Integritas, Fakta, dan Kisah Nyata

Sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya.

Pepatah Melayu lama ini mengandung makna bahwa sekali kita menciptakan kebohongan, maka tiada lagi orang yang akan mempercayai kita. Seperti lazim dalam etika akademik, kejujuran dan integritas adalah modal utama untuk membangun sebuah reputasi diri.

Ketika kita bekerja dan membangun karir serta berinteraksi dalam masyarakat atau dunia profesi, sesungguhnya kita sedang melakukan proses membangun suatu reputasi atau “merek” pribadi (personal brand). Membangun sebuah nama atau reputasi berarti kita menciptakan “merek” atau persepsi orang lain atau masyarakat terhadap kita.

Inilah hal yang perlu kita perhatikan, karena reputasi atau merek pribadi adalah suatu aset tak berwujud yang dapat memberikan imbal hasil (return) yang besar ketika reputasi itu menjadi semakin dikenal dan dipercaya oleh orang lain. Jadi pada dasarnya kehidupan kita setiap hari setiap saat merupakan sebuah proses pembentukan personal brand yang juga berarti citra diri kita atau “price” kita.

Proses citra diri tersebut yang nampak mencuat sebagai pesan yang hendak disampaikan dalam film True Story besutan sutradara Rupert Goold yang rilis tahun 2015 yang lalu. Film yang berdasarkan kisah nyata ini ditulis oleh Goold dan David Kajganich. Skenario disusun berdasarkan memoar yang ditulis oleh seorang bekas wartawan New York Times, Michael Finkel.

Kalau biasanya kita melihat Jonah Hill dan James Franco bermain dalam film komedi, kali ini mereka berdua dipercaya beradu peran dalam film drama kriminal yang diadaptasi dari autobiografi Michael Finkel yang berjudul “True Story: Murder, Memoir, Mea Culpa.”

Bergenre misteri yang tak terlampau rumit. Dikisahkan, Christian Longo (diperankan dengan baik oleh James Franco yang mencitrakan dingin, tertekan, tetapi punya kemampuan menulis dan menarik perhatian orang lain) menjadi orang yang paling dicari FBI karena disangka membunuh isteri dan ketiga anaknya. Laki-laki Oregon itu lantas ditangkap ketika sedang di Meksiko. Suatu hal yang aneh, karena ia berada di negeri tetangga AS tersebut di hari pertama usai dilakukannya pembunuhan dan menyebut dirinya sebagai Michael Finkel, seorang wartawan New York Times.

Di bagian lain, Michael Finkel (diperankan oleh Jonah Hill)–yang Anda tentu ingat perannya yang kocak dan tragis dalam The Wolf of Wall Street, merupakan seorang wartawan yang punya kecerdasan dan ambisi yang menggebu-gebu. Saat itu ia bertengkar dengan editor majalah New York Times, yang menuduhnya tidak cermat ketika meliput kasus perbudakan di Afrika Barat.

Meskipun ia telah berusaha agar sesuai dengan yang diharapkan oleh New York Times Magazine dengan mengubah konsep tulisan seperti di awal 30-an, wartawan ini ternyata tetap harus menanggung cerita yang ia tulis di tahun 2001 mengenai pekerja anak di Mali. Dalam laporan penyelidikan dari perbudakan yang terjadi di perkebunan kakao di negara Afrika Barat tersebut, Michael Finkel menemukan kenyataan yang jauh lebih kompleks. Editornya akhirnya mengusulkan agar is lebih fokus pada perjalanan hidup seorang anak laki-laki di sebuah desa miskin yang dipekerjakan di perkebunan itu.Masalahnya, ternyata tak ada sumber tunggal yang bisa menjadi sumber laporan Michael dalam menceritakan kisah ini. Akhirnya, Michael memutuskan untuk melakukan wawancara dengan sejumlah buruh dengan subyek cerita tetap berpegang pada sebuah nama sebenarnya dari seorang anak yang telah ia sebutkan sebelumnya. Cerita itu pun akhirnya dipublikasikan hingga terlihat jelas ketidaksesuaian.

Terlanjur dipilih sebagai cover story majalah itu, Finkel bersikeras mempertahankan liputannya tapi tetap ditolak. Vonis jatuh padanya: dipecat.

Finkel lantas pulang ke Montana, tempat di mana ia bersama isterinya, Jill, menetap. Bekas wartawan ini digambarkan kesulitan mencari pekerjaan baru sehubungan kasusnya di New York Times. Saat sebuah pintu tertutup, ada jendela yang terbuka. Kekalutan makin bertambah ketika seorang wartawan lokal menghubunginya dan memberikan  informasi bahwa namanya dipakai oleh  Longo, yang menjadi tersangka pembunuhan, saat ditangkap di Meksiko.

Tertarik dengan hal itu, Finkel segera menemui Longo di Lembaga Pemasyarakatan (LP). Longo mengakui menggunakan nama Finkel saat pergi ke Meksiko. Ia, yang memuja tulisan-tulisan Finkel, merasa dirinya telah mengenal dan mempercayai karakter Finkel.

Ternyata Christian Longo selama ini telah banyak membaca dan menggemari tulisan Michael Finkel di Times, National Geographic Adventure dan Sports Illustrated. Itulah sebabnya ia memilih mengaku sebagai Michael yang berprofesi sebagai wartawan. Ia pun setuju (sesuai saran pengacaranya) untuk memungkinkan Michale Finkel melakukan wawancara terhadap dirinya, hingga kemudian keduanya mulai melakukan panggilan telepon mingguan, menulis surat dan melakukan pertemuan beberapa kali. Keduanya pun mulai saling mengnal pribadi masing-masing

Longo ingin Finkel menulis kisah dirinya dari sudut pandang personal. Finkel, yang begitu heran mengapa diantara mereka berdua ada kesamaan gaya tulisan dan karakter pribadi, segera menyanggupi permintaan itu. Finkel lantas dengan tekun membaca tulisan-tulisan Longo, sepanjang 80 halaman, yang menceritakan tindakan-tndakan yang dianggapnya keliru dalam menjalani kehidupan.

Finkel berusaha keras menyusun kisah Longo untuk diterbitkan menjadi sebuah buku. Dalam film digambarkan bahwa sebuah penerbit siap mencetak buku itu dengan tawaran yang menggiurkan.

Finkel dengan yakin, termasuk saat berdebat dengan Jill, mengatakan bahwa ia merasa Longo tidak bersalah dalam kasus pembunuhan yang disangkakan. Namun realitas pelan-pelan terkuak. Berbeda dengan rencana yang dibeberkan kepada Finkel, Longo dalam persidangan mengakui telah membunuh isteri dan putri bungsunya, sembari mengelak melakukan tindakan serupa terhadap kedua anaknya yang lain.

Tindakan Longo benar-benar mengejutkan Finkel. Greg Ganley, seorang penyelidik di Departemen Kehakiman Oregon, mendekati Finkel. Sang penyelidik merasa Longo adalah sosok pembunuh yang berbahaya. Ia meminta Finkel menceritakan korespondensi dan naskah yang dipersiapkan sebagai buku yang memuat kisah Longo. Finkel dalam kesempatan itu menolak.

Penyamaran yang dilakukan oleh Christian Longo jelas membuat Michael Finkel berada dalam posisi memalukan. Meskipun riwayat kehidupan Christian Longo saat sebelum terjadinya aksi pembunuhan tampak biasa, tapi kehidupan muda Christian Longo ternyata telah dihiasi dengan sejumlah catatan buruk mengenai pelanggaran, penipuan dan pencurian. Christian lalu memutuskan untuk menikah dengan seorang gadis bernama Mary Jane yang saat itu masih berusia 19 tahun dan berharap kehidupannya setelah menikah bisa mengalami kemajuan. Tapi apa yang didapat oleh Christian ternyata tak sesuai dengan harapannya. Bisnis yang dijalaninya harus terpuruk. Ketika ia tak lagi mendapat ijin mengemudi, ia membuat SIM palsu, lalu mendatangi sebuah dealer mobil di Ohio, melakukan test drive dan membawa kabur mobil tersebut. Ketika tak dapat membayar gaji karyawannya, ia memalsukan cek kliennya sebesar $ 17.000 lalu membuat kartu kredit dengan mengata-namakan ayahnya. Ia pun lalu ditangkap, kehilangan perusahaannya dan dikucilkan dari lingkungan. Dalam masa percobaan tahanan, Christian akhirnya membawa istri dan anak-anaknya pergi menuju Oregon, hingga akhirnya ia membunuh mereka seluruhnya.

Sementara Jill, terus gelisah dengan gambaran-gambaran sosok Longo yang diceritakan oleh sang suami. Hingga suatu saat ia menemui sendiri Longo di LP dan segera menggertak si tersangka pembunuhan itu dengan menyebut dirinya sebagai penjahat yang narsis yang tidak mampu menghindar dari bayang-bayang dirinya sendiri.

Persidangan digelar. Juri memutuskan Longo bersalah untuk 4 tuduhan pembunuhan yang disangkakakan. Hukuman mati ditetapkan oleh hakim. Finkel, yang frustasi karena menerima tuduhan tidak simpatik dari keluarga korban, semakin terpojok psikologisnya dan emosinya membuncah karena usai vonis, Longo memberikan tatapan dan kedipan mata yang menjengkelkan.

Tak begitu jelas alurnya kemudian, karena tiba-tiba usai adegan Finkel memaki-maki Longo di LP, muncul plot di mana akhirnya buku mengenai kisah Longo diterbitkan dengan judul “True Story.” Finkel selaku penulis mempromosikan buku itu. Saat sedang mempersiapkan presentasi, ia dibayang-bayangi sosok Longo yang memojokkannya dengan pertanyaan, jika ia kehilangan kebebasan, maka Finkel juga harus mengalami hal yang sama. Dalam alur terakhir itu, Finkel digambarkan diam seribu bahasa atas pertanyaan Longo.

Film berakhir dengan keterangan bahwa Finkel tidak lagi menulis untuk New York Times dan dikisahkan bahwa setiap minggu pertama ia masih melakukan tatap muka dengan Longo di LP.

True Story‘ mengungkap bahwa ‘menyatakan kebenaran‘ bisa menjadi sebuah konsep licik. Lebih baik untuk tetap berpegang pada fakta-fakta. Kemampuan kita berpijak pada fakta merupakan upaya untuk membangun reputasi diri.

Kisah ini memang tak berakhir disini. Buku yang ditulis Michael Finkel akhirnya terbit di tahun 2005. Pada tahun 2009, Christian Longo menghubungi penulis buku ‘Oregon’s Death Row‘ dan mengatakan bahwa ia ingin menceritakan pengakuan yang sebenarnya. Dalam pengakuannya tersebut, Christian mengaku bahwa saat itu ia sudah tak mampu lagi berperan sebagai seorang suami dan ayah bagi keluarganya. Ia mengaku memang telah membunuh seluruh keluarganya, mencekik Mary Jane saat bercinta, dan menenggelamkan anak-anaknya. Dia mengatakan bahwa ia sekarang telah siap menjalani eksekusi dan ingin menyumbangkan organ tubuhnya.
Sayangnya, Michael Finkel menemukan fakta, eksekusi dengan cara suntikan mematikan yang akan dijalani oleh Christian dapat membuat organ tubuh yang akan disumbangkan menjadi tak lagi berfungsi. Mengetahui hal itu, Christian pun akhirnya membuat sebuah organisasi yang bernama GAVE (Gifts of Anatomical Value from the Executed) dengan tujuan mengubah metode eksekuis untuk memungkinkan pengambilan organ tubuh dari seseorang yang menjalani eksekusi mati. Dia pun bahkan menuli sepotong catatan kecil untuk New York Times mengenai niatnya untuk menyumbang organ tubuh.