pentas pertunjukkan secara langsung. Di kalangan kolektor, kaset-kaset ini berharga mahal.

Kaset rekaman Ki Nartosabdo dari label Singobarong. Dengan label ini, umumnya yang direkam adalah pentas pertunjukkan secara langsung. Di kalangan kolektor, kaset-kaset ini berharga mahal.

Pakeliran Nartasabdo memadukan gaya pakeliran Surakarta dan gaya pakeliran Yogyakarta, yang sebelumnya belum pernah terjadi bahkan kedua daerah itu saling mencela. Berkat kemampuan Nartasabda kedua gaya dapat diramu dalam pakeliran sehingga wujud pakeliran wayang yang disajikan terasa segar dan semangat (greget). Bahkan unsur-unsur karawitan dari daerah lain seperti dari Bayumas, Sunda, Jawa Timur digunakan dalam menyusun gending untuk keperluan mengiringi adegan tertentu dalam lakon wayang yang ditampilkan. Hal ini menunjukan bahwa Nartasabda dalam menggarap pakeliran berwawasan Nusantara/ Nasional maka pakelirannya oleh Nartasabdo dinamakan Pakeliran Gaya Baru. Dalang kesayangan pada tahun 1982 menerima hadiah Seni dari Pemerintah Republik Indonesia, dan pada tahun 1993 menerima Bintang Maha Putra Nararya dari Presiden  Soeharto atas jasa- jasanya dalam bidang seni pedalangan Indonesia.
Ciri pakeliran Nartasabda berikutnya adalah garap karawitan pakeliran terutama unsur gending yang sangat menonjol. Hal itu dilakukan karena ia seorang dalang yang mampu menguasai gending dan seorang pengrawit sekaligus komponis gending Jawa, serta memiliki suara bagus. Hampir semua garapan karawitan pakelirannya selalu dengan vokal pesindhen maupun vokal penggerong, walaupun menggunakan gending tradisi, yang diaransemen gerongnya terasa segar dan gembira serta indah untuk diresapi.
Rekaman petilan, artinya hanya salah satu adegan pagelaran saja.

Rekaman petilan, artinya hanya salah satu adegan pagelaran saja.

Peran penting Nartosabdo dalam dunia karawitan (gaya Surakarta) dimulai saat dirinya mendirikan kelompok karawitan bernama “Condhong Raos” pada 1 April 1969. Sebagai dalang terkenal, Nartosabdo sangat sadar bahwa seorang dalang yang bagus harus disertai dengan hadirnya karya musik (karawitan) yang bagus pula. Pada kelompok karawitan yang dipimpinnya itulah ia banyak melakukan ekspresimen musikal karawitan. Condhong Raos menjadi laboratorium kreativitas bagi Nartosabdo. Sangat produktif dalam melahirkan karya baru hingga masyarakat karawitan di Jawa kala itu menyebut gending-gendingnya sebagai “Gaya Nartosabdoan”. Gaya personal yang khas mengalahkan gaya kedaerahan. Kumpulan hasil karyanya dapat dibaca lewat tulisan A. Sugiyarto, Kumpulan Gendhing-Gendhing Jawa Karya Ki Nartosabda(1998).
Kreativitasnya pun kian meluas. Selain piawai mendalang, Ki Nartosabdo juga dikenal sebagai pencipta lagu-lagu Jawa yang sangat produktif. Lagu ciptaannya terbilang unik namun enak didengar. Untuk menghasilkan karya yang dapat diterima pasar, ia tak segan melakukan eksperimen dengan menciptakan gending yang berirama rumba, waltz, bahkan dangdut.
Begitu unik, sehingga banyak memancing keiinginan perusahaan rekam untuk mendokumentasikan dan memperjual-belikan rekaman karya-karyanya. Lokananta, Ira Record, Fajar Record, Kusuma Record adalah beberapa di antaranya. Hasil rekaman itulah yang masih dapat kita nikmati hingga saat ini di banyak Radio di Jawa. Bahkan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta Jurusan Karawitan serta Pedalangan menjadikan gaya musikal dan juga pedalangan Nartosabdoan sebagai bagian menu materi mata kuliah yang harus ditempuh mahasiswa. Nartosabdo menjadi pionir, sekaligus pendobrak tradisi yang kala itu dianggap beku. Kreativitas puncak yang dihasilkannya masa itu kemudian menjadi gudang telaah ilmu pengetahuan di masa kini.  
Nartosabdo bukanlah seniman multitalenta yang berjuang demi menghidupi diri sendiri, namun juga kehidupan kebudayaan Jawa, terutama wayang dan karawitan. Perhatiannya tak semata pada gending-gending klasik, namun juga pada dunia anak-anak. Ia banyak mengolah lagu dolanan anak yang sebelumnya dianggap kuno menjadi bunyi dengan citranya yang baru dan digemari. Lepetan, Sluku-Sluku Bathok, Kembang Jagung, Dhayohé Teka, dan Iris-Irisan Téla adalah di antaranya. Sebuah perhatian dari komponis besar kala itu yang sekaligus juga menjadi medan kritik bagi komponis masa kini.
Seperti saat menggelar konser karawitan di Gedung Mitra Surabaya, 1976, yang menampilkan 14 komposisi ciptaannya, Ki Nartosabdo membawakan lagu Begadang milik Penyanyi dangdut  Rhoma Irama dalam Pelog Paten Nem. Selain yang bertema ringan dan menghibur, Ki Nartosabdo juga pernah menciptakan karya “berat”, misalnya Sekar Ngenguwung.
Ki Nartosabdho berpose bersama pesinden Ibu Ngatirah (pesinden RRI Semarang), yang juga ikon grup karawitan Condhong Raos.

Ki Nartosabdho berpose bersama pesinden Ibu Ngatirah (pesinden RRI Semarang), yang juga ikon grup karawitan Condhong Raos.

Ia bahkan membuat gebrakan baru dengan memasukkan gending-gending ciptaannya dalam setiap lakon yang dimainkan. Hal ini membuat banyak dalang senior yang memojokkannya. Bahkan ada RRI di salah satu kota yang memboikot hasil karyanya. Meski demikian, masih ada beberapa orang yang mendukung sepak terjangnya, mereka antara lain adalah dalang-dalang muda yang menginginkan pembaharuan di mana seni wayang hendaknya lebih luwes dan tidak kaku. Berkat inovasi yang diluncurkannya, tak heran bila Ki Nartosabdo kemudian dianggap sebagai pembaharu dunia pedalangan di tahun 80-an.

Sebagian karya Ki Nartosabdo telah dibukukan oleh R. Widodo

Sebagian karya Ki Nartosabdo telah dibukukan oleh R. Widodo

Melalui grup karawitan bernama Condong Raos yang ia dirikan, lahir sekitar 319 buah judul lagu (lelagon) atau gending, antara lain Caping , Gambang Suling, Ibu Pertiwi, Klinci Ucul, Ngundhuh Layangan, Rujak Jeruk, Lumbung Desa, Lesung Jumenglung, Saputangan, Ojo Lamis, Ojo Dipleroki, dan yang paling populer adalah Praon. Lagu berirama ceria ini sering dibesut dalam kemasan campursari dan gending oleh para pencinta alunan musik Jawa.

Berpose bersama Ibu Ngatirah dan Ibu Sunarti dalam cover kaset rekaman PT Wisanda Semarang.

Berpose bersama Ibu Ngatirah dan Ibu Sunarti dalam cover kaset rekaman PT Wisanda Semarang.

Sayang sekali saya belum pernah melihat penampilan Ki Nartosabdo secara utuh karena umur saya masih kecil sewaktu Beliau meninggal dunia pada 7 November 1985 dalam usia 60 tahun. Saat jenazah diberangkatkan dari rumah duka di Jalan Anggrek No. 10, Semarang, konon lagu yang mengiringinya adalah Ketawang Mijil Lelayu yang diciptakan Ki Nartosabdo. Gending ini sering ditampilkan dalam pagelaran wayang, antara lain untuk mendeskripsikan situasi setelah kematian seorang tokoh seperti dalam lakon Karno Tanding.

“Gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan karya.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s